ログイン"Action!" teriak sutradara.Angin laut berhembus kencang hingga menerbangkan helaian rambut milik Elizabeth Branch. Dia berdiri mematung di ujung dermaga kayu, mendengarkan suara ombak yang menghantam tiang-tiang penyangga dermaga.Elizabeth memejamkan matanya, menarik nafas panjang dan menghembuskanna, tidak ada ekspresi lega pada wajahnya yang terlihat wajah sendunya dengan tatapan mata yang dingin."Cut! Kerja bagus Liz! Setelah ini kita ambil adegan dirimu menaiki yacht. Pertahankan ekspresi sedihmu."Elizabeth kembali sadar, dia tidak berakting, dia sedang terbawa suasana. Rasa sesak di dada kembali mendatangi dirinya dan semua karena sosok Damian Reeves yang tiba-tiba hadir kemudian berlalu begitu saja, mengabaikan keberadaannya. Semua sangat menyakitkan ditambah kehadiran perempuan lain yang dicintai pria itu."Kita lanjut lagi. Sekarang kamu berjalan pelan menuju kapal, tetap dengan wajah sedihmu."Elizabeth menganggukkan kepalanya, dia mengikuti arahan sutradara.Wajahnya kem
"Wah, sedang ada syuting film." Rosemary melihat dari jendela kamar di dalam yacht yang bernamakan dirinya."Apa kamu mau menjadi pemeran figuran?" tanya Damian dengan nada resah."Tidak! Kasihan pemeran utamanya nanti akan kalah memukau." jawab Rosemary dengan rasa penuh percaya diri. "Ditambah apa mungkin suamiku rela melihat tubuh istrinya menjadi tontonan?" kali ini nada penuh ledekan disampaikan oleh Rosemary."Benar juga." Damian segera memeluk tubuh Rosemary dari belakang dan ikut melihat adegan pengambilan gambar yang sedang terjadi di dermaga. "Mau sesuatu yang akan membuatmu bergairah, Rosy?" bisik Damian dengan nada rendah yag menggoda.Tubuhnya segera bereaksi melihat posisi Rosemary yang setengah menungging di atas sofa dalam balutan bikini merah. Jakunnya bergerak saat dia menelan liurnya, tubuh yang dulu terlihat lebih kurus dan mungil sekarang terlihat lebih berisi meskipun tetap saja terasa mungil di dalam pelukannya."Aku tahu apa
"Bagaimana hari ini?"Rosemary tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya saat menjawab pertanyaan Damian."Aku ingin bercinta?" ucap Rosemary sambil memeluk tubuh Damian."Hmm-" tatapan Damian menelisik wajah Rosemary yang masih saja menampilkan senyum lebarnya. "Apa kamu melakukan kesalahan?"Rosemary menggelengkan kepalanya. "Aku sedang bahagia, sangat bahagia, karena itu aku ingin bercinta denganmu agar kamu juga ikut merasakan kebahagiaanku.""Baiklah, tetapi aku harus mandi dulu. Hari ini aku dan Adam mengunjungi lokasi proyek.""Aku ikut mandi juga."Damian mengerutkan keningnya, Rosemary memang selalu bersikap nakal padanya dan tentu saja dia menyukainya, tetapi kali ini tingkah Rosemary membuatnya bertanya-tanya.Bagaikan anak itik yang mengikuti induknya, seperti itulah Rosemary saat ini bahkan saat dia ikut masuk ke dalam bak mandi yang sudah berisi dengan air hangat. Jemari
Damian duduk diam, jari-jarinya saling bertaut menopang dagu. Matanya tajam menatap desain beberapa villa yang berada di atas meja kerjanya.Suara pintu yang terbuka membuatnya segera menoleh. Adam yang baru saja datang terlihat berjalan dengan santai dengan wajah yang berseri-seri."Wajahmu cerah sekali." nada mengejek terdengar jelas dari suara Damian. "Aku tebak, Gaby masih di sini?""Sialan!" umpat Adam sambil menarik kursi untuknya duduk. "Apa kalian benar-benar serius?""Aku menyukainya, dia gadis yang baik dan tidak merepotkan.""Merepotkan?"Adam menganggukkan kepala saat mendengar pertanyaan Damian dengan nada heran."Dia mandiri, dia juga mengerti jika aku akan mengabaikannya saat bekerja dan dia tidak memintaku selalu ada untuknya."Damian menghela nafasnya saat mendengar jawaban Adam.Mereka duduk saling berhadapan, terhalang oleh meja kerja dan kembali membahas tentang pembangunan properti yang akan berlangsung pada pertengahan musim semi. Enam unit villa harus sudah sel
Rosemary duduk bersandar di dada bidang Damian, kulit mereka yang saling menyentuh selalu memberikan getaran-getaran geli di dalam dada bahkan di dalam perut Rosemary. Jari-jari lentik Rosemary bermain-main tanpa sadar di atas jari-jari Damian yang besar dan kokoh, dia kembali merasakan setiap lekukan dan garis yang begitu dia hafal.Jemarinya mengkait di antara jemari Damian, senyumnya mengembang saat Damian mengggenggamnya dan membawa tangan mereka ke bibir pria itu. Bibir lembut Damian menciumi punggung tangannya, hingga akhirnya kaitan jemari mereka terlepas dan jemari Damian berpindah menuju area sensitifnya."Aku lelah, Damian." protes Rosemary.Mereka baru saja selesai bercinta di atas sofa apartemen mereka, tubuh mereka bahkan masih lengket oleh keringat. Kini, bola mata Rosemary membulat sempurna saat matanya tertuju pada kejantanan Damian yang terlihat kembali mengeras.Bibirnya bisa berkata lelah, tubuhnya juga merasa lelah, tetapi getaran-getaran di dalam tubuhnya membuat
"Pilek?"Rosemary menggelengkan kepalanya, dia bersin-bersin sepanjang sore ini saat menyambut Damian pulang kerja."Pakailah baju yang lebih hangat, Sayang."Tatapannya menyapu penampilan Rosemary yang selalu membangkitkan gairahnya. Rosemary mengenakan gaun pendek bermotif bunga seakan-akan mereka sedang berada di musim panas, gaun tanpa lengan dengan ikatan di leher dan Damian tahu sekali saja dia menarik pita pada tengkuk Rosemary maka gaun itu akan luruh di lantai."Aku mau kamu yang membuatku hangat." goda Rosemary saat membalas ucapan Damian, sebelah matanya berkedip menggoda."Gadis nakal."Damian segera menangkap tubuh Rosemary dan membenamkan tubuh kekasihnya itu di dalam pelukannya. Dia merasa heran pada dirinya yang sanggup menunggu Rosemary memasuki usia dewasanya, bahkan dia berusaha menahan pikiran liarnya saat Rosemary merelakan tubuhnya untuk dia jamah. Dia mencintai Rosemary melebihi apapun, tetapi yang paling utama dari rasa cintanya adalah Rosemary dapat hidup aman
Malam yang cerah membuat Rosemary memilih berjalan-jalan di atas geladak, menikmati bintang-bintang yang bertaburan di langit gelap dan memandangi dalamnya lautan.
Tatapan sinis diberikan Adam kepada Rosemary yang terlihat begitu manja terhadap Damian, dia sendiri sudah menduga cepat atau lambat Rosemary akan berada di dalam pelukan pria yang juga sahabatnya terseb
"Aku mendengar kapalmu pernah bermasalah."Damian menganggukkan kepalanya, mengiyakan kata-kata Adam meskipun dia bersikap acuh karena sedang memeriksa semuanya. Tidak hanya mesin, tetapi juga rekaman dari kamera yang berada pada setiap sudut kapalnya dan juga bahan makanan dan minuman yan
"Apa kalian sudah berkenalan dengan pacarnya Rosalia?"Pertanyaan Susanna di saa







