FAZER LOGINRea berjalan menuju pintu balkon dan membukanya lebar-lebar.Udara sore Singapura langsung menyambutnya.Gadis itu melangkah keluar, meninggalkan Rumi di dalam sana. Dia bisa mendengar pria itu akhirnya mengangkat panggilan Maudi. Entah kemudian mereka membicarakan apa.Rea memutuskan untuk tidak mendengar sedikitpun dan menutup kembali pintu kaca di belakangnya.Selanjutnya, dia mengambil ponsel dari saku, lalu mencari aplikasi kamera, sebelum mengarahkannya ke pemandangan kota di depan sana.Langit mulai berubah warna.Cahaya sore perlahan melembut di antara gedung-gedung tinggi, sementara lampu kota satu per satu mulai menyala.KLIK.Satu foto berhasil dia ambil. Rea tersenyum kecil melihat hasilnya.Setelahnya, dia duduk di kursi balkon, lalu mulai mengedit foto tersebut. Sedikit menaikkan pencahayaan, memperhalus kontras, kemudian memilih satu filter yang membuat warna senja terlihat lebih hangat, sebelum mengunggahnya ke media sosial.Tidak lupa jarinya mengetik sebuah caption si
Sesampainya di hotel, mereka berpisah dan masuk ke kamar masing-masing. Pakaian mereka basah semua. Kuyup. Rea langsung keramas. Tipe wanita kolot yang percaya kalau nyampo setelah terguyur hujan bisa menghindarinya dari sakit kepala.Setelah keramas, dia menghabiskan beberapa menit berendam di bathtub. Merilekskan pikirannya. Tubuhnya. Semuanya.Tidak lupa dia memutar lagu pada ponsel yang sengaja dia bawa ke kamar mandi dengannya.Kali ini, Cry dari Cigarettes After Sex yang terputar.Lagu bergenre dream pop dan bertempo lambat. Vokal Greg Gonzales begitu pas untuk moodnya saat itu. Sampai dia tidak sadar mengikuti liriknya."It's making you cry, every time. You give your love to me this way. Sayin' you'd wait, for me to stay. I know it hurts you, but I need to.. tell you.. Something… My heart just can't be faithful.. for long.. I swear, I'll only make you cry."Suaranya begitu membaur dengan pitch lagu tersebut. Terdengar merdu. Setelah itu, dia bahkan masih melanjutkan nyanyiannya
Rea reflek merenggangkan pelukannya. Berusaha menjauhkan tubuh dari punggung pria itu.‘Memang perlu evaluasi kontrak kalau kayak gini ceritanya!’ dongkol gadis itu dalam hati. Baginya, Rumi terkadang terlalu dewasa untuk bisa dia handel tanpa batasan kontrak yang jelas.Akhirnya, motor besar itu melaju meninggalkan kawasan South Bridge Road menuju Orchard.Rea menikmati perjalanan dengan cara yang berbeda dari biasanya yang tanpa senyum. Tidak karena pemandangan Singapura merupakan sesuatu yang baru baginya. Dia sudah beberapa kali datang ke negara itu dulu. Tidak juga karena jalanan di Jakarta terlalu padat.Hanya saja, kali ini, kembali mengunjungi tempat itu sebagai seseorang yang kini hidup sebatang kara rasanya berbeda. Sedih, tapi ada senangnya juga. Siapa sangka dia bisa menginjak negara itu lagi dengan kondisi ekonominya yang belum stabil?Terlebih, Kali ini dia datang bersama seseorang yang baru di hidupnya. Datang bersama Rumi jelas memberikan sensasi yang berbeda untuk Rea.
Sejak hubungan mereka merenggang belakangan ini, mendengar Rumi mengatakan hal-hal manis menjadi satu kegelisahan sendiri bagi Rea.Dia kerap mengingatkan dirinya kalau pria itu sedang dekat dengan perempuan lain, dan lingkungannya mendukung itu.Dan kali ini, ingatan itu berhasil.“Bapak selalu pintar memilih kalimat. Pantas banyak yang nyaman dengan Bapak. Saya jadi bingung kenapa Bapak belum menikah lagi,” balas Rea tenang. Mengunyah potongan terakhir rotinya.“Masih pagi, pertanyaan kamu sudah liar. Makanlah cepat. Pesawat kita lima lima puluh.”Rea memonyongkan bibirnya sebentar, dongkol, sambil menghabiskan kopi juga air minumnya. Mustahil mengulik kehidupan pribadi pria itu. Sudah beberapa kali dia mencoba, tapi selalu gagal.Mereka berdua akhirnya menyelesaikan sarapan apa adanya itu, lalu langsung menuju bandara. Hari ini pakaian mereka senada. Abu-abu. Disengaja? Ya. rumi menyesuaikan dengan pakaian yang sudah lebih dahulu Rea kenakan.Tidak lama kemudian, mereka sudah berad
Rea bersandar di balik pintu dengan jantung yang berdebar tak karuan. Berakhir sudah masa keperawanan kedua bola matanya. Dan dia takut, kejadian barusan tidak akan membuatnya bisa menatap Rumi sama lagi.Dia pernah melihat otot perut pria dewasa sebelumnya. Tentu saja.Tapi bagian sensitif lelaki yang itu… yang ternyata berbentuk dan berukuran seperti…. entahlah, jelas ini baru kali pertama untuk gadis dua puluh lima tahun tersebut.Dia bahkan tidak tahu harus bersikap dan bereaksi seperti apa selain berteriak. Haruskah dia biasa saja? Haruskah dia malu? Haruskah dia terkesima? Apa?TOK TOK!“Rea…”“Nggak boleh! Bapak nggak boleh masuk!” tolak Rea langsung.“Ya minimal kamu pinjemin saya bathrobe. Masa saya pakai handuk ini sepanjang malam?”“Harusnya Bapak sudah memikirkan itu sebelum mandi. Ya sudah pakai aja baju yang tadi lagi. Saya ambilin. Sebentar..” ucap Rea bersiap mengambil baju pria itu dalam kamar mandi.“Tidak mau. Itu sudah bau keringat. Setidaknya pinjamkan saya baju k
Mereka berdua masuk ke unit Rea dengan posisi Rea menatap Rumi kesal. Kalimat pria itu di lift barusan jelas bukan sesuatu yang dia suka.“Siap melamar kapan pun Rea siap?” ucap Rea mengulangi kalimat pria yang langsung duduk di sofanya itu. “Bapak pikir lucu ngomong seperti itu?”“Terus kamu mau saya jawab apa? Kalau kita cuma kontrak? Begitu?”“Ya nggak usah dijawab sama sekali. Orang-orang ngegosip Pak. Dan bisa jadi mereka berdua juga!”“Kenapa kini kamu begitu takut soal gosip, Rea?”Betul juga. Sejak kapan dia begitu takut perihal akan mendapatkan gosip apa?Sudah pernah digosipi hamil sekali pun, dia tidak peduli. Kenapa sekarang dia begitu takut?“Karena…” Gadis itu terlihat berpikir sejenak, sebelum menggeleng. “Lupain aja. Bapak butuh apa? Ini sudah malam.”“Nah itu. Kontrak kita besok totalnya sudah berjalan tiga bulan. Kita perlu melakukan evaluasi.” Rumi menjelaskan maksudnya tanpa cela. "Jadi, apa kamu punya waktu beberapa hari ke depan?”“Untuk apa?”“Evaluasi kontrak.”







