LOGINHari demi hari berlalu, namun dendam di hati Steven tak kunjung mereda. Entah mengapa dia begitu terobsesi untuk membalaskan rasa sakit hati Mattiash. Bagi Steven, hanya ada satu penyebab kematian Mattiash, yaitu Rosemary. Dia yakin wanita itu telah mematahkan hati saudaranya, bahkan rela membunuh janin yang dikandungnya demi menjalani hidup bersama Damian untuk hidup bahagia tanpa rasa bersalah.Setelah sekian lama membuntuti dan mengamati dari kejauhan, perasaan dendam itu tidak juga berubah, apalagi saat dia teringat jika dirinya pernah mendekam di balik jeruji besi karena Rosemary, perasaan dendamnya berubah menjadi hasrat yang gelap. Steven tidak lagi puas hanya mengawasi. Dia ingin Rosemary merasakan apa yang telah dia rasakan. Rasa sakit, kehilangan, dan ketakutan. Ia mulai memikirkan berbagai cara untuk menyakiti wanita itu, entah secara fisik, emosional, atau merusak kedamaian hidupnya.Kali ini dia tidak boleh gegabah. Dia tidak boleh kembali ke dalam jeruji besi karena keli
Dari balik kaca jendela mobilnya, Steven terus mengawasi gerakan Rosemary. Hari ini dia berusaha membuntuti wanita tersebut, dia mulai menghapal jadwal dan kegiatan yang biasa dilakukan oleh Rosemary.Di mulai pagi ini, dia melihat Rosemary keluar dari komplek vila mahal di Brighton yang tidak dapat ditembusnya. Wanita itu mengendarai sedan sport berwarna merah menuju pusat kebugaran, satu jam kemudian dia melihat Rosemary berjalan kaki bersama seorang wanita menuju restoran, keduanya terlihat duduk berhadapan dan tertawa bahagia.Setiap gerakan kecil Rosemary terekam jelas di mata Steven. Dia melihat bagaimana gerakan tangan Rosemary saat mengangkat gelas, memotong makanannya, memasukkan potongan wafel dan stroberi ke dalam mulutnya, dan betapa berbinarnya matanya saat membaca pesan yang dia duga berasal dari Damian Reeves. Hal-hal kecil yang justru semakin membuat amarah Steven semakin memuncak. “Bagaimana mungkin dia bisa setenang ini? Bagaimana bisa dia tertawa dan tersenyum, seme
Suara centong yang beradu dengan panci terdengar begitu jelas. Damian sedang mengaduk sup daging buatannya dengan penuh semangat, sesekali dia menggerakkan tangannya membawa asap lembut yang mengepul dari dalam panci, mencoba mencium aroma masakannya. Kemudian meletakkan kuah dari centong ke atas sendok untuk memastikan rasanya sudah pas. "Lapar?"Pertanyaan yang segera terlontar dari bibir Damian saat mendengar langkah kaki yang mendekat, kepalanya menoleh, jemarinya segera mematikan kompor dan membuatnya berhenti melakukan apa yang sedang ia kerjakan. Dia melihat Rosemary duduk manis di meja dapur sambil menopang dagunya di atas punggung tangannya."Aku membuat sup, pagi ini aku ada pertemuan. Siang nanti kita akan ke dokter. Jangan pergi sendiri!"Rosemary menganggukkan kepalanya. Dia sudah memiliki rencana, setelah makan, dia akan kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya."Habiskan sup-mu!. Aku akan menemani dirimu tidur sebelum berangkat."***Waktu yang mereka nanti akhirnya t
Rosemary tersenyum tipis, bahkan senyumannya nyaris tidak terlihat saat melihat seseorang yang sangat dia kenal. Tentu saja dia mampu mengenali Rosalia dengan mudah, rasa lega terlintas di dalam dirinya saat melihat Rosalia tersipu malu dan tersenyum bahagia.Rosalia tidak akan mengganggu dirinya dan Damian, pikirnya. Rosalia memang menjebaknya, bahkan pria gila itu menyangka dirinya adalah Rosalia, tetapi karena itu semua membuat dirinya memiliki Damian lebih cepat dari perkiraannya.Dia sempat mengira jika dirinya dan Damian akan menjalin kisah cinta secara sembunyi-sembunyi dari Adam dan keluarga mereka karena usianya yang masih sangat muda. Dia akan menjalani masa kuliah yang menyenangkan, akan ada saat di mana Damian akan menjemputnya di kampus dan cemburu saat dia berjalan dengan teman kampus lawan jenisnya. Rosemary membayangkan drama percintaan masa kuliahnya dan Damian akan dengan sabar menunggunya lulus kuliah, menunggunya kembali untuk berkarir. Dia membayangkan kisah cinta
Wajah Sarah Hansel tampak muram setelah mendengar berita jika Damian Reeves akan pindah ke kota Brighton, berita yang dia dapatkan di hari senin, di mana dia akan memulai rencana barunya. Sepanjang hari menjadi hari termuramnya di balik wajah ceria dan polosnya bahkan hingga dia kembali pulang.Di dalam flat murahnya, Sarah memandangi foto dirinya dan adiknya. Dia mendekati Damian Reeves karena bayaran yang menggiurkan dari Steven Hill, semua demi dirinya dan adiknya, tetapi dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Damian Reeves.Pria itu telah membuatnya jatuh cinta dan melupakan tujuan utamanya.Sarah membolak-balikkan dirinya di tempat tidur, membayangkan sosok Damian Reeves yang tidak berhasil dia dekati dan juga bayangan keberhasilannya jika saja Damian mau membuka dirinya. Dia bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah cermin, memandangi dirinya."Bukankah aku hampir mirip dengan istrinya?" Sarah mengibaskan rambutnya dan memandangi kembali wajah dan bentuk tubuhnya
"Sarah!"Wajah Sarah Hansel masih terlihat pucat, dia masih berada di meja kerjanya menatap layar monitor yang berisi daftar para calon pembeli potensial. Suara yang memanggil namanya membuatnya menoleh, salah satu rekan kerjanya yang memanggil namanya."Mau makan siang bersama?"Sebuah gelengan kepala diberikan Sarah Hansel, pangkal lidahnya masih terasa pahit untuk menelan sesuatu. Dia juga masih ada roti lapis isi daging yang seharusnya menjadi sarapan untuk Damian Reeves.Dia hanya ingin menyendiri, mungkin saja kesendiriannya akan tertangkap oleh Damian Reeves dan pria itu akan menghampirinya untuk mengucapkan kata maaf.Lima belas menit berlalu, suasana ruang kerja begitu sepi bahkan sebagian lampu dipadamkan. Tidak ada layar monitor yang menyala, ruangan terasa begitu sunyi dan Sarah Hansel masih berada di meja kerjanya, termenung menatap ruangan Damian Reeves hingga dia mendengar suara langkah yang begitu tenang.Terdengar langkah kaki yang begitu santai dari pintu masuk, dia
Steven tersenyum senang dengan bantuan ayah tirinya dia berhasil masuk ke dalam kerja sama penyewaan gudang dari perusahaan besar. Salah satu warisan yang dia dapatkan dari kematian Mattiash membuat hidupnya menjadi lebih mudah, gudang yang dia kira tidak akan berguna di Pinehill sekara
"Apa kamu benar-benar sudah berdamai dengan Rosemary?" Pertanyaan dari Max membuat Steven menganggukkan kepalanya. "Karena obsesiku ingin mencari orang yang menyebabkan Mattiash patah hati, akhirnya aku mendapatkan wanita yang aku cintai selain Giselle." Hubungann
Damian memejamkan matanya, wajahnya begitu tenang ditelinganya terpasang air pod sesekali senyuman terbit di wajah tenangnya. Suara desahan Rosemary memenuhi indra pendengarannya, terdengar gila karena dia merekam suara saat mereka bercinta dan dia memang gila jika menyangkut Rosemary.
"Bagaimana hari ini?" Rosalia tersenyum senang, dia bisa menjadi dirinya, dia tidak pernah khawatir akan dibanding-bandingkan dan Steven sangat menghargai dirinya. Mereka akan bertemu di akhir pekan saat kerja magangnya tiba, Rosalia memutuskan tidak lagi tinggal di apartemen







