LOGIN“Anshel, berhentilah menatapku,” ucapnya dengan tatapan tajam. Anshel menunjukkan botol“Aku sedang minum, Fleur.”Seharian ini Fleur tampak tak memberi celah. Setiap geraknya singkat, setiap kalimatnya pendek.Anshel meletakkan botol ke dalam kulkas, lalu masuk ke kamar mandi. Air hangat mengalir membasahi tubuh Anshel. Ia mencondongkan badan, kedua telapak tangannya menempel di kaca, membiarkan uap memenuhi ruang sempit itu. Otot-ototnya yang tegang perlahan mengendur, tapi pikirannya justru makin ramai.Ia menyentuh bibirnya sendiri, jari-jarinya berhenti sejenak.Seharusnya aku tidak menciumnya.Andai saja Fleur tidak tertawa seperti itu. Andai saja senyum itu tidak ia berikan pada Smith dan pengawalku—Anshel mendesah, kupikir keadaan akan membaik, ternyata tidak. Anshel mendengus pelan, air menelan suara itu.Ia senang melihat Fleur tertawa. Ia tidak pernah menyangkalnya. Tapi entah sejak kapan, melihat senyum itu jatuh ke arah orang lain terasa mengganggu. Terlebih saat Fleur
Ketika Anshel menariknya kembali dan menyentuh bibirnya, tubuh Fleur bergetar. Bukan karena dingin air, tapi karena sesuatu yang sama sekali tidak ia persiapkan.Kenapa aku tidak langsung mendorongnya? Ia memejamkan mata hanya sesaat. Saat Anshel melepaskan ciuman itu, Fleur membuka mata perlahan. Napasnya masih tercekat, wajahnya panas meski air menyentuh kulitnya.Para pengawal menahan senyum di tepi pantai. Smith tampak terkejut melihat adegan itu. Ia sempat menoleh, lalu mengalihkan pandangan, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan sepenuhnya sebelum melanjutkan berenang.Anshel menatap Fleur. Tangannya perlahan naik, menyentuh pipi Fleur dengan ragu—seolah menunggu izin tanpa sepatah kata pun. Fleur menggeleng, reaksinya campuran antara terkejut dan bingung. Tubuhnya kaku sesaat, lalu Anshel hanya mengusap pipinya dengan lembut. “Maaf,” ucap Anshel pelan. “Aku tak bisa menahannya.” Ia melepaskan pelukannya, memberi Fleur ruang.Fleur tetap diam. Ia menatap Anshel beberapa
Tatapan mereka sempat bertemu karena insiden kecil saat Anshel ingin menyelimuti Fleur. Apa yang sedang Anshel lakukan, benar… Jangan-jangan dia menyusulku… karena hal ini, dia mau meniduriku bukan melindungiku? pikirnya. Fleur langsung melotot, dadanya naik-turun, dan tanpa ragu mendorong Anshel.“Apa yang kau lakukan padaku?” tanyanya, lalu menyilangkan tangan di dada seolah melindungi dirinya. Anshel terkejut, kaget, dan tubuhnya kehilangan keseimbangan—terjengkang ke kasur dalam posisi duduk.“Aku… aku hanya ingin membetulkan selimutmu, Fleur!” suaranya tergagap.Cahaya remang dari lampu malam menyorot wajah Fleur, menampilkan garis halus rambut yang sedikit berantakan, beberapa helai menempel di bibirnya. Anshel menelan ludah, ingin sekali menyingkirkan rambut itu, namun ia menahan tangannya.Ia berdiri, menatap Fleur dengan mata yang serius namun hangat.“Kau bisa tidur dengan nyenyak, Fleur. Aku tidak akan melakukan apapun.”Fleur ragu. “Kau serius?”Anshel mengangguk pelan.
“Aku baik-baik saja—”Kalimat Fleur terputus ketika Smith tiba-tiba menoleh ke samping. Fleur refleks mengikuti arah pandangnya.Anshel berdiri tak jauh dari meja mereka.Air mata Fleur mengambang di pelupuk mata. Tangannya yang tadi memegang ponsel terlepas dan menjatuhkannya ke atas meja.Ia bangkit, melangkah cepat ke arah pengawal, lalu berhenti tepat di hadapannya.“Apa kau mengadukanku?” tanyanya lirih, namun tajam.Pengawal itu menunduk. “Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa merahasiakan hal sebesar ini dari Tuan Anshel.”Tanpa menunggu penjelasan lain, Fleur berbalik dan meninggalkan restoran.Anshel menepuk bahu pengawal itu pelan. “Tidak apa-apa. Kerja bagus.”Ia lalu menyusul Fleur.Langkah Fleur cepat, nyaris berlari.“Fleur,” panggil Anshel.Ia tidak menoleh.“Fleur. Berhentilah.”Fleur terus berjalan hingga tiba di penginapan. Begitu masuk, ia menuang wine ke dalam gelas dan menjatuhkan diri ke sofa. Baru saja gelas itu terangkat, Anshel meraih pergelangannya dan mengambilnya.
Sebelum kejadian… Dua pria menumpangi Jeep, mengikuti mobil Fleur hingga ke pantai. Mereka terus memperhatikan Fleur dan Smith yang asyik berenang. Saat salah satu pria menerima pesan singkat, matanya menyipit. “Lenyapkan satu-persatu,” bisiknya pada temannya. Pria berotot dengan tanda lahir dekat alis dan rambut hitam itu menunduk, suaranya nyaris tak terdengar. “Alihkan perhatian pengawal itu,” katanya sambil pura-pura menyeruput minumannya. Temannya, mengenakan kemeja biru laut, langsung beraksi dengan rapi. Pria berambut hitam memasukkan ponselnya ke saku, melepaskan sebagian pakaiannya hingga tersisa boxer, dan mulai berpura-pura menanyakan ruang ganti kepada pengawal Fleur dengan nada santai, seolah ingin mengobrol ringan. Di sisi lain, pria itu berbaur dengan pengunjung pantai, menunggu pengawal dan Smith lengah. Ketika momen itu datang, ia bergerak halus, mendekati Fleur, lalu tanpa diduga menarik kaki Fleur ke dalam air. Fleur berusaha melepaskan diri, tap
Fleur merasa Crystal Apple Estate milik Anshel mengingatkannya pada tempat yang dulu pernah ia kunjungi beberapa kali bersama kakeknya di Sovereign Heart. Anshel tersenyum tipis. “Itu hanya kebetulan, Fleur. Aku pun tidak mengenal kakekmu,” ucapnya tenang. “Oh,” balas Fleur singkat, meski hatinya tetap penasaran. Matahari mulai tenggelam, mewarnai langit dengan jingga lembut. Anshel mengulurkan tangannya. “Ayo masuk, malam sudah dekat.” *** Keesokan harinya, Fleur bersiap berangkat ke Pantai Silverwave bersama Smith. Sopir menempatkan koper mini Fleur ke bagasi mobil dengan cekatan. Anshel menatap istrinya sebentar, suaranya rendah tapi tegas. “Berhati-hatilah, Fleur.” Fleur mengangguk, tersenyum tipis. Emma dan Barack saling bertukar pandang, keduanya bahagia melihat hubungan majikannya semakin harmonis. “Jaga Nyonya, Barack!” ujar Emma. “Tentu saja, Nyonya Emma,” jawab Barack sopan. Anshel menatap mobil Fleur yang bergerak menjauh hingga hilang







