LOGIN"Punyamu terlalu besar, nanti bisa koyak ...." Telanjang dan kepanasan, aku berbaring di tempat tidur dan membiarkan teman adikku menekan kedua kakiku. Wajahnya dipenuhi nafsu .... Dia bilang mau memijatku, tetapi posisi pijat seperti apa ini? Ini sangat memalukan, tetapi sangat merangsang! Setelah orang tuaku meninggal, demi merawat adikku, aku tidak pernah punya pacar atau kehidupan seks. Di malam hari, hanya mainan dingin yang menemaniku. Namun, jauh di lubuk hati, aku selalu mendambakan kehidupan seks yang penuh gairah dan keringat. Aku menginginkan seorang pria menjelajahi tubuhku yang lembut dan penuh, lalu merusaknya sepenuhnya. Saat merasa haus akan sentuhan, aku diam-diam menonton film porno setiap malam, lalu berfantasi tentang didominasi secara liar oleh pria berotot. Aku bahkan sengaja berganti pakaian menjadi tank top agak transparan dan rok super pendek, lalu berjalan-jalan di taman yang sepi. Aku berharap seseorang diam-diam mengikutiku, lalu menindihku dengan kuat dan ....
View MoreNuansa klasik menyambutku kala memasuki kafe. Sebuah kafe sederhana yang terletak di tengah-tengah kota dengan menu yang disajikan yaitu aneka kopi dan makanan ringan. Beberapa pelayan mulai bersiap untuk membuka kafe. Kafe ini sangat diminati oleh orang-orang yang akan pergi ke kantor maupun mahasiswa yang akan berangkat ke kampus. Kafe buka saat jarum jam tepat di angka 9.
Semua pelayan seketika menghentikan aktivitasnya lalu membungkuk hormat kearahku, “selamat pagi, nona,” sapa mereka bersamaan.
Aku tersenyum, “pagi.”
Inilah kehidupanku, sebagai pemilik kafe yang memegang kendali 10 karyawan. Sudah tiga tahun, aku menjalani rutinitas ini dan kafe ini semakin lama semakin banyak dikenal. Tugasku disini hanyalah memeriksa pengeluaran, memantau, dan sisanya bersantai. Aku berniat untuk mencari rekan untuk membantuku mengembangkan kafe ini. Namun mendapatkannya tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.
Kudorong perlahan pintu di depanku lalu masuk ke dalam ruangan pribadiku. Ruangan yang hanya berukuran 5x5 meter, namun dengan perabotan yang lengkap. Kusandarkan punggungku di sofa sembari menghela napas pelan. Keputusanku untuk berangkat pagi merupakan sebuah kesalahan, karena biasanya aku akan datang pukul 10 siang. Sekali lagi, aku menghela napas merutuki kebodohanku sendiri.
Sebuah ketukan pintu membuatku segera memperbaiki dudukku lalu menatap kearah pintu, “masuk.”
Pintu terbuka perlahan dengan seorang laki-laki berpakaian karyawan memasuki ruangan. Dia membungkuk kearahku lalu berucap, “maaf mengganggu, Nona Carissa.”
Aku tersenyum lalu menggeleng, “tidak sama sekali. Ada perlu apa, Beni?”
Laki-laki itu menegakkan tubuhnya sembari menatapku, “maaf, Nona. Persediaan kopi kita mulai menipis dan kemarin saya lupa untuk mampir di agen penjual kopi. Saya benar-benar minta maaf, Nona. K-Kalau boleh, saya akan keluar untuk membeli kopi?”
Aku berpikir sejenak lalu mengangguk. Aku mengambil beberapa lembar uang lalu berdiri, “dimana posisimu bekerja?”
“Sebagai kasir, Nona.”
“Baiklah. Pergilah, dan beli apa yang kurang di kafe. Aku akan menggantikan posisimu untuk hari ini,” kuserahkan uang di tanganku padanya.
Beni menatapku terkejut sekaligus tidak percaya, “N-Nona akan ikut bekerja?”
Aku mengangguk mantap. Tidak ada salahnya ikut bekerja, daripada aku terus diam di dalam ruanganku.
Beni menggelengkan kepala, tidak menyetujui usulanku, “tidak perlu, Nona. Biar yang lain saja yang menggantikan saya. Nona tetap di ruangan Anda.”
Aku tersenyum dan berusaha untuk menyakinkannya, “bukan masalah bagiku. Kamu bisa pergi dengan tenang, aku akan menjaga kasirnya. Apa uangnya cukup?” aku kembali menyodorkan uang di tanganku padanya, memastikan jumlah yang cukup.
Beni menerimanya lalu mengangguk, “kalau begitu, saya permisi, Nona.” Beni berjalan keluar ruangan dan menghilang di balik pintu.
Aku pun segera keluar ruangan. Kafe baru saja di buka, dan sudah ada beberapa orang yang sudah duduk di kursi sembari menunggu pesanan. Tugasku adalah melayani pembayaran, maka dari itu aku harus berdiri di di belakang meja kasir. Di posisi saat ini, aku bisa melihat karyawanku yang bekerja.
Seorang pelayan berjalan mendekat kearahku dengan tatapan tidak percaya, “Nona? Kenapa Anda ada disini?”
Aku tersenyum, “Beni sedang membeli kopi jadi aku menempati posisinya. Hanya untuk hari ini.”
“Tapi, Nona. Yang lain juga bisa menggantikannya. Anda tidak perlu susah payah untuk menggantikan Beni,” balasnya.
Aku tersenyum sembari mengibaskan tanganku, “bukan masalah, Mako. Aku juga ingin melihat bagaimana karyawanku bekerja.”
Mako hanya bisa mengangguk pasrah mendengar jawaban dariku, “jangan memaksakan diri, nona. Jika lelah, anda bisa istirahat.”
Aku tersenyum dan mengangguk, “Mako, boleh aku minta segelas kopi?”
Mako tersenyum lebar, “dengan senang hati, Nona. Akan segera saya siapkan.” Mako membungkuk lalu berjalan cepat menuju ke dapur.
Pelanggan masih belum ada yang berdiri di depan kasir, dengan kata lain aku bisa bersantai sembari menunggu kopiku dihidangkan. Belum sampai sepenuhnya aku duduk, seorang pembeli sudah berdiri di depan kasir. Aku pun mau tidak mau segera berdiri dan melayaninya, “totalnya 30 ribu.”
Pelanggan tersebut menyerahkan uang yang dipegangnya padaku.
Tanganku menerimanya lalu tersenyum, “terima kasih atas kunjungan Anda.”
Pelanggan tersebut tersenyum lalu melambaikan tangan sembari melangkah keluar kafe. Pelanggan keluar kafe bersamaan dengan seorang laki-laki berjas rapi memasuki kafe dan mencari tempat duduk.
Mataku mengikuti arah langkahnya hingga dia duduk di dekat jendela. Entah kenapa aku tidak asing dengan laki-laki itu. Tapi aku tidak bisa mengingat kapan bertemu dengan laki-laki itu.
“Silahkan nona,” secangkir kopi di hidangkan di depanku membuat lamunanku seketika buyar.
Kepalaku menoleh kearah Mako yang berdiri tidak jauh dariku, “terima kasih, Mako.”
Mako mengangguk lalu kembali ke posisinya bekerja.
Aroma khas kopi hitam memenuhi rongga hidungku, membuatku tertarik untuk mencicipinya. Menikmati kopi di pagi hari memang yang paling nikmat karena sejak dulu aku sudah menyukainya. Hingga sekarang sudah banyak aneka rasa dan jenis kopi yang kucicipi, beberapa kuhidangkan dalam menu kafe ini.
“Carissa!” sebuah pekik dari seorang wanita membuatku seketika menoleh kearah pintu masuk.
Wanita itu berdiri di depanku sembari tersenyum lebar, “hai, Carissa.”
Aku ikut tersenyum, “ada apa, Widi?” dia adalah sepupuku yang masih kuliah dan sebentar lagi akan lulus.
Widi mendekat padaku lalu menarik kursi dan duduk. Senyumnya masih sama seperti sebelumnya, “aku hanya berkunjung.”
Aku pun duduk di kursi yang tersisa menatap kearahnya, “tidak ada kelas hari ini?”
Widi mengalihkan wajahnya dengan sorot mata malas, “nanti siang dan aku malas masuk.”
Aku terkekeh pelan lalu berdiri saat tahu seorang pelanggan berjalan kearah kasir, “aku juga tidak pernah melihatmu semangat masuk kuliah.” Tanganku segera menjumlah pesanan pelanggan di depanku lalu menyebutkan nominal yang harus dibayar oleh pelanggan tersebut. Aku mengulas senyum kearahnya sembari menerima uang darinya, “terima kasih atas kunjungan anda.”
Pelanggan tersebut tersenyum lalu keluar kafe.
Widi yang duduk di depanku tiba-tiba berdiri, “aku akan mencari sarapan.”
Aku melirik sekilas kearahnya namun segera kembali ke tugasku, “pastikan kamu membayarnya.” Seorang laki-laki dengan suit abu-abu berdiri di depanku, dengan sigap aku segera melayaninya dan menyebutkan nominal yang harus dibayarnya.
Laki-laki itu mengeluarkan kartu kredit dan menyerahkannya padaku. Aku pun menerimanya lalu menggeseknya di alat khusus dan segera memintanya untuk mengisikan password. Setelah selesai, kartu yang kupegang segera kukembalikan pada pemiliknya, “terima kasih atas kunjungan anda, tuan.”
Laki-laki di depanku menerima kembali kartunya lalu tersenyum, “dengan senang hati, aku akan berkunjung setiap hari, Nona.”
Aku terdiam dengan senyum tertahan. Aku tidak tahu bagaimana membalas ucapannya dan pada akhirnya kalimat yang keluar dari mulutku adalah terima kasih.
Laki-laki di depanku tertawa pelan melihat reaksiku. Hal itu justru membuatku harus menahan malu di depannya. “Sampai jumpa lagi, Nona,” laki-laki itu melangkah keluar kafe dan menghilang dari pandanganku.
Segera kutarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Aku benar-benar malu saat ini. Ingin rasanya aku tenggelam saja ke laut. Sial! Bagaimana jika aku bertemu dengannya lagi? Aku harus bersikap bagaimana? Astaga!
“Kenapa, Carissa?” suara dari Widi seketika menarikku kembali ke dunia nyata.
Aku segera menoleh kearahnya lalu tersenyum, “bukan apa-apa.”
Widi hanya mengangguk lalu duduk di kursinya, mulai menikmati sarapan di tangannya. Aku pun segera kembali fokus pada tugasku. Satu pelanggan, dua pelanggan hingga tiga pelanggan bergantian berdiri di depanku.
“Carissa,” Widi membuka suara setelah sarapannya habis.
Aku hanya bisa meliriknya sekilas karena harus fokus pada pelanggan di depanku, “apa? Aku sedang sibuk. Kita bisa bicara nanti.”
“Tidak, bukan itu. Lihat laki-laki yang duduk di dekat jendela itu,” ucap Widi.
Begitu pelanggan terakhir keluar kafe, pandanganku beralih mengikuti apa yang Widi katakan. Seorang laki-laki yang kuperhatikan sebelumnya saat ini tengah menatapku sembari menengguk secangkir kopi.
Sudah kuduga, aku mengenalnya tapi siapa? batinku.
Tiba-tiba Widi berdiri membuatku terkejut, “gawat! Aku harus pergi sekarang!” Widi cepat-cepat meletakkan piring yang dibawanya lalu berjalan cepat menjauh dari kasir, “aku pergi dulu, Carissa.”
Aku hanya berdehem dan menatapnya yang sudah keluar dari kafe. Beberapa pengunjung kafe pun terlihat memperhatikan tingkah Widi.
“Maaf menunggu lama, nona,” sebuah intruksi dari Beni membuatku mengalihkan pandangan menatapnya.
Aku tersenyum lalu berganti posisi dengan Beni. Kubawa piring kotor ke dapur lalu kembali ke meja kasir untuk mengambil cangkir kopiku. Setelah itu, aku duduk di salah satu kursi yang masih kosong.
Mako kembali menghampiriku dan menawarkan makanan, “mau makan, Nona?”
Aku mengangguk, “Omurice dan sandwich.”
Mako mengangguk lalu segera menuju ke dapur. Kepergian Mako justru mendatangkan seseorang yang lain yaitu laki-laki yang sedari tadi menatap kearahku. Laki-laki itu berdiri di dekatku sembari tersenyum.
“Boleh aku duduk?” tanyanya.
Mataku beralih menatapnya dan pandangan kami pun bertemu. Sekarang aku ingat, siapa laki-laki di depanku saat ini. Aku tersenyum lalu mengangguk, “silakan.”
Laki-laki itu pun dengan sigap segera menarik kursi lalu duduk di depanku, “lama tidak bertemu, Carissa. Sepertinya kabarmu baik-baik saja.”
Aku tertawa pelan, tanpa mengalihkan pandanganku darinya, “lama tidak bertemu, Ren. Sudah tiga tahun kita tidak bertemu.”
Ren ikut tersenyum, “padahal tadi, kamu menatapku seakan tidak mengenalku.”
Mendengar ucapannya spontan membuatku mengalihkan wajah, menghindari tatapannya, “tidak ... bukan seperti itu maksudku. Aku mengingatmu tapi tidak dengan namamu.”
Ren hanya menanggapi ucapanku dengan senyuman, “aku punya sesuatu untukmu.”
Kualihkan wajahku kembali menatap Ren yang tengah merogoh sakunya mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Dia menyodorkan benda di tangannya padaku, “ini untukmu.” Sebuah kalung dengan liontin berwarna perak. Kalung yang sangat indah bagiku.
Tanganku dengan ragu menerimanya, “kamu yakin memberikannya padaku?” tatapanku lurus menatapnya dengan perasaan tidak percaya.
Namun, Ren justu tersenyum lembut kearahku, “sebagai tanda pertemuan kita. Kamu tidak suka?”
Ren menatapku dengan tatapan memelas membuatku menggeleng cepat dan menggenggam kalung di telapak tanganku, “suka. Sangat suka. Terima kasih.” Aku berniat menyimpan kalung di tanganku namun Ren lebih dulu menahan tanganku.
“Kenapa tidak langsung dipakai?” tanyanya.
Ah, dia ada benarnya. Kulepas pengait kalung lalu memakai kalung tersebut pada leherku. Kurapikan kembali rambutku lalu menatapnya, “sudah, kan?”
Ren mengacungkan jempolnya, “sip. Sangat cocok. Carissa, apa akhir pekan ini kamu senggang?”
Aku berniat langsung menjawab namun Mako lebih dulu datang mengantarkan makanan pesananku. Aku berterimakasih padanya lalu kembali menatap Ren, “aku tidak memiliki jadwal apapun. Memangnya kenapa?”
“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku akan menjemputmu pukul 9 pagi,” Ren berucap seakan aku menyetujui ajakannya. Tiba-tiba dia berdiri lalu tersenyum kearahku, “sudah waktunya menghadiri pertemuan. Sampai jumpa akhir pekan, Carissa.” Dia melambaikan tangannya lalu menuju ke kasir.
Aku hanya duduk dan mengikuti pergerakannya yang berjalan keluar kafe. Aku bahkan tidak sempat menyela ucapannya. Mau bagaimana lagi, lagipula tidak ada hal yang ingin kulakukan di akhir pekan.
Pukul 5 sore. Tidak ada lagi pelanggan yang duduk di dalam kafe. Para karyawan pun mulai bersih-bersih. Setelah itu, mereka pun meninggalkan kafe, pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga denganku yang saat ini sudah mengendarai motor menuju ke rumah.
Menikmati indahnya langit sore memang pas dengan mengendari motor berkecepatan sedang. Sore ini pun aku memilih mengendarai motorku melewati jalanan perkebunan. Jarak rumahku dapat ditempuh selama tiga puluh menit. Aku terlahir di keluarga sederhana, bisa menjalankan bisnis hingga saat ini adalah hal yang luar biasa. Aku adalah anak satu-satunya di keluargaku. Orang tuaku bekerja sebagai petani dan mereka tinggal di desa.
Kubelokkan motorku memasuki pelataran rumah. Mataku menatap heran sepasang sepatu yang berada di teras rumah. Sepatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Ayah tidak memiliki sepatu seperti ini. Lalu siapa? Apa di dalam sedang ada tamu?
Kulepas sepatuku lalu menaruhnya di rak. Perlahan aku masuk namun belum sepenuhnya berada di dalam rumah, aku dikejutkan dengan seorang laki-laki dengan suit abu-abu yang saat ini tengah duduk di sofa ruang tamu.
Dia pun terlihat terkejut saat melihat kearahku, namun detik berikutnya dia tersenyum, “hai. Kita bertemu lagi.”
.
.
Seorang wanita berpakaian mewah berdiri di samping tempat tidur dalam kamar rawat inap. Melihatku, dia menunjukku sambil memakiku. Dia pasti adalah ibu Theo.Aku pada dasarnya merasa bersalah. Jadi, aku menunduk dan menerima makian itu tanpa bersuara. Aku diam-diam melirik Theo. Kepalanya dibalut perban dan bibirnya terlihat pucat. Dadaku terasa sakit tak terkendali.Wanita itu hendak lanjut memakiku, tetapi Theo menghentikannya dengan tajam, "Ibu, kamu keluar dulu. Ada yang mau kukatakan padanya!" Atas perintah tegas Theo, wanita itu memelototiku, tetapi memilih untuk pergi.Theo merentangkan lengannya yang kuat dan memelukku. Aroma familier itu masih terasa begitu hangat."Maaf, Theo ...." Dia menutup bibirku dengan tangannya, lalu dengan lembut mencium keningku. Wajahnya dipenuhi kasih sayang, "Kak, kamu nggak salah ...." Sikapnya membuatku merasa makin bersalah. Aku terlalu malu untuk mengucapkan isi hatiku.Theo sangat cerdas. Dia berinisiatif mengungkit masalah ini dan beruja
Darah menodai seprai dan kulitku. "Cepat lapor polisi! Cepat! Jangan sampai terjadi apa-apa padanya!" Adikku menjatuhkan bangku itu dan memelukku sambil menangis. "Kak, sudah nggak apa-apa. Theo begitu kekar. Dia nggak akan mati. Aku akan panggilkan ambulans untuk bawa dia ke rumah sakit."Tak lama kemudian, ambulans tiba. Aku juga menjelaskan seluruh kejadiannya kepada adikku. Theo seperti salah minum obat dan tiba-tiba mencoba memerkosaku!Raut wajahku terlihat muram. Dia menyuruhku beristirahat di rumah, sedangkan dia akan membantuku meminta pertanggungjawaban dari Theo.Aku ingin pergi ke rumah sakit bersamanya. Bagaimanapun juga, Theo terluka parah. Jika terjadi sesuatu yang serius, adikku akan masuk penjara!Namun, saudaraku menggeleng dengan tegas dan menolak. Aku tidak bisa membujuknya dan mau tak mau menurut. Duduk di sofa, pikiranku melayang ke mana-mana. Aku mengambil jaket Theo dan menghirup aroma lemon yang familier. Berbagai macam emosi bergejolak dalam hatiku.Malam it
Pria dan wanita yang ditinggal berdua bagaikan kayu kering yang bertemu dengan api. Aku merasa canggung dan malu. Tatapan agresif Theo membuatku gemetar hebat. Untuk menenangkan jantungku yang berdebar kencang, aku menyesap sedikit jus lemon.Suasana ambigu terasa di udara ....Theo perlahan mendekatiku. Dia menarikku ke dalam pelukannya dengan lengan kuatnya. Kemudian, dia menggigit cuping telingaku dengan pelan. "Kak, kamu takut?" Wajahnya makin dekat dan aroma harum tubuhnya benar-benar memabukkan.Tubuhku sangat sensitif. Aku sangat ingin menyerah pada Theo saat ini juga, tetapi takut adikku tiba-tiba pulang. Apa yang akan kulakukan pada saat itu?Aku menggigit ujung lidahku dan memaksa diriku untuk tenang. "Theo, tunggu dulu. Kalau Jayden pulang ...." Theo tersenyum nakal. "Kak, jadi maksudmu, kita boleh bermesraan selama Jayden nggak ada?" Bisikannya di telingaku membuat hatiku meleleh. Aku segera menyeret tubuhku yang lemas menuju kamar. Jika aku tinggal bersama Theo lebih l
Mungkin inilah takdirku!Aku tidak bermaksud untuk menyalahkan Michelle. Berhubung Theo adalah pemuda yang unggul dan menyukai Michelle, kenapa mereka tidak boleh bersama? Memangnya dia harus bersamaku, seorang wanita yang sudah sekarat?Aku memang berpikir begitu, tetapi air mataku tak berhenti mengalir, seperti bendungan yang jebol.Entah sejak kapan, adikku sudah berdiri di depanku. Dia dengan lembut menyeka air mata dari sudut mataku dengan tisu. "Kak, jangan menangis. Kalau nggak, kamu nggak akan cantik lagi, lho." Dia bahkan dengan lembut mengelus kepalaku dan bertingkah seperti orang dewasa kecil. Hal itu langsung menghangatkan hatiku.Aku menoleh untuk melihat adikku. Aku menemukan emosi yang tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata di matanya. Ada kekhawatiran, tekad, dan sesuatu yang lain.Pada larut malam, aku tiba-tiba menerima panggilan dari Theo. Suara musik yang keras terdengar di ujung telepon sehingga aku tidak bisa mendengar jelas suaranya. Theo sepertinya juga sudah
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.