INICIAR SESIÓNSuara puas itu terdengar nyaring memenuhi ruangan itu.
Maya duduk di pangkuan Nando, tubuhnya bergerak dengan begitu lincah mengobrak abrik milik Nando yang tengah memenuhi dirinya. Nando juga tak kalah puas, ia cengkram pinggang ramping itu dan ia tahan sejenak ketika Gerakan naik turun Maya semakin kuat dan Maya langsung melenguh dengan kepala menghadap ke atas hingga urat lehernya terlihat jelas. Maya dan Nando mengakhiri permainan mereka. Keduanya berbaring di atas sofa dengan napas yang terengah-engah, Maya tersenyum lepas dan tampak begitu puas pada Nando. Tubuhnya indah itu dipenuhi keringat, mengalir besar besar sebesar biji jagung. Nando segera mengenakan pakaiannya saat itu, terutama celana yang berserakan entah kemana. Ia juga ambilkan beberapa pakaian Maya yang kacau dibuatnya tadi. Maya baru saja memasang celana rendanya saat itu, sembari ia pamerkan pinggulnya indah pada Nando. Seperti ia tengah menggoda lagi dan menginginkan ronde kedua kali ini. Tapi Nando sudah tak ingin, karena memang tenaganya hanya untuk satu kali. Sisa sedikit, ia berikan untuk Julia nanti. Untungnya Julia tak pernah protes. Wanita itu juga tak punya pengalaman apapun untuk hubungan suami istri, apalagi untuk membayangkan hubungan intim yang hot seperti ketika ia lakukan dengan Maya. Hp Nando mendadak berdering saat itu, ia segera angkat karena dari mamanya. “Ya, Ma?” tanya Nando. “Julia sudah sampai, Nak? Tadi mama suruh dia antar makan siang ke kantor. Mama suruh dia minta maaf sama kamu.” “Hah?” Nando sedikit kaget. “Iya, mama sudah suruh dia datang, sudah cukup lama. Sepertinya lebih dari setengah jam.” Mama memberi keterangan, dan ia sembari mengomel karena Julia sampai sekarang tanpa kabar. Tapi Nando tak dengarkan omelan itu, ia fokus menuju arah pintu tiba-tiba dengan perasaan curiga. “Mas, kenapa?” tanya Maya ketika Nando fokus dengan pintunya itu. “Tidak. Sejak tadi aku seperti ragu, apakah pintu itu dikunci atau tidak. Aku lihat dulu.” Nando sembari mengancing kemejanya berjalan menuju pintu. Ia tatap pintu kuat itu dan ia perhatikan, dan ia sentuh memastikan bahwa sejak tadi tertutup dengan rapat. “Harusnya kamu ganti pintu itu seperti pintu yang ada di ruangan kakakmu. Pintunya kuat, ruangannya kedap suara hingga tak perlu khawatir ada yang mendengar kita.” Maya menasehati. ~~ Julia sudah membuka branya di hadapan Felix, dada indah itu menyembul begitu besar dan kencang. Felix mematung sejenak menelan saliva, hingga perlahan ia ulurkan tangan pada kedua benda itu, berniat untuk memijatnya. Perlahan tapi pasti, memijat dan melakukan Gerakan berputar seperti ahli. “Aaah!” Julia memekik lirih, ia menahan suara karena malu pada Felix. “Kamu teriak saja, tak apa. Aku-“ Felix pijat pelan pelan dan perlahan cairan putih itu mengalir mulai membanjiri dada Julia seperti larva. Sakit, tapi rasanya cukup lega ketika Asi itu keluar dari dada. Hanya saja, ada perasaan aneh yang ikut datang, berdesir di tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Ini terlalu lama, Julia. Boleh aku—” Tatapan itu pertanda sesuatu, begitu menuntut pada Julia untuk mengiyakannya. Tak lama setelah itu, perlahan tapi pasti mulut Felix mendekat dan mendarat ke puncak tegang milik Julia. Ia mulai hisap hingga asi itu keluar semakin banyak, akan membuat Julia semakin lega dan enak. Ini terlalu mendominasi. Sentuhan bibir ditambah hisapan disertai lidah Felix di sana justru menimbulkan sesuatu di tubuh Julia. Rasa yang tak pernah ia dapat sebelumnya, bahkan dari Nando. “Aaaahhh!” Julia mendesah lagi dengan tangan mencengkram pinggiran sofa. Ia seperti itu karena lega dan karena ada sebuah titik nikmat tersentuh di tubuhnya. Apalagi saat Felix sedikit memberi pijatan disela hisapan itu, menambah sengatan yang menjalar menjadi semakin kuat. “Kak Feliiix!” panggil Julia dengan nada yang begitu panjang dan suara yang tertahan. Ia bahkan tak bisa membuka mata sangking keenakan. Sesekali Felix melirik Julia dan melihat bagaimana ekspresinya. Mulut penuh, ia telan asi itu dan berpindah ke yang satunya sampai habis juga. Dada terasa lega, tapi sayangnya ada sensasi lain yang datang ke tubuh Julia. Sebuah sensasi yang ia rasa sangat asing, bergejolak di bagian perut bawah. Rasanya seperti panas, dan kedutan yang tak pernah ia rasakan ketika bersama suaminya. Ia seperti ingin sesuatu yang lebih. Perlakuan Felix begitu lembut, beda sekali dengan yang sering Julia lihat terutama ketika Felix membalas adiknya. Cumbuan itu seperti dambaan untuk tubuh Julia yang haus akan belaian. Ia menikmati sentuhan demi sentuhan, hisapan dan bahkan gigitan lembut dari mulut rakus sang kakak ipar. Felixpun sama saja. Sebagai seorang pria dewasa, jelas ia paham sekali dengan semua gejolak yang menyerang saat ini. Tubuhnya yang sejak tadi tenang seperti langsung mendapat sengatan listrik dengan daya yang luar biasa kuatnya. “Sudah, aku rasa itu sudah ringan sekarang.” Seketika Julia kaget ketika Felix mengangkat tubuh dan menjauh darinya. Jujur dari lubuk hati yang paling dalam, ia membayangkan sesuatu itu akan lebih ia dapatkan. Ia tak pernah merasakan hal seperti tadi sama sekali ketika ia bersama dengan Nando, bahkan sudah lima tahun. Mau tak mau Julia membuka mata dan menghapus semua harapan dan khayalannya itu. Ia duduk dan menutupi bagian tubuh yang terbuka seadanya meski dengan rasa kecewa, dan ia raih bra hingga kemeja tadi. Felix raih tisu di atas meja, ia bersihkan sisa sisa asi di tubuh Julia saat itu. Ia sangat telaten, Julia begitu nyaman dengan semua tindakan yang Felix berikan. “Yaah, basah.” Julia tak mungkin pakai itu lagi. Dengan begitu pekanya, Felix yang nyaris mabuk asi itu langsung meraih Hp dan ia hubungi asisten pribadinya. “Ya, Tuan?” “Marta. Carikan satu set kemeja dan… pakaian dalam wanita, lalu bawa ke ruanganku.” Julia, wajahnya langsung bersemu merah ketika mendengar Felix memberi perintah itu. Malu, tapi ia senang karena diperhatikan. Perhatian yang sama sekali tak pernah ia dapatkan dari suami lima tahunnya itu. Meski Marta heran dan bertanya-tanya, tapi ia iyakan permintaan Felix. “Ukurannya… ehm, ukuranmu saja. Sepertinya sama,” imbuh Felix dengan permintaannya itu. “Iih, Tuan. Tumben tuan perhatikan saya. Kan, jadi terkesima.” “Marta Rumina!” tegas Felix ketika sanga asisten mencoba bergurau. Tak hanya Marta, Julia juga kaget mendengarnya. “I-iya, tuan. Saya akan segera pesan dan segera antar ke ruangan tuan secepat mungkin!” Panggilan Felix matikan, dan pria itu duduk Hening memijati kening. Entahlah, seperti ada sesuatu yang masih terasa mengganjal saat ini, terasa dari ujung kepala dan ujung kaki. “Setelah ini, bersiap karena Marta akan membawamu ke penthouse.” “Milik Kakak?” tanya Julia. “Hmm.” Felix memilih pergi dari adik iparnya itu, duduk di kursi kebesarannya dan mulai fokuskan diri pada pekerjaan yang sebenarnya sudah menumpuk sejak tadi. Ia harus tenang, tak boleh sedikitpun wibawanya terusik hanya dengan keberadaan Julia. Yang tadi itu, ia murni hanya ingin menolongnya. Sementara itu, Julia justru terus curi-curi pandang pada sang kakak ipar. Pria itu tampan, tubuhnya tinggi dan begitu maskulin. Entah kenapa semakin diperhatikan, semakin tampak berbeda dengan Nando, adik seayahnya itu. Dengan Felix, Julia merasa sangat diperhatikan meski tetap dengan wajah yang tenang. Tidak pernah tergesa gesa, tapi tepat sasaran dengan apa yang tengah ia butuhkan, terutama dukungan. Felix selalu siap pasang badan untuknya meski harus mendengar kicauan mulut cerewet mama Rosa. Felix bisa saja pergi seutuhnya dan tinggalkan mereka semua, tinggal di penthouse pribadinya. Akan tetapi, sepertinya masih ada sesuatu yang membuatnya berat hingga mau tak mau tetap bertahan di rumah itu. Julia bersandar di bahu sofa, lirik lirik kakak iparnya yang tenang. Kedipan matanya, gerak jakun dan alisnya yang naik turun ketika tengah membaca berkas itu seperti memiliki daya tarik sendiri. PIntu mendadak diketuk. Degup jantung Julia menguat merasa bahwa itu adalah suaminya, karena Marta pasti akan menelpon ketika ia akan segera tiba. Keheningan ruangan itu berubah menjadi tengang, tapi bukan tegang yang diinginkan oleh mereka berdua. “Kak! Kak Felix!” Suara gedoran pintu itu terdengar begitu kasar seolah ingin mendobraknya saat itu juga. “Kak, kenapa kau kunci pintunya? Aku butuh kau untuk tandatangani dokumen penting. Aku sudah selesaikan dan aku butuh cepat!” Nando terus memanggil. Julia yang mulai tenang itu mendadak takut, apalagi dirinya yang tengah berantakan seperti ini. Ia takut Nando tak sabaran, mendobrak pintu itu dan melihat dirinya yang sedang tak karuan. “Kak Felix?”Julia tiba di apartement, dan ia terlihat senang. Semua beres, ia lega dan hanya tinggal lakukan apa yang ia suka termasuk menunggu hubungannya dengan Felix. Ia duduk di sofa, tapi ia tatap juga kolam renang besar yang ada di balkon apartementnya itu. Sejak kemarin, air kolam renang itu serasa memanggil Julia untuk masuk ke dalamnya.Akhirnya Julia beranjak untuk ganti pakaian dengan bikini seksi. Pakaian renang itu seketika membalut tubuh yang sekarang terlihat lebih sintal dan padat dan memperlihatkan lekuk serta bagian tubuh yang sudah sangat berubah dari saat pertama bertemu.Pasti Felix suka karena tempat main barunya itu sangat menyenangkan dan menggemaskan. Lekuk tubuh Julia yang tadinya seperti triplek, sudah berubah menjadi gitar spanyol yang begitu menggoda.Byur!Julia menceburkan dirinya ke kolam renang dengan air yang pasti sangat segar.Tubuhnya terangkat dari air sebentar, dan ia merapikan rambut basah yang berantakan sembari menepi lalu bersandar di pinggiran kolam it
Pinggang Julia diraih seseorang saat itu, yang kebetulan lewat dan untungnya genggamannya sangat tepat. Julia yang kaget sekaligus bersyukur itu, lantas membuka mata dan melihat siapa yang menolongnya.Senyum Julia sontak terkembang ketika rupanya pria itu adalah orang yang ia kenal. Ia segera membenarkan posisi tubuhnya dan menyapa pria itu, terutama mengucapkan terimakasih.“Tuan Verhag? Kenapa, Anda di sini?” tanya Julia padanya.Pria itu segera membenarkan posisi Julia agar berdiri dengan tegap, tak lupa ia tatap pipi kirinya yang tampak merah. Ia tahu itu Nando, dan ia lihat semuanya saat lewat.“Kamu sudah mengurus berkasnya?” tanya tuan Verhag.“Sudah, Tuan. Akte cerainya, juga sudah saya dapatkan.” Julia memperlihatkan itu dengan senang hati.Tuan Verhag tahu jika istrinya begitu sayang pada Julia. Bahkan sudah mempersiapkan rencana mereka setelah ini yang akan buka usaha bersama. Ia tersenyum tatap Julia dan usap kepalanya memberi sedikit perhatian.“Pulanglah. Kamu tahu, dia
Maya diam mendengar apa yang Julia katakan padanya, dan kali ini ia pasang wajah yang begitu berani. Toh, ia juga sudah pasti naik tahta dan tak ada yang bisa ganggu posisinya.“Ya, aku memang senang karena pada akhirnya kalian bercerai. Tapi, Julia. Apakah, kamu tidak terlalu tak tahu diri?” balas Maya.“Maksudmu?”“Ya, maksudnya, kamu pasti lebih tahu jika saham itu harusnya jatuh ke tangan putraku. Dia adalah ahli waris yang lebih sah di keluarga ini nanti.”“Hhh! Hahaha!” Julia justru tertawa, tapi ia masih menahan diri meski sebenarnya tawa itu masih bisa lebih keras lagi.“Kenapa kamu tertawa? Tidak ada yang sedang melucu saat ini!” Maya sangat tersinggung.Julia mengangkat kepala dan kembali merubah wajahnya menjadi mode serius kali ini. Ia tatap Maya dengan cukup tajam, terutama di bagian perutnya yang semakin membesar.“Kau bukan tak tahu, jika aku sudah mengetahui semuanya, kan?” sarkas Julia sembari tatap perut buncit Maya.“Masa bodoh! Yang jelas, mas Nando saja tetap mau
Julia sudah dandan rapi sekali pagi itu. Ia akan ambil akte cerai hari, dan mau tak mau ia akan bertemu dengan Nando dan gundiknya itu.“Ya, jelas dia akan ikut karena ini adalah hal yang paling ia tunggu.” Julia menatap dirinya sendiri di depan cermin saat itu, dan ia tersenyum lega.Julia berharap setelah ini semua akan benar-benar selesai, tapi sepertinya tak mungkin. Apalagi saham itu masih akan tetap mereka inginkan dan harus diambil kembali dengan berbagai cara.Sebenarnya Felix sudah menawarkan keamanan untuk Julia, dan bahkan sudah menyewa beberapa bodyguard untuknya. Tapi Julia tidak mau, ia ingin semua berjalan seperti biasa agar tak terlalu mencolok di depan semua orang. Nanti mereka akan semakin curiga.“Nyonya sudah siap?” tanya Marta yang menghampiri di kamarnya.Marta tampak kagum dengan kecantikan Julia yang semakin hari semakin bening saja. Memang sejak awal dia adalah wanita yang sangat cantik, kulit putih bersih dengan mata hitam cerah yang sangat indah. Felix menyu
Nando selesaikan sejenak urusan hati sebelum kembali pada mereka. Tapi saat ia berdiri dari tempat duduknya, ia lihat Maya yang sedang perhatikan dirinya dari pintu ruangan itu.“Hey, Sayang?” Nando kaget, apalagi tatapan Maya tampak cukup tajam.Maya masuk dengan langkahnya yang pelan sembari mengusapi perutnya saat itu, dan ia tampak meminta penjelasan atas apa yang terjadi.“Jadi, aku sudah resmi bercerai dengan Julia.”“Serius, Mas?” Maya langsung tersenyum dengan harapan setinggi langit.“Ya, pada akhirnya. Tapi, kamu masih harus menunggu hingga akte cerai itu selesai, oke?” pinta Nando.Maya mengangguk dan ia segera hampiri Nando dengan pelukan mesranya saat itu. “Tapi, sahamnya?” tanya Maya.“Aku tidak bisa melawannya kali ini. Dia punya rekaman di club, pada malam kejadian aku memberinya pada tuan Wang.”Maya cemberut dan sungut. Ia marah karena kebodohan ini, dan harusnya saham itu milik putranya nanti. Tapi ia hanya bisa diam dan mengalah untuk kesekian kali, yang penting te
Julia tersenyum puas, dan ia raih kembali berkas itu dalam gengamannya. Tak lupa ia serahkan flashdisk rekaman itu pada pria yang resmi menjadi mantan suaminya saat ini.“Tunggu panggilan dari Pengadilan Negri, ya? Aku harus segera dapat akta cerainya.” Julia mengatakan itu dengan nada suara yang begitu ringan.“Kau mau apa? Kau fikir, ada pria yang mau menikahi wanita gabug sepertimu?” tukas mama Rosa yang masih berkalut dengan amarahnya.“Ehmmm… kita lihat saja nanti. Jikapun tidak, setidaknya aku bebas dari kalian semua.”Julia melambaikan jemari lentiknya dengan begitu manis dan segera keluar dari ruangan itu. Lenggoknya terlihat jelas, ia amat bersemangat dengan status baru yang ia dapatkan itu.Mama Rosa menoleh kasar menatap putranya dengan begitu tajam. Ia tak terima Nando berikan begitu saja saham lima belas persen yang Julia minta. Ia jewer putranya sekuat tenaga saat itu, bila perlu sampai telinganya putus.“Ma! Ampun, Ma!” Nando berteriak kuat sekali, sampai ia meneteskan







