Share

CHAPTER 30

Author: brokolying
last update publish date: 2026-08-27 17:34:13

Rea terbangun menjelang malam dengan tubuh yang masih terasa berat. Badannya terasa hangat. Nyaris demam. Tanpa banyak berpikir, Rea segera bersiap dan kembali ke rumah sakit.

Begitu pintu kamar perawatan terbuka, langkahnya terhenti.

Dante masih ada di sana, duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Sementara Rumi tampak sudah lebih sadar, bersandar di ranjang dengan wajah yang tidak sepucat tadi.

“Loh, Mas Dante masih di sini?” tanya Rea ramah.

Dante mengangkat wajah dan tersenyum. “Iya. Tapi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 51

    Mereka berdua masuk ke unit Rea dengan posisi Rea menatap Rumi kesal. Kalimat pria itu di lift barusan jelas bukan sesuatu yang dia suka.“Siap melamar kapan pun Rea siap?” ucap Rea mengulangi kalimat pria yang langsung duduk di sofanya itu. “Bapak pikir lucu ngomong seperti itu?”“Terus kamu mau saya jawab apa? Kalau kita cuma kontrak? Begitu?”“Ya nggak usah dijawab sama sekali. Orang-orang ngegosip Pak. Dan bisa jadi mereka berdua juga!”“Kenapa kini kamu begitu takut soal gosip, Rea?”Betul juga. Sejak kapan dia begitu takut perihal akan mendapatkan gosip apa?Sudah pernah digosipi hamil sekali pun, dia tidak peduli. Kenapa sekarang dia begitu takut?“Karena…” Gadis itu terlihat berpikir sejenak, sebelum menggeleng. “Lupain aja. Bapak butuh apa? Ini sudah malam.”“Nah itu. Kontrak kita besok totalnya sudah berjalan tiga bulan. Kita perlu melakukan evaluasi.” Rumi menjelaskan maksudnya tanpa cela. "Jadi, apa kamu punya waktu beberapa hari ke depan?”“Untuk apa?”“Evaluasi kontrak.”

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 50

    "Pacar siapa memangnya Ru? Hari ini Rea terlihat single. Dari tadi sendiri. Saya nggak lihat tuh ada cowok yang nemenin dia?" cibir Kartika tajam menatap sepupunya itu lekat.Rea tidak bereaksi apapun.Tapi Rumi, pria itu tersenyum. Dia tetap tenang.“Sendiri bukan berarti Rea jomblo. Saya rasa semua orang di sini tahu Rea pasangan saya, Mbak.”“Bahkan wanita yang di jari manisnya sudah ada cincin pernikahan sekalipun, kalau dia terbiasa terlihat sendirian, mau satu dunia tahu dia milik siapa, akan ada cowok lain yang nekat ngerebut dia,” tambah Kartika tidak kendor.Kalimat gadis itu terdengar seperti peringatan bagi Rumi, dan sebuah sanjungan dari Rea, meski dia tidak yakin akan ada pria yang mau mendekatinya jika tahu seberapa berantakan hidupnya beberapa tahun belakang. Membuatnya kehilangan apapun termasuk kepercayaan diri.“Mbak Kartika nggak usah khawatir. Saya tahu bagaimana cara menjaga pasangan saya,” ungkap Rumi penuh keyakinan.“Benarkah seperti itu, Rumi? Karena sejak tad

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 49

    Sejak pertanyaan Rumi hari itu, sebulan yang lalu, hubungan mereka berdua benar-benar hanya sepasang kontrak. Tidak ada basa-basi yang tidak perlu. Terlebih sentuhan yang terlepas. Mereka benar-benar menjadi atasan dan bawahan yang tidak jauh-jauh dari pekerjaan semata.Bahkan untuk sekedar bertatap mata di luar masalah kerjaan, Rumi enggan.Tapi mereka masih begitu sangat profesional di luar sana, terlebih di media. Rea masih mendampinginya kemanapun Rumi butuh.Tapi sisanya? Nol.Pria itu benar-benar menghindari Rea.Dan hal tersebut membuat Rea makin kebingungan.Satu sisi dia berterima kasih karena dengan sikap Rumi yang demikian, perasaannya sukar tumbuh lebih dalam. Dia hanya perlu fokus menjalankan tugasnya.Tapi di sisi lain? Melihat pria itu menjadi begitu acuh ternyata bukan hal yang dia sukai.Seperti hari ini. Mereka sedang berada di salah satu pernikahan keluarga Rumi. Rea memakai kebaya manis berwarna maron, yang diimbangi dengan warna batik Rumi yang senada.“Kalian bai

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 48

    “Cantik. Cantik sekali.”Mendengar itu, nyaris saja Rea merona. Syukurnya pagi ini nyawanya cepat terkumpul. Jadi ketika Rumi mengatakan bahwa dia cantik, ingatan tentang semua kekesalannya pada pria ini belakangan langsung terbayang.“Good morning…” sapa Rea sambil tersenyum.“Morning, Cinderea,” sambut Dista yang langsung naik ke samping gadis itu. “Dista lapar.”Kedua alis Rea terangkat. Matanya mencari Rumi di samping seolah meminta penjelasan kenapa anak-anak itu lapar.“Anak-anak belum sarapan?”“Belum. Hari ini jadwal libur semua asistern rumah tangga. Jadi subuh-subuh tadi sudah berangkat,” jelasnya.“Chef Anton juga?” tanya Rea lagi menyebutkan nama chef yang biasa menangani makanan di penthouse itu.“.." Rumi hanya mengangguk.“Kalau Anton libur, kalian biasanya sarapan apa?”“Mama nginap.”“Kali ini kenapa nggak nginap?”“Aku bilang nggak perlu. Karena ada kamu.”Mendengar itu Rea cepat-cepat duduk. Anak-anak pun berlarian keluar kamar, meninggalkan dua orang dewasa itu sen

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 47

    Dante yang sama sekali tidak merasa ada yang aneh, hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celana.“Oh, tadi gue ketemu Rea di coffee shop dekat sini. Sekalian aja gue antar pulang. Kasihan sendirian. Katanya lu sibuk, soalnya.”Rea mengangkat wajah.“Gimana? Udah nganter Maudi?” tanya Rea to the point. Sedikit kelepasan.“Loh, lo nganter Maudi, Rum?” Dante spontan menoleh ke Rumi..Rea tersenyum tipis. Sinis.Tanpa menunggu jawaban siapa pun, dia maju ke pintu.“Ya sudah, kalian ngobrol aja,” ucapnya ringan. “Aku masuk dulu. Sudah ngantuk banget.”Sebelum masuk, Rea sempat menoleh kepada Dante. “Oh iya, Mas Dante. Makasih ya, sudah nganterin.”“Sama-sama, Dek Rea,” ucap Dante yang kemudian menepuk bahu Rumi sekali. “Gue cabut dulu.” Dia menahan tawa melihat ekspresi Rumi. “Good luck.” Lalu pergi begitu saja.Sayangnya Rumi kurang lincah hingga pintu unit di depannya lebih dulu tertutup saat Dante pamitan.TOK TOKTidak ada jawaban. Begitu pula dengan beberapa ketukannya kemudian. Di

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 46

    Ruang tamu kembali sunyi. Rea melihat mereka pergi dengan pandangan yang menyesakkan. Dia tahu dia salah. Tapi Rumi berlebihan. Bahkan untuk sekedar ikut menemani anak-anak pun tidak diizinkan.Rea akhirnya membuka laptop yang dibawakan oleh Bene. yang katanya berisi file medical record anak-anak.Dia membacanya dari halaman pertama.Riwayat kesehatan. Alergi. Obat. Pola makan. Jadwal pemeriksaan. Catatan dokter. Bahkan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya.Setelah selesai dengan Dista, dia membuka milik Desta.Jam bergeser tanpa dia sadari. Bahkan saat mata Rea mulai terasa kering, dia tetap membaca.Dia mencatat beberapa poin penting di sebuah dokumen terpisah. Sesekali mengulang bagian yang tidak dia pahami.Sampai akhirnya suara pintu terdengar.Rea mengangkat wajah.Rumi masuk. Dista berada dalam gendongannya, sedang Ammar membawa Desta di dekapannya.Dan….Dan Maudi masih ada.“Tante Rea!” sapa kedua anak itu lagi-lagi serempak ketika turun dari gendongan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status