Chapter: 111 - Harga Sebuah PengabdianFlashback:Saat Fleur sudah kembali ke ruangannya, ia meminta pada Smith. “Smith, aku mau minta bantuanmu, ini soal Fleur.”Smith masih mencerna apa yang akan dikatakan oleh pemilik tiga pilar perusahaan yang sangat berpengaruh pada ekonomi di Ardenvale itu. “Soal Fleur?” tanya Smith penasaran. “Ya, aku sudah memutuskan, sebaiknya kita libatkan Fleur dalam kasus ini, biarkan dia melanjutkan tugas Philippe. Aku sudah lama membuatnya menderita, kau tahu dulu hubungan kami tidak baik, aku tidak mau dia melewatkan hari-harinya murung seperti ini.”Smith memutar kursi rodanya, kini ia saling berhadapan satu sama lain dengan Anshel. Anshel mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. “Smith, berikan bukti-bukti itu pada Fleur, dia cerdas dia pasti bisa mudah memahaminya, apalagi dia seorang CTO.”Smith menopang dagu di atas tangan yang bertautan di bahu kursi roda. "Ya, dia bisa mengakses bukti lain dari sana. Siapa tahu ada sesuatu yang disembunyikan."“Benar, sepandai-pandainya dia me
Dernière mise à jour: 2026-05-10
Chapter: Bab 110 - Kembalilah ke Ruthven WinesPara wartawan mengerumuni rumah sakit Forest hingga esok hari. Siangnya Ibu Anshel datang untuk menjenguk keluarga Ruthven, ia dialihkan oleh pengawal Anshel yang menjaganya ke pintu lain, agar wartawan tak bisa mendekatinya, meski hanya untuk sekadar wawancara. Nyonya Olivia akhirnya berhasil masuk tanpa gangguan dari media. Ia memasuki ruangan Fleur tanpa kendala. Saat di dalam Ibunya langsung menubruk menantu kesayangannya. “Sayang, ibu minta maaf karena baru bisa datang,” kata ibunya sambil memeluknya. “Tidak apa-apa, bu,” jawab Fleur, wajahnya tampak bengkak karena banyak menangis. “Bagaimana kondisimu, kau tidak mengalami luka lain kan, Nak?” tanya Nyonya Olivia sambil memperhatikan seluruh tubuhnya. “Tidak Bu, ibu tahu bukan, Ayahku pernah cerita kalau waktu kecil aku sering mandi di sungai bersama Smith dan Philippe.”Nyonya Olivia menyunggingkan senyuman. Ketika menyebut nama kakaknya, ia kembali murung, linangan air matanya mengambang di sudut matanya. Ibunya menyen
Dernière mise à jour: 2026-05-10
Chapter: Bab 109 - Di Balik Kaca ICUAnshel kemudian berdiri dan menghampiri suster. “Iya, saya menantu keluarga Ruthven,” “Tuan, bisa ikut saya, dokter ingin bicara dengan Anda.”Anshel melirik pada istrinya sejenak. “Baik, saya akan bicara dulu dengan istri saya sebentar.”“Baik Tuan, silakan,” jawabnya seraya tersenyum ramah. Saat Anshel melangkah, wanita berusia dua puluh lima tahun itu menatap kagum. ‘Ah, jadi ini Tuan Anshel, cucu Raja Robinson,’ batinnya. Ia juga sempat melihat Fleur yang terbaring. ‘Kasihan keluarga Ruthven, untung saja Putrinya selamat,’ ucapnya dalam hati dengan rasa empati. Anshel mengelus rambut Fleur, “Fleur aku tinggal sebentar, kau tenang saja ada pengawal yang menjagamu.”Fleur mengangguk pelan, Anshel pun mencium keningnya, seolah enggan meninggalkannya, Anshel juga mencium kedua tangan istrinya, lalu meninggalkannya sendiri, tangannya pun perlah
Dernière mise à jour: 2026-05-09
Chapter: Bab 108 - Aku Tidak Akan MarahMobil Anshel sedang menuju ke kediaman Ruthven, untuk menjemput istrinya, ponselnya bergetar. Ia sempat menautkan alisnya saat melihat nomor yang memanggilnya. “Selamat siang, apakah anda Tuan Anshel Robinson Noble?”Anshel menjawab dengan santai, “Iya saya sendiri, maaf ini dengan siapa?”Polisi itu bicara dengan tegas dan sopan, “Saya Peter, petugas keamanan lalu lintas.”“Baik, apakah ada yang bisa saya bantu?”“Tuan, apakah anda berada di tempat yang aman, atau sekarang anda sedang menyetir?”Perasaan Anshel mulai tidak enak, ia semakin penasaran. “Tidak, saya bersama sopir saya.” “Syukurlah,” timpal polisi itu, ia mencoba berkomunikasi setenang mungkin, “Tuan jangan panik, istri anda…”Mendengar kata “Istri” Anshel langsung memotong pembicaraan polisi tersebut. “Istri saya, apa yang terjadi pada istri saya, Tuan Peter? “Tua
Dernière mise à jour: 2026-05-09
Chapter: Bab 107 - Danau Forest“Ayah… maafkan aku. Aku tak bisa menepati janjiku,” batin Philippe.Mobil keluarga Ruthven terjun bebas ke dalam danau. Benturan keras membuat tubuh Philippe menghantam setir. Airbag mengembang di hadapannya, namun benda itu pun akhirnya mengempis seketika sepertinya ada gangguan pada sistem inflator karena guncangan, kepalanya juga terbentur sisi jendela hingga pandangannya seketika mengabur. Dari kejauhan, seorang pengendara mobil yang melintas melambatkan kecepatannya, ketika melihat serpihan kaca dan body mobil berserakan di tepi jalan pembatas yang rusak. Ia langsung menepikan kendaraan dan turun, lalu menghubungi polisi.▫️▫️▫️‘Ayah… Ibu… sepertinya kami akan menyusul kalian,’ pikir Fleur panik.Di kursi samping, tubuh Clement terhempas ke dashboard dan kaca mobil. Darah mengalir dari pelipis pria tua itu sebelum akhirnya ia tak bergerak sama sekali.Philippe sempat mencoba me
Dernière mise à jour: 2026-05-08
Chapter: Bab 106 - Akhir Keluarga Ruthven?Philippe menggebrak meja makan hingga membuat Fleur dan Smith terperanjat. “Aku akan membuktikan di pengadilan kalau ini semua ulah Tuan Anderson, dan Ayah sudah dijadikan kambing hitam demi kepentingannya,” geramnya dengan tatapan yang tajam. Smith dan Fleur masih terdiam. Philippe melanjutkan ucapannya, sambil mengepalkan tangan dan meninju pelan di atas meja. “Kalau dia sampai mangkir memberi kesaksian, aku akan menyeretnya.”Smith menghela napas, kemudian berdiri, “Aku setuju denganmu,” ucapnya sambil menepuk bahu Philippe.Pengacara itu melirik secara bergantian ke arah putra dan putri mendiang Tuan Ruthven itu, “Kalau kalian sudah siap, sebaiknya kita berangkat sekarang,” ajaknya. Fleur mengangguk dengan pelan, ia segera meraih tasnya dan sempat merapikan rambutnya. Ketiganya pun mulai beranjak dari posisi masing-masing dan segera menuju mobil. Di sepanjang perjalanan mereka tidak banyak mengobrol, justru Smith menelepon tunangannya, sementara Fleur dan Philippe melamun.
Dernière mise à jour: 2026-05-07
Chapter: Bab 75 - Pilar & SandaranAnshel fan Fleur sedang menghadiri undangan dari Perdana Menteri, Tuan Haakan. Keduanya selalu berdampingan. Bahkan Anshel sesekali menggenggam atau sekadar merangkul pinggang istrinya. Setelah acara pembukaan, para tamu dipersilakan duduk untuk memulai makan malam resmi. Ballroom Hotel Floresiensis malam itu disulap menjadi ruang perjamuan yang sangat intimidatif namun elegan. Langit-langit ruangan yang tinggi dihiasi lukisan fresco bergaya klasik, sementara cahaya dari ribuan lampu gantung kristal terpantul di atas meja panjang yang dilapisi taplak linen putih murni. Di atas meja, peralatan makan perak murni dan gelas-gelas kristal tertata dengan presisi milimeter.Para pelayan berseragam putih, yang bergerak nyaris tanpa suara, mulai menyajikan hidangan pembuka. Foie Gras de Canard yang disajikan dengan selai buah ara dan roti brioche hangat menjadi pembuka. Anshel memotong hidangannya dengan gerakan yang sangat rapi, matanya sesekali melirik ke arah Perdana Menteri Haakan yang d
Dernière mise à jour: 2026-02-23
Chapter: Bab 10 - Lidah Tajam
Anshel mengeluarkan handphone dan menunjukkan sebuah berita. Fleur membacanya. “Kenapa beritanya menjelek-jelekanku? Harusnya mereka memberitakanmu, dengan simpananmu.” Diduga rumah tangga Anshel Robinson Noble dan istrinya, Princetta Fleur Ruthven, sudah tidak harmonis. Mereka jarang terlihat bersama di depan publik, dan dari beberapa foto yang beredar, Fleur tampak sangat dingin terhadap suaminya. Fleur mendengus. Tatapan Anshel langsung mengeras. Ia menarik Fleur ke ranjang, memaksa wajah mereka begitu dekat. Fleur refleks mengalihkan pandangan, tapi Anshel menahan dagunya dengan kuat. “Jangan memancing kemarahanku, Fleur,” desisnya. “Ini ulahmu yang keras kepala. Seharusnya kau tetap di sisiku, ke mana pun aku pergi.” Anshel mendekat ke telinganya. Fleur bisa merasakan napasnya sebelum giginya menyentuh kulit itu. “…termasuk di tempat tidur, bukan?”
Dernière mise à jour: 2025-11-19
Chapter: Bab 9 - Reputasi Keluarga RobinsonFleur menahan napas di balik rak server, menunggu suara langkah itu menjauh. Setelah yakin area aman, ia keluar perlahan, namun baru beberapa langkah, sebuah tangan kuat mencengkeram lengannya dan membantingnya ke dinding. Dingin logam pistol menempel di pelipisnya. “Siapa kau?!” Suara itu dalam, tenang, terlalu tenang untuk orang yang panik. Jantung Fleur berdetak hebat karena terkejut, lalu ia mulai menenangkan diri. “Aku—” “Jangan bergerak. Ini zona terbatas. Bagaimana kau bisa masuk?” Fleur bisa merasakan kesigapan militer dari caranya menahan posisi. Tidak gemetar. Tidak ragu. “Hanz, tahan!” seru Benjamin dari pintu. “Ini istri Tuan Anshel!” Serentak, ia me
Dernière mise à jour: 2025-11-17
Chapter: Bab 8 - Log TerlarangFleur dan Anshel sedang bertengkar di kantor Noblecrest Systems. Fleur menutup telinganya, mencoba menahan kebosanan sekaligus amarah, tapi setiap kata yang diucapkan Anshel tentang masa lalunya membuat dadanya semakin sesak. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. “Aku akan mengembalikan semua uang itu padamu,” katanya dengan suara bergetar tapi tegas. “Aku menyetujui kesepakatan awal, dan seharusnya kita segera mengakhiri pernikahan sialan ini, Tuan Anshel.” Anshel menatapnya lama, senyum tipisnya seperti pisau. “Oh ya?” bisiknya. “Sayangnya, Ayahmu sudah memberimu padaku sepenuhnya, Fleur.” Fleur menatapnya dengan mata membara. Rasa marah bercampur kecewa, membakar dari dalam. Tanpa sadar ia melangkah mendekat dan menarik kerah suaminya. Bibirnya bergetar saat bicara.
Dernière mise à jour: 2025-11-15
Chapter: Bab 7 - Obrolan di Queen Tea Rooms
Fleur sedang mengobati mata Anshel yang kesakitan karena kena tinjunya. Tapi ia melihat samar merah di lehernya, ia meyakini kalau Anshel telah bercumbu dengan kekasihnya, hingga membuatnya tersulut amarah. Ia menyuruh Anshel mengobatinya sendiri. Ketika Fleur hendak pergi, Anshel menarik pinggang Fleur hingga ia terduduk di pangkuannya. Anshel juga sempat melihat lehernya yang merah di cermin dan ia tidak membiarkan Fleur pergi saat mencoba membebaskan diri. “Fleur, apa kau cemburu?” Fleur menyipitkan matanya. “Kau tahu kau itu menjijikan, kau punya istri tapi masih tidur dengan wanita lain?” Anshel menyeringai. “Jadi kau mau melayaniku?” Fleur panik, dan gugup. “Bu.. Bukan seperti itu maksudku?” desisnya. Anshel berdiri sambil me
Dernière mise à jour: 2025-11-12
Chapter: Bab 6 - Hadiah Dari Fleur“Philippe! Pamela! Tolong aku!” teriak Fleur sambil memukuli punggung suaminya.Namun kedua kakaknya hanya tertawa, menikmati pemandangan yang menggelikan di tengah ketegangan itu.Anshel terus melangkah pergi, membawa Fleur seperti karung beras.Setiba di rumah, Fleur langsung menuju kamar, tapi Anshel mengikutinya dari belakang. Saat ia hendak menutup pintu, Anshel menahannya dengan tangan.“Aku ingin bicara denganmu,” katanya datar.Fleur menolak, tapi ia mendorong pintu lebih keras dan tiduran di ranjang.“Fleur… aku akan tidur di sini,” ucapnya.Fleur menautkan alisnya. “Benarkah? Kau yakin?”Anshel mengangguk dan tersenyum manis.Fleur membalas senyumannya. “Silakan saja. Tapi aku akan tidur di kamar sebelah.”Anshel tertawa kecil, seolah meledeknya, lalu duduk tegap di tepi ranjang.“Fleur, ini perintahku, bukan tawaran. Berhentilah bekerja di perusahaan ayahmu dan bekerjalah di
Dernière mise à jour: 2025-11-11