Chapter: Bab 132 - Rahasia Antara Wesley & Anderson“Apa yang kujanjikan padamu, Anderson?” “Kau akan memberikan sebagian penghasilanmu untuk…” Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu terdengar dari ruang kerja Tuan Wesley Ruthven. Wesley dan Anderson sedikit terkejut dan menoleh ke arah pintu. “Ah sialan,” gerutu Smith yang sedang menonton rekaman tersebut. Meski kesal dan karena penasaran ia tetap menunggu apa yang akan dibicarakan oleh Tuan Wesley dan Anderson. Keduanya berhenti bicara. Ayah Fleur mempersilahkan orang itu masuk. Seorang perempuan berusia tiga puluh tahun berambut sebahu muncul dari balik pintu, itu Sekretaris pribadi Tuan Wesley. “Tuan ada tamu yang mencari Anda.” Tuan Wesley mengangguk pelan, “Baiklah aku akan segera menemuinya.” Sekretaris pribadinya pun mengerti dan segera pamit, ia meninggalkan rua
Last Updated: 2026-09-15
Chapter: Bab 131
- Harta Karun AndersonSmith menatap kepergian Fleur dari ruangan meeting. “Jika aku mengatakan yang sebenarnya padamu—” Smith menarik senyumamnya kesamping, “ini akan merepotkan, Fleur.”Smith pun kembali ke ruangannya, ia sibuk dengan pekerjaannya, hanya mengetik sepanjang hari, setelah hari mulai gelap ia menggeliat, lalu menatap jam tangannya. “Hah gedung ini sudah seperti rumahku sendiri, bosnya malah keenakan tidur sepanjang hari di rumah sakit,” ujarnya meledek kakaknya Fleur yang masih terbaring koma. “Smith menelpon seseorang, bagaimana situasinya?”“Aman, Tuan,” bisik seseorang dari balik telepon. “Hmmm, bantu aku jangan sampai anak buah Anderson memergokiku.”“Tentu Tuan.”Smith membawa cangkir kopi, sambil memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana. Ia berjalan dengan santai keluar dari ruangannya, kemudian ia melihat suasana sekeliling. “Sudah sepi rupanya.”Pria itu kemudian meneguk kopinya sekali lagi, lalu berjalan ke dekat tangga dan meletakkan cangkirnya disana. Kelakuannya sung
Last Updated: 2026-08-21
Chapter: BAB 130
- Rahasia Nyonya OliviaAnshel meletakkan ponselnya di atas meja.“Tidak seperti biasanya Ibu mengajakku mengobrol di saat aku sedang berada di kantor.”Tatapannya beralih pada bingkai foto dirinya bersama Fleur saat menghadiri pesta pernikahan Magnus. Senyum tipis terukir di bibirnya."Aku ingin sekali meneleponmu, Fleur. Tapi aku tahu kau pasti sedang rapat sekarang."Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya sambil menunggu kedatangan ibunya.Satu jam kemudian, Nyonya Olivia tiba di kantor putranya.Wanita setengah baya itu mengenakan rok hitam bergaris putih dipadukan dengan blus putih yang anggun. Sebuah button hat menghiasi kepalanya, membuat penampilannya tetap elegan.Baru beberapa langkah memasuki lobi, ponselnya berdering.Ia melihat nomor seseorang.Dengan ragu, ia menerima panggilan itu, sesaat kemudian wajahnya memerah, ia mengepalkan tangannya. "Jika kau berani menyentuh putra dan menantuku, ingat ini... aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku. Kau tidak perlu mengancamku. Aku bukan perem
Last Updated: 2026-07-26
Chapter: Bab 129 - Kehangatan yang KembaliAnshel menutup matanya, sebentar.“Ternyata ini hanya mimpiku,” gumamnya pelan sambil mengembuskan napas lega.Fleur menggeleng-gelengkan kepala, ia bangkit dari ranjang, berusaha membantu suaminya berdiri. Wajah Fleur yang masih polos setelah bangun tidur perlahan mengusir bayang-bayang mimpi buruk yang baru saja dialaminya.Anshel tersenyum, ketika istrinya mengulurkan tangannya. “Ayo bangun!” ajak Fleur. Pria itu teringat akan ucapan istrinya semalam.Anshel pun berdiri di bantu Fleur, begitu berdiri, Anshel refleks memegang bagian belakang kepalanya.Melihat ekspresi suaminya, Fleur tampak khawatir. “Anshel, apa kau baik-baik saja, bagaimana kepalamu?” Anshel baru menyadari kepalanya terbentur ke lantai, dan ia merasa kesakitan, tapi ia bersikap santai di depan istrinya, laki-laki itu justru malah memandangi wajah istrinya, senyumnya tak men
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: Bab 128 - Mimpi Buruk Setelah Ciuman“Apa kau datang ke pengadilan?”“Hmmm, bukankah waktu di rumah sakit aku pernah bilang akan datang ke persidangan.”Seolah mendapat jawaban dari rasa penasarannya, ia pun baru mengingatnya, kalau Ava Grace sempat meminta izin padanya untuk datang ke persidangan. “Ah benar, maaf aku tidak memperhatikannya saat di sana.”“Ya karena kau sibuk mengurus istrimu.”“Baiklah, tapi aku punya satu permintaan.”Anshel mengerutkan keningnya ia kemudian berbalik sambil melepaskan tangan Ava. “Berhenti dan jangan bergerak!”Kaki ava berjinjit ia kemudian menangkup ipi Anshel dan melumat bibir Anshel lagi. Namun Anshel segera mendorongnya. “Hentikan Ava!”Anshel menyeka bibirnya yang basah. “Hubungan kita sudah berakhir.”“Tapi kau menikmati ciumanku, Anshel kau bahkan membalas ciumanku dan rasanya masih sama seperti dulu.”
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: Bab 127 - Godaan di Tengah Badai“Malam ini?”“Aku ingin bicara soal Alat itu.”“Tapi aku harus menemani Fleur.”“Bukankah istrimu akan senang jika kakaknya akan segera Pulih?”Anshel mengerutkan dahinya. “Baiklah, aku akan menemuimu malam ini.”Anshel kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Anshel mendekati kedua pengacaranya dan mengakhiri obrolan mereka. ***Anshel pun menuju sebuah Bar dimana mereka sering bertemu dulu. Di sana di ruang VIP gadis itu duduk di sofa menunggu kedatangan Anshel. Senyumnya mengembang ketika melihat Anshel datang. Ia berdiri sambil membawa segelas anggur putih. Anshel menyapanya, “Halo Nona Grace.”“Anshel akhirnya kau datang juga,” Ia segera memeluk Anshel dan mencium pipi Pria itu. Anshel berusaha melepaskan pelukan Ava Grace, “Ava, jangan seperti ini.”Ava Grace pun melepaskan pelukannya lalu ia menarik Anshel agar duduk d
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: Bab 75 - Pilar & SandaranAnshel fan Fleur sedang menghadiri undangan dari Perdana Menteri, Tuan Haakan. Keduanya selalu berdampingan. Bahkan Anshel sesekali menggenggam atau sekadar merangkul pinggang istrinya. Setelah acara pembukaan, para tamu dipersilakan duduk untuk memulai makan malam resmi. Ballroom Hotel Floresiensis malam itu disulap menjadi ruang perjamuan yang sangat intimidatif namun elegan. Langit-langit ruangan yang tinggi dihiasi lukisan fresco bergaya klasik, sementara cahaya dari ribuan lampu gantung kristal terpantul di atas meja panjang yang dilapisi taplak linen putih murni. Di atas meja, peralatan makan perak murni dan gelas-gelas kristal tertata dengan presisi milimeter.Para pelayan berseragam putih, yang bergerak nyaris tanpa suara, mulai menyajikan hidangan pembuka. Foie Gras de Canard yang disajikan dengan selai buah ara dan roti brioche hangat menjadi pembuka. Anshel memotong hidangannya dengan gerakan yang sangat rapi, matanya sesekali melirik ke arah Perdana Menteri Haakan yang d
Last Updated: 2026-02-23
Chapter: Bab 10 - Lidah Tajam
Anshel mengeluarkan handphone dan menunjukkan sebuah berita. Fleur membacanya. “Kenapa beritanya menjelek-jelekanku? Harusnya mereka memberitakanmu, dengan simpananmu.” Diduga rumah tangga Anshel Robinson Noble dan istrinya, Princetta Fleur Ruthven, sudah tidak harmonis. Mereka jarang terlihat bersama di depan publik, dan dari beberapa foto yang beredar, Fleur tampak sangat dingin terhadap suaminya. Fleur mendengus. Tatapan Anshel langsung mengeras. Ia menarik Fleur ke ranjang, memaksa wajah mereka begitu dekat. Fleur refleks mengalihkan pandangan, tapi Anshel menahan dagunya dengan kuat. “Jangan memancing kemarahanku, Fleur,” desisnya. “Ini ulahmu yang keras kepala. Seharusnya kau tetap di sisiku, ke mana pun aku pergi.” Anshel mendekat ke telinganya. Fleur bisa merasakan napasnya sebelum giginya menyentuh kulit itu. “…termasuk di tempat tidur, bukan?”
Last Updated: 2025-11-19
Chapter: Bab 9 - Reputasi Keluarga RobinsonFleur menahan napas di balik rak server, menunggu suara langkah itu menjauh. Setelah yakin area aman, ia keluar perlahan, namun baru beberapa langkah, sebuah tangan kuat mencengkeram lengannya dan membantingnya ke dinding. Dingin logam pistol menempel di pelipisnya. “Siapa kau?!” Suara itu dalam, tenang, terlalu tenang untuk orang yang panik. Jantung Fleur berdetak hebat karena terkejut, lalu ia mulai menenangkan diri. “Aku—” “Jangan bergerak. Ini zona terbatas. Bagaimana kau bisa masuk?” Fleur bisa merasakan kesigapan militer dari caranya menahan posisi. Tidak gemetar. Tidak ragu. “Hanz, tahan!” seru Benjamin dari pintu. “Ini istri Tuan Anshel!” Serentak, ia me
Last Updated: 2025-11-17
Chapter: Bab 8 - Log TerlarangFleur dan Anshel sedang bertengkar di kantor Noblecrest Systems. Fleur menutup telinganya, mencoba menahan kebosanan sekaligus amarah, tapi setiap kata yang diucapkan Anshel tentang masa lalunya membuat dadanya semakin sesak. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. “Aku akan mengembalikan semua uang itu padamu,” katanya dengan suara bergetar tapi tegas. “Aku menyetujui kesepakatan awal, dan seharusnya kita segera mengakhiri pernikahan sialan ini, Tuan Anshel.” Anshel menatapnya lama, senyum tipisnya seperti pisau. “Oh ya?” bisiknya. “Sayangnya, Ayahmu sudah memberimu padaku sepenuhnya, Fleur.” Fleur menatapnya dengan mata membara. Rasa marah bercampur kecewa, membakar dari dalam. Tanpa sadar ia melangkah mendekat dan menarik kerah suaminya. Bibirnya bergetar saat bicara.
Last Updated: 2025-11-15
Chapter: Bab 7 - Obrolan di Queen Tea Rooms
Fleur sedang mengobati mata Anshel yang kesakitan karena kena tinjunya. Tapi ia melihat samar merah di lehernya, ia meyakini kalau Anshel telah bercumbu dengan kekasihnya, hingga membuatnya tersulut amarah. Ia menyuruh Anshel mengobatinya sendiri. Ketika Fleur hendak pergi, Anshel menarik pinggang Fleur hingga ia terduduk di pangkuannya. Anshel juga sempat melihat lehernya yang merah di cermin dan ia tidak membiarkan Fleur pergi saat mencoba membebaskan diri. “Fleur, apa kau cemburu?” Fleur menyipitkan matanya. “Kau tahu kau itu menjijikan, kau punya istri tapi masih tidur dengan wanita lain?” Anshel menyeringai. “Jadi kau mau melayaniku?” Fleur panik, dan gugup. “Bu.. Bukan seperti itu maksudku?” desisnya. Anshel berdiri sambil me
Last Updated: 2025-11-12
Chapter: Bab 6 - Hadiah Dari Fleur“Philippe! Pamela! Tolong aku!” teriak Fleur sambil memukuli punggung suaminya.Namun kedua kakaknya hanya tertawa, menikmati pemandangan yang menggelikan di tengah ketegangan itu.Anshel terus melangkah pergi, membawa Fleur seperti karung beras.Setiba di rumah, Fleur langsung menuju kamar, tapi Anshel mengikutinya dari belakang. Saat ia hendak menutup pintu, Anshel menahannya dengan tangan.“Aku ingin bicara denganmu,” katanya datar.Fleur menolak, tapi ia mendorong pintu lebih keras dan tiduran di ranjang.“Fleur… aku akan tidur di sini,” ucapnya.Fleur menautkan alisnya. “Benarkah? Kau yakin?”Anshel mengangguk dan tersenyum manis.Fleur membalas senyumannya. “Silakan saja. Tapi aku akan tidur di kamar sebelah.”Anshel tertawa kecil, seolah meledeknya, lalu duduk tegap di tepi ranjang.“Fleur, ini perintahku, bukan tawaran. Berhentilah bekerja di perusahaan ayahmu dan bekerjalah di
Last Updated: 2025-11-11