Share

Bab 3

Auteur: Ungu
“Ah .…” Ia mendesah pelan.

Terkena rangsangan yang datang tiba-tiba dariku itu, tubuh Bibi bergetar tak terkendali, dan sensasi hangat yang lembap seketika terciprat membasahi pipiku. Tangannya tanpa sadar mencengkeram lebih erat, dan pria itu pun akhirnya tak mampu bergerak lagi, dia akhirnya menyerah. Bibi buru-buru bangkit, mengambil tisu untuk mengusap wajahku. Ujung jarinya tampak sedikit gemetar.

Aku berpura-pura kebingungan dan bertanya, “Bibi, tadi itu apa? Sepertinya ada air terciprat ke wajahku.”

Ia menuliskan dengan lembut di telapak tanganku, [Aku tidak sengaja menumpahkan segelas air.]

Aku mengangguk, tidak bertanya lebih jauh. Tak lama kemudian, mereka berdua membereskan diri lalu pergi. Namun tidak lama setelah itu, Paman pulang.

Sejak menjemput Paman kembali ke rumah, Bibi menjadi sangat sibuk. Segala urusan dalam dan luar rumah ditanganinya seorang diri, tak ada lagi kesempatan mencari pelampiasan. Hasrat yang tertekan membuat emosinya semakin hari semakin mudah tersulut.

Melihat dirinya yang tak tahu ke mana harus meluapkan semuanya, hatiku ikut gelisah. Aku begitu ingin menggantikan Paman untuk memuaskan Bibi, tetapi pada akhirnya hanya bisa menyimpan niat tanpa berani bertindak.

Hingga suatu malam, aku mendapati sabun mandi di kamar mandi sudah habis. Tak ada pilihan lain selain meraba-raba ke arah pintu dan meminta Bibi mengambilkan yang baru. Dengan wajah kesal ia mendorong pintu dan hendak menyerahkannya padaku, tetapi pandangannya mendadak terpaku pada tubuh bagian bawahku yang telanjang. Napas Bibi seketika tertahan, ini adalah pertama kalinya ia benar-benar melihatku.

“Ya Tuhan!” Ia bergumam lirih, dan matanya tak mampu berpaling, “Kamu ini … bagaimana bisa tumbuh sebesar … ini.”

Tanpa sadar ia melangkah mendekat, bahkan berjongkok, mengamati bagian tubuhku di bawah sana dengan saksama. Di dalam hatiku muncul perasaan menyesal sekaligus puas. Kalau saja sejak awal ia melihatnya, mungkin tidak akan ada urusan dengan pria asing sama sekali.

Saat ini ia hanya mengenakan gaun tipis bertali dari bahan sutra. Siluet pakaian dalamnya tampak samar, tubuhnya penuh dan tegap, membuatku ikut terpaku sejenak.

“Bibi? Sabun mandinya sudah dibawa?”

Aku sengaja sedikit mencondongkan tubuh ke depan, berpura-pura mencari-cari. Tanpa sengaja, tubuh bagian bawahku itu sampai menyentuh bibirnya. Sentuhan sesaat itu membuat seluruh tubuhku bergetar. Tak heran para pria begitu menginginkan sentuhan semacam ini.

Bibi kemudian menuliskan di telapak tanganku, [Kamu mandi saja susah. Biar aku yang membantumu.]

Sambil menulis kalimat tersebut, pandangan Bibi tetap membara, sama sekali tak lepas dariku. Aku menolak, berkata bahwa itu tidak pantas. Tapi ia menulis dengan semakin tergesa, mengatakan bahwa aku adalah orang yang sakit, di matanya hanyalah seorang anak, tak ada yang tidak boleh dilihat.

“Kalau begitu, aku akan merepotkan Bibi. Aku pasti akan membalas kebaikanmu.”

Hampir bersamaan dengan itu, ia dengan gelisah mengulurkan tangan ke arah punyaku. Dan saat berhasil menggenggamnya, tangan Bibi terasa bergetar. Pada detik itu, aku bahkan mendengar desahan puas yang lolos dari bibirnya.

[Rama, bagian ini mudah menyimpan kotoran. Kalau tidak dibersihkan dengan saksama, bisa infeksi karena bakteri.]

Ia menuliskan kata demi kata di telapak tanganku dengan perlahan. Setiap goresannya mengusik hatiku hingga gatal tak tertahankan. Setelah beberapa kali menolak, aku akhirnya "dengan terpaksa" mengiyakan.

Ujung jarinya bergetar, menyentuhku seolah enggan melepaskan. Mana mungkin aku sanggup menahan godaan seperti itu, tak lama kemudian, tubuhku pun bereaksi tanpa terkendali.

“Bagus sekali .…” bisiknya terengah, “Aku benar-benar ingin mencoba … bagaimana rasanya jika ini menyelam ke dalam tubuhku … mungkin nikmatnya sampai membuat jiwa serasa melayang .…”

Ia terkekeh pelan, lalu mulai menulis lagi di tanganku.

[Rama, Bibi akan membersihkan kamu dengan cara lain.]

Saat guratan terakhir terukir di telapak tanganku, ia perlahan berbalik, lalu membungkuk ke arahku ….

Dan seketika itu, hasratku yang menggebu pun merasakan kelembapan hangat dalam hembusan napasnya ….
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Cinta Dalam Buta   Bab 10

    Di klub malam banyak perempuan yang rela melakukan apa saja demi uang. Wanita seperti mereka adalah yang paling cocok untuk dijadikan umpan. Bahkan Paman pun tak akan berkutik di hadapan mereka.Setelah berkeliling, kami akhirnya menemukan seorang wanita yang cocok. Harga dan waktu pelaksanaannya telah disepakati, dia pun langsung setuju dengan mudah.Saat pulang, Paman tidak ada di rumah, entah dia pergi ke mana. Bibi langsung menutup pintu dan masuk ke kamarku. Entah karena dia sudah pasrah, atau karena dia sangat terpukul atas kejadian ini, dua hari terakhir Bibi selalu inisiatif mendatangiku, kadang sehari bisa dua sampai tiga kali.“Rama, saat aku dan pamanmu sudah bercerai. Kalau aku tinggal bersamamu, apa nanti keluargamu akan mempermasalahkannya?”“Sekarang aku benar-benar bergantung pada ‘belut besar’ milikmu ini, sampai tak ingin berpisah.”“Masalah matamu ini juga tak akan bisa disembunyikan terlalu lama. Kalau sudah sembuh, orang tuamu pasti akan menyuruhmu kencan dan menik

  • Cinta Dalam Buta   Bab 9

    “Bagaimana ini, pamanmu sudah datang. Kalau kita buka pintu, dia pasti sadar ada yang tidak beres. Kalau begitu, semuanya akan terbongkar.”Bibi tegang sampai tubuhnya mengeras dan tanpa sadar mencengkeram kebanggaanku yang masih ada di dalam dirinya. "Belut besar" milikku sampai seperti kekurangan napas.“Duh, jangan tegang begitu. Kalau kamu terus bergerak, belut besar punyaku bisa putus.”Bibi melirikku kesal karena aku masih sempat bercanda, lalu berniat bangkit pergi. Mana mungkin kubiarkan dia pergi, ini sedang di saat krusial, aku belum puas.“Kamu kirimi dia pesan saja, bilang kamu sedang keluar beli sesuatu. Aku di kamar mandi, lagi di toilet, pintunya dikunci, jangan diganggu.”“Lagipula kalau kamu tidak ada, dia juga tidak akan mencarimu. Mungkin dia akan langsung pergi ngobrol dengan selingkuhannya.”Bibi mengambil ponsel, mengubahnya ke mode senyap, lalu mengirim pesan pada Paman. Benar saja, paman membalas "oke" lalu pergi.Begitu tak terdengar lagi langkah kaki, aku mena

  • Cinta Dalam Buta   Bab 8

    “Rama, kenapa kamu menyetujui makan bersama dia? Sekarang saja duduk di satu meja makan dengannya aku sudah harus menahan kemuakan dengan susah payah.”Bibi angkat bicara dengan suara pelan sambil mengeluh, bahkan sempat menepuk "belut" yang berada di antara pahaku satu kali.Aku menariknya duduk di atas kloset, memeluknya, lalu menciumnya dengan kuat terlebih dahulu sebelum menceritakan rencana yang tadi kudengar.“Apa? Bajingan itu sampai bisa memikirkan cara menjijikkan seperti itu?”“Pantas saja, sejak orang tuaku menolak permintaannya, sikapnya padaku makin tidak sabaran. Dia tidak lagi menuruti aku, malah sering marah-marah.”“Aku kira waktu itu dia cuma sedang kesal karena belum dapat pekerjaan yang cocok. Ternyata di matanya aku sudah tidak berguna lagi.”“Licik sekali pemikirannya, sampai merancang skenario selingkuh agar aku pergi tanpa punya harta sepeser pun. Otaknya benar-benar sudah macet.”“Dia pikir dia menyembunyikannya dengan baik. Padahal dia sendiri sudah selingkuh,

  • Cinta Dalam Buta   Bab 7

    “Sayang, jangan terburu-buru. Aku pulang kali ini memang sudah siap untuk menceraikan wanita tak berguna itu. Barang-barang berharga di rumah akan aku pindahkan diam-diam lebih dulu.”“Besok aku akan memasang kamera tersembunyi di rumah. Nanti saat makan, aku beri obat sedikit ke makanan Rama dan istriku, lalu aku akan cari alasan keluar.”“Kalau mereka berdua sampai melakukan hubungan suami istri, aku akan langsung punya bukti perselingkuhan, dan wanita itu harus pergi tanpa membawa harta apa pun.”“Tenang saja. Orang tua kandung Rama kan punya uang, mungkin mereka malah akan memberiku sejumlah uang supaya aku menutupi hubungan kotor mereka.”“Iya. Nanti aku belikan kamu rumah besar. Setelah anak kita lahir, aku juga akan menyewa perawat nifas terbaik, aku tidak akan membiarkan kamu kelelahan.”Mendengar itu, hatiku langsung menciut. Aku sampai tanpa sadar mengeluarkan suara. Paman langsung terkejut dan berteriak menanyakan siapa di sana. Aku berpura-pura tidak mendengar, meraba-raba

  • Cinta Dalam Buta   Bab 6

    “Rama, pelan sedikit. Sakit sekali, punyamu terlalu besar.” Bibi menoleh, ekspresinya campuran antara menggoda dan kesakitan.Saat itu aku sudah tak mungkin mendengarkan apa pun yang ia katakan. Dengan mata memerah, aku mengendalikan "belut besar" milikku agar terus berguling dan mengamuk di dalam lubang basah yang sempit milik Bibi.Di dalam toilet kecil itu, yang terdengar hanya napas terengah dan bunyi-bunyi berirama tanda penyatuan wanita dan pria. Udara sekitar perlahan menjadi panas dan kental.Bibi terlalu sensitif. Bahkan sebelum sempat aku memuntahkan cairan putih milikku, ia sudah tak sanggup menahan diri. Di lantai sudah terdapat genangan kecil dari cairan kenikmatan miliknya.“Rama, belum selesai juga? Aku sudah tidak kuat. Ini sudah setengah jam, kan? Aku khawatir pamanmu akan mencari kita.” Suara Bibi terdengar lemah, wajahnya memerah, jelas tampak seperti wanita yang setelah terpuaskan.“Ini masih begini saja, "belut" punyaku segemuk ini, masih bisa memuntahkan cairan pu

  • Cinta Dalam Buta   Bab 5

    “Rama, kamu … kamu bisa melihat dan bisa mendengar?” Bibi begitu terkejut sampai wajahnya pucat pasi.“Iya, aku sudah bisa melihat sejak lama. Aku melihat semua yang kamu lakukan bersama pria asing itu di rumah ini. Waktu itu aku sampai tersiksa menahannya, apalagi kamu malah sengaja menggoda aku dengan cipratan cairan kenikmatan milikmu.”“Hari ini kamu sudah sejauh ini. Kalau aku tidak membantumu mewujudkan keinginanmu, aku malah merasa bersalah sudah menemanimu bersandiwara selama ini.”Sambil berbicara, tanganku terus menjelajah di tubuhnya. Rasanya luar biasa, lembut seperti memegang sepotong tahu, sangat enak dan nyaman tak terkira. Kata-kataku membuat wajahnya makin pucat dan matanya dipenuhi keputusasaan.“Rama, kalau kamu bisa melihat dan mendengar, kamu juga pasti tahu kalau aku jadi begini karena pamanmu punya simpanan di luar. Ini bukan sepenuhnya salahku.”“Bibi mohon padamu, bantu aku merahasiakan ini, jangan beri tahu siapa pun. Lagi pula sekarang aku dan pamanmu belum b

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status