Share

setelah

Penulis: Ria Abdullah
last update Terakhir Diperbarui: 2023-03-15 06:37:37

Setelah percakapan malam itu aku mulai kehilangan rasa hormat dan cintaku kepada Indra, Aku kehilangan sisi romantis dan hasrat untuk memadu asmara dengannya. Aku mulai menjaga jarak dan tidak berminat untuk berdiri dekat-dekat dengannya. Apa yang dia tanyakan hanya aku jawab seperlunya dan ketika dia menginginkan sesuatu maka aku akan melayaninya jika aku bisa.

"Bisa buatkan aku kopi tidak?"

"Tentu." Kuantarkan kopi kemeja kerjanya tanpa mengatakan apapun, lalu membalikkan badan untuk kembali ke dapur, juga tanpa membicarakan apapun. Biasanya aku akan menggodanya, memeluknya dari belakang lalu mencium telinganya mengalihkan perhatiannya dari berlembar-lembar kertas yang cukup untuk membuatnya mengernyitkan alis dan nampak tegang.

Sekarang aku kehilangan kepedulian dan sudah masa bodoh dengan dirinya, aku tidak berminat sama sekali, jangankan memandang matanya melihat rambutnya saja tidak.

"Terima kasih," ucapnya menahan langkahku.

"Iya," jawabku dingin.

Beberapa saat kemudian, ia kembali memanggil, saat kudatangi, ia menggodaku dengan senyum nakalnya, tapi aku jijik memandangnya. Merasa aku tidak menanggapinya pria itu nampak gugup dan langsung menundukkan wajah.

"Mau apa?" Tanyaku dingin.

"Kamu kasar sekali, ya udah ga jadi," ucapnya pura pura merajuk, biasanya aku akan membujuk tapi hari ini aku tidak akan sudi lagi membujuk.

"Fine," jawabku santai.

"Kamu kenapa sih?"

"Udah jelas aku bete sama kamu," jawabku ketus.

"Kok ucapannya gitu banget. kemana istriku yang penuh lemah lembut dan cinta."

"Kau menyakitinya dengan perselingkuhan dan membunuh mentalnya dengan tamparanmu, apa kau paham!"

"Aku minta maaf."

"Gaun yang berguguran tidak akan kembali ke pohon sama seperti perbuatanmu yang tidak akan bisa dikembalikan, hati ini terlanjur sakit dan rasa ini perlahan menguap hilang begitu saja tercerai-berai seperti es batu yang mencair oleh panas."

"Astaga ..." Dia hanya mendesah.

"Katakan padaku apa yang kau butuhkan akan ku ambilkan secepatnya," ucapku sambil menekannya.

Dia menggeleng sambil meletakkan kaca matanya di meja. Pelan pelan ia bangun, mendorong sedikit kursi agar bisa beranjak lalu pergi ke dapur.

Dari ruang Tv aku bisa memandang kalau dia tengah membuat roti lapis dengan keju, mungkin dia lapar atau butuh kudapan. Biasanya di jam 03.00 sore seperti ini aku akan siapkan cemilan dan teh hangat tapi hari ini aku enggan melakukannya, buat apa juga aku berusaha, ia tetap menyakitiku setelahnya.

"Nadira, aku rindu kamu yang kemarin," ucapnya lirih, ia duduk di meja makan yang hanya berjarak semeter dari sofa tempatku berbaring.

"Aku juga kehilangan suamiku yang kemarin, aku tahu suamiku romantis setia dan penuh cinta aku tidak pernah sadar bahwa suatu hari ia akan berubah perasaannya terbagi dan cintanya menghilang dariku."

"Aku masih tetap orang yang sama."

"Tapi hatimu tidak, Mas."

"Aku mohon...."

"Percakapan sudah usai aku akan ke kamar!"

"Jika kau berbuat seperti ini maka dirimu seakan membentangkan jarak diantara kita berdua kau membangun tembok pemisah yang akan membuatku semakin sungkan untuk mendekatimu."

"Anggap saja demikian, sekarang sudah tidak ada bedanya."

"Baiklah."

"Terserah kau," jawabku sambil mematikan tv dan naik ke lantai dua. Daripada sibuk memikirkan dia, lebih baik aku merebahkan diri sambil membaca novel online.

*

Rupanya diri ini tertidur hingga tiba-tiba kutemukan diriku sudah meringkuk di bawah hawa AC yang dingin. Kulirik jam weker di atas meja dan waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 malam.

Astaga, aku lupa belum memberi makan anak dan Mas Indra. Tapi khusus untuk dirinya aku tidak terlalu peduli, toh dia sudah dewasa Jadi kalau lapar tinggal makan sendiri.

Kususuri koridor di sekitaran ruang tengah lantai 2 dan kudapati bahwa anak-anak sudah tertidur dengan pintu yang masih terbuka di kamar masing-masing. Aku yakin kalau sudah tertidur begitu berarti mereka sudah makan.

Sambil menahan perutku yang juga lapar, aku turun ke bawah dan lamat-lamat kudengarkan suara mas Indra tengah berbicara melalui video call di meja kerjanya.

"Iya, aku ini lagi bingung, situasi kita tidak menyenangkan, aku butuh waktu," ucapnya. Entah dengan siapa Dia berbicara tapi sepertinya percakapan itu terdengar dalam sekali.

"Aku juga punya perasaan yang sama sepertimu tapi aku juga memikirkan Nadira dan anak-anak."

Oh, fix, Dia sedang berbicara dengan kekasihnya, masa bodoh!

Aku buka lemari dapur lalu mengambil selembar roti dan mengoleskan selai ditambah dengan madu, kuambil gelas untuk menuangkan jus dari kulkas dan siap untuk menikmati makan malamku. Hari ini aku tidak memasak jadi apa yang ada saja kumakan.

"Cerai, mana mungkin?!"

Prang!

Saat aku mendengar Mas Indra mengucapkan kata cerai di line telepon tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang dan apa yang ku pegang di tangan terlepas. Gelas itu jatuh dan menumpahkan isinya ke lantai sementara Mas Indra langsung gelagapan dan mematikan ponselnya lantas membalikkan badan ke arahku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Dyah Astri Andriyani
baru awal2 cerita, nama karakternya sudah berubah
goodnovel comment avatar
simon
bhs nya baku banget ya
goodnovel comment avatar
chika.dputri2018
yunita apa nadira namanya? koq berubah? apa nadira yunita?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Cincin siapa di Jari suamiku    57

    Alhamdulillah pesta berjalan lancar dan meriah, meski tadi sempat ada insiden seseorang ketumpahan sup, tapi tetap saja itu tidak menyurutkan euforia kebahagiaan pesta. Mungkin orang orang tidak terlalu terpengaruh atas musibah yang menimpa mantan maduku itu karena track recordnya yang jahat.Pada akhirnya dia sendiri akan menyadari bahwa perbuatannya selama ini menimbulkan kebencian dan kekecewaan banyak orang, bahkan bukan itu saja, orang orang mulai kehilangan simpati dan respect pada Intan.Buktinya tadi, tidak seorang pun memperdulikan intan meski mereka banyak berkerumun, hanya Mas Indra yang bantu membangunkan dia dan membawanya pergi, selebihnya para tamu kembali dengan kegiatan mereka larut dalam kemeriahan pesta.“Ayo pulang,” ucap Mas Radit menyadarkan lamunanku barusan, pesta sudah usai dan semua tamu sudah kembali, hanya tinggal anggota keluarga inti dan tim WO yang sedang membereskan sisa catering dan membersihkan tempat acara."Ayo pulang ke rumah kita," ujarnya, aku

  • Cincin siapa di Jari suamiku    56

    Terlambat ya, kata yang paling tepat untuk Mas Indra menyadari semuanya, dia bilang aku berlian yang sudah dia tukar dengan batu biasa, kini berlian itu sudah akan jadi milik orang lain dan akan melanjutkan hidupnya dengan bahagia, memang sulit menerima kenyataan terlebih berdamai dengan kesalahan, tapi segala sesuatu memang harus diterima dengan lapang dada.*Minggu jam empat sore, sebulan kemudian.Keluarga Mas radit datang dengan iringan ramai dan tetabuhan rebana, mereka datang degan baju warna seragam dan paket hantaran yang tertata cantik dalam kotak akrilik yang dihiasi bunga dan pita. kami sekeluarga duduk saling mengelilingi dan beramah tamah akan rencana pernikahan kami yang harus sekali dalam waktu dekat.“Kami ingin segera tali pernikahan ini berlangsung agar kami bisa lega melihat radit dan Nadira bersatu, kami ingin anak anak hidup bahagia dan tenang sehiggga kita pun bisa ikut senang,” ujar ibunda Mas radit.“Bagaimana nadira?”“saya setuju.”“ALhmdulillah.” seluruh

  • Cincin siapa di Jari suamiku    55

    "Jikalau kamu masih mengusik hidupku maka aku tidak akan segan-segan lagi untuk menyeretmu ke kantor polisi. Aku bahkan akan menghajarmu dan menelanjangimu di depan umum meski ada suamimu yang akan membelamu, aku sama sekali tidak akan takut dengannya." Katakan kalimat itu tadi pada wanita yang masih tersedu menahan pipinya yang sakit.Orang-orang terhenyak dengan apa yang terjadi, begitu pula dengan Mas Indra yang seolah kehilangan simpati pada istrinya. Jangankan untuk menolong membangunkan dan mengambil hatinya malah Mas Indra hanya berdiri saja sambil menatap wanita itu menangis tersedu.Sesudahnya, pulang diri ini dengan hati puas karena sudah mempermalukan intan sedemikian rupa. Lega karena dengan daying dua pulau terlewati, dengan satu pukulan dua sasaran dihempaskan. Satu masalah pada pekerjaan dan satu lagi masalah intan wanita gila itu.Heran sekali, karena sampai hari ini wanita itu tidak ada jera-jeranya menyakiti diri ini. Apakah dia lupa sewaktu aku mewakilinya dengan

  • Cincin siapa di Jari suamiku    54

    "Mas, ayo kita ketemu," ucapku di telepon pada Mas Indra."Bertemu?" Pria itu terdengar ragu dan terdiam beberapa saat."Iya, ayo ketemu. Aku ada hal penting yang ingin kubicarakan," jawabku."Kenapa tidak bicara saja dari telpon?""Entahlah, aku ingin bertemu sekalian saja agar semua yang ingin kusampaikan itu terdengar jelas dan masuk akal.""Baiklah, kalau begitu tunggu jam pulang kerja, temui aku di resto seafood favorit kita dulu.""Baiklah," jawabku sambil mengakhiri panggilan.Sekitar pukul 05.00 sore aku sudah menunggu Mas Indra di restoran seafood yang kami bicarakan, sekitar 5 menit kemudian dia datang dan langsung menyambangiku yang sudah duduk di bangku paling sudut agar suasananya lebih tenang."Selamat sore, gimana kabarmu?""Baik Mas," jawabku pelan. Kuperhatikan dia, mengenakan kemeja abu abu dengan rambut yang dipotong dengan model baru, terlihat rapi dan tampan."Uhm, kira kira apa yang ingin kamu bicarakan?""Oh, begini, aku ingin jujur tentang apa yang terjadi bebe

  • Cincin siapa di Jari suamiku    53

    Dua hari berlalu setelah kejadian Irma memarahiku. Suasana butik sedikit lengang tanpa canda tawa karena kami masih berada dalam ketegangan dan kekhawatiran bahwa Irma bisa saja melaporkan kami ke kantor polisi dengan tuduhan penggelapan dan pencurian.Entah kenapa suasana butik yang selalu ramai penuh canda tawa dan semarak berubah menjadi lesu dan semua orang hanya sibuk dengan kegiatan masing-masing tanpa banyak bicara. Keadaan sepi dan menegangkan. Aku sendiri masih berkutat dengan semua laporan keuangan dan memeriksa kembali hal-hal yang mungkin sudah terlewatkan. Nyatanya, memang tidak ada yang terlewatkan sampai akhirnya aku menemukan jawaban dari semua pertanyaan panjang ini.Tak sengaja diri ini pergi ke kamar mandi lalu melewati sebuah lorong kecil di mana ada mushola dan kamar tempat istirahat siang kami semua, di sana ada Mbak Vina yang diam-diam sedang menelpon dengan gestur yang mencurigakan, dia melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keadaan lalu menelepon dengan

  • Cincin siapa di Jari suamiku    52

    Melihatnya pergi secepat kilat, aku hanya bisa tertawa sambil merapatkan syal dan kembali masuk ke halaman rumah.*Seminggu kemudian.Tring ...Pukul tujuh pagi ponselku berdering, ternyata setelah kulihat itu adalah panggilan dari bosku Irma. Tumben sekali dia menelpon pagi-pagi begini biasanya Jika dia menghubungi itu artinya ada pesanan mendadak atau hal-hal yang harus segera dilakukan untuknya. Kutekan tombol hijau lalu menjawab panggilannya."Halo, assalamualaikum.""Walaikum salam.""Segeralah datang ke butik Karena aku telah mendapatkan laporan hasil audit dari akuntan pribadiku.""Oh, ada apa sebenarnya Bos?"Aku agak heran karena nada bicara temanku itu tiba tiba meninggi."Aku membutuhkanmu sekarang, jadi datanglah.""Siap."Aku agak kaget mendengar dia sedikit berteriak tapi aku berusaha untuk memaklumi bahwa mungkin bosku itu sedang pusing atau memiliki banyak masalah sehingga dia melampiaskannya sedikit kepadaku."Kira kira kenapa ya..." Ah, segera mengambil handuk unt

  • Cincin siapa di Jari suamiku    51

    "Baiklah jika begitu, aku akan pergi," jawabnya.Meski pada akhirnya dia mengalah tapi aku tahu dia melakukannya dengan berat hati. Aku pun paham dia sudah datang kemari dengan mengumpulkan segala keberanian dan kemauannya, dia telah mengumpulkan keberanian untuk menghadapi ayahku dan semua perkataan pahit dari beliau, juga harus minta maaf pada Ibu. Kini aku sudah di kamar, menyibak tirai jendela sambil melihat Mas Indra yang membuka pintu pagar dan menjauh pergi. Kembali terbersit dalam benakku, andai segala kejadian pahit itu tidak pernah berlaku dalam hidupku, tentu aku masih bersamanya sampai sekarang. Andai Dia tidak berselingkuh dan memutuskan untuk memilih kekasihnya tentu sampai saat ini kita masih tidur di ranjang yang sama dalam posisi berpelukan. Hanya ada aku, dia dan anak kami."Tapi sayang tidak ada lagi yang bisa disesalkan."*Kunyalakan AC lalu merebahkan diriku di sisi putriku yang sudah tertidur pulas sejak tadi. Kuperhatikan wajahnya yang cantik, sebagian dirinya

  • Cincin siapa di Jari suamiku    50

    *Di sinilah kami sekarang duduk di atas hamparan tikar dan menikmati pemandangan kota dari ketinggian, bukit yang hijau yang ditumbuhi bunga-bunga yang cantik membuat Ambar gembira serta antusias untuk bermain dan menikmati alam. Kubiarkan ia memetik bunga dan mengejar kupu kupu sementara aku dan Mas Radit duduk sambil menikmati tipuan angin sejuk dan matahari sore. Daun rumput bergoyang di tiup angin membuat suasana semakin semarak."Hmm, Kalau sudah seperti ini Aku merasa sangat tenang dan bahagia ucap Mas Radit sambil mengunyah roti yang ku bawa di keranjang piknik.""Aku juga Mas, Ingin rasanya setiap hari seperti ini setiap sore menatap matahari dan menikmati angin sepoi yang berhembus, suatu saat nanti melihat anak anak kita berkejaran gembira, sudah merupakan kesempurnaan untukku.""Hmm, benar," jawabnya sambil menepuk punggung tanganku. Lama berhubungan dengan Mas Radit tak sekalipun pria itu pernah ingin merangkul atau melakukan hal yang lebih dari sekedar menyentuh tan

  • Cincin siapa di Jari suamiku    49

    Karena dia tidak kunjung menjawab juga perkataanku, akhirnya aku pun memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah karena khawatir Mas Radit dan ibu akan menyusul keluar untuk memeriksa keadaanku."Kalau begitu Aku masuk dulu Mas Ibu dan Ayah pasti akan mencariku kalau aku terlambat.""Baiklah. Tapi tidak bisakah jika lain kali aku melihat Ambar?""Hmm, lain kali saja ya, namun aku tidak berjanji dengan semua itu. Jika suatu saat kau tidak sengaja melihatnya maka itu adalah rezekimu, tapi jika aku harus membawanya padamu, aku sama sekali tidak akan sempat dan tidak mau melakukan itu karena bapakku pasti akan marah.""Tak kusangka akan sesulit itu.""Kenyataan itulah yang kau pilih Mas, jadi bertahanlah.""Aku pulang," ujarnya yang tidak mampu menyembunyikan rasa kesal dan kecewa. Di sisi lain aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk meredakan kekesalan dan kekecewaannya karena segala sesuatu yang terjadi itupun adalah keputusan dirinya.Usai memastikan Mas Indra pergi dari depan rumah a

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status