MasukThe woman got drunk and slept with an acquaintance at her high school reunion. It turned out that the man was a wealthy man who behaved rather strangely and had strange rules. Unfortunately, the woman was forced to marry him with a three-month contract. However, little did the woman know that the struggle of this contract was like a struggle in hell.
Lihat lebih banyak“Four ...!”
“Three ...!”
“Two ...!”
Semua bersorak. Teriak serentak. Menghitung mundur dengan penuh penantian kala si pengantin wanita berdiri membelakangi stage, bersiap melempar buket bunga pengantinnya. Terutama bridesmaids sudah mulai saling sikut, tak sabar untuk saling rebut.
Namun tidak dengan Mei. Meski bibir wanita itu tersenyum, tetapi senyum itu tak mencapai matanya yang menyorot suasana itu dengan sendu. Meski begitu dia tetap bergabung dalam barisan besties yang berseragam kebaya merah terang.
“Gooo!”
Semua tanganpun melambai-lambai ke atas, siap menangkap disertai pekikan heboh. Tetapi. Semua kemudian terdiam. Semuanya bengong. Si pengantin wanita justru berbalik badan, mengulurkan buket bunga pengantin yang ditunggu-tunggu banyak orang itu kepada seorang lelaki yang berlari-lari kecil menghampiri untuk mengambilnya. Menciptakan berbagai tanya yang menggantung dalam pikiran semua orang yang melihatnya.
Dan ... tiba-tiba saja, lelaki itu dengan gentle membungkuk di depan Mei seraya berkata, “Meilani, will you marry me?” sambil mengulurkan buket bunga itu padanya.
Mei terperangah. Tak mengira Juna bakal bertindak sampai seperti ini.
Lelaki bernama Juna itupun menyeringai kecil dengan salah satu alis terangkat. Masih membungkuk dan menyodorkan bunga. Menantinya.
Seketika ballroom hotel diriuhkan teriakan orang-orang dalam satu ketukan irama komando.
“Yes!”
“Yes!”
“Yes!”
“Yes!”
Tepukan meriah dan siulan orang-orangpun saling bersahutan ramai kala tangan Mei akhirnya terulur jua, menerima buket bunga itu. Juna pun berdiri. Mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan meraih tangan kiri Mei. Lalu memasang cincin belah rotan bermata berlian yang berkilau cantik di jari manis wanita itu.
Mei berkedip-kedip, tatapannya beralih dari cincin itu ke wajah Juna yang tiba-tiba saja bergerak mendekat secepat kilat. Dan mendelik saat bibirnya terasa hangat di bawah kecupan Juna yang sedang mencuri ciumannya.
“Fans service,” bisik Juna di tengah jeritan ramai orang-orang yang menyoraki mereka.
Mei menelan ludah dan memalingkan wajah. Tatapannya pun membentur si pengantin pria yang berdiri di atas pelaminan sana, yang tak lain adalah Kevin. Pria itu tengah menatapnya setajam elang. Mengoyak perasaan Mei dengan ketidaknyamanan. Secepat kilat Mei pun mengalihkan tatapannya kepada Juna.
Juna justru menertawakan wajah Mei yang semerah tomat. “Jangan bilang kalau ... ini first kiss elu?” bisik cowok itu terdengar begitu meledek.
“Shut up,” desis Mei seraya berjinjit dan merangkul leher Juna. Membuat pria itu mematung kala sekonyong-konyong Mei melumat bibirnya yang menganga kaget.
Sekilas Juna melirik ke arah pelaminan, menangkap ekspresi sang pengantin wanita, yang tak lain mantan kekasihnya. Di sana, Raya terbelalak tak percaya sambil mencengkeram lengan Kevin yang juga terlihat jengah memalingkan wajah. Membuat Juna bersorak menang dalam hatinya, kemudian dia berbisik disela-sela ciumannya, “Good job, Mei.”
***
Dua jam sebelumnya,
Mei berbaur dalam suasana pesta yang sudah selayaknya dipenuhi dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Namun tidak dengan perasaannya kini. Entah sudah yang keberapa kali Mei mencuri tatap ke pelaminan dengan sorot sendu. Memandangi Kevin. Pria itu tampak begitu menawan dan gagah dalam balutan jas mahalnya. Bersisian dengan Raya yang begitu cantik, secantik gaun pengantinnya saat ini.
“Mereka cocok banget ya? Serasi,” celetuk Sarah yang diamini teman-temannya. Lalu keempat bridesmaid berseragam kebaya merah terang itu mulai membicarakan tekad mereka untuk saling rebut buket bunga pengantin dari Raya nanti, biar yang mendapatkan bisa lekas menyusul kawin. ‘Siapa tahu mitos itu jadi kenyataan?’ Begitu harapan mereka.
Mei ikut tertawa palsu bersama teman-temannya yang lain meski perasaannya berantakan. Kevin adalah cinta satu-satunya, yang sampai kini bertahta di hatinya. Namun, bukan salah pria itu yang pilih melabuhkan hatinya kepada Raya, sebab tiada komitmen apa-apa antara Kevin dengan Mei. Bahkan mungkin Kevin tak peduli bagaimana jantung Mei berdebar dalam setiap momen kebersamaan mereka.
Mei masih ingat rasanya. Saat Raya melempar bom itu padanya di sebuah acara reuni 2 minggu yang lalu. “Mei, ini undangan buat elu. Gue sama Kevin mo merit, lu wajib datang. Elu mau kan jadi bridesmaid gue?” ucap Raya dengan ceria, berbanding terbalik dengan Mei yang seketika memucat.
Tak ada angin, tak ada hujan. Lalu. Dari manakah badai ini datang?
“M-memangnya ...,” Mei menelan ludah pahit, “sejak kapan elu sama Kevin jadian?”
Raya tersenyum simpul. “Actually, kami tunangan setahun lalu di Amrik. Kami mulai dekat sejak kuliah bareng di kampus yang sama di sana.”
Pengakuan Raya terasa mencekik Mei hingga sulit berkata-kata. Komunikasinya dengan Raya memang tersendat sejak Raya melanjutkan study pasca sarjananya di Amerika. Dan kesibukan membuat keduanya menjadi sulit bertemu sekembalinya Raya ke Jakarta beberapa bulan lalu.
Mei terlalu terkejut sampai lupa memberi selamat. Tatapannya menelusuri undangan cantik nan wangi di tangannya. Jantungnya dipecut nyeri mendapati foto prewed Raya dan Kevin yang begitu mesra. Mei mengabaikan sosok Raya dalam foto itu, perhatiannya tertuju lurus-lurus pada wajah Kevin yang sedang tersenyum dengan teramat manis. Rahang tegas dan belahan dagunya yang khas, menyihir Mei dengan kekaguman seperti biasa. Mei pun membaca baris demi baris kalimat dalam undangan itu. Dan tatapannya terhenti, tertancap pada nama Kevin Febrian yang terukir indah dalam tinta emas. Seindah ukiran perasaan Mei terhadap pria itu selama ini. Tiba-tiba netra Mei terasa memanas. Sebelum air mata benar-benar menetes dan mempermalukan dirinya di depan Raya dan teman-teman, Mei lekas menyingkir menuju restroom. Lalu membasuh wajahnya dengan air kran. Mei mati-matian menahan. Tapi, air mata sialan itu meluncur juga. Bersama setiap nyeri yang menggigiti hati. Dan hari ini ..., rasa nyeri itu kian terasa menjadi.
“I know, Mei. Lu pernah ada something kan sama Kevin? So, kita senasib sekarang. Right?” tembak Juna yang tiba-tiba berdiri di sampingnya, membuat Mei terbatuk-batuk kaget.
“Sorry ...? What do you talking about?” Mei mencoba mengelak dari ucapan Juna, si cowok berisik yang kerap membuntuti dan menyogoknya dengan aneka coklat semasa SMA, demi sekulik info tentang Raya. Ya. Juna adalah penggemar berat Raya sejak dulu. Harusnya Mei iba mengingat betapa bucinnya Juna kepada Raya, tetapi pria itu tetap membesarkan hatinya untuk hadir di sini. Tetapi Mei jadi kesal karena Juna mengungkit-ungkit tentang dirinya dan Kevin.
“Mata itu jendela hati, Mei. You show it too clear. So I know, everybody know. Pernikahan ini menghancuranmu.”
Kata-kata Juna bagai panah yang menancap telak ke jantung Mei. Seketika kakinya gemetar. Sejelas itukah?
Seakan bisa mendengar isi pikiran Mei, Juna bergerak mendekatinya dan berkata. “I feel you, Mei. Posisi kita sama. Kita sama-sama dicampakkan. Kevin tahu banget elu masih suka sama dia. Raya juga tahu gue masih suka sama dia. Di mata mereka, kita ini pecundang. So, gimana kalau kita bersekutu? Come on, kita tunjukin ke mereka kalau kita udah move on and happy together. Bukankah tampak bahagia itu pembalasan dendam terbaik?”
“Ckckck. Teori dari Hongkong!” ketus Mei sambil beranjak pergi.
Juna mencekal lengan Mei. “I will pay you,” ucapnya membuat wanita itu terpaku di tempat. Lalu pria itu merundukkan kepala dan membisikkan sesuatu ke telinga Mei.
***
Fifteen years had passed since the incident that had forever changed Ethan's life. He had been a criminal, making illegal coal mines in Thailand that had led to the loss of lives and property. But now, he was a different man. He had served his time in prison and had come out a changed person. He had dedicated his life to working in the NGO sector, providing aid and support to those affected by war and conflict.Ethan was currently in a war-torn country, working as part of a team to provide aid and assistance to the victims of the conflict. He had been here for several months now, and had grown to love the people and the children who had been caught up in the violence. He spoke their language fluently, and had built a strong bond with the community.Despite the danger that surrounded them, Ethan was determined to make a difference. He knew that he could never undo the harm he had caused in the past, but he was determined to do whatever he could to help those in need.One day, Ethan was
The sun was shining brightly, casting a warm glow over the pristine white sand of the private island. Luna stood in front of the full-length mirror, admiring her reflection. She had never felt more beautiful in her life. The white lace wedding dress hugged her figure perfectly, accentuating her curves and making her feel like a princess. The delicate beading on the bodice sparkled in the sunlight, and the long train flowed behind her like a cloud. She took a deep breath, feeling a sense of calm and peace wash over her.As she applied the final touches of makeup, she couldn't help but think about her previous wedding. It had been a disaster, a day filled with pain and heartache. But she had made peace with her past, and today was a new beginning. She was determined to make the most of it and create happy memories with Eddie.Eddie arrived at the small cottage where Luna was getting ready, looking incredibly handsome in his black tuxedo. His hair was styled perfectly, and his eyes spark
Ethan sat in the corner of his small, dingy cell, hunched over a bowl of flavorless rice porridge. He had been in this Thai prison for what felt like an eternity, and the bland food was starting to take its toll on him. He had vomited several times already, unable to stomach the tasteless mush.Just as he was forcing himself to take another bite, the sound of footsteps echoed down the hallway. Ethan's heart raced as the prison warden appeared in front of his cell. The man's stern expression told Ethan all he needed to know. His execution date had been set.Ethan felt the bile rise in his throat as the warden informed him that he had three months left to live. He couldn't believe it. He had always known that he was wrong, that he was an asshole. But he had never truly faced the consequences of his actions until now.Desperate, Ethan tried to bribe the warden with the little money he had left. But the man just laughed in his face. "You think your money can buy you a way out of this?" he
Eddie was already dressed in a tailored suit, his hair slicked back and a determined look in his eyes as he paced back and forth in the hotel room. Luna had just woken up, her hair tousled and her eyes groggy. She rubbed the sleep from her eyes and sat up in bed, taking in Eddie's serious demeanor."What's going on?" she asked, her voice still thick with sleep.Eddie stopped pacing and turned to face her. "We need to prepare before we go to the auction," he said, his tone grave.Luna's eyes widened in understanding. "Right, the auction," she said, throwing off the covers and swinging her legs over the side of the bed.Eddie nodded. "I've made arrangements for us to go to a clothing store. It's one of the best in Paris and they have branches all over Europe. It's also my store," he added with a small smile.Luna raised an eyebrow. "Your store?" she asked, surprised.Eddie nodded. "One of many businesses I own. I figured it would be the perfect place to find you something to wear to the
Luna sank deeper into the bubbling jacuzzi, letting the warm water soothe her tired muscles. The private island was a paradise, and Ethan's house was the perfect getaway. She closed her eyes and let out a content sigh, feeling the stress of the past few weeks melt away.This is the best way to pamper
The sun was setting, casting a warm golden hue over the pristine beach of Eddie's family's private island. Luna sat under a large umbrella, her toes digging into the soft sand as she watched the waves gently lap against the shore. She had always loved the ocean, its vastness and mystery a source of
Eddie's heart raced as he quickly assessed the situation. Fifteen men had surrounded him and Luna, their eyes filled with malice. He could see the fear in Luna's eyes, but he knew he couldn't let it show. He had to protect her.Despite Eddie having taken down several people earlier, the thugs remaine
Luna and Eddie sat on a bench near the police station, the cool evening breeze rustling the leaves around them. Eddie's eyes were fixed on the station, his mind racing with thoughts. Luna, on the other hand, was deep in thought, trying to piece together the mystery of why Lyra Thomson was working wi


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.