Share

Bab 97

Author: Kak Wina
last update publish date: 2026-10-29 11:35:14

Mendengar balasan dingin dari Reyhan yang sarat teka-teki, Nadia makin panik. Takut kebohongannya terbongkar di depan sang ayah, dia buru-buru menyela sebelum suasana di meja makan makin panas.

​"Iya, Pa... Reyhan benar kok. Aku yang menolak diantar kemarin karena nggak mau repot. Dan kemarin siang aku udah pergi ke dokter sendiri kok, Pa... Dokter bilang memang murni murni asam lambung sama stres aja,” potong Nadia terbata-bata, mencoba memasang wajah seluwes mungkin.

​Pak Anton menghela napas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 104

    Suasana di dalam ruang kerja Reyhan mendadak terasa senyap setelah kepergian Nadia. Jarum jam dinding baru saja menunjuk pukul dua belas siang, menandakan waktu istirahat kantor telah tiba.​Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka tanpa diketuk terlalu keras. Erika melangkah masuk dengan senyuman ramah, membawa tas kecil di tangannya. Dia sengaja datang untuk mengajak mantan kekasihnya itu keluar sejenak dari ketegangan kantor.​"Rey, makan siang bareng yuk di warung depan," ajak Erika riang, berusaha mencairkan suasana.​Belum sempat Reyhan membuka mulut untuk merespons, pintu di sisi ruangan kembali terbuka lebar. Maudy melangkah masuk dengan senyum penuh percaya diri, menenting sebuah tas jinjing berisi beberapa kotak bekal makan siang berukuran besar.​"Nggak usah cari makan di luar, Rey," sela Maudy cepat, memotong percakapan Erika dengan nada manja yang sengaja dilebih-lebihkan. Dia berjalan anggun mendekati meja kerja Reyhan dan menata kotak-kotak bekal tersebut di atas meja. "Aku b

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 103

    Nadia sudah tidak tahan lagi berada di satu ruangan bersama wanita itu. Tanpa memedulikan pandangan mengejek dari Maudy, Nadia maju beberapa langkah dan langsung mencengkeram pergelangan tangan Reyhan erat-erat. Jemarinya yang dingin gemetar menahan gejolak emosi.​"Ikut aku, Rey," desis Nadia setengah berbisik, matanya menatap Reyhan dengan nada memohon sekaligus menuntut.​Reyhan menatap tangannya yang dicengkeram Nadia, lalu melirik Maudy sejenak. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia membiarkan Nadia menariknya keluar dari ruang kerja, menyusuri koridor eksekutif menuju area tangga darurat yang sepi dan kedap suara.​Begitu pintu besi tangga darurat tertutup rapat di belakang mereka, Nadia langsung melepaskan cengkeramannya. Dia berbalik membelakangi pintu, menatap Reyhan dengan mata yang sudah memerah dan berkaca-kaca.​"Rey... tolong jelasin sama aku, kenapa Maudy bisa sama kamu di sini? Di kantor ini?!" cecar Nadia dengan suara bergetar hebat. Napasnya memburu, dadanya terasa

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 102

    Darah Nadia mendidih seketika. Rasa lelah akibat kehamilannya, kecemasan karena ancaman Valerie di rumah, dan kecurigaan yang menumpuk kini melebur menjadi satu amarah yang tak tertahankan. Tanpa memikirkan etika atau ketukan pintu lagi, tangan Nadia langsung mendorong daun pintu kayu itu dengan kasar hingga terbuka lebar.​Brak!​Suara benturan pintu yang keras memecah keheningan ruangan.​Reyhan dan Maudy yang berdiri tidak jauh dari meja kerja sontak menoleh kaget ke arah sumber suara.​Nadia berdiri di ambang pintu dengan dada naik-turun menahan napas, matanya membelalak tajam siap menghakimi wanita yang bersandar genit di dekat meja suaminya. Namun, belum sempat kata-kata makian meluncur dari bibir Nadia, pandangannya terkunci pada sosok wanita berpenampilan modis tersebut.​Nadia tertegun. Napasnya tercekat di tenggorokan.​Wanita itu... Maudy. Kakak tirinya sendiri!​"Maudy?! Kamu... apa yang kamu lakukan di ruang kerja suami aku?!" pekik Nadia tertahan, suaranya bergetar heb

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 101

    ​Mendengar pertanyaan itu, tenggorokan Maudy mendadak terasa kering. Dia menelan ludahnya susah payah, berusaha mati-matian menjaga agar wajahnya tidak pucat.‘​Dia sadar mapnya hilang?!’ batin Maudy panik, namun otaknya langsung berputar cepat mencari alibi untuk menutupi jejaknya.Maudy merasakan dingin merayap di ujung jemarinya. Otaknya berputar seribu keliling, mencoba mencari jawaban paling masuk akal agar tidak terlihat sebagai pelaku di mata Reyhan.​Dengan cepat, Maudy memaksakan seulas senyum kaku, lalu menggelengkan kepalanya pelan untuk menunjukkan ekspresi polos.​"Map merah?" ulangi Maudy pura-pura bingung, sengaja mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Wah, aku nggak tahu, Rey. Waktu aku masuk tadi pagi buat bersih-bersih meja dan nyiapin jadwal, sama sekali nggak ada map merah di situ."​Reyhan menyipitkan matanya tipis-tipis, menatap tajam ke arah Maudy seolah sedang menimbang-nimbang kejujuran wanita itu. Tatapan tajam tersebut sukses membuat punggung Maudy basah oleh ke

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 100

    ​"Itu data fiktif. Angka-angka dan laporan transaksi palsu yang sengaja aku susun dan taruh di atas meja khusus buat dipotret sama Maudy. Aku sengaja kasih mereka umpan empuk biar mereka masuk ke perangkap yang udah aku buat sendiri,” sambung Reyhan, matanya memancarkan kilat berbahaya. ​Erika tertegun di tempatnya. Otaknya langsung berputar cepat merangkai semua potongan puzzle, mulai dari alasan ban motor bocor, pintu ruangan yang tak dikunci, hingga sikap tenang Reyhan saat tahu mejanya digeledah. Seketika, rasa khawatir di dada Erika berganti dengan rasa takjub luar biasa.​"Jadi... semua ini memang sudah kamu rencanain dari awal buat jebak Pak Danu dan Maudy?" bisik Erika takjub, matanya mengerjap-ngerjap menatap Reyhan.​Reyhan mengangguk pelan, menyunggingkan senyum miring yang penuh kemenangan.​"Pinter, kan? Makanya, tugas kamu sekarang cuma satu: diam, nikmati pertunjukan ini, dan pura-pura nggak tahu apa-apa sampai waktu penentuan tiba,” ujar Reyhan ringan.Erika masih ter

  • Dalam Dekapan Tante Mia dan Putrinya   Bab 99

    ​Melalui celah pintu yang terbuka dua sentimeter itu, mata Erika membelalak lebar. Dia menyaksikan dengan jelas bagaimana Maudy begitu lihai dan tergesa-gesa memotret setiap lembar dokumen rahasia di atas meja Reyhan.​Erika dengan cepat menutupi mulutnya dengan telapak tangan agar jeritan kagetnya tidak terdengar. Jantungnya berdegup kencang bagai dihantam palu.​’Maudy... dia bukan cuma sekretaris baru. Apa dia mata-mata Pak Danu yang mau hancurin Reyhan? Tapi kenapa?!’ batin Erika menjerit panik dalam diam.​Erika perlahan mundur dua langkah tanpa menimbulkan suara sedikit pun, menyembunyikan tubuhnya di balik pilar koridor. Jemarinya yang gemetar langsung merogoh saku rok dan mengetik pesan singkat dengan cepat kepada Reyhan.“Rey, kamu di mana?! Maudy baru aja nggeledah meja kamu dan foto-foto isi map merah!”Di pinggir jalan yang berjarak sepuluh menit dari kantor, ponsel di genggaman Reyhan bergetar. Reyhan yang sedang menikmati puntung rokoknya di atas motor tua melirik layar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status