로그인Rea akhirnya berdiri dan meraih kopernya. Hendak memindahkan pakaiannya satu per satu ke dalam lemari yang tersedia. Namun, tangannya mendadak terhenti ketika mendapati beberapa potong pakaian pria itu sudah tergantung rapi di satu sisi.‘Jadi ini benar-benar kamar keduanya?’ tanya Rea dalam hati.Setelah memastikan semuanya beres, Rea mengambil perlengkapan mandinya lalu melangkah ke kamar mandi yang juga dipenuhi perlengkapan milik pria itu.Rasanya benar-benar seperti sedang berbagi tempat tinggal dengan Rumi."Kamu lama sekali," singgung Rumi.Rea yang baru keluar dari kamar mandi langsung mendapati pria itu sudah berganti pakaian dengan piyama, duduk santai di salah satu sofa kecil."Loh, Mas benar-benar tidur di sini?" tanya Rea protes."Mungkin. Mungkin juga tidak. Lihat nanti." Rumi meliriknya. "Cepatlah, Rea. Saya sudah pesan makan malam untuk kita.""Evaluasi begini sebenarnya nggak perlu-perlu amat, Mas," cibir Rea jujur, sambil duduk di hadapan pria itu."Perlu, lah. Kamu m
Rea mengikuti Rumi memasuki salah satu kamar di The Blue Hill Hotel. Dari percakapan pria itu dengan resepsionis tadi, sepertinya kamar ini memang cukup sering digunakan oleh duda anak dua itu.Hanya saja, Rea tidak mengerti mengapa Rumi memilih menginap di hotel ketika penthouse miliknya berada di gedung yang sama. Meski semua itu miliknya.Pikiran negatif sempat melintas di benak Rea. Jangan-jangan, pria itu memang punya kebiasaan membawa perempuan lain ke sini?Namun, Rea memilih menyimpannya sendiri."Kamu akan aman di sini. Makan malam akan diantar oleh room service. Untuk sarapan dan makan siang, kamu bebas mau makan di kamar atau naik ke penthouse. Makan bersama saya dan anak-anak," tutur Rumi menjelaskan singkat tentang nasib lambung Rea."Kalau saya bosan bagaimana?" tanya Rea yg ternyata tidak memikirkan soal perut."Di luar sana terlalu berbahaya untuk kamu sekarang, Rea. Jadi jangan kemana-mana dulu!"Rea tidak berniat memperpanjang perdebatan. Pada akhirnya, dia hanya men
Rea tidak tahu harus menjawab apa. Ada terlalu banyak hal yang tidak bisa dia ceritakan kepada Rumi.Melihat Rea tak kunjung memberikan jawaban, Rumi akhirnya mengembuskan napas kesal. Dia menutup pintu bagasi mobil, kemudian menggiring Rea ke sisi penumpang. Setelah membukakan pintu untuk gadis itu, Rumi menunggu sampai Rea masuk sebelum menutupnya perlahan. Dia lantas bergegas memutari mobil dan mengambil tempat di balik kemudi.Tidak ada percakapan sepanjang perjalanan menuju apartemen Rea.Bahkan ketika mobil sudah memasuki area parkir gedung, Rumi tetap tidak banyak bicara. Dia hanya membantu membawakan barang belanjaan mereka, sementara Rea berjalan di sampingnya dengan perasaan yang semakin tidak karuan.Begitu tiba di apartemen, Rumi langsung meminta Rea menunjukkan semua pesan yang diterimanya.Kini, keduanya duduk berhadapan di meja makan. Rea sudah menceritakan kronologi singkat teror yang dialaminya, termasuk memperlihatkan seluruh pesan dan foto yang selama ini dikirimka
Rumi meluruskan duduknya, kembali menghadap ke depan. Dia mematikan mesin mobil, lalu mengangkat bahu seolah percakapan mereka barusan bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan lebih jauh."Anggap saja saya tahu apa yang saya mau. Ayo turun. Kita belanja bulanan."Rea sampai tersentak. Sebuah kekesalan lolos dari bibirnya berupa tawa kecil. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan cara pria itu menghindari pembicaraan."Ya sudah, ayo. Aku bakal bikin Mas bangkrut!" gertak Rea merapikan rambutnya.Rumi hanya tertawa mendengar ancaman tersebut. Mungkin kalimat itu terdengar begitu mungil di telinganya, apalagi jika dibandingkan dengan isi rekening yang dimilikinya.Sepanjang perjalanan menuju area grocery, keduanya bergandengan tangan. Begitu kasual, seolah mereka benar-benar pasangan yang sedang menghabiskan waktu bersama. Padahal, mereka tidak lebih dari komplotan dua pembohong ulung.Rumi mengambil sebuah troli, sementara Rea membuka ponselnya untuk memeriksa daftar belanjaan yang suda
“Ya! Selama kontrak ini masih berjalan, kamu tidak boleh jatuh cinta pada siapa pun. Tidak pada saya, apalagi pada Dante! Paham, Amarea Hutama?”Rea tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria di hadapannya."Mas sadar nggak betapa gilanya permintaan Mas barusan?"Rumi tetap menatapnya."Kamu larang saya jatuh cinta ke kamu? Saya bisa patuhi, Mas." Rea menarik napas, berusaha menjaga suaranya tetap terkendali. "Tapi ngelarang saya jatuh cinta ke cowok lain? Maaf, Mas. Saya menolak.""Amarea….""Mas boleh ngatur apa yang harus saya lakukan sebagai pasangan Mas. Mas boleh nentuin gimana saya harus bersikap di depan keluarga atau orang lain. Itu bagian dari kesepakatan kita." Rea menatapnya lekat-lekat. "Tapi Mas nggak punya hak untuk mengatur perasaan saya, apalagi menentukan kepada siapa saya boleh jatuh cinta."Dia menggelengkan kepala lagi. "Jangan keterlaluan, Mas. Saya ini manusia, bukan barang yang Mas beli dan bisa Mas atu
Aroma masakan yang menguar dari dapur, wangi mentega dan sesuatu yang dipanggang perlahan-lahan membangunkan Rea dari tidurnya. Kamar tamu yang letaknya tidak jauh dari asal aroma membuat bau sedap itu tercium begitu jelas.Rea meraih ponsel di nakas. Pukul setengah enam subuh.Masih terlalu pagi, tetapi dia sudah telanjur terjaga. Terlebih, dia teringat permintaan Dista dan Desta semalam. Kedua anak itu memesan sarapan khusus kepadanya, cheese omelet egg yang pernah mereka cicipi beberapa waktu lalu dan langsung mereka sukai.Rea pun beranjak dari tempat tidur.Begitu tiba di dapur, dia mendapati dua orang asisten rumah tangga sedang sibuk menyiapkan keperluan sarapan."Selamat pagi," sapa Rea ramah.Keduanya menoleh dan membalas sapaan itu."Maaf, saya boleh ikut pakai dapur sebentar? Saya mau buatin sarapan untuk anak-anak. Omelet keju. Dista dan Desta memintanya semalam," izin Rea malu-malu.Kedua asisten itu saling pandang. Salah satunya bahkan tampak kebingungan mendengar nama m







