LOGIN“You kept dancing for other men, knowing fully well that I was glaring at you. I wanted you to stop, come down from the pole and crawl to me like the slut that you are, but you didn't, did you?” His hands had pushed my panties aside, and flicking a finger through my folds, he let out a dark, primal chuckle. The fact that I couldn't see his face heightened my excitement and fear. I felt both in good measure. “So what are you going to do about it sir?” Lust had clouded my sense of reasoning and it made me bolder. “I'm going to punish you. It's only fair. Don't you think so?” Fuck. The steady rise of my chest went haywire. I had spiraled out of control, out of primal need to please this man. “Yes please, punish me.” I let out a desperate plea. “Good girl.” His deep voice rumbled, and the heavy promises of what he would do to me hung in the air. ……… I fell for my brother's best friend when I was thirteen but he rejected me, patted me on my head and said I was cute. I fell even deeper, but as I grew up and realized how embarrassing I was, my crush turned into hate, until I saw him again for the first time after eight years. He pleasured me for a whole night, and I didn't even realize who he was until the very next day, but it had already happened. Things became awkward and even though I still hated him, I couldn't resist going back for more…
View MoreSiapa yang tahu jika dunia ini terbagi lagi dalam beberapa golongan, manusia adalah yang paling bodoh dan miskin. Mereka yang dianggap mitos, ternyata hidup di negeri atas. Yang manusia sebut, bernama kahyangan.
Di dunia atas itu kita banyak di dongengkan dewa, dewi, malaikat, dan sosok baik hati nan cantik rupa tinggal. Yang kita sebut bangsa immortal. Tapi sebenarnya tidak seperti itu. Dongeng itu hanyalah sedikit cerita manis untuk menghibur anak-anak.
Kisah yang sebenarnya ada disini. Di atas langit sana, terdapat sebuah kerajaan langit penguasa dunia immortal. Tempat dewa dewi, malaikat dan kaum bersayap lainnya tinggal.
Kerajaan immortal namanya, dipimpin oleh seorang raja yang tegas, kuat dan bijak. Sebut ia Baswara.
Raja itu hanya mencintai seorang perempuan, dia adalah dewi yang sederhana, baik hati, lemah lembut dan bersahaja. Kerajaannya semakin tersohor dipimpin bersamanya.
Namun apa kata orang-orang, kerjaan mempunyai aturan yang ketat. Seorang raja harus menikah dengan tuan putri atau minimalnya dewi terhormat.
Sang dewi, Anggraini harus menahan air mata dan kesedihannya ketika anggota kerjaan, penasihat dan petinggi lainnya menikahkan raja Baswara dengan seorang dewi cantik, Chanda namanya.
Baswara sendiri bisa saja menolak, tapi apa daya dia juga dipaksa dewi Anggraini yang sepertinya sudah lelah digunjing. Dengan perasaan sakit, raja Baswara memiliki dua permaisuri di kerajaan nya. Akan tetapi cinta hanya satu, yang ada untuk dewi Chanda hanyalah sebatas tanggungjawab saja.
Kerjaan immortal sangat damai, tentram dan teratur. Semua dewi, malaikat dan penghuni yang dipimpin raja hidup selaras tanpa pertikaian. Seharusnya.
Tapi pada kenyataannya, kerjaan immortal tak sejaya itu. Raja Baswara sudah tak sadarkan diri sejak ribuan tahun lalu. Tubuhnya terkulai lemas diatas ranjang besarnya.
Apa dia mati? Tidak. Apa dia sakit? Tidak juga. Lantas apa? Dia sekarat? Jawabannya juga tidak. Tepatnya tidak ada yang bisa menjelaskan keadaan raja itu.
Saat itu, raja Baswara hanya tiba-tiba tak sadarkan diri di atas singgasananya. Menimbulkan kepanikan, dan duka berkepanjangan karena tak kunjung sadar sampai ribuan tahun lamanya.
Tak hanya meninggalkan segudang masalah, tidurnya raja meninggalkan dua permaisuri dan anak-anaknya yang masih kecil. Disela-sela itu ada kabar duka.
Pangeran Sabitah, anak pertama dan satu-satunya dari dewi Anggraini dikabarkan hilang dan meninggal setelah hanya ditemukan potongan pakaian berlumur darah samping kawasan Helheim, tempat berkumpulnya para penjahat.
Selain Helheim yang menjadi bebas, semua kawasan immortal tak terkendali. Banyak para dewa dewi dan malaikat ahli sihir dari kawasan Vaneheim berkeliaran di komplek utama pemerintah, Alfheim. Tempat berkumpulnya para dewa dewi, malaikat dan semua pekerja umum.
Mengakibatkan banyak dewa dewi, dan malaikat berambut putih diburu oleh ahli sihir itu. Bukan hanya macam-macam pelanggaran, akan tetapi sistem hukuman juga sudah tak berjalan semestinya lagi.
Di kawasan Alfheim berkeliaran dewa dewi dan malaikat bermata merah, yang mana mereka sangat sensitif dihasut dan diperbudak bangsa iblis.
Immortal mengalami kemunduran parah saat itu. Kekuasaan raja sendiri saat ini dipegang oleh penasihat pribadinya dan anggota keluarga kerajaan karena sang pangeran mahkota belum cukup matang memimpin kerajaan.
Ya, sudah lama berlalu sejak saat itu. Kini anak-anak raja telah tumbuh dewasa. Dewi Chanda memberikan dua anak untuk raja Baswara, bernama Kanagara si sulung dan Samantha, dewi yang cantik rupawan.
Seharusnya anak dewi Anggraini lah yang memimpin kerajaan, apalagi usianya terpaut lebih tua dua tahun depan Kanagara dan Samantha. Namun apa kata takdir. Pangeran Sabitah telah tiada.
"Paman Aristaeus" seorang dewa tampan berjalan dari arah tangga kerajaan.
"Pangeran Kanagara" timpal lelaki bernama Aristaeus itu.
Ya, dewa itu adalah putra mahkota kerajaan immortal. Kanagara, dan Aristaeus sendiri adalah penasihat raja yang selama ini memegang kekuasaan sementara.
"Apa kamu melihat adik ku?" tanya Kangara.
"Tadi aku melihatnya, dia pergi bersama putra ku Charon" jawab Aristaeus.
"Lalu dimana Damon?" tanya Kanagara.
"Dia pamit berburu pada ku tadi pagi" jawab Aristaeus.
Damon dan Charon sendiri adalah anak Aristaeus, Damon sang kakak seusia dengan mendiang pangeran Sabitah. Dan Charon berusia lebih muda beberapa bulan dari Kanagara.
"Apa pangeran ada perlu dengan mereka?" tanya Aristaeus.
"Kenapa dia tidak mengajak ku" keluh Kanagara.
"Lalu paman mau kemana?" imbuhnya bertanya, Kanagara hampir tak menyadari jika lelaki didepannya membawa nampan.
"Mengantarkan makanan ini untuk ratu dewi Anggraini" jawab Aristaeus.
"Di depan ibu ku, paman tak mengatakan embel-embel 'ratu' ketika menyebut ibu Anggraini" celetuk Kanagara.
"Bagian terpentingnya, pangeran tidak akan mengadukan itu kepada dewi Chanda" ujar Aristaeus.
"Kamu malah tidak menyebut ibu ratu ketika berbicara dengan ku saja" celetuk Kanagara lagi.
"Aku senang karena pangeran tidak keberatan dengan hal itu" ujar Aristaeus tersenyum lebar.
Kanagara tak memberikan respon berarti, sejujurnya dia tahu kenapa Aristaeus bersikap seperti itu. Namun ya apa peduli, Kanagara tidak mempunyai bagian untuk andil dalam permasalahan itu. Dirinya tidak tahu menahu.
"Jika tidak ada yang lain, aku pamit pangeran" ujar Aristaeus melenggang pergi.
Lelaki itu membawa makanan ditangannya kearah pintu keluar, menuju menara kedua di bagian belakang kerajaan.
Ditempat lain, masih dalam kawasan Alfheim. Seorang dewa bertubuh tegap tengah membidikkan panahnya kepada seekor hewan, yaitu kelinci kecil yang memiliki telinga ikal panjang sekali.
Dialah Damon.
Sret!
Jleb!
Wush!
Wush!
Wush!
"Ah! Tidak kena" Damon berujar sembari mengangkat tangannya gemas.
Lelaki itu meringsek masuk mengikuti kelinci tadi, dia paling tidak suka ketika panahnya salah sasaran dan hewan buruannya pergi.
Tapi Damon sepertinya kehilangan kelinci itu, bukan jejaknya yang menghilang. Melainkan hewan itu sudah tertangkap oleh orang lain.
"Hey, itu hewan buruan ku" ujar Damon.
Orang yang diajaknya bicara membelakangi tubuhnya, setelah mendengar suara Damon barulah dia berbalik.
"Oh kelinci ini? Aku tidak tahu, tapi panah ku sudah menangkapnya. Itu berarti buruan ini menjadi milik ku"
Demi apapun lelaki itu sangat tampan, bulu matanya lentik, hidung dan bibirnya manis sekali. Apalagi ketika tersenyum seperti sekarang. Kulitnya juga putih bersih dan rambutnya hitam. Jangan lupakan mata biru laut nya yang indah dan tubuhnya yang tegap dan gagah.
"Aku baru memanahnya sebelum meleset dan dia masuk kedalam hutan, lalu kamu memanahnya" ujar Damon.
"Aku sudah berjanji akan membawa daging kelinci kepada ibu ku, bagaimana jika ku ganti dengan burung saja?"
"Tidak semudah it-"
Sret!
Jleb!
Puing! Bruk!
Damon tercekat ketika lelaki itu memanah sebuah burung yang tak sengaja terbang di atas kepala, hanya satu kali bidikan dan burung itu terjatuh tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Wah sepertinya aku bertemu pemburu hebat" ujar Damon tersadar.
"Tidak juga, kebetulan saja panah ku tepat sasaran"
"Jadi kamu tidak keberatan kan, ku tukar kelinci ini dengan burung itu?"
"Baiklah, kasihan diri mu jika pulang tanpa kelinci. Semoga ibu mu senang" ujar Damon.
Lelaki itu mengangguk dan tersenyum. Kemudian dia membunyikan sebuah peluit menggunakan tangannya.
Guarr!
Damon terkejut ketika seekor direwolf meloncati tubuhnya dari arah belakang.
Grrr!
Hewan besar itu menggeram ketika tuannya mengusap bulu dan area bawah mulutnya.
"Kamu menunggangi seekor direwolf?" tanya Damon.
"Ya, dia manis kan. Kamu sendiri datang dengan apa ke hutan ini?" timpal lelaki itu bertanya.
Ciak!
Tepat sebelum Damon berbicara, seekor griffin datang dari atas langit. Hewan berkepala elang dan tubuh singa itu memasang posisi siaga melindungi tuannya.
"Sepertinya aku bertemu dengan anggota kerajaan" ujar lelaki itu mengetahui jika tunggangan seekor griffin hanya bisa diakses orang kerajaan.
"Hanya anak seorang pekerja kerajaan, aku hanya beruntung bisa menaikinya" ujar Damon merendah.
"Sudahlah aku juga tak bertanya soal itu, sampai jumpa dan terimakasih untuk kelincinya"
Guar!
Wush!
Lelaki itu pergi menunggangi widewolfnya.
"Nama ku Damon!" teriak Damon diacungi jempol lelaki itu.
"Kenapa aku lupa bertanya namanya, aku merasa pernah melihat dia" gumam Damon.
Namun lelaki itu memilih melupakannya, dan memungut burung buruannya lalu pergi menunggangi griffin.
Vanessa's POVI sucked the tip in, wetting it instantly. I watched his eyes roll back in his head like he was honestly close to convulsing, and I hadn’t even done anything yet.“Fucking wicked little thing–” he cursed under his breath as I started sucking with more energy and more fire, swallowing little by little just to mess with his head.He fisted my hair, holding it with a hand as I swallowed more of his cock.“Yeah, I won't leave you alone now. You're so pretty my love.”I wished I could smile but I couldn't, since I was so full of cock. I stopped breathing right when I reached a point, and my eyes started watering. When I looked up at him, he hissed again, and I could see panic in his eyes.“You'll suck harder than this, won't you? Can I push it deeper? You can take me, right?” He's such a bastard.I nodded my head anyway, and he did as he wanted, he pushed deeper but gently. When I reached a perfect balance and it felt like it could breathe when he took it out for a second, he
Vanessa's POV“Carmen…” As I mentioned his name, he came closer, dropping the wettest kiss on my back. A loud moan escaped me, because apparently, being around him all day had made me painfully aware of him and forever bothered by him.“Oh my God!” I cried out in another broken whimper, and he proceeded to wrap his arms around my waist.“You're so fucking beautiful.” He almost cried into my neck as he whispered, teasing the hell out of me.“Y-you think so?”“Of course….I should drag you to my bed today. You've been teasing me with that dress all fucking day. I don't like games at all.” He pressed another big kiss to my back. My knees started begging to give out because they couldn't handle him, especially not when he pressed his hardened cock to me, and it poked me, right in the middle of my ass.“Drag me to your bed against my will?”He titled my own head for more access to make deeper messes of my neck. He created a ton of hickeys, the rumble from his throat desperate and full of m
Vanessa's POVI just shook my head slightly with a small smile, looking ahead.He's such a liar, and I'm such an over-reactor. He soon pulled up at the market, and I could already hear the chirping and the noises, even the smell. I can't lie, I was well pleased.“If you do amazing, I'll give you a thousand dollars for effort.”My eyes lit up as I turned to face him.“I love generous rich people. Thanks, I'll use it to get myself something overpriced.”He nodded like he couldn't agree more.“You do that, sure. Now what's so fascinating about being here?”He started asking as we both began to get down from the car, and I couldn't believe him.“Look around. People are struggling, but it's fun. It gives you a chance to negotiate as well.” Couldn't he see for himself? If the market wasn't exactly stressful, I would consider it pure art. It was amazing.“Why are you dying to cheat them then?” “What?” The way he was staring at me was unnerving, like he was trying to corner me. “The struggl
Vanessa's POV“What?” He got them for me? As in, the ice cream?“Aren't you the one just opening that bowl? Did it seem touched to you before then? I got them for you. I think about what you like and get them often because I want you to be comfortable.”“Oh–”“Who's the baby now? And where's my thank you?” My face fell and for once, I felt bad about my actions. I should've considered keeping shut.“Thank you. I mean it.”“I guess you've never meant the previous ones then.”Our eyes met, and my cheeks flushed.“Give me a minute, I'll go get ready—”This man rounded the island just then and reached me as I was about to dump the ice cream.“Okay, sure. Do that.” When he reached me, he took my hands, and he did the most erotic thing I had ever witnessed in my entire life.He sucked the ice cream off my fingers, closing his eyes and licking the hell out of them, finger by finger, and I swallowed as I let myself shamelessly enjoy it, his eyes never leaving mine.“Why are you like this?” I a
Vanessa's POV“What?”When I turned my head in that direction, we locked eyes. I'm not sure exactly who I was looking at.“Uhm, who is that?” I asked Ashley, still maintaining eye contact with her.Then she started walking towards us.Ashley was so not having the best time.“Christina. Her name is
Vanessa's POVAfter the first set of lectures, I was really beginning to feel the vibes, the fact that people of different walks of life were all brought together to attend a class and shut up about it. It was honestly cool, especially the freedom. I noticed most people could just get up and get t
Vanessa's POVI was definitely hungry for food, but the hunger I felt for him, on another level. It was almost as if I was practicing self hate, because tell me why I took to the stairs, and I walked into his room after him, shutting the door.He just gracefully sat on his bed like he knew I was go
Vanessa's POV“We, we…” I stammered, fighting the hotness that was heating inside of me. He was this close to me, and just last night, I had grinded into him and he fingered me to tears.“Go on, tell me. Let's see if I'll remember.” He kept urging me to say something, his hot breath kept fanning my






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.