ログイン“Hiks!” Julia sangat syok dengan apa yang ia lihat saat itu.
Yang bersama suaminya adalah Maya. Wanita yang selama ini ia sudah anggap seperti adik sendiri, dari seorang pembantu di rumah keluarga Lesmana dan ia kuliahkan hingga mendapat posisi bagus di Perusahaan saat ini. Mereka justru main gila dan saling menikmati satu sama lain di sana. Julia mundur perlahan dengan tubuh gemetar sembari memeluk lunch box itu. Ia gelengkan kepala sejak tadi, masih denial dengan apa yang terjadi. Ia tak percaya, tapi semua yang ia lihat adalah nyata. Sangking bodohnya, ia maju sedikit dan ia pastikan kembali itu semua. “Tidak. Tidak mungkin mereka seperti itu, kan? Sejak kapan?” Julia bertanya-tanya. Bibirnya bergetar, telapak tangan sampai merah basah karena ia kepal sejak tadi, efek ia menahan semua rasa sakitnya itu. Julia dengan langkahnya yang terhuyung itu lantas meninggalkan ruangan Nando. Ia jalan pelan pada awalnya, tapi lama kelamaan ia berlari pergi dari sana dengan begitu tergesa-gesa. “Kenapa harus ikut sakit juga!” Julia meracau ketika dadanya mendadak ikut nyeri dan bengkak. Semakin sakit semuanya. Ia kesal sekali karena kesialan ini menyerang bertubi-tubi dihari yang sama. Ia bayangkan betapa panas permainan mereka saat itu.Bagaimana bergairahnya Nando ketika bersama Maya. Tapi kenapa tak bisa seperti itu jika dengan dirinya. Nando selalu seenaknya. Asal masuk, asal keluar dan selesai hingga kadang Julia seolah tak merasakan apapun dari permainan mereka. Ketika Julia mulai merasakan bergejolak, rupanya Nando sudah selesai dan tak akan mungkin bisa lagi lanjutkan setelahnya. Dulu Julia fikir, Nando memang seperti itu karena sibuk bekerja dan lelah dengan semua tugas yang ada. Tapi ternyata, Nando sudah mengeluarkannya untuk Maya dan ia hanya tempat kedua. Nando juga tak pernah memainkan bagian tubuh Julia seperti ketika memainkan tubuh Maya tadi. Bahkan menciumpun hanya sesekali, bahkan tak mengizinkan Julia untuk membalas ciuman dan cumbuan itu. Padahal tubuhnya sempat merasa panas. Yang tadi beda. Nando kecupi semua bagian tubuh Maya dari belakang, bahkan meski tubuhnya berkeringat. “Sedangkan ketika aku berkeringat, kamu justru mengeluh jijik, Mas!” Dalam pelarian yang bahkan membuat Julia tak bisa melihat sekitarnya itu, mendadak ia menabrak seorang pria yang baru keluar dari ruangannya. Bugh! Pria itu bertubuh tinggi besar, kekar dan sangat kokoh. Kepala Julia menabrak dadanya saat itu. Ia diam menahan tangis agar tak semakin keras, Ia perlahan mengangkat kepala untuk menatap pria yang ada di depan matanya. Ia takut. Rupanya yang ia tabrak saat itu adalah Felix, kakak iparnya sendiri. Felix memberinya tatapan yang tajam meski eskpresinya datar. Tapi ia perhatikan bagian kemeja Julia yang basah di bagian dada. “Kak Felix,” panggil Julia dengan suaranya yang serak. Dengan cepat Felix tarik Julia untuk segera masuk ke ruangannya. Itu sangat mudah baginya yang bertubuh besar, bahkan jika ia mau gendong Julia hanya dengan satu tangannya saja. Tapi tak ia lakukan karena masih menjaga status mereka sebagai ipar. Felix tutup pintu ruangannya itu dengan rapat, dan memang ruangannya kedap suara hingga tak akan ada yang mendengar akitvitas mereka di dalam sana. Ketika sudah di dalam, suasana menjadi hening karena hanya ada mereka berdua. Tapi, Julia justru semakin keras menangis bahkan langsung merosot berlutut di hadapannya. “Huaaa!!!” Teriakan keras Julia terdengar memekakkan telinga, tapi Felix diamkan sepuasnya hingga lega. Felix tatap adik iparnya itu selama beberapa saat. Julia terus memegangi dadanya saat itu yang basah dan sesekali mendesis menahan nyeri, belum lagi rembesan yang membuatnya malu sekali. Lalu ia tarik celananya sedikit segera berlutut di hadapan Julia yang masih terisak. Ia lihat di samping Julia masih ada lunch box, tandanya ia datang untuk mengantar makan siang Nando. Ia raih wajah Julia dengan telapak tangan besarnya, ia usap airmata itu dengan ibu jari dengan tatapan yang begitu dalam. “Apa yang terjadi?” tanya Felix padanya. “Kak, dia selingkuh!” Akhirnya Julia mengatakan apa yang ia lihat barusan. Rahang Felix mengeras, mengerutuk membayangkan kelakuan adiknya itu. Baru tadi ia katakan, agar Nando tak lagi macam-macam pada Julia, tapi justru kelakuannya lebih parah. “Kenapa dia lakukan itu, Kak? Apa salahku padanya? Bukankah selama ini, semua yang dia minta selalu aku lakukan, bahkan aku … aku sampai suntik laktasi demi bisa adopsi anak untuknya. Aku sudah berjuang sampai sejauh ini untuk Dia dan mama!” Felix hanya terus tatap adik iparnya saat itu dan ia biarkan Julia lepas semua emosi yang sudah ia tahan sejak tadi. “Sakit, Kak Felix! Sakit sekali rasanya seperti ini! Dia selingkuh dengan Maya, wanita yang selama ini aku anggap seperti adikku sendiri!” Tangis itu pecah sejadi-jadinya. Felix hanya tetap dengarkan semua kesedihan itu seraya terus menyeka airmata di pipi Julia. Ia ikut merasakannya, paham sekali apa yang Julia rasakan karena ia juga pernah ada di posisi itu bersama sang ibu. Julia pasti sangat rapuh, seperti ibunya di masa itu. Ia ingat ketika ibunya sampai kehilangan arah ingin mengakhiri hidup. Felix tak mau Julia melakukan hal yang sama. “Dan… ini.” Julia membuka tangan yang bertumpu di dadanya sejak tadi. Sudah membengkak dan basah. “Sakit sekali, Kak.” Felix menatap dada itu dan ia tarik napasnya dalan-dalam. “Ini karena suntik laktasi itu. Dia lebih cepat dari perkiraan, apalagi makanan sangat berpengaruh.” Felix spontan menarik tubuh Julia, ia angkat dan ia bopong hanya dengan satu tangan ia bawa wanita itu duduk di atas sofa kulit import yang mahal itu. Tatap mata Felix tertuju pada dada yang sudah sangat padat dan kemeja yang sudah sangat basah itu. Tubuh Julia lemas, ia bersandar di bahu sofa itu dan terus menghindari tatapan Felix tertuju pada satu titik. Jari telunjuk Felix diangkat, bergerak lurus dan menunjuk tepat di dada yang bengkak itu hingga nyaris menyentuhnya. Julia menarik napas, yang tanpa sadar justru membuat dada itu membusung seperti menantang Felix untuk segera melakukan sesuatu. “Itu… harus dikeluarkan.” Felix raih kemeja Julia untuk ia buka dengan Gerakan cepatnya. Julia yang kaget, spontan meraih tangan Felix dan menahannya agar tak melakukan lebih. Julia menggigit bibirnya saat itu. Jelas ia ragu dan canggung. Wajahnya memerah, yang tadinya sedih sekarang berubah menjadi gugup dan tak karuan. Debaran jantung itu lebih kuat daripada kesedihan yang tadi. “Kau kesakitan.” Felix berusaha memberi penjelasan sekaligus penyelesaian. “Tapi… Kakak mau apa? Mau keluarkan itu dengan cara apa?” Julia mendadak kosong efek ia baru saja menangis sejadi-jadinya. Tatapan dari Felix yang tajam itu menjawab semuanya, dan pasti akan sulit untuk Julia bantah. Memang ia butuh bantuan, tapi seperti ini sangat sungkan. Felix kakak iparnya! Tangan Felix mulai terulur lagi meraih kemeja itu dan membuka kancingnya satu persatu. Julia sangat canggung, dan ia terus menghindar menatap Felix dengan moment ini. Jika tidak ia turuti tawaran itu, dadanya terasa semakin sesak, sakit seolah sebentar lagi akan meledak. Kemeja itu berhasil dibuka meski Julia menolak untuk menyingkirkannya. Felix setuju dengan yang satu itu, dan ia minta Julia agar membuka bra yang ia kenakan dengan kancing di bagian belakang. Glek! Felix meneguk saliva ketika menatap benda besar yang sangat menantang itu terpampang di depan mata.“Hahahaha!” Maya tertawa seperti orang gila dengan suaranya yang begitu keras.Tak lama kemudian, pintu ruangan klinik itu dibuka dan beberapa Polisi masuk ke dalamnya.“Selamat siang. Kami datang mencari Ibu Rosa,” ucap salah satu dari anggota Polisi itu.Mama Rosa yang lesu semakin lesu, dan bahkan jatuhkan tubuhnya di atas lantai dengan begitu lunglai.“A-ada apa, Kalian cari Mama saya?” tanya Nando.“Kami mendapat laporan bahwa Ibu Rosa telah menggelapkan aset, tuduhan proyek fiktif dan pemalsuan beberapa data di perusahan. Masih ada lagi, tapi itu akan dibahas nanti.”Nando langsung merangkak menuju mamanya. “Ma, ini bagaimana, Ma? Kalau Mama di penjara, Nando gimana, Ma?” Wajah penuh takut itu terlihat begitu jelas.Mama Rosa hanya bisa diam, ia seolah kehilangan suaranya yang selama ini selalu lantang.Polisi mendekat dan menarik tubuh itu. Tapi karena lunglai, mau tak mau salah satu dari mereka menggendongnya.“Jangan sampai ada alasan gangguan jiwa untuk kasus ini, Pak. Saya
Mama Rosa dibawa ke klinik terdekat dan masih di area Mall yang super besar itu. Kondisinya lemah, tapi ia memaksakan diri untuk cepat sadar demi satu ganjalan yang ada di hatinya.“Kamu harus ganti rugi atas apa yang terjadi!” Maya masih terus merongrong Julia saat ini.“Maya! Diam!” Nando menyergah istrinya.“Mas, kita butuh uang! Bukankaah—”“Oh, ini alasan kamu mendadak datang dan cari gara gara ke aku?” balas Julia padanya.Maya membuang muka dengan dengkusan napas yang kasar. Tidak perlu dijelaskan, memang apa yang Julia katakan barusan benar adanya.Tapi sayang. Apa yang Maya tunjuk ke Julia justru sekarang terkena pada dirinya sendiri.“Nando,” panggil lirih mama Rosa pada sang putra.“Ya, Ma? Gimana Mama sekarang?” tanya Nando dengan begitu cemas.“Mama pusing, tapi—” Wanita itu menatap pada Nando dan kemudian beralih ke Maya dengan penuh tanya.Tarikan napas wanita itu panjang, dan pasti ada yang sangat mengganjal di dalam hatinya sekarang.“Julia hamil.” Mama Rosa mengata
“Apa? Aku harus ganti rugi atas apa? Memangnya, aku berbuat apa ke kamu, Maya?” tanya Julia.“Ya, kamu harus bayar kompensasi terhadap apa yag terjadi terhadapku. Perlakuan tidak menyenangkan!” ucap Maya dengan begitu konyolnya.Mereka semua yang ada di sana lalu tertawa, terutama para tamu undangan yang melihat semua kejadiannya.“Kenapa kalian tertawa? Kalian harusnya bela aku, ibu hamil yang teraniaya! Aku seharusnya dilindungi!” Maya terus membela diri.“Melindungi siamang sepertimu?” tukas Marta.“What is… Siamang?” celetuk Delia, seolah tidak ada seriusnya.“Marta! Jangan mentang mentang kamu tidak di Lesmana lagi, jadi kamu bisa ngga sopan sama saya!” sergah Maya yang emosinya semakin merajalela.“Oh… perasaan, saya memang sejak awal tidak pernah sopan pada Anda, Nyonya gundik.”“Hhahaa! Gundik!” Delia tertawa lagi dengan ucapan barusan.Maya meradang, ia semakin emosi dan perutnya semakin tak enak saat ini.“Bu Rosa. Sepertinya menantu anda kontraksi. Atau, dia sudah mau melah
Seminggu kemudian.Julia dan Delia meresmikan butik mereka yang ada di Mall FJ, dan sausananya sungguh meriah dengan banyaknya tamu undangan yang datang.“Selamat dan sukses, Sayang. Lancar terus usahanya, tapi jangan sampai kamu kelelahan, ya?” ucap Ibu Aida pada sang mantu.“Kamu juga, Delia!” Tatapannya sedikit tajam pada teman dekat Felix itu.“Hehhe! Iya, Ibu. Kami itu pasti akan jaga kehamilan, apalagi calon mantu masing masing. Hahaha!” Delia tertawa membalasnya.“Heh! Belum lahir, udah diboking calon mantu. Nanti kalau ternyata sama sama cewek atau sama sama cowok, gimana?” tegur Marta yang ada di dekat mereka.“Ya, no problem. Itu tetap my child.” Julia mendengar itu dan tertawa dengan tingkah kakak angkatnya.Ibu Delia juga ada di sana, sangat gemas dengan tingkah mereka.Semua orang bahagia, apalagi ayah Edo sudah mulai bisa jalan meski masih beberapa langkah dan belum bisa terlalu tegap.“Sayang, selamat, ya? Semoga ke depannya akan selalu jadi lebih baik. Aku tidak bisa
“Tidak! Itu tidak mungkin!” Mama Rosa melotot sebesar biji jengkol ketika mendengar apa yang Dirga katakan.“Tidak mungkin bagaimana? Nyonya tidak sadar, bahwa selama ini Tuan Dirga selalu turuti apa maunya Tuan Felix? Dalam setiap proyek, Beliau masuk dan menjadi investor terbesar itu karena Tuan Felix. Memangnya apa?” tanya Marta padanya.Mama Rosa mundur darurat dengan tenggorokan yang tercekat.Mungkin ia fikir, semua yang ada selama ini adalah usaha dan kerja keras dari putranya yang tercinta itu.“Yang jelas, kami tidak perlu tunjukan surat kepemilikan perusahaan. Tapi untuk hak cipta, dan royalti, tetap akan kami tuntut setelah Tuan kami keluar dari Perusahaan ini!”Dika maju dengan semua hitungan yang sudah ia lakukan, dan Dirga memberikan tempatnya agar Dika mengumumkan semua itu di hadapan mereka semua.“Jadi, kira kira total royalti yang harus diberikan adalah Dua trilyun. Itu selama enam tahun setelah Tuan Felix ambil posisi di Lesmana Grup, dan semua proyek yang ditangan
Kabar sudah beredar di mana-mana, tentang lepasnya Felix dari Grup Lesmana.Saat itu, Ibu Aida tengah duduk menatap beritanya dengan secangkir teh camomile dan tatapan yang begitu tenang. Ia juga menarik napas panjang, seoalh ia telah melepaskan sebuah beban.“Ibu,” panggil Julia yang kemudian menghampirinya di kursi ruang keluarga.Ibu langsung menoleh dan tersenyum pada Julia, bahkan ia ulurkan tangan untuk genggam erat tangan menantunya.“Ibu tidak sedih, Sayang. Ibu sedang lega, dan rasanya ibu sudah lepas dari semua beban yang sangat berat selama ini.”“Lia tahu, Bu. Pasti rasanya lega sekali, kan? Itu juga Lia rasakan waktu itu, meski belum seberat Ibu,” balas Julia padanya.“Ya, kita sudah lepaskan semuanya. Setelah ini, kita harus fokus pada masa depan, terutama untuk kebahagiaan keluarga kita.”Pelukan hangat Julia dapatkan dari sang ibu mertua, meski ia masih penasaran dengan apa yang terjadi setelahnya di kantor sana.“Pasti suasana sedang sangat panas, Bu.”“Ya, sangat pan
“Aaah, sakit sekali!” Julia terus merintih saat itu dan memegangi dadanya yang mulai membengkak. Menyut. Seluruh otot bagian dada hingga ke punggung rasanya tertarik bahkan rasanya berat sampai ke leher. Ini jelas lebih parah dari yang tadi, efek makanan yang Julia santap dari Felix.Nyatanya, sema
“Arrgh! Felix Brengsek!” Nando emosi dan terus meracau ketika sudah tiba di dalam ruangannya itu. Semua salah baginya, terutama dua orang itu. Istri tak becus, kakak yang selalu unggul dan seolah tak biarkan dirinya untuk berada di atas. Dalam semua rasa kesalnya itu, tempat mengadu yang paling
Jantung Julia rasanya mau copot ketika mendengar suara dari Nando di depan ruangan Felix. Dentumannya bukan lagi seperti ketika dengan Felix tadi, karena ini jelas beda rasaa. Tadi keenakan, sekarang ketakutan. Julia menatap Felix yang tampak sangat tenang itu, dan ia merasa kali ini Felix terlalu
Suara puas itu terdengar nyaring memenuhi ruangan itu. Maya duduk di pangkuan Nando, tubuhnya bergerak dengan begitu lincah mengobrak abrik milik Nando yang tengah memenuhi dirinya. Nando juga tak kalah puas, ia cengkram pinggang ramping itu dan ia tahan sejenak ketika Gerakan naik turun Maya s







