Share

Bab 2

Auteur: Ungu
Pemandangan itu membuatku terkejut luar biasa, tak kusangka Bibi benar-benar membawa pria asing ke rumah. Begitu pria itu melihatku keluar dari kamar mandi, wajahnya langsung berubah panik. Ia buru-buru mendorong Bibi menjauh, ekspresinya tegang.

Namun Bibi justru dengan tenang menariknya kembali, lalu menjelaskan dengan suara lembut, “Jangan takut. Dia keponakanku. Matanya tidak bisa melihat, telinganya juga tidak bisa mendengar. Bahkan kalau mau dilakukan di depannya pun juga tidak apa-apa.”

Sambil berbicara begitu, ia melambaikan tangan di depan wajahku, dan sengaja memanggil namaku dengan suara keras untuk memperlihatkan kalau aku memang buta dan tuli. Aku berusaha keras mempertahankan ekspresi kosong, berpura-pura sama sekali tidak menyadari apa pun.

Melihat hal itu, si pria merasa tenang. Ia lalu kembali merangkul Bibi ke dalam pelukannya.

“Kalau dia memang tidak bisa melihat … bagaimana kalau kita lakukan saja di sini? Aku belum pernah mencoba yang seseru ini .…”

“Kamu nakal sekali .…” Bibi tertawa, lalu melanjutkan kalimatnya dengan nada suara yang menggoda. “Jadi, ternyata kamu suka yang seperti ini.”

Detak jantungku mendadak melaju kencang, aku tegang sekaligus bersemangat. Tak kusangka aku justru mendapat "tontonan secara langsung" seperti ini.

Bibi kemudian mengeluarkan berbagai macam alat bantu, dengan nada bersemangat berkata bahwa hari ini ia ingin bermain sampai puas. Aku bersandar di sofa, berpura-pura tertidur, menyipitkan mata sambil mengintip permainan mesra mereka.

Mereka mencoba berbagai posisi, kadang menempel sambil saling mengikat, kadang melepaskan diri sepenuhnya. Tubuhku terasa panas membara, aku hanya bisa menahan napas agar tak ketahuan. Di telingaku terdengar napas terengah Bibi yang sama sekali tak ia sembunyikan, semakin terputus-putus seiring gerakan pria itu yang makin liar. Erangannya pun kian erotis dan tak terkendali. Dalam hatiku timbul rasa iri yang getir, jika yang bersamanya adalah aku, mungkin aku bisa memberinya kenikmatan yang jauh lebih ekstrem.

Suara-suara cabul memenuhi ruangan. Aku akhirnya tak sanggup lagi menahan diri, aku diam-diam menyelipkan tangan ke balik pakaianku, berusaha meredakan hasrat yang bergolak. Namun tepat saat mereka mencapai puncak, aku tanpa sengaja menimbulkan suara kecil. Aku langsung berkeringat dingin, aku buru-buru berpura-pura sakit kepala, meringkuk di sofa sambil mengerang pelan.

Keributan kecil itu memotong aksi mereka. Bibi alih-alih curiga, ia malah seolah tersulut oleh gagasan baru. Ia mendekat ke arahku, menarik tanganku, lalu dengan lembut menuliskan sesuatu di telapak tanganku, menanyakan apa yang terjadi. Aku menjawab kalau luka lama kambuh, dan kepalaku sangat sakit.

Dengan lembut ia menuliskan kalau dia bisa membantuku dengan cara memijat, mungkin akan meredakan rasa sakitku. Aku pun hanya bisa mengangguk.

Namun aku sama sekali tak menyangka, tiba-tiba ia mengangkat satu kakinya dan melangkahi tubuhku, kedua lututnya membuka, tertekuk di sisi kanan kiriku. Sekarang seluruh tubuh Bibi menggantung di atasku. Bagian dada yang biasanya tersembunyi itu hampir menempel ke wajahku, hembusan nafas hangatnya menyapu kulitku. Seluruh tubuhku menegang, seakan ada api yang menyala hebat di dalam diri.

“Cepat .…” Sambil berpura-pura memijatku, ia berbisik rendah menyemangati pria itu, “Begitu … iya, lebih dalam lagi .…”

Napasnya makin terengah, pipinya memerah, matanya berkilau dengan cahaya yang kabur dan memabukkan. Dari celah mataku, aku melihat gerakan pria itu. Dan entah kenapa, di dalam hati justru muncul rasa meremehkan.

Cih, pria itu jelas kalah jauh dariku.

Dalam ritme yang kian liar, Bibi dengan cepat bergetar dan mencapai puncaknya.

Tubuhnya melemas, tak sanggup menopang diri, hingga tanpa sengaja tubuhnya jatuh ke wajahku ….

Pada detik itu, kelembutan dan kelembapan menyentuh bibirku, seperti sebuah undangan yang tak terucap. Sampai pada titik ini, aku tak mungkin lagi sanggup menahan diri. Akhirnya, aku membuka mulut dan menjilatnya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Cinta Dalam Buta   Bab 10

    Di klub malam banyak perempuan yang rela melakukan apa saja demi uang. Wanita seperti mereka adalah yang paling cocok untuk dijadikan umpan. Bahkan Paman pun tak akan berkutik di hadapan mereka.Setelah berkeliling, kami akhirnya menemukan seorang wanita yang cocok. Harga dan waktu pelaksanaannya telah disepakati, dia pun langsung setuju dengan mudah.Saat pulang, Paman tidak ada di rumah, entah dia pergi ke mana. Bibi langsung menutup pintu dan masuk ke kamarku. Entah karena dia sudah pasrah, atau karena dia sangat terpukul atas kejadian ini, dua hari terakhir Bibi selalu inisiatif mendatangiku, kadang sehari bisa dua sampai tiga kali.“Rama, saat aku dan pamanmu sudah bercerai. Kalau aku tinggal bersamamu, apa nanti keluargamu akan mempermasalahkannya?”“Sekarang aku benar-benar bergantung pada ‘belut besar’ milikmu ini, sampai tak ingin berpisah.”“Masalah matamu ini juga tak akan bisa disembunyikan terlalu lama. Kalau sudah sembuh, orang tuamu pasti akan menyuruhmu kencan dan menik

  • Cinta Dalam Buta   Bab 9

    “Bagaimana ini, pamanmu sudah datang. Kalau kita buka pintu, dia pasti sadar ada yang tidak beres. Kalau begitu, semuanya akan terbongkar.”Bibi tegang sampai tubuhnya mengeras dan tanpa sadar mencengkeram kebanggaanku yang masih ada di dalam dirinya. "Belut besar" milikku sampai seperti kekurangan napas.“Duh, jangan tegang begitu. Kalau kamu terus bergerak, belut besar punyaku bisa putus.”Bibi melirikku kesal karena aku masih sempat bercanda, lalu berniat bangkit pergi. Mana mungkin kubiarkan dia pergi, ini sedang di saat krusial, aku belum puas.“Kamu kirimi dia pesan saja, bilang kamu sedang keluar beli sesuatu. Aku di kamar mandi, lagi di toilet, pintunya dikunci, jangan diganggu.”“Lagipula kalau kamu tidak ada, dia juga tidak akan mencarimu. Mungkin dia akan langsung pergi ngobrol dengan selingkuhannya.”Bibi mengambil ponsel, mengubahnya ke mode senyap, lalu mengirim pesan pada Paman. Benar saja, paman membalas "oke" lalu pergi.Begitu tak terdengar lagi langkah kaki, aku mena

  • Cinta Dalam Buta   Bab 8

    “Rama, kenapa kamu menyetujui makan bersama dia? Sekarang saja duduk di satu meja makan dengannya aku sudah harus menahan kemuakan dengan susah payah.”Bibi angkat bicara dengan suara pelan sambil mengeluh, bahkan sempat menepuk "belut" yang berada di antara pahaku satu kali.Aku menariknya duduk di atas kloset, memeluknya, lalu menciumnya dengan kuat terlebih dahulu sebelum menceritakan rencana yang tadi kudengar.“Apa? Bajingan itu sampai bisa memikirkan cara menjijikkan seperti itu?”“Pantas saja, sejak orang tuaku menolak permintaannya, sikapnya padaku makin tidak sabaran. Dia tidak lagi menuruti aku, malah sering marah-marah.”“Aku kira waktu itu dia cuma sedang kesal karena belum dapat pekerjaan yang cocok. Ternyata di matanya aku sudah tidak berguna lagi.”“Licik sekali pemikirannya, sampai merancang skenario selingkuh agar aku pergi tanpa punya harta sepeser pun. Otaknya benar-benar sudah macet.”“Dia pikir dia menyembunyikannya dengan baik. Padahal dia sendiri sudah selingkuh,

  • Cinta Dalam Buta   Bab 7

    “Sayang, jangan terburu-buru. Aku pulang kali ini memang sudah siap untuk menceraikan wanita tak berguna itu. Barang-barang berharga di rumah akan aku pindahkan diam-diam lebih dulu.”“Besok aku akan memasang kamera tersembunyi di rumah. Nanti saat makan, aku beri obat sedikit ke makanan Rama dan istriku, lalu aku akan cari alasan keluar.”“Kalau mereka berdua sampai melakukan hubungan suami istri, aku akan langsung punya bukti perselingkuhan, dan wanita itu harus pergi tanpa membawa harta apa pun.”“Tenang saja. Orang tua kandung Rama kan punya uang, mungkin mereka malah akan memberiku sejumlah uang supaya aku menutupi hubungan kotor mereka.”“Iya. Nanti aku belikan kamu rumah besar. Setelah anak kita lahir, aku juga akan menyewa perawat nifas terbaik, aku tidak akan membiarkan kamu kelelahan.”Mendengar itu, hatiku langsung menciut. Aku sampai tanpa sadar mengeluarkan suara. Paman langsung terkejut dan berteriak menanyakan siapa di sana. Aku berpura-pura tidak mendengar, meraba-raba

  • Cinta Dalam Buta   Bab 6

    “Rama, pelan sedikit. Sakit sekali, punyamu terlalu besar.” Bibi menoleh, ekspresinya campuran antara menggoda dan kesakitan.Saat itu aku sudah tak mungkin mendengarkan apa pun yang ia katakan. Dengan mata memerah, aku mengendalikan "belut besar" milikku agar terus berguling dan mengamuk di dalam lubang basah yang sempit milik Bibi.Di dalam toilet kecil itu, yang terdengar hanya napas terengah dan bunyi-bunyi berirama tanda penyatuan wanita dan pria. Udara sekitar perlahan menjadi panas dan kental.Bibi terlalu sensitif. Bahkan sebelum sempat aku memuntahkan cairan putih milikku, ia sudah tak sanggup menahan diri. Di lantai sudah terdapat genangan kecil dari cairan kenikmatan miliknya.“Rama, belum selesai juga? Aku sudah tidak kuat. Ini sudah setengah jam, kan? Aku khawatir pamanmu akan mencari kita.” Suara Bibi terdengar lemah, wajahnya memerah, jelas tampak seperti wanita yang setelah terpuaskan.“Ini masih begini saja, "belut" punyaku segemuk ini, masih bisa memuntahkan cairan pu

  • Cinta Dalam Buta   Bab 5

    “Rama, kamu … kamu bisa melihat dan bisa mendengar?” Bibi begitu terkejut sampai wajahnya pucat pasi.“Iya, aku sudah bisa melihat sejak lama. Aku melihat semua yang kamu lakukan bersama pria asing itu di rumah ini. Waktu itu aku sampai tersiksa menahannya, apalagi kamu malah sengaja menggoda aku dengan cipratan cairan kenikmatan milikmu.”“Hari ini kamu sudah sejauh ini. Kalau aku tidak membantumu mewujudkan keinginanmu, aku malah merasa bersalah sudah menemanimu bersandiwara selama ini.”Sambil berbicara, tanganku terus menjelajah di tubuhnya. Rasanya luar biasa, lembut seperti memegang sepotong tahu, sangat enak dan nyaman tak terkira. Kata-kataku membuat wajahnya makin pucat dan matanya dipenuhi keputusasaan.“Rama, kalau kamu bisa melihat dan mendengar, kamu juga pasti tahu kalau aku jadi begini karena pamanmu punya simpanan di luar. Ini bukan sepenuhnya salahku.”“Bibi mohon padamu, bantu aku merahasiakan ini, jangan beri tahu siapa pun. Lagi pula sekarang aku dan pamanmu belum b

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status