LOGINSejak membaca sekilas pesan yang muncul di layar ponsel Dante tadi, ada sesuatu yang berubah dalam diri Rea. Keraguan yang semula hanya berupa dugaan kecil kini mulai tumbuh dan sulit diabaikan.Rea berulang kali berusaha mencari alasan untuk menyangkal yang menurutnya tidak masuk akal perihal teman barunya tersebut. Seperti, mungkin pesan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Mungkin perempuan yang dimaksud adalah orang lain. Atau mungkin Dante memang sedang membantu seseorang dalam urusan yang sama sekali tidak berkaitan dengan teror yang selama ini dialaminya.Namun, semakin Rea berusaha mencari pembenaran, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.'Apa Dante benar-benar terlibat? Atau jangan-jangan, pria itu justru dalang utama di balik semua peneroran ini?'Pikiran tersebut terus menghantuinya sepanjang hari. Bahkan ketika mereka meninggalkan kantor detektif dan menghabiskan waktu bersama, Rea rasanya susah bersikap seperti biasanya.Pun saat menemani Dante makan si
Pagi itu, teriakan Rea sukses membangunkan Rumi yang masih terlelap. Pria itu sontak membuka mata dan mengangkat kepala, tampak kebingungan mencari tahu apa yang terjadi."Ada apa?" tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.Rea sudah lebih dulu bangkit dari ranjang. Namun, ketika pandangannya tanpa sengaja jatuh ke bagian celana piyama Rumi, dia langsung memalingkan wajah. Gundukan yang terlihat jelas di sana membuat kedua pipinya merona lagi seperti biasa."Duh! Nggak sopan banget sih, Pak?!"Rumi yang masih berusaha mengumpulkan nyawa itu mengikuti arah pandangan Rea. Butuh beberapa detik sampai akhirnya dia memahami apa yang membuat gadis itu berteriak."Oh." Pria itu justru terlihat santai. "Ini namanya normal. Bukan tidak sopan.""Nggak sopan karena Bapak nggak jagain punya Bapak, sampai nempel di saya!" Rea menunjuknya tanpa berani menoleh. "Sudah, nggak usah dibahas. Ayo bangun, Pak! Anak-anak sebentar lagi mau berangkat sekolah. Mereka pasti nyariin Bapak."Rea
Rea akhirnya berdiri dan meraih kopernya. Hendak memindahkan pakaiannya satu per satu ke dalam lemari yang tersedia. Namun, tangannya mendadak terhenti ketika mendapati beberapa potong pakaian pria itu sudah tergantung rapi di satu sisi.‘Jadi ini benar-benar kamar keduanya?’ tanya Rea dalam hati.Setelah memastikan semuanya beres, Rea mengambil perlengkapan mandinya lalu melangkah ke kamar mandi yang juga dipenuhi perlengkapan milik pria itu.Rasanya benar-benar seperti sedang berbagi tempat tinggal dengan Rumi."Kamu lama sekali," singgung Rumi.Rea yang baru keluar dari kamar mandi langsung mendapati pria itu sudah berganti pakaian dengan piyama, duduk santai di salah satu sofa kecil."Loh, Mas benar-benar tidur di sini?" tanya Rea protes."Mungkin. Mungkin juga tidak. Lihat nanti." Rumi meliriknya. "Cepatlah, Rea. Saya sudah pesan makan malam untuk kita.""Evaluasi begini sebenarnya nggak perlu-perlu amat, Mas," cibir Rea jujur, sambil duduk di hadapan pria itu."Perlu, lah. Kamu m
Rea mengikuti Rumi memasuki salah satu kamar di The Blue Hill Hotel. Dari percakapan pria itu dengan resepsionis tadi, sepertinya kamar ini memang cukup sering digunakan oleh duda anak dua itu.Hanya saja, Rea tidak mengerti mengapa Rumi memilih menginap di hotel ketika penthouse miliknya berada di gedung yang sama. Meski semua itu miliknya.Pikiran negatif sempat melintas di benak Rea. Jangan-jangan, pria itu memang punya kebiasaan membawa perempuan lain ke sini?Namun, Rea memilih menyimpannya sendiri."Kamu akan aman di sini. Makan malam akan diantar oleh room service. Untuk sarapan dan makan siang, kamu bebas mau makan di kamar atau naik ke penthouse. Makan bersama saya dan anak-anak," tutur Rumi menjelaskan singkat tentang nasib lambung Rea."Kalau saya bosan bagaimana?" tanya Rea yg ternyata tidak memikirkan soal perut."Di luar sana terlalu berbahaya untuk kamu sekarang, Rea. Jadi jangan kemana-mana dulu!"Rea tidak berniat memperpanjang perdebatan. Pada akhirnya, dia hanya men
Rea tidak tahu harus menjawab apa. Ada terlalu banyak hal yang tidak bisa dia ceritakan kepada Rumi.Melihat Rea tak kunjung memberikan jawaban, Rumi akhirnya mengembuskan napas kesal. Dia menutup pintu bagasi mobil, kemudian menggiring Rea ke sisi penumpang. Setelah membukakan pintu untuk gadis itu, Rumi menunggu sampai Rea masuk sebelum menutupnya perlahan. Dia lantas bergegas memutari mobil dan mengambil tempat di balik kemudi.Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan menuju apartemen Rea.Bahkan ketika mobil sudah memasuki area parkir gedung, Rumi tetap tidak banyak bicara. Dia hanya membantu membawakan barang belanjaan mereka, sementara Rea berjalan di sampingnya dengan perasaan yang semakin tidak karuan.Begitu tiba di apartemen, Rumi langsung meminta Rea menunjukkan semua pesan yang diterimanya.Kini, keduanya duduk berhadapan di meja makan. Rea sudah menceritakan kronologi singkat teror yang dialaminya, termasuk memperlihatkan seluruh pesan dan foto yang selama ini dikirimka
Rumi meluruskan duduknya, kembali menghadap ke depan. Dia mematikan mesin mobil, lalu mengangkat bahu seolah percakapan mereka barusan bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan lebih jauh."Anggap saja saya tahu apa yang saya mau. Ayo turun. Kita belanja bulanan."Rea sampai tersentak. Sebuah kekesalan lolos dari bibirnya berupa tawa kecil. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan cara pria itu menghindari pembicaraan."Ya sudah, ayo. Aku bakal bikin Mas bangkrut!" gertak Rea merapikan rambutnya.Rumi hanya tertawa mendengar ancaman tersebut. Mungkin kalimat itu terdengar begitu mungil di telinganya, apalagi jika dibandingkan dengan isi rekening yang dimilikinya.Sepanjang perjalanan menuju area grocery, keduanya bergandengan tangan. Begitu kasual, seolah mereka benar-benar pasangan yang sedang menghabiskan waktu bersama. Padahal, mereka tidak lebih dari komplotan dua pembohong ulung.Rumi mengambil sebuah troli, sementara Rea membuka ponselnya untuk memeriksa daftar belanjaan yang suda







