ホーム / Romansa / Chemistry Chapter / BAB 52 : JADWAL HARIAN SETELAH NIKAH

共有

BAB 52 : JADWAL HARIAN SETELAH NIKAH

作者: Yoongina
last update 公開日: 2026-08-02 08:32:52
​Minggu pagi yang cerah itu, kediaman sederhana milik Hasan mendadak ramai. Seluruh anggota keluarga Adiraja datang berbondong-bondong untuk menjenguk Zea pasca insiden jatuh dari ojek online.

Hasan tersenyum lebar seraya membukakan pintu lebar-lebar, menyambut kedatangan calon besannya.

​"Dewa ini benar-benar keterlaluan! Cucu menantu Oma kecelakaan begini kok baru cerita sekarang?!" omel Oma Dyah tanpa ampun, jemari sepuhnya langsung melayang dan mendarat mulus mencubit lengan Dewa.

​"Aw
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (2)
goodnovel comment avatar
Yoongina
hahahhahaha
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
wkwkwkwk... dewa lu mo nikah apa lu mo nyuruh anak orang kerja rodi???
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Chemistry Chapter   BAB 105 : HAMIL?

    "Sayang, kamu mual lagi?" tanya Dewa, nada panik terdengar di balik suara baritonnya. Tanpa membuang waktu, ia menepuk kursi depan dan menginstruksikan pengemudi. "Pak, cari minimarket atau toilet terdekat sekarang juga! Istri saya mau muntah." "Baik, Pak Sadewa! Di depan ada SPBU, dua ratus meter lagi!" sahut pengemudi sigap, menginjak pedal gas lebih dalam agar mobil Alphard hitam itu meluncur membelah remang malam kota Yogyakarta. ​Dewa menangkup kedua pipi Zea yang terasa dingin dan basah oleh keringat. Jemari tegapnya mengusap lembut tengkuk istrinya, mencoba menyalurkan rasa hangat di tengah guncangan perut Zea yang kian meremas hebat. ​"Tahan sebentar ya, Sayang... Kita berhenti di depan," bisik Dewa, cemas. Suaranya yang biasa tegas kini bergetar, merasa tidak tega melihat kondisu istrinya. "Tadi kita sudah makan di pesawat. Apa kamu masih masuk angin? atau mau makan dulu?" tanya Dewa sambil memijat halus puncak kepala Zea. Zea menggeleng kuat-kuat. "Aku cuma mau tid

  • Chemistry Chapter   BAB 104 : SENSASI BERBEDA

    Dewa dan Zea melangkahkan kaki ke dalam kabin kelas bisnis pesawat A320, helaan napas lega akhirnya keluar dari sela bibir Dewa. Setelah serangkaian drama hari ini—mulai dari pertengkaran Zea dengan Jenny di dalam kelas, mual masuk angin, koper yang tertinggal, hingga dikerumuni rombongan ibu-ibu sosialita di area check-in—suasana tenang di area depan kabin pesawat ini menjadi tempat yang sangat ia butuhkan. ​Seorang pramugari berseragam rapi menyambut mereka dengan senyum hangat. "Selamat sore, Bapak dan Ibu. Mari, saya antar ke kursi Anda." ​Dewa menuntun Zea menuju dua kursi berdampingan di barisan depan. Sebelum Zea duduk, Dewa dengan sigap mengambil bantal kecil dan selimut lembut yang telah disediakan, lalu menatanya di kursi Zea. ​"Duduk pelan-pelan," gumam Dewa lembut, menyanggah siku Zea sampai gadis itu mendarat sempurna di kursinya yang empuk. ​Zea menyandarkan punggungnya, memejamkan mata sejenak sambil menikmati kenyamanan fasilitas bisnis class pesawat itu. Tubuh

  • Chemistry Chapter   BAB 103 : FANS DI BANDARA

    Suasana Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta siang itu terbilang cukup ramai. Dewa menuntun Zea agar tidak tertinggal seperti koper mereka saat dirumah tadi. Sebelah tangannya merangkul bahu istrinya rapat-rapat, sementara tangan lainnya menarik koper besar mereka. Zea yang sudah agak segar namun masih sedikit lemas, hanya diam mengimbangi langkah panjang Dewa. ​Dengan mengenakan Knit Polo Shirt rajut halus berwarna charcoal keluaran Brunello Cucinelli serta pleated trousers berbahan wol breathable dari Zegna, penampilan Dewa memancarkan aura yang sangat memikat. Dipadukan dengan jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya, ketampanan sang pengacara tampak begitu mencolok di tengah kerumunan bandara. Wajahnya yang tegas dan aura dingin berwibawa membuat beberapa orang yang berlalu-lalang menyempatkan diri melirik ke arah mereka. ​Tepat saat mereka sedang menunggu antrean di depan konter check-in bisnis class, tiba-tiba sebuah suara melengking dengan nada heboh memecah ketena

  • Chemistry Chapter   BAB 102 : HANYA HARAPAN

    ​"Ssshh... tenang, pelan-pelan," bisik Dewa yang sudah berada di belakang Zea. ​Dengan sigap, Dewa menyibakkan helaian rambut Zea ke belakang agar tidak terkena bilasan air, lalu sebelah tangannya memijat tengkuk istrinya dengan usapan lembut untuk meredakan gejolak di dada Zea. ​"Masih mual, hm?" tanya Dewa, suaranya terdengar khawatir. Wajah istrinya kini benar-benar pucat pasi, peluh dingin mulai membasahi pelipis dan kening Zea. ​Zea menggeleng lemah, tubuhnya mendadak lemas sampai harus menyandarkan seluruh bobot tubuhnya ke dada bidang Dewa. Keningnya bersandar di dada suaminya, meraup napas pendek-pendek yang masih terasa sesak dan berat. ​"Kepalaku... pusing banget, Kak..." bisik Zea lirih. "Perutku mual banget... " ​Dewa mematikan kran air, lalu memeluk tubuh mungil Zea ke dalam dekapannya. Jemari tangannya yang hangat mengusap kening Zea yang dipenuhi keringat dingin. Kening Dewa berkerut dalam. Mengingat tenggat waktu penerbangan mereka yang tinggal menyisakan ti

  • Chemistry Chapter   BAB 101 : MUAL

    "Kamu ke Yogyakarta lebih dulu, Papa dan Mama akan menyusul penerbangan besok," ucap Baskara dari balik telepon, suaranya tenang dan tegas sewaktu Dewa menyampaikan kabar mengenai kondisi Oma Garnis. ​"Iya, Pa. Aku sudah meminta Siska untuk menyiapkan penerbangan hari ini," sahut Dewa menggenggam tangan Zea yang terasa dingin ketika mereka sudah berada di halaman parkir Griya Zadewa. Dewa membiarkan Zea beristirahat sejenak di kursi penumpang depan dalam usapan hawa sejuk pendingin udara. ​Baskara menghela napas panjang di seberang sana. "Kondisi kesehatan Oma Garnis memang sudah menurun sejak beberapa bulan lalu, Dewa. Tapi Papa tidak menyangka pihak keluarga Sastrowardoyo tega memakai cara-cara sembrono seperti ini hanya demi memicu amarahnya." ​Dewa menyandarkan tubuhnya pada jok mobil, matanya menatap kewajah Zea yang masih menunggu suaminya berbicara dengan sang ayah. "Aku sudah menugaskan Dika dan tim pertanahan untuk menyisir seluruh warkah tanah di BPN Jogja. Dari informa

  • Chemistry Chapter   BAB 100 : PESTA PERNIKAHAN YANG TERTUNDA

    ​Rasa dingin yang merayap dari telinga hingga ke ujung kaki membuat jemari Zea gemetar hebat. Pekikan syok yang baru saja meluncur dari tenggorokannya masih menyisakan gema hening di dalam ruang kelas Hukum Pidana. ​"Zea, lo kenapa?" tanya Manda ketakutan. Dewa yang sejak awal memperhatikan gerak-gerik istrinya dari meja dosen, langsung meninggalkan berkas-berkas perkuliahan yang sedang dirapikannya. Langkah kaki Dewa yang semula tenang berubah menjadi lebar dan tergesa-gesa mendekati deretan meja tengah. Tatapan matanya menajam, menangkap raut wajah Zea yang seketika pucat pasi. "Sayang, kenapa? siapa yang telepon?" tanya Dewa lembut duduk di bangku sebelah Zea. ​"Oma... koma?!" pekik Zea hancur. Air mata langsung menetas membasahi pipinya tanpa bisa dibendung lagi. Dewa melebarkan kedua bola matanya, "Oma Garnis koma?" Ponsel di genggaman Zea nyaris merosot jatuh sewaktu kesadarannya mulai goyah. Sebelum benda itu menghantam lantai, tangan Dewa dengan cepat menyambar po

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status