Godaan Berbahaya Wanita Sosialita

Godaan Berbahaya Wanita Sosialita

last updateLast Updated : 2026-10-08
By:  Nona MentariOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
14views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Lima jam setelah dipecat atas tuduhan korupsi oleh tunangannya sendiri, Aksa malah terjebak di lantai kosong bersama Celine Kirana—CEO konglomerat yang tengah membeli perusahaannya. Dalam kondisi terdampak obat bius, sang CEO justru menempel ketat dan meminta perlindungan dari teror paparazzi yang mengincar skandal mereka di lorong gelap gedung. Dan ternyata, semua yang terjadi dalam satu malam itu mengubah nasib Aksa selamanya!

View More

Chapter 1

BAB 1

Jduk!

Seorang wanita tersandung dan menabrak kaktus yang dibawa Aksa.

"Tutup pintunya! Tolong, tutup sekarang!"

Dari ujung lorong, dua pria berkemeja hitam berlari ke arah lift. Salah satunya menenteng kamera berlensa panjang.

Aksa menekan tombol tutup berkali-kali. Pintu baja itu merapat tepat sebelum tangan pria berkamera sempat menahannya.

Pria berkamera itu menggedor pintu lift dari luar. "Bu! Bu, tunggu sebentar! Kami cuma mau ngobrol!"

Gedoran dan teriakan itu hilang begitu lift mulai turun. Wanita itu merosot ke dinding lift dengan napas cepat, sementara blus putihnya sudah terbuka dua kancing. Rambut hitam sebahunya menempel di pelipis karena keringat, sedangkan kulit dadanya merah sampai ke leher.

Pak Darto, satpam yang ditugaskan mengantar Aksa keluar gedung malam ini, langsung maju selangkah. HT di tangannya berbunyi kresek.

"Ibu siapa? Ibu tamu lantai berapa?"

Wanita itu tidak menjawab. Dia mengipas leher dengan telapak tangan, lalu menarik kerah blusnya sendiri.

"Ada yang naruh sesuatu di minuman saya," gumamnya sambil memejamkan mata. "Jangan biarkan mereka foto saya."

Aksa menatap wanita itu, kemudian menatap kardus barangnya yang berantakan. Lima jam lalu, dia dipecat dari PT Arkana dengan tuduhan mentransfer 4,7 miliar dari akunnya ke perusahaan yang namanya tidak pernah dia dengar.

Surat PHK-nya ditandatangani Maya Anggraini dari bagian SDM. Maya juga tunangannya, perempuan yang tiga bulan lagi seharusnya duduk di sebelahnya di pelaminan.

'Malam ini kayaknya nggak bisa lebih jelek lagi,' batin Aksa.

HT Pak Darto berbunyi lagi dengan suara jelas.

[Pos satu ke Darto. Ada laporan penyusup di lantai 27, dua orang. Segera ke tangga darurat timur.]

Pak Darto menatap Aksa dengan bingung. Tangannya yang memegang HT gemetar.

"M-Mas Aksa, saya harus ke timur. Tapi Ibu ini..."

"Bapak ke tangga timur aja, Pak. Ibu ini biar saya yang bawa ke tempat aman," jawab Aksa sambil meletakkan kardusnya di lantai.

Pak Darto masih ragu, lalu menunjuk kardus di lantai lift. "Mas Aksa kan udah nggak kerja di sini. Barang-barangnya aja udah dikardusin."

Sambil memasukkan pot kaktus ke kardus, Aksa menjawab. "Justru itu, Pak. Saya nggak bisa dipecat dua kali."

Pak Darto menatap Aksa dua detik, kemudian mengangguk. Dia menekan tombol lantai 26, lalu berlari ke arah tangga darurat begitu pintu terbuka. Aksa merangkul pinggang wanita itu dan membawanya keluar.

Dari arah tangga darurat barat, terdengar langkah sepatu turun dengan cepat. Aksa menarik wanita itu ke balik pilar di depan pantry, lalu menempelkan punggungnya ke dinding.

Wanita itu tertawa kecil tanpa sebab. Aksa langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Bibir wanita itu panas di telapak tangannya. Dia mengecup telapak tangan Aksa sekali, kemudian menatapnya dari jarak sejengkal.

Dua pria berkemeja hitam muncul dari pintu tangga dan berhenti di tengah lorong. Pria yang membawa kamera berbicara di ponselnya.

"Dia nggak ada di 27, Bos. Kami cek lantai bawah satu-satu," ucapnya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan. "Iya, fotonya masuk sebelum jam dua belas."

Keduanya berlari ke arah lift. Begitu pintu lift menutup, Aksa melepaskan tangannya dari mulut wanita itu. Dia baru sadar napasnya sendiri tertahan sejak tadi.

Lobi pasti sudah dijaga teman dua pria tadi. Untungnya, kartu akses Aksa baru dinonaktifkan jam dua belas malam, sehingga kartu itu masih bisa membuka satu ruangan di lantai ini.

Ruang server.

Lorong lantai 26 gelap, hanya lampu darurat hijau di atas pintu tangga yang menyala.

Aksa mendudukkan wanita itu di dekat lubang AC, kemudian kembali ke pintu untuk mengecek kuncinya. Dia belum sempat berbalik ketika sepasang tangan memeluknya dari belakang.

Dada wanita itu menempel di punggungnya, hanya terhalang kemeja tipis. Napasnya panas di tengkuk Aksa.

Lalu, dengan suara berbisik, wanita itu bicara di dekat telinga Aksa. "Badan kamu dingin banget. Jangan gerak dulu, biar saya peluk sebentar. Badan saya lagi panas…"

Aksa menahan napas. Celananya terasa sempit, sehingga gagang pintu dia genggam kuat-kuat.

"Kamu karyawan di gedung ini?" tanya wanita itu tanpa melepas pelukannya.

"Mantan, Bu. Sejak jam lima sore tadi."

"Bagus. Besok saya juga mau pecat semua orang di gedung ini," balas wanita itu dengan tawa pendek.

Aksa mencoba melepas tangan wanita itu dari pinggangnya. "Bu, Ibu duduk dulu dekat AC. Di sana lebih dingin."

Dengan tak mau pelukan, tangan kanan Aksa dia tarik ke depan, lalu dia tempelkan ke perutnya yang panas di balik blus.

Sedikit demi sedikit, tangan Aksa dia geser naik. "Panasnya di sini. Terus di sini juga. Pegang aja."

Ujung jari Aksa menyentuh renda di bawah dadanya.

Wanita itu menoleh sampai bibirnya hampir menyentuh dagu Aksa. "Kok berhenti? Tangan kamu dingin. Saya suka…"

Aksa menelan ludah. Kalau ada yang masuk sekarang, foto yang mereka dapat jauh lebih parah dari foto di lift.

Tangannya dia tarik. Setelah kemeja luarnya dia selimutkan ke bahu wanita itu, Aksa memegangi kedua bahunya dan mendudukkannya lagi di depan lubang AC.

"Bu, dengar saya. Besok pagi Ibu pasti nyesel. Kalau Ibu nyesel, saya yang repot," ucap Aksa dengan suara serak.

Wanita itu menatapnya dengan pupil melebar, kemudian tertawa pelan dan lemas. Kepalanya bersandar ke bahu Aksa.

Jari wanita itu memainkan kancing kaus dalam Aksa. "Kamu aneh. Nama kamu siapa?"

"Aksa, Bu. Aksa Pradana," jawab Aksa sambil menahan jari itu supaya berhenti di kancing kedua.

"Aksa... Jangan pergi dulu, Aksa! Di luar ada yang mau motret saya. Saya nggak mau jadi santapan para paparazzi itu." Pipi wanita itu menempel ke dada Aksa.

Ponsel di saku rok wanita itu bergetar. Nama di layarnya Sekar.

Begitu panggilan diangkat, perempuan di seberang bicara cepat. "Bu Celine? Bu Celine di mana? Ibu baik-baik aja?"

"Ibu yang punya ponsel ini lagi sama saya, Mbak. Saya orang yang baru dipecat dari Arkana sore tadi," jawab Aksa.

Celine. Aksa menatap wanita di bahunya.

Nama itu muncul di setiap memo yang dia baca bulan ini. Celine Kirana, CEO Kirana Group, perusahaan yang sedang membeli PT Arkana.

Aksa bicara lagi ke ponsel, kali ini lebih cepat. "Bu Celine ada di ruang server lantai 26, Menara Arkana. Ada yang naruh obat di minumannya. Tolong cepat, Mbak."

Sekar berjanji datang lewat lift barang dalam lima menit. Belum sempat panggilan itu selesai, Celine sudah tertidur di bahu Aksa.

Pelan-pelan, Aksa membaringkan Celine di lantai. Pintu ruang server dia buka sedikit untuk mengecek lorong.

Cklik.

Cklik.

Lampu kilat menyala dua kali dari ujung lorong.

Seorang pria berjaket hitam berlari ke tangga darurat. Aksa mengejarnya, tetapi pintu tangga sudah terbanting menutup sebelum dia sampai.

Di anak tangga pertama, tergeletak tutup lensa kamera. Benda itu Aksa pungut dan simpan di saku celana.

Lima menit kemudian, pintu lift barang terbuka. Seorang perempuan berambut pendek dengan blazer abu-abu keluar bersama dua pengawal bertubuh besar.

"Saya Sekar, asisten Bu Celine. Kamu yang angkat telepon tadi?" tanya perempuan itu sambil berlari ke ruang server.

"Iya, Mbak. Saya Aksa Pradana, staf keuangan Arkana. Tepatnya mantan staf, sejak sore tadi."

Tanpa berkomentar, Sekar mencatat nama itu di ponselnya. Dua pengawal mengangkat Celine, sementara Sekar membungkus tubuh bosnya dengan jasnya sendiri.

Sebelum masuk lift, Celine sempat membuka mata dan mencengkeram pergelangan tangan Aksa. "Kemeja kamu... nanti saya balikin. Janji!"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status