Mag-log inBisnis adalah bisnis, Steven membutuhkan banyak uang untuk pergi jauh dan mungkin saja dia akan membawa Giselle bersamanya kemudian membesarkan anak mereka bersama-sama.Penawaran harga yang diberikan oleh Bertrand Reeves membuat dirinya goyah untuk menjalin hubungan baik bersama Damian Reeves, kedua saudara itu saling bermusuhan dan permusuhan mereka ternyata memberinya keuntungan.Dia tidak lagi peduli dengan perdamaiannya bersama Damian Reeves dan Rosemary Steele jika dia telah pergi jauh dari negara ini. Dia akan memulai hidup baru di tempat lain dan sebelum itu semua terjadi, dia akan membalaskan dendamnya terlebih dahulu.Bukan hanya Rosalia,tetapi juga Hillda yang menjadi otak dari semua tingkah Rosalia.Berada di Waterbay membuat Steven teringat kembali akan kebodohannya, andai saja saat itu dia menyelidiki lebih dalam, dia tidak akan salah sasaran pada Rosemary.Steven memejamkan matanya, pikiran tertuju pada Rosemary Steele yang mencuri perhatiannya sejak pertama kali meliha
Di dalam ruang kerjanya Damian tersenyum tipis, sangat tipis saat asistennya memberikan laporan tentang Bertrand Reeves yang berusaha membeli aset milik Steven Hill yang berada di Pinehill. Saudaranya yang haus akan kekuasaan dan kekayaan, tetapi bodoh itu hanya tahu caranya mencuri apa yang seharusnya menjadi miliknya. Dia sudah memberikan posisi bahkan meninggalkan Grup Reeves yang sudah dia bangun dengan susah payah agar dapat diteruskan oleh para anggota keluaraga Reeves yang serakah dan hasilnya Grup Reeves kembali berada di dasar, kembali menuju kehancurannya sama seperti saat dia pertama kali membenahi perusahaan-perusahaan keluarganya. "Apa kamu menjebaknya?" kali ini dia tersenyum miring mendengar pertanyaan dari Adam Steele yang duduk bersebrangan dengan dirinya. "Tidak juga, aku memang tertarik pada lahan milik pria itu. Pinehill memiliki pemandangan alam yang indah, karena itu aku mau membangun bekas tambang menjadi resort mewah dan sayangnya rencanaku gagal karena a
Hilda hanya bisa menangis, bahkan tangisannya kali ini tidak mengeluarkan air mata hanya sebuah isakan pilu. Tubuhnya masih terpasung oleh rantai yang terpasang dan membuatnya tidak dapat banyak bergerak, makanan dan minuman yang diberikan kepadanya hanyalah makanan dan minuman untuk membuat dirinya hidup semakin menderita. Dia ingin memilih mati, menghantamkan kepala pada dinding atau lantai, tetapi dia tidak memiliki keberanian untuk merasa sakit. Dia memilih Steven menusuk jantungnya atau menembaknya atau melemparkan dari ketinggian. Pikirannya semakin kalut saat mendengar pria itu akan membawa pujaan hatinya, pertanda Steven akan menyakiti Rosalia. Bahkan di saat seperti saat ini, dia masih memikirkan Rosalia. Hilda mentertawakan dirinya sendiri. ***Wajah Rosalia bersemu merah, rasa senang dan bahagia segera menyergap dirinya saat dia menerima pesan dari Steven. [Apa kabarmu? Aku harus kembali ke Pinehill karena ada yang mau membeli lahan milikku.]Rasa lega menyelimuti pera
Lembar demi lembar, Hilda melihat Steven membuka catatan hariannya lembar demi lembar di bawah redupnya lampu ruangan tempatnya dipasung. "Rosalia akhirnya menggugurkan kandungannya sesuai dengan saranku, kemudian aku membantunya merangkai kata-kata untuk putus dengan pria bernama Matiash tersebut. Ada rasa senang di dalam hatiku karena Rosa pada akhirnya sadar jika pria itu tidak lebih baik dari Damian , pria pujaannya." suara Steven terjeda sebelum melanjutkan bacaannya. "Mattiash adalah pria kasar dan posesif, aku tidak menyukainya. Semenjak Rosalia bersama Mattiash, dia jadi jarang menemaniku. Putus dengan Mattiash akan membuat Rosalia kembali memiliki waktu bersamaku. Aku juga lebih suka jika dia kembali mengejar Damian, karena aku tahu Damian akan membuatnya patah hati kembali dan di saat dia patah hati maka Rosa akan mencariku." Steven kembali membuka lembar demi lembar buku catatan harian milik Hilda. Membacanya sekilas dan berhenti saat dia menemukan tulisan yang menarik pe
Waterbay dengan laut birunya yang dalam, kapal-kapal pesiar mewah berlabuh di dermaga dengan pohon-pohon palem yang berjejer rapi. Angin laut berhembus meniup rambut Rosalia, pikirannya masih saja tertuju pada Steven. Kali ini yang berada di dalam ingatannya adalah Steven yang tidak memaksa dirinya, Steven yang perhatian terhadap dirinya dan Steven yang tidak lagi membicarakan balas dendamnya terhadap Rosemary.Dia baru saja kembali dari apartemen Hilda, apartemen tersebut kosong bahkan tidak ada sehelai rambutpun berada di dalam sana. Hanya ada tembok-tembok penuh bercak tempelan kertas, tempat tidur Hilda bahkan terlihat rapi tertutup kain putih, sofa tempat biasa mereka duduk untuk berbagi cerita juga tertutup kain putih.Tidak ada jejak yang ditinggalkan oleh Hilda untuknya. Hilda seakan-akan menghilang begitu saja dari kehidupannya.***"Lepasakan!""Bagaimana aku harus melepasmu? Haruskah aku memukul kepalamu dengan batu dan melemparkan dirimu ke dalam hutan sana?"Sorot mata ya
"Rosy, apa kamu datang sendirian?" "Aku datang bersama Damian. Bagaimana keadaanmu, Rosa?" Rosemary menjawab pertanyaan yang diberikan pamannya dengan nada tegas, sebelum bertanya pada sosok Rosalia yang terbaring dengan balutan perban di kepalanya. "Kamu masih mengenaliku kan?" ada sedikit nada menyindir dari suara Rosemary. Dunia yang penuh dusta ini bisa saja membuat sepupunya berdusta demi menyelamatkan dirinya sendiri tanpa peduli dengan perasaan dan kehidupan orang lain. Wajah Rosalia memerah mendengar pertanyaan dari Rosemary, rasa gugup seketika menjalar di dalam dirinya. "Sepertinya kamu baik-baik saja selain perban yang ada di kepalamu itu." lanjut Rosemary."Aku datang untuk menyapa paman dan bibi, apa kabar kalian?" Rosemary tersenyum manis kepada paman dan bibinya yang terlihat bermuka masam menerima kehadirannya. Dia sudah tahu jika kehadirannya tidak begitu diharapkan, mereka lebih mengharapkan kehadiran Damian dibandingkan dirinya. "Karena Rosalia sudah ada yang m
Rosemary menuruni anak tangga dengan wajah tertunduk, dia masih merasa takut pada kakaknya. Tiga hari dia sudah merasa tenang bahkan kembali manja kepada Damian seperti sebelum pemberitaan buruk tentangnya beredar."Rosy, maafkan aku."Adam berdiri dari duduknya, melebarkan tanganny
Damian datang menjemputnya, wajah Damian tidak lagi tenang, tetapi diliputi kemarahan bahkan setelah mereka berada di dalam mobil. Rosemary dapat dengan mudah mengetahui jika Damian dalam keadaan marah, pedal gas yang dipacu dengan kasar, suara klakson yang berbunyi setiap kali ada mobil yang men
Samudera biru kembali menjadi pemandangan Rosemary di pagi ini, dia melihat Damian dan Adam sedang bicara di ruang kemudi sementara Angela tampak dengan bikini putihnya berjemur di atas dek. Entah mengapa dia tidak begitu menyukai Angela Anderson, beberapa kali dia mendapati
Max dan Steven sama-sama menoleh bertukar pandangan sebelum mengedarkan kembali pandangan mereka pada kamar di ruang bawah tanah. Ruangan yang dingin berlantai keramik hitam, sebuah ranjang besa







