Anshel dan Fleur akhirnya meninggalkan istana. Sepanjang perjalanan, hening mengisi kabin mobil. Hanya deru mesin dan gesekan ban di aspal yang terdengar. “Barack, antar aku ke Rivershade!” suara Fleur terdengar tegas, meski wajahnya masih memendam kesal. Rahangnya mengeras, tangannya meremas kain pakaiannya. Anshel menoleh santai, matanya tetap fokus ke jalan. “Tidak, Barack. Kita ke kantor dulu. Aku ada rapat penting sekarang,” ucapnya tenang tapi tegas. Fleur menatapnya, kecewa menumpuk di matanya. “Kalau kau mau pergi ke Noblechrest Group, sebaiknya turunkan aku di sini,” pintanya, suaranya nyaris bergetar. Anshel menegakkan punggung, menatap lurus ke depan. “Ikuti perintahku, Barack!” Suaranya tak memberi ruang untuk bantahan. Barack, supir mereka, menatap cemas ke spion tengah. Ketegangan di kabin terasa begitu pekat. Fleur menggigit bibir, hatinya seperti terbakar. Ia menoleh ke pintu, bersiap membuka, seolah ingin melompat keluar. Anshel menyadari gerakan i
Last Updated : 2025-12-06 Read more