Share

CherryLova
CherryLova
Author: Ika Armeini

Prolog

Bellova Serena bersimpuh sambil menangis sesenggukan di samping batu nisan yang bertuliskan nama Mamanya, Marcella Dianty. Gadis 20 tahun itu mengusap air mata yang jatuh di balik kacamata minusnya, rambut panjangnya terurai menyentuh tanah kuburan yang masih basah. Selain kehilangan Mama untuk selama-lamanya, dia juga harus kehilangan semua harta benda milik Mamanya termasuk rumah dan mobil mewahnya.

Ibu Marcella adalah seorang janda kaya raya, harta yang di milikinya adalah hasil dari warisan suaminya yang sudah meninggal 5 tahun lalu. Ibu Marcella berprofesi sebagai seorang rentenir, orang-orang yang meminjam uang padanya akan di kenakan bunga 80 persen dari pinjaman. Jika waktunya membayar tiba, akan ada 2 orang laki-laki berbadan kekar dan berkumis tebal yang mendatangi dan menagih janji membayar hutang beserta bunganya.

Banyak orang yang mencela pekerjaan Ibu Marcella, memang uang bisa cepat cair saat hendak meminjam pada Ibu Marcella. Namun saat harus membayarnya, para peminjam uang seperti tercekik untuk membayar bunganya. Jika tak sanggup membayar sesuai perjanjian, maka dua laki-laki berbadan kekar dan berkumis tebal itu akan memporak-porandakan seisi rumah si penghutang, tak jarang mengambil paksa barang-barang berharganya juga. Maka jelas saja orang-orang yang meminjam uang pada Ibu Marcella sering mendoakan agar Ibu Marcella terkena karma dari perbuatannya itu.

Suatu hari Ibu Marcella berkenalan dengan seorang laki-laki muda yang usianya terpaut 18 tahun lebih muda darinya. Laki-laki itu mengaku bernama Nio, dia meminjam uang berjumlah ratusan juta rupiah pada Ibu Marcella, alih-alih membayar hutang, Nio yang tampan dan rupawan malah mengaku jatuh cinta pada Ibu Marcella. Tentu saja Ibu Marcella yang menjanda bertahun-tahun juga jatuh cinta pada laki-laki muda itu.

Segala kebutuhan Nio di penuhi oleh Ibu Marcella, semakin hari Nio semakin rajin menguras uang Ibu Marcella. Tak hanya itu, Nio juga di berikan fasilitas mobil mewah dan bisa tinggal di rumah sultan Ibu Marcella, walau mereka belum resmi menikah.

Lova tak pernah menyetujui hubungan Mamanya dengan laki-laki itu. Berkali-kali Lova memperingati agar Ibu Marcella tak menjalin cinta dengan Nio, namun Ibu Marcella tak menghiraukan dan tetap di butakan cinta dan nafsu. Nio bisa memuaskan nafsu Ibu Marcella di ranjang, sebagai imbalannya Nio bisa mendapatkan apa saja yang dia mau dengan uang. Dan Lova selalu memandang dengki pada laki-laki yang mungkin lebih cocok jadi kakaknya itu daripada menjadi Ayah tirinya. Laki-laki yang selalu berisi sisa cabai di giginya saat tertawa, laki-laki yang tak pernah mengganti kaus kakinya sehingga serupa dengan bau terasi. Lova benar-benar benci padanya.

Sampai suatu hari, Nio kabur dengan membawa uang tunai ratusan juta rupiah yang ada di berangkas milik Ibu Marcella. Nio yang hobi berjudi, membuat dirinya mempunyai hutang ratusan miliar rupiah dan mengatas namakan Ibu Marcella sebagai pembayar hutangnya. Ibu Marcella mengalami syok berat, semua asetnya harus di sita untuk menutupi hutang laki-laki itu. Nio kabarnya sudah kabur keluar negeri, keberadaannya tak bisa di lacak. Dan hal yang paling di takuti oleh Lova pun terjadi, Ibu Marcella tiba-tiba di temukan tak bernyawa beberapa jam setelah rumahnya di sita. Menurut dokter, Ibu Marcella mengalami serangan jantung. 

"Lova sudah sering kan bilang sama Mama, jangan percaya laki-laki itu! sekarang kenapa Mama tega ninggalin Lova sendirian, Ma?" Tangisan Lova pecah di samping makam Mamanya.

Dua laki-laki berbadan kekar dan berkumis tebal yang biasa menjadi kaki tangan Ibu Marcella juga ikut terisak menangis di samping Lova. Mereka masih tidak percaya kalau bos kesayangannya harus pergi secepat ini, padahal mereka berdua belum mendapat THR.

"Mbak Lova, sabar ya! Hikkk... Hikkk.." Kata Bejo, salah satu laki-laki berbadan kekar itu yang sudah menangis sesenggukan sedari tadi.

"Ibu, kenapa pergi secepat ini? Hikkk... Hikkk... Bagaimana THR kita, Bu?" Tangis Jarwo, laki-laki berbadan kekar satunya lagi. Dia sibuk menghapus ingus yang keluar dari hidungnya dengan tangannya.

Lova pun menoleh ke arah Jarwo, alisnya mengernyit, "THR?" 

"Iya Mbak Lova, Ibu janji mau beri kita THR. Janjinya mau bayar ke kita akhir minggu ini, tapi Ibu ternyata duluan membayar janjinya ke Tuhan daripada ke kita!" 

Dua laki-laki itu menangis lagi, apalagi mengingat kalau sekarang almarhum bosnya itu sudah tidak punya uang lagi. 

"Kalian tahu siapa saja yang masih berhutang ke Mama?" Tanya Lova kemudian.

Bejo dan Jarwo menggelengkan kepalanya.

"Kami hanya bergerak sesuai perintah, Mbak! Kami tidak tahu siapa saja orang yang masih meminjam uang pada Ibu!" Ucap Bejo sambil menghapus air matanya yang bercampur dengan tanah kuburan.

"Ah, sial! Bisa gak sih Mama nanti malam muncul di mimpi Lova, terus kasih tahu daftar orang-orang yang masih ada hutang sama Mama?" Lova berbicara dengan tanah kubur Mamanya yang sudah berisi bunga warna-warni di atasnya. Selama ini Lova tidak pernah ikut campur dengan pekerjaan Mamanya, dia hanya sibuk sekolah. Catatan atau apapun yang menyangkut dunia rentenir Mamanya dia tak pernah paham, saat seperti ini benar-benar penyesalan saja yang tersisa.

"Lagipula, Ibu punya banyak musuh! Sepertinya orang-orang yang berhutang pasti jadi senang kalau tahu Ibu sudah meninggal, Mbak!" Ucap Bejo lagi.

Lova menyenderkan keningnya di batu nisan Mamanya. Jadi ini adalah buah karma dari perbuatan Mamanya yang menjadi rentenir. Kalau di jadikan sebuah sinetron judulnya akan seperti ini, azab dari janda kaya yang menjadi rentenir dan berkencan dengan laki-laki muda yang sudah menipunya sehingga membuat jatuh miskin dan terkena serangan jantung dan berakhir di tanah kubur.

Lova bingung harus bagaimana, dia tak pernah menyangka akan jatuh seperti ini. Pikirannya melayang, dan tiba-tiba teringat akan asuransi jiwa yang di miliki oleh Mamanya. Dia harus mengurus asuransi kematian Mamanya, dengan itu setidaknya Lova memiliki pegangan.

Lova bangkit dari keterpurukannya, syukurnya bukan bangkit dari kubur. Dia menepuk kedua bahu laki-laki yang bertugas sebagai kaki tangan Mamanya itu, sambil tersenyum dan memamerkan giginya, untungnya tidak berisi sisa cabai seperti Nio.

"Aku akan bayar THR kalian, jangan khawatir!" Ucap Lova dengan bangga. Perempuan 20 tahun dengan kacamata minus itu pun seperti memberi secercah harapan pada Bejo dan Jarwo. Tentu saja dua laki-laki itu pun ikut berdiri dan memeluk Lova serta mengangkat tubuh kecil Lova bagai barbel di tempat fitness.

"Terimakasih, Mbak! Kami janji akan selalu membantu saat Mbak Lova membutuhkan kami!" Ucap Jarwo sambil terharu, dan merasa ototnya semakin kekar setelah mengangkat badan Lova.

Lova pun tersenyum penuh semangat, dia kembali memandang batu nisan Mamanya.

"Ma, Lova gak mau berakhir seperti Mama! Lova tidak akan melanjutkan pekerjaan Mama sebagai rentenir, Lova berjanji akan menemukan laki-laki itu dan memberinya pelajaran, Ma! Dan sebagai gantinya Lova akan menjadi penipu seperti laki-laki yang sudah menipu Mama! Tapi dengan cara yang lebih aman." 

***

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Cece_Jeje
Aku datang kak ika ...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status