Mag-log in"Kak," panggil Zea seraya mengunyah suapan ketiga nasi uduk berlauk telur dadar iris dan sambal goreng tempe yang masih hangat. Di dalam mobil SUV hitam yang melaju pelan, aroma makanan dari masakan Zea pagi itu sepertinya mengalahkan wangi parfum maskulin milik suaminya. "Hm?" sahut Dewa singkat. Pandangannya tetap lurus menyapu kemacetan khas Senin pagi di kawasan jalan protokol. Ibu jarinya mengetuk-ngetuk kemudi mengikuti ritme lagu yang mengalun pelan dari headunit, sambil menerima suapan dari Zea. "Apa Sagara masih mengajar di kampus?" Brak! Bukan kecelakaan, melainkan reaksi mendadak Dewa yang menginjak pedal rem sedikit lebih dalam dari biasanya. Kaget mendengar pertanyaan Zea sekaligus menghindari mobil di depan mereka yang juga berhenti mendadak. Mobil berhenti mulus, tetapi suasana romantis di dalam mobil seketika berubah. Dewa melirik ke arah Zea sekilas. Sorot matanya yang tadi sehangat mentari pagi mendadak berganti jadi setajam silet pembuka amplop tag
Brak! Zea mendorong pintu depan rumah mereka dengan kasar hingga membentur dinding foyer dengan dentuman cukup keras. Sejak pertemuan tak terduga dengan Arga di taman kompleks dan saat nama Tiara terucap dari bibir laki-laki itu, Zea sudah kehilangan seluruh minatnya untuk melanjutkan lari pagi. Mood-nya yang tadinya secerah matahari pagi, kini hancur berkeping-keping, merosot drastis seratus delapan puluh derajat. Wajah ceria dan senyumnya menguap tanpa sisa. Wajah cantiknya kini tertekuk sempurna, bibirnya mengerucut, dan matanya memancarkan sinyal bahaya tingkat tinggi. Tanpa melepas sepatu olahraganya dengan benar, Zea menendang sepatu itu asal-asalan ke sudut rak hingga berhamburan. Ia melangkah cepat menuju ruang tengah, menghentakkan kakinya ke lantai kayu dengan penuh penekanan seolah-olah lantai itu adalah musuh bebuyutannya. Dewa yang berjalan menyusul di belakangnya hanya bisa menarik napas panjang seraya merapihkan sepatu-sepatu yang berantakan itu kedalam r
Matahari Minggu pagi baru saja menyembuhkan hawa dingin di kompleks perumahan elite tempat Griya Zadewa berdiri, setelah semalaman diguyur hujan. Udara segar yang menenangkan itu sama sekali tidak berhasil mendinginkan kepala Zea yang mulai mendidih. Di lintasan jogging taman kompleks, Zea berlari-lari kecil dengan setelan celana training pendek warna merah muda cerah dan rambut dikuncir kuda yang loncat-loncat mengikuti irama langkahnya. Namun, fokusnya sama sekali bukan pada pembakaran kalori, melainkan pada pria jangkung yang berlari santai di sampingnya. Dewa pagi itu hanya mengenakan kaus olahraga polos warna abu-abu yang agak ketat memeluk dada bidangnya, celana pendek hitam di atas lutut, dan sepatu kets. Tanpa jas mahal, tanpa gel rambut yang tersisir rapi, dan tanpa kacamata berbingkai tipisnya, Dewa justru terlihat sepuluh tahun lebih muda walaupun usianya juga masih muda. Keringat tipis yang membasahi pelipis dan lehernya seolah diberi efek glowing oleh pendar sinar ma
Sinar matahari pagi menerobos lembut dari jendela kaca besar ruang kerja Sadewa Adiraja di lantai paling atas gedung Adiraja & Associates. Di atas meja kayu mahoni yang biasanya tertata rapi dengan tumpukan berkas perkara, kini tersaji dua cangkir teh chamomile hangat dan satu keranjang hantaran buah segar. Pintu ruang kerja terdorong pelan. Dewa berdiri dan segera melangkah maju menyambut tamunya dengan senyuman hangat. "Profesor Subroto," sapa Dewa seraya mengulurkan tangan, lalu membungkuk penuh rasa hormat. "Maaf kalau Profesor yang harus datang lagi ke kantor karena saya belum sempat berkunjung kerumah." Pria berambut perak dengan garis-garis wibawa di wajahnya itu menyambut uluran tangan Dewa, memegang punggung tangan pengacara muda itu dengan kedua telapak tangannya. Matanya berkaca-kaca memancarkan Haru dan rasa lega yang tak tertahankan. "Dewa..." bisik Prof. Subroto dengan suara parau yang terdengar sangat tulus. "Saya yang seharusnya berterima kasih. Kalau bukan
Malam itu, pendar lampu gantung di ruang makan Griya Zadewa memancarkan kehangatan yang tak biasa. Aromanya bukan lagi keharuman masakan rumahan biasa, melainkan perpaduan antara bau mentega gurih, steak daging sapi yang sedikit gosong di bagian pinggirnya, dan juga aroma kemenangan. Zea berdiri di depan meja makan dengan celemek kain bermotif kucing yang masih membelit pinggangnya. Kedua tangannya bersedekap di dada, matanya menatap hasil mahakaryanya malam ini dengan senyum bangga yang merekah lebar. Di atas meja kayu mahoni itu, sudah tertata rapi hidangan yang ia sebut : "Makan Malam Kemenangan" yang terdiri dari dua porsi rib eye steak lengkap dengan mashed potato yang teksturnya sedikit terlalu padat, tumis buncis, dan dua gelas kristal tinggi berisi es sirup cocopandan merah menyala lengkap dengan selasih yang disajikan seolah-olah itu adalah anggur berkualitas tinggi dari Prancis. "Sempurna!" gumam Zea puas, menepuk kedua telapak tangannya. "Kalau setelah makan ini Ka
Tiara termenung menatap langit senja yang perlahan bergeser menjadi keunguan dari balik kaca jendela rumah sakit. Udara dingin dari pendingin ruang perawatan VIP nomor 04 menusuk kulitnya, namun tak sesedih rasa hampa yang membeku di dalam dadanya. Di genggaman tangannya, layar ponselnya masih menyala terang, menampilkan artikel hot news hari ini berlatar foto Sadewa Adiraja dalam balutan jas hitam yang begitu berwibawa: [HOT NEWS] "Skakmat Dewa Adiraja di Sidang Ketiga: Bukti Palsu Rektorat Terbongkar, Pihak Sagara Mahesa Terancam Pidana!" Tiara menarik napas panjang yang terasa berat. Ibu jarinya gemetar saat mengusap layar ponsel, memandangi raut wajah Dewa yang begitu tenang dan tak tersentuh di tengah riuhnya sorot kamera wartawan. Pria itu, pria yang dulu pernah sangat mencintainya, kini berdiri di puncak kejayaan yang tak lagi bisa ia jangkau. Pengorbanan Tiara yang membiarkan dirinya dijadikan 'pion' oleh Sagara di persidangan kedua ternyata berakhir sia-sia. Ger







