Share

Cinta Dalam Buta
Cinta Dalam Buta
Auteur: Ungu

Bab 1

Auteur: Ungu
“Rama, matamu tidak bisa melihat, lebih baik aku yang membantumu mencuci. Kalau bagian ini tidak dibersihkan dengan benar, nanti bisa menimbulkan bakteri.”

Bibiku sedang berdiri sangat dekat denganku, pakaiannya sudah basah, menampilkan dengan samar siluet tubuhnya yang indah. Karena mengira aku tuli dan buta, ia berpakaian dengan sangat berani. Saat wanita cantik itu membungkuk, kerah bajunya sedikit terbuka, mata basahnya menatap ke arahku, dan seketika itu aku pun tertegun di tempat untuk sementara waktu.

Dia tidak tahu bahwa sebenarnya aku sudah bisa melihat dan mendengar.

….

“Suamiku, cepat sedikit dong … baru beberapa menit sudah kehabisan tenaga. Aku masih belum puas .…” Dari dapur aku mendengar suara Bibi, disertai napas terengah.

Aku sedang duduk di ruang tamu, mataku terpaku menatap ke arah dalam, tepatnya ke arah dapur. Di sana, Bibi sedang menunduk, tubuhnya bertumpu di meja dapur, sesekali kepalanya terangkat, wajahnya tampak kacau dan kehilangan kendali. Dan Paman berada di belakangnya, bergerak dengan sekuat tenaga sampai pelipisnya dipenuhi keringat.

Tak lama kemudian, Bibi tampaknya tidak puas dengan ritmenya. Ia tiba-tiba berbalik dan mengambil alih kendali. Pinggangnya meliuk-liuk, dibarengi dengan erangannya yang semakin lepas dan tak tertahan. Buah dadanya yang montok berguncang mengikuti gerakannya. Ujung dadanya basah oleh keringat, memantulkan kilau lembap karenanya.

Pemandangan itu membuat tubuhku terasa panas. Darahku seperti mengalir deras ke bagian bawah sana. Namun aku hanya bisa menggertakkan gigi dan menahan diri, tak berani bergerak sedikit pun. Karena di mata mereka, aku masih anak cacat yang buta dan tuli.

Aku datang ke kota untuk berobat, dan untuk sementara aku menumpang tinggal di rumah Bibi dan Pamanku. Padahal sebenarnya, penglihatan dan pendengaranku sudah pulih sejak beberapa hari lalu.

Aku menyembunyikan semua itu dari semua orang karena di dorong oleh keegoisan hatiku sendiri. Aku diam-diam terobsesi dengan tubuh Bibi, tenggelam dalam kenikmatan mengintip kemesraannya dengan Paman di berbagai kesempatan. Aku suka memandangi tubuhnya yang ranum dan menggoda.

"Pertempuran" di dapur itu berakhir dengan tergesa-gesa, hanya dalam lima atau enam menit saja. Jelas Bibi masih belum puas.

“Kondisi tubuhmu sekarang makin lama makin tidak kuat. Sudah aku bilang jangan menyetir taksi terus, kamu tidak mau dengar. Kalau begini terus, berdiri saja nanti kamu tidak akan sanggup!” Ucap Bibi dengan nada penuh dengan keluhan.

“Aku menyetir kan demi cari uang! Kalau tidak cari uang, mau hidup dengan apa? Kamu itu cuma memikirkan hal-hal begituan saja! Kalau aku benar-benar sudah tidak bisa, apa kamu mau cari pria liar di luar sana?” Paman sepertinya tersentuh di titik paling sensitif, dia langsung marah setelah mendengar keluhan Bibi.

Keduanya bertengkar hebat tanpa henti. Pada akhirnya, Paman membanting pintu dan pergi begitu saja, meninggalkan Bibi sendirian menangis di kamar.

Beberapa hari setelah itu, rumah terasa sangat sepi. Paman tak pernah pulang. Saat aku melihatnya di rumah, ia sedang membereskan barang-barang sambil menelepon. Ia mengira aku buta dan tuli, jadi sama sekali tidak segan dengan perkataannya. Aku mendengarnya berkata bahwa ia akan memanfaatkan kesempatan mengemudi taksi jarak jauh untuk pergi ke luar kota menemui simpanannya.

Aku merasa hal itu tidak adil untuk Bibi. Aku sempat ragu apakah harus memberitahunya, tapi ternyata ia sendiri sudah mulai curiga. Namun Bibi tidak membuat keributan. Ia hanya diam-diam meletakkan kembali ponsel ke tempat semula, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Sejak hari itu, Bibi berubah. Dulu ia selalu berpakaian sopan di rumah, kini ia justru mengenakan gaun bertali tipis dan rok pendek setiap hari, sengaja berlalu-lalang di hadapanku. Sepasang kakinya yang jenjang dan pinggulnya yang berisi kerap membuatku hampir kehilangan kendali.

Akhirnya, di suatu hari aku tak sanggup lagi menahan diri. Saat Bibi keluar rumah, aku mencuri satu celana dalamnya dan menyelinap ke kamar mandi. Baru saja aku menurunkan celana, tiba-tiba terdengar suara tawa dan obrolan dari luar pintu. Bibi sudah pulang, dan dia tidak sendirian.

Aku yang panik, cepat-cepat merapikan pakaian, menyelipkan celana dalam itu ke dalam saku, lalu berpura-pura baru selesai dari toilet dan menekan tombol siram. Begitu aku membuka pintu, aku langsung melihat Bibi dan seorang pria muda sedang menempel di dinding ruang tamu, mereka berciuman panas.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Cinta Dalam Buta   Bab 10

    Di klub malam banyak perempuan yang rela melakukan apa saja demi uang. Wanita seperti mereka adalah yang paling cocok untuk dijadikan umpan. Bahkan Paman pun tak akan berkutik di hadapan mereka.Setelah berkeliling, kami akhirnya menemukan seorang wanita yang cocok. Harga dan waktu pelaksanaannya telah disepakati, dia pun langsung setuju dengan mudah.Saat pulang, Paman tidak ada di rumah, entah dia pergi ke mana. Bibi langsung menutup pintu dan masuk ke kamarku. Entah karena dia sudah pasrah, atau karena dia sangat terpukul atas kejadian ini, dua hari terakhir Bibi selalu inisiatif mendatangiku, kadang sehari bisa dua sampai tiga kali.“Rama, saat aku dan pamanmu sudah bercerai. Kalau aku tinggal bersamamu, apa nanti keluargamu akan mempermasalahkannya?”“Sekarang aku benar-benar bergantung pada ‘belut besar’ milikmu ini, sampai tak ingin berpisah.”“Masalah matamu ini juga tak akan bisa disembunyikan terlalu lama. Kalau sudah sembuh, orang tuamu pasti akan menyuruhmu kencan dan menik

  • Cinta Dalam Buta   Bab 9

    “Bagaimana ini, pamanmu sudah datang. Kalau kita buka pintu, dia pasti sadar ada yang tidak beres. Kalau begitu, semuanya akan terbongkar.”Bibi tegang sampai tubuhnya mengeras dan tanpa sadar mencengkeram kebanggaanku yang masih ada di dalam dirinya. "Belut besar" milikku sampai seperti kekurangan napas.“Duh, jangan tegang begitu. Kalau kamu terus bergerak, belut besar punyaku bisa putus.”Bibi melirikku kesal karena aku masih sempat bercanda, lalu berniat bangkit pergi. Mana mungkin kubiarkan dia pergi, ini sedang di saat krusial, aku belum puas.“Kamu kirimi dia pesan saja, bilang kamu sedang keluar beli sesuatu. Aku di kamar mandi, lagi di toilet, pintunya dikunci, jangan diganggu.”“Lagipula kalau kamu tidak ada, dia juga tidak akan mencarimu. Mungkin dia akan langsung pergi ngobrol dengan selingkuhannya.”Bibi mengambil ponsel, mengubahnya ke mode senyap, lalu mengirim pesan pada Paman. Benar saja, paman membalas "oke" lalu pergi.Begitu tak terdengar lagi langkah kaki, aku mena

  • Cinta Dalam Buta   Bab 8

    “Rama, kenapa kamu menyetujui makan bersama dia? Sekarang saja duduk di satu meja makan dengannya aku sudah harus menahan kemuakan dengan susah payah.”Bibi angkat bicara dengan suara pelan sambil mengeluh, bahkan sempat menepuk "belut" yang berada di antara pahaku satu kali.Aku menariknya duduk di atas kloset, memeluknya, lalu menciumnya dengan kuat terlebih dahulu sebelum menceritakan rencana yang tadi kudengar.“Apa? Bajingan itu sampai bisa memikirkan cara menjijikkan seperti itu?”“Pantas saja, sejak orang tuaku menolak permintaannya, sikapnya padaku makin tidak sabaran. Dia tidak lagi menuruti aku, malah sering marah-marah.”“Aku kira waktu itu dia cuma sedang kesal karena belum dapat pekerjaan yang cocok. Ternyata di matanya aku sudah tidak berguna lagi.”“Licik sekali pemikirannya, sampai merancang skenario selingkuh agar aku pergi tanpa punya harta sepeser pun. Otaknya benar-benar sudah macet.”“Dia pikir dia menyembunyikannya dengan baik. Padahal dia sendiri sudah selingkuh,

  • Cinta Dalam Buta   Bab 7

    “Sayang, jangan terburu-buru. Aku pulang kali ini memang sudah siap untuk menceraikan wanita tak berguna itu. Barang-barang berharga di rumah akan aku pindahkan diam-diam lebih dulu.”“Besok aku akan memasang kamera tersembunyi di rumah. Nanti saat makan, aku beri obat sedikit ke makanan Rama dan istriku, lalu aku akan cari alasan keluar.”“Kalau mereka berdua sampai melakukan hubungan suami istri, aku akan langsung punya bukti perselingkuhan, dan wanita itu harus pergi tanpa membawa harta apa pun.”“Tenang saja. Orang tua kandung Rama kan punya uang, mungkin mereka malah akan memberiku sejumlah uang supaya aku menutupi hubungan kotor mereka.”“Iya. Nanti aku belikan kamu rumah besar. Setelah anak kita lahir, aku juga akan menyewa perawat nifas terbaik, aku tidak akan membiarkan kamu kelelahan.”Mendengar itu, hatiku langsung menciut. Aku sampai tanpa sadar mengeluarkan suara. Paman langsung terkejut dan berteriak menanyakan siapa di sana. Aku berpura-pura tidak mendengar, meraba-raba

  • Cinta Dalam Buta   Bab 6

    “Rama, pelan sedikit. Sakit sekali, punyamu terlalu besar.” Bibi menoleh, ekspresinya campuran antara menggoda dan kesakitan.Saat itu aku sudah tak mungkin mendengarkan apa pun yang ia katakan. Dengan mata memerah, aku mengendalikan "belut besar" milikku agar terus berguling dan mengamuk di dalam lubang basah yang sempit milik Bibi.Di dalam toilet kecil itu, yang terdengar hanya napas terengah dan bunyi-bunyi berirama tanda penyatuan wanita dan pria. Udara sekitar perlahan menjadi panas dan kental.Bibi terlalu sensitif. Bahkan sebelum sempat aku memuntahkan cairan putih milikku, ia sudah tak sanggup menahan diri. Di lantai sudah terdapat genangan kecil dari cairan kenikmatan miliknya.“Rama, belum selesai juga? Aku sudah tidak kuat. Ini sudah setengah jam, kan? Aku khawatir pamanmu akan mencari kita.” Suara Bibi terdengar lemah, wajahnya memerah, jelas tampak seperti wanita yang setelah terpuaskan.“Ini masih begini saja, "belut" punyaku segemuk ini, masih bisa memuntahkan cairan pu

  • Cinta Dalam Buta   Bab 5

    “Rama, kamu … kamu bisa melihat dan bisa mendengar?” Bibi begitu terkejut sampai wajahnya pucat pasi.“Iya, aku sudah bisa melihat sejak lama. Aku melihat semua yang kamu lakukan bersama pria asing itu di rumah ini. Waktu itu aku sampai tersiksa menahannya, apalagi kamu malah sengaja menggoda aku dengan cipratan cairan kenikmatan milikmu.”“Hari ini kamu sudah sejauh ini. Kalau aku tidak membantumu mewujudkan keinginanmu, aku malah merasa bersalah sudah menemanimu bersandiwara selama ini.”Sambil berbicara, tanganku terus menjelajah di tubuhnya. Rasanya luar biasa, lembut seperti memegang sepotong tahu, sangat enak dan nyaman tak terkira. Kata-kataku membuat wajahnya makin pucat dan matanya dipenuhi keputusasaan.“Rama, kalau kamu bisa melihat dan mendengar, kamu juga pasti tahu kalau aku jadi begini karena pamanmu punya simpanan di luar. Ini bukan sepenuhnya salahku.”“Bibi mohon padamu, bantu aku merahasiakan ini, jangan beri tahu siapa pun. Lagi pula sekarang aku dan pamanmu belum b

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status