LOGINLima jam setelah dipecat atas tuduhan korupsi oleh tunangannya sendiri, Aksa malah terjebak di lantai kosong bersama Celine Kirana—CEO konglomerat yang tengah membeli perusahaannya. Dalam kondisi terdampak obat bius, sang CEO justru menempel ketat dan meminta perlindungan dari teror paparazzi yang mengincar skandal mereka di lorong gelap gedung. Dan ternyata, semua yang terjadi dalam satu malam itu mengubah nasib Aksa selamanya!
View MoreJduk!
Seorang wanita tersandung dan menabrak kaktus yang dibawa Aksa.
"Tutup pintunya! Tolong, tutup sekarang!"
Dari ujung lorong, dua pria berkemeja hitam berlari ke arah lift. Salah satunya menenteng kamera berlensa panjang.
Aksa menekan tombol tutup berkali-kali. Pintu baja itu merapat tepat sebelum tangan pria berkamera sempat menahannya.
Pria berkamera itu menggedor pintu lift dari luar. "Bu! Bu, tunggu sebentar! Kami cuma mau ngobrol!"
Gedoran dan teriakan itu hilang begitu lift mulai turun. Wanita itu merosot ke dinding lift dengan napas cepat, sementara blus putihnya sudah terbuka dua kancing. Rambut hitam sebahunya menempel di pelipis karena keringat, sedangkan kulit dadanya merah sampai ke leher.
Pak Darto, satpam yang ditugaskan mengantar Aksa keluar gedung malam ini, langsung maju selangkah. HT di tangannya berbunyi kresek.
"Ibu siapa? Ibu tamu lantai berapa?"
Wanita itu tidak menjawab. Dia mengipas leher dengan telapak tangan, lalu menarik kerah blusnya sendiri.
"Ada yang naruh sesuatu di minuman saya," gumamnya sambil memejamkan mata. "Jangan biarkan mereka foto saya."
Aksa menatap wanita itu, kemudian menatap kardus barangnya yang berantakan. Lima jam lalu, dia dipecat dari PT Arkana dengan tuduhan mentransfer 4,7 miliar dari akunnya ke perusahaan yang namanya tidak pernah dia dengar.
Surat PHK-nya ditandatangani Maya Anggraini dari bagian SDM. Maya juga tunangannya, perempuan yang tiga bulan lagi seharusnya duduk di sebelahnya di pelaminan.
'Malam ini kayaknya nggak bisa lebih jelek lagi,' batin Aksa.
HT Pak Darto berbunyi lagi dengan suara jelas.
[Pos satu ke Darto. Ada laporan penyusup di lantai 27, dua orang. Segera ke tangga darurat timur.]
Pak Darto menatap Aksa dengan bingung. Tangannya yang memegang HT gemetar.
"M-Mas Aksa, saya harus ke timur. Tapi Ibu ini..."
"Bapak ke tangga timur aja, Pak. Ibu ini biar saya yang bawa ke tempat aman," jawab Aksa sambil meletakkan kardusnya di lantai.
Pak Darto masih ragu, lalu menunjuk kardus di lantai lift. "Mas Aksa kan udah nggak kerja di sini. Barang-barangnya aja udah dikardusin."
Sambil memasukkan pot kaktus ke kardus, Aksa menjawab. "Justru itu, Pak. Saya nggak bisa dipecat dua kali."
Pak Darto menatap Aksa dua detik, kemudian mengangguk. Dia menekan tombol lantai 26, lalu berlari ke arah tangga darurat begitu pintu terbuka. Aksa merangkul pinggang wanita itu dan membawanya keluar.
Dari arah tangga darurat barat, terdengar langkah sepatu turun dengan cepat. Aksa menarik wanita itu ke balik pilar di depan pantry, lalu menempelkan punggungnya ke dinding.
Wanita itu tertawa kecil tanpa sebab. Aksa langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Bibir wanita itu panas di telapak tangannya. Dia mengecup telapak tangan Aksa sekali, kemudian menatapnya dari jarak sejengkal.
Dua pria berkemeja hitam muncul dari pintu tangga dan berhenti di tengah lorong. Pria yang membawa kamera berbicara di ponselnya.
"Dia nggak ada di 27, Bos. Kami cek lantai bawah satu-satu," ucapnya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan. "Iya, fotonya masuk sebelum jam dua belas."
Keduanya berlari ke arah lift. Begitu pintu lift menutup, Aksa melepaskan tangannya dari mulut wanita itu. Dia baru sadar napasnya sendiri tertahan sejak tadi.
Lobi pasti sudah dijaga teman dua pria tadi. Untungnya, kartu akses Aksa baru dinonaktifkan jam dua belas malam, sehingga kartu itu masih bisa membuka satu ruangan di lantai ini.
Ruang server.
Lorong lantai 26 gelap, hanya lampu darurat hijau di atas pintu tangga yang menyala.
Aksa mendudukkan wanita itu di dekat lubang AC, kemudian kembali ke pintu untuk mengecek kuncinya. Dia belum sempat berbalik ketika sepasang tangan memeluknya dari belakang.
Dada wanita itu menempel di punggungnya, hanya terhalang kemeja tipis. Napasnya panas di tengkuk Aksa.
Lalu, dengan suara berbisik, wanita itu bicara di dekat telinga Aksa. "Badan kamu dingin banget. Jangan gerak dulu, biar saya peluk sebentar. Badan saya lagi panas…"
Aksa menahan napas. Celananya terasa sempit, sehingga gagang pintu dia genggam kuat-kuat.
"Kamu karyawan di gedung ini?" tanya wanita itu tanpa melepas pelukannya.
"Mantan, Bu. Sejak jam lima sore tadi."
"Bagus. Besok saya juga mau pecat semua orang di gedung ini," balas wanita itu dengan tawa pendek.
Aksa mencoba melepas tangan wanita itu dari pinggangnya. "Bu, Ibu duduk dulu dekat AC. Di sana lebih dingin."
Dengan tak mau pelukan, tangan kanan Aksa dia tarik ke depan, lalu dia tempelkan ke perutnya yang panas di balik blus.
Sedikit demi sedikit, tangan Aksa dia geser naik. "Panasnya di sini. Terus di sini juga. Pegang aja."
Ujung jari Aksa menyentuh renda di bawah dadanya.
Wanita itu menoleh sampai bibirnya hampir menyentuh dagu Aksa. "Kok berhenti? Tangan kamu dingin. Saya suka…"
Aksa menelan ludah. Kalau ada yang masuk sekarang, foto yang mereka dapat jauh lebih parah dari foto di lift.
Tangannya dia tarik. Setelah kemeja luarnya dia selimutkan ke bahu wanita itu, Aksa memegangi kedua bahunya dan mendudukkannya lagi di depan lubang AC.
"Bu, dengar saya. Besok pagi Ibu pasti nyesel. Kalau Ibu nyesel, saya yang repot," ucap Aksa dengan suara serak.
Wanita itu menatapnya dengan pupil melebar, kemudian tertawa pelan dan lemas. Kepalanya bersandar ke bahu Aksa.
Jari wanita itu memainkan kancing kaus dalam Aksa. "Kamu aneh. Nama kamu siapa?"
"Aksa, Bu. Aksa Pradana," jawab Aksa sambil menahan jari itu supaya berhenti di kancing kedua.
"Aksa... Jangan pergi dulu, Aksa! Di luar ada yang mau motret saya. Saya nggak mau jadi santapan para paparazzi itu." Pipi wanita itu menempel ke dada Aksa.
Ponsel di saku rok wanita itu bergetar. Nama di layarnya Sekar.
Begitu panggilan diangkat, perempuan di seberang bicara cepat. "Bu Celine? Bu Celine di mana? Ibu baik-baik aja?"
"Ibu yang punya ponsel ini lagi sama saya, Mbak. Saya orang yang baru dipecat dari Arkana sore tadi," jawab Aksa.
Celine. Aksa menatap wanita di bahunya.
Nama itu muncul di setiap memo yang dia baca bulan ini. Celine Kirana, CEO Kirana Group, perusahaan yang sedang membeli PT Arkana.
Aksa bicara lagi ke ponsel, kali ini lebih cepat. "Bu Celine ada di ruang server lantai 26, Menara Arkana. Ada yang naruh obat di minumannya. Tolong cepat, Mbak."
Sekar berjanji datang lewat lift barang dalam lima menit. Belum sempat panggilan itu selesai, Celine sudah tertidur di bahu Aksa.
Pelan-pelan, Aksa membaringkan Celine di lantai. Pintu ruang server dia buka sedikit untuk mengecek lorong.
Cklik.
Cklik.
Lampu kilat menyala dua kali dari ujung lorong.
Seorang pria berjaket hitam berlari ke tangga darurat. Aksa mengejarnya, tetapi pintu tangga sudah terbanting menutup sebelum dia sampai.
Di anak tangga pertama, tergeletak tutup lensa kamera. Benda itu Aksa pungut dan simpan di saku celana.
Lima menit kemudian, pintu lift barang terbuka. Seorang perempuan berambut pendek dengan blazer abu-abu keluar bersama dua pengawal bertubuh besar.
"Saya Sekar, asisten Bu Celine. Kamu yang angkat telepon tadi?" tanya perempuan itu sambil berlari ke ruang server.
"Iya, Mbak. Saya Aksa Pradana, staf keuangan Arkana. Tepatnya mantan staf, sejak sore tadi."
Tanpa berkomentar, Sekar mencatat nama itu di ponselnya. Dua pengawal mengangkat Celine, sementara Sekar membungkus tubuh bosnya dengan jasnya sendiri.
Sebelum masuk lift, Celine sempat membuka mata dan mencengkeram pergelangan tangan Aksa. "Kemeja kamu... nanti saya balikin. Janji!"
Aksa membuka laporan itu. Empat tahun di bagian keuangan Arkana membuatnya terbiasa membaca catatan kaki lebih dulu.Di catatan kaki halaman 14, tertulis utang Rp800 miliar dengan huruf kecil, dicatat sebagai pinjaman pihak berelasi.Telunjuk Aksa mengetuk catatan kaki itu. "Pinjaman 800 miliar di halaman 14 ini atas nama siapa, Pak? Di neraca nggak muncul. Kalau pihak berelasi, biasanya pemegang saham atau keluarga direksi."Seorang anggota dewan berkacamata langsung membuka halaman yang sama di salinannya. Hartono diam saja, tetapi pisaunya memotong steak dengan keras. Sementara itu, Rendra melirik Hartono sebelum meneguk anggurnya sampai habis.Tante Yuni bertepuk tangan untuk memecah suasana. "Aduh, kok jadi rapat. Kalian ini tunangan kok kaku banget. Coba cium, Tante pengen lihat."Mendengar itu, Celine menoleh ke arah Aksa dan menunggu.Aksa yang maju. Bibirnya menempel ke bibir Celine, tangannya menarik pinggang Celine hingga membuat mereka menempel, kemudian kecupan turun sedi
Lama Aksa menatap kontrak di tangannya. "Bu, paspor aja saya belum punya."Dari balik pintu ruang kerja, terdengar Sekar menahan tawa. Celine melirik pintu itu sampai tawanya berhenti."Makanya kelas mulai sekarang. Kamu punya waktu sampai Senin pagi," ucap Celine sambil mengetuk map di pangkuannya.Sore itu, Sekar menulis daftar pelajaran di papan kecil. Isinya cara berjalan, cara makan, nama anggota dewan, cara bicara soal investasi, serta cara memegang tunangan di depan orang.Pelajaran berjalan selesai setelah dua belas kali bolak-balik, sedangkan pelajaran makan berakhir begitu piring steak Aksa berdecit tiga kali.Malamnya, Sekar mengetes nama anggota dewan lewat foto di tabletnya. Aksa salah menyebut dua nama, sehingga Celine pindah duduk ke sandaran sofa tepat di sebelahnya.Celine menepuk lututnya sendiri. "Setiap salah, kamu pegang saya di depan Sekar. Anggap Sekar wartawan. Tangan kamu di lutut saya."Dengan ragu, Aksa menaruh tangannya di lutut Celine. Namun, Celine mengge
Tangan Aksa gemetar waktu mengembalikan ponsel itu ke Sekar. Orang di lorong semalam tahu alamat ibunya."Bu Celine naik duluan lewat lift pribadinya. Kamu ikut saya," ucap Sekar sambil membuka pintu mobil.Lift khusus itu langsung naik ke lantai 41 setelah Sekar menempelkan kartunya. Di dalam lift, Aksa mengeluarkan tutup lensa dari sakunya."Ini jatuh di tangga darurat semalam, Mbak. Punya orang yang motret. Siapa tahu bisa dilacak dari situ."Sekar memotret tutup lensa itu. "Saya cek merek sama nomor serinya. Kamera berlensa panjang biasanya sewaan, jadi pasti ada data penyewanya."Pintu lift terbuka langsung di dalam penthouse. Ruang tengahnya luas dan serba putih, dengan jendela besar menghadap Jalan Rasuna Said.Celine turun dari tangga hanya dengan handuk putih yang melilit tubuhnya. Rambutnya basah, sehingga air menetes dari leher ke belahan dadanya sebelum hilang di balik lilitan handuk."Saya baru selesai berenang. Duduk dulu." Dagu Celine menunjuk sofa di tengah ruangan.Se
Jam delapan pagi, Aksa sudah duduk di depan meja Ipda Fajar di Polres Jakarta Selatan. Matanya merah karena tidak tidur.Map biru berisi cetakan mutasi rekening terbuka di meja. Jari penyidik itu menunjuk baris demi baris angka.Ipda Fajar menggeser map itu ke depan Aksa. "4,7 miliar, dikirim dalam enam kali transfer ke CV Mitra Daya Sentosa. Semuanya pakai akun Saudara. PT Arkana juga sudah mengajukan gugatan perdata, jadi Saudara digugat dari dua arah.""Pak, saya nggak pernah kirim uang segitu. Gaji saya aja habis buat bayar kontrakan sama kiriman ke Ibu di Purwakarta. Saldo saya sekarang nggak sampai dua juta."Aksa menarik cetakan itu ke arahnya. Keenam transfer terjadi jam dua pagi, bahkan salah satunya tertanggal 14 bulan lalu.Telunjuk Aksa mengetuk tanggal itu. "Tanggal 14 itu saya di Purwakarta, Pak, nungguin Ibu operasi katarak. Laptop kantor saya tinggal di meja. Satpam lantai 27 pasti ingat saya pamit cuti dua hari.""Akun sistem bisa dibuka dari mana saja kalau orang tah
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.