Share

Rasa Yang Unik

Penulis: Ummi Salmiah
last update Tanggal publikasi: 2023-07-18 08:36:34

"Dokter Fahri …!" seru kami berdua

"Dokter Fahri jangan berani ganggu Dokter Elsa ya, saya mau calonkan dia dengan kakak saya," sambung Nita.

"Sebelum janur kuning melengkung, Nit, kenapa enggak, ya, ‘kan Dokter El?"

"Sudah … sudah, stop, ya. Sekarang waktunya pulang, ayo Dokter Nita, Dokter Fahri kita pulang sudah gak sabar nih pengen rebahan."

"Gitu sudah kalau jomblo fi sabilillah, bawaannya mau rebahan saja!" ledek Nita.

Kalau ada Dokter Nita hidup terasa lebih berwarna. Teman-teman sejawat bilang kalau dia “Miss rame”. Di mana saja selalu heboh kalau ada dia.

****

Hari terus berlalu, sudah lima hari Rey di sini, tetapi tak pernah sekalipun menyapa Elsa. Elsa sempat berpiki untuk menyapanya duluan, meminta maaf atas ucapannya 10 tahun yang lalu. Mungkin dia masih marah, tetapi tak sekalipun ada kesempatan, selalu saja terhalang. Rey juga sepertinya memang menjauh.

Hari ini adalah jadwal bulanan rumah sakit mengirim dokter sukarelawan ke luar kota, bisa dikatakan ini kegiatan bulanan rumah sakit. Rumah sakit akan mengirim “Doksemangat” untuk melayani masyarakat, terutama lansia yang sangat membutuhkan. 

Dokter yang dikirim hanya membawa peralatan medis sendiri karena bis dan lokasi yang dituju semuanya sudah diatur pihak rumah sakit. Sebagai dokter bedah, ini pertama kalinya Elsa mengikuti kegiatan tersebut. Saat diacak namanya keluar dalam satu kelompok, padahal dia sudah janji dengan orang tuanya untuk weekend di rumah. Profesi sebagai dokter membuat mereka jarang berkumpul.

"Dokter Elsa kita satu kelompok ‘kan, jangan jauh-jauh, ya." Tiba-Tiba Dokter Fahri sudah berada di samping Elsa.

"Ciye … yang sudah mulai pendekatan," sahut Nita.

"Hm, mulai deh."

Tiba-tiba Rey juga muncul, stelan kemeja yang rapi dan cool membuat siapa saja terpana. Sepertinya dia memang totalitas menjadi kepala rumah sakit. Usia mudanya memang cemerlang, kesan kharisma sungguh melekat pada dirinya.

"Rey!" panggilku.

Tak didengar, dia berjalan begitu saja.

"Lo manggil siapa, El? Wadidau ada My Oppa, jiwa jombloku mulai meronta." Ekspresi Nita bikin siapa saja terkekeh.

"Mulai deh ratu lebay. Yuk, kita berkemas nanti ketinggalan bis."

"Maumu apa sih, Rey!" Elsa terus membatin karena Rey benar-benar menjauh darinya.

***

2 Bis sudah siap untuk berangkat ke lokasi tujuan sukarelawan bulanan. Semua rombongan naik sesuai kelompok, baik dokter dan perawat yang bertugas. Tak disangka Rey juga berada di bis yang sama.

Bikin deg-degan saja ini doi.

"Hi, Dokter El, kita duduk deketan, ya." Tiba-tiba Dokter Fahri sudah berada di samping Elsa.

"Oh, boleh."

"Asyik dibolehin." Bahagia sekali Dokter Fahri hanya sekedar duduk di dekat Elsa.

"Ciye … yang mulai pendekatan bakal kalah cepat nih kamu, Fan," Ledek Nita, kebetulan Irfan ada di sana, dari dulu dia naksir, tapi gak pernah Elsa lirik.

Rey duduk pas di depan sambil baca buku, terlihat asyik dengan bacaannya, sesekali tersenyum, sebagai tanda menyapa para dokter yang masuk ke dalam bis.

"Wow satu bis dengan kepala rumah sakit sesuatu banget, makin semangat nih melayani masyarakat." Nita selain jujur, ceplas-ceplosnya bikin semua tertawa.

"Dokter El, beneran gak lagi pedekate dengan siapa saja, kan?" Dokter Fahri sepertinya mulai memperjelas.

Elsa semakin salah tingkah dibuatnya. Kenapa juga Dokter Fahri ngomong begitu?

"Nggak," jawab Elsa.

"Jangan bohong Dokter El, masak ratu universitas gak ada yang deketin?" Elsa diam, bingung mau jawab apa.

"Kalau gitu, boleh dong aku dekat denganmu?"

Lagi-lagi Elsa diam, tapi reaksi Rey bikin panas hati, dia sepertinya menikmati pembicaraan kami. Nggak peduli sama sekali, padahal posisinya pas di depan Elsa dan Fahri.

"Boleh." Waduh kok jadi polos begini.

"Maksudmu?" Fahri sepertinya tidak main-main.

"Temui saja papaku kalau berani," sambung Elsa.

"Siap, Dokter El!" Suara Dokter Fahri membuat semua memandang kami.

"Wah, Dokter Fahri kayaknya gerak cepat, nih, sudah naik bintang lima." Ledek Nita pakai oktaf 5 segala.

Rey diam seolah tidak mendengar.

"Maaf, Dokter Fahri saya duduk di belakang, ya. Agak gerah di sini."

Entahlah yang kuhindari Rey atau Dokter Fahri, tapi ekspresi Rey yang datar bikin suasana benar-benar gerah.

***

Bis mulai melaju, duduk di belakang ternyata lebih asyik. Pak sopir pun mulai memutar musiknya. Ah, lagunya kok bikin mellow banget, dada dibuat makin sesak.

Tuhan ku cinta dia

Ku ingin bersamanya

Ku ingin habiskan nafas ini berdua dengannya

Jangan rubah takdirku, satukanlah hatiku dengan hatinya (reff, Andmesh. Lirik lagu Jangan Rubah Takdirku.)

Tetiba Rey bangun dan mata kami beradu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Dalam Diam   Ekstra Part

    Reihan Baskoro tumbuh menjadi Dokter yang hebat, mengikuti jejak Papi, Mami dan ayahnya, Reihan menjadi dokter yang keren. Prestasi jangan diragukan lagi.Wajah tampan blasteran mirip seperti Papinya membuat semua perempuan tergila-gila dengannya. Cuek dan dingin itulah Reihan. Tidak sedikit surat cinta yang ditemukan di tasnya setiap selesai praktik, tapi tak satupun yang mengena dihatinya. Ada satu nama yang selalu mengganggu pikirannya. Nama yang membuat dia jatuh cinta berkali-kali, meski sulit diraih.Hari ini adalah jadwal pulangnya Reihan setelah menyelesaikan spesialisnya, tanpa didampingi ayah dan maminya, itupun karena Reihan yang meminta untuk tidak didampingi."Besok Mami hadir, ya, Rei." Maminya sampai memohon agar Reihan mau didampingi."Gak usah, Mi. Rei udah besar bukan anak labil, menghindari omongan juga karena yayasan ini 'kan milik Ayah.""Terus ayah gak datang juga?" Ayahnya ikut nimbrung video call sama Reihan."Gak usah, Yah. Biar pemilik yayasan gak usah hadir

  • Cinta Dalam Diam   Cinta Dalam Diam (End)

    Elsa dilarikan ke rumah sakit, dokter Fahri memang sudah menyiapkan kemungkinan hal yang terjadi, dilihat dari ambulance yang sudah stand by di dekat pantai."Bagaimana, Dok?""Elsa pendarahan hebat."Dokter yang sudah di warning dokter Fahri menunggu di depan IGD. Belakangan ini dokter Fahri sibuk mengurus kemungkinan hal-hal yang terjadi. "Semua sudah siap, Dok!" dokter yang diutus mengurus semuanya menghampiri dokter Fahri."Dokter Rayyan apakah sudah bisa dihubungi?""Belum bisa, Dok!"Elsa sudah siap untuk dioperasi hari ini, dokter Fahri terlihat deg-degan, tapi masih tetap tenang melihat istrinya. "Kantong darah yang Dokter Fahri minta satu minggu yang lalu sudah siap." Tidak tanggung-tanggung dokter Fahri menyiapkan 20 kantong darah untuk dokter Elsa, menjaga kemungkinan hal yang terjadi."Terima kasih atas bantuannya, Dok." Fahri terlihat tegang karena dokter Rayyan belum bisa dihubungi, hari ini adalah jadwal keberangkatan dokter Rayyan kembali ke luar negeri karena kontra

  • Cinta Dalam Diam   Tak Ingin Jauh Darimu

    Kehamilan Elsa kali ini benar-benar harus dijaga, kondisinya semakin hari semakin lemah sangat penuh perjuangan, usia kehamilan Elsa masuk trimester ketiga, meski masih terus keluar masuk rumah sakit, tapi Elsa masih semangat menjalaninya. Fahri dan Reihan tetap setia menemani Elsa, kesetiaan dan ketulusan dokter Fahri membuat hati Elsa semakin luluh, cinta mulai bersemi dihatinya. ”Jangan panik, aku baik-baik saja.” Elsa dibuat baper karena Fahri terus setia menemaninya, lebih tepatnya merawatnya dengan tulus. Tidak peduli capek dan lelah Fahri sangat totalitas dalam menjaga istrinya, tak ada momen yang tertinggal oleh dokter Fahri.“Maunya apa, Dik? Mas akan carikan kemana saja, asal istri Mas ini tetap sehat dan kuat.” Siapa yang tidak baper, disaat cinta mulai bersemi dihati mereka, justru kini mereka sedang diuji, ini mungkin yang namanya ujian kesetiaan. Elsa bahkan tidak pernah melayani kebutuhan Fahri, kehamilannya sedikit berbeda ketika hamil Reihan. Kondisinya sekarang, be

  • Cinta Dalam Diam   Mendebarkan

    Akhirnya Elsa bersedia tinggal di rumahnya Fahri. Reihan juga tidak mau ketinggalan. Mereka diantar oleh papa dan mamanya Elsa menuju rumahnya Fahri. Rumah Fahri sangat besar, bangunannya seperti mengusung konsep Mediterania yang kental dengan pilar-pilar tinggi dan berwarna putih. Saat masuk ke dalam, semua akan semakin terpukau dengan pemilihan interiornya yang apik."Rumah sebesar ini Nak Fahri sendiri yang tinggal?" Mamanya Elsa membuka percakapan."Iya, Ma. Ada pelayan juga disini."Reihan sangat bahagia sekali, karena kamarnya sangat luas dan dipenuhi mainan. Entah kapan dokter Fahri menyiapkan mainan untuk Reihan."Yah, mainannya banyak banget." Reihan tak berhenti tersenyum karena kamarnya selain besar, lengkap dengan fasilitas di dalamnya."Iya, kan, pangeran harus banyak mainan biar tidak kesepian. Di situ sudah ayah buatkan tempat untuk Reihan melukis, kata Mami Reihan hoby melukis seperti Papi." Elsa terharu, segitu detailnya dokter Fahri menyiapkan kebutuhan Reihan."Ruma

  • Cinta Dalam Diam   Cinta Dalam Diam

    Sesampai di rumahnya Elsa, Dokter Fahri terlihat bingung, Elsa juga terlihat lebih banyak diam. Dokter Fahri sadar ini mendadak bagi Elsa. "Tidak apa-apa El, saya tidur di ruang tamu saja." Elsa berhenti mendengar ucapan dokter Fahri. Tiba-tiba Elsa menuntun dokter Fahri untuk ke kamarnya. Dokter Fahri sangat canggung sekali, jantungnya berdetak lebih kencang. Karena Elsa lebih banyak diam, perasaan Fahri semakin tidak enak."Kamar mandinya disana, Dokter bisa membersihkan diri dulu." Elsa terlihat tenang, sementara dokter Fahri sangat canggung."Makasih, El." Fahri tidak ingin banyak bicara, karena Elsa juga irit bicara. Elsa sebenarnya lebih pengalaman karena dia pernah menikah sebelumnya. Setelah membersihkan diri, dokter Fahri bersiap untuk sholat Isya, Fahri lebih memilih untuk sholat di masjid komplek perumahan, lebih tepatnya memberi ruang waktu untuk Elsa."Om Dokter ganteng mau kemana?""Kok Om, panggil Ayah ya, Nak?" Fahri kalau sama anak kecil, santun sekali."Kenapa buk

  • Cinta Dalam Diam   Cinta Dalam Penantian Yang Panjang

    Fahri masih memegang tangannya Elsa dan masih dalam keadaan berjongkok. Ini seperti mimpi bagi mereka berdua, Fahri terus mengeluarkan air mata. Lebih tepatnya air mata bahagia."Ayo, bangun calon Papanya Reihan." Reihan memeluk Fahri untuk segera bangun, suasana semakin haru. Elsa berkali-kali menitikkan air mata, ini juga seperti mimpi baginya. Mimpi menjadi istri dari dokter Fahri."Selamat untuk kalian, ya." Papa dan mamanya bergabung, Fahri memeluk Papanya Elsa. Jangan ditanya kebahagiaan dokter Fahri, Elsa sampai dibuat salah tingkah dengan keadaan ini. Mamanya juga memeluk Elsa, meski terkesan mendadak, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mereka.Tiba-tiba semua tamu undangan mulai berdatangan, kabar cepat beredar. Semua dokter yang bekerja di klinik juga hadir. Elsa sampai dibuat kaget dan terlihat malu. Mendadak mungkin hanya baginya, tetapi persiapan acara ini sebenarnya sangat matang. Yang menyaksikan akad nikahnya memang hanya dari keluarga saja."Selamat, Bosku!" Do

  • Cinta Dalam Diam   Kejutan

    Hari ini hari terakhir Elsa di desa terpencil, beberapa dari mereka sudah mulai berkemas. Program berjalan dengan lancar, walau Elsa merasa sedikit terganggu dengan keberadaan bodyguard kiriman Fahri. Entah mengapa Fahri semakin menjadi-jadi, Elsa khawatir obsesi Fahri yang ingin memiliki dia beruju

  • Cinta Dalam Diam   Kamu Dimana?

    Dokter Fahri terlihat lebih fresh dan keren, tidak menyangka sekarang dia menjadi orang nomor satu di rumah sakit. Semua orang pun, tidak menyangka dokter rumah sakit yang terlihat biasa-biasa itu adalah pewaris keluarga Hermanto.Entah mengapa perasaan Elsa tidak enak dengan kedatangan Fahri, sebag

  • Cinta Dalam Diam   Tak Terduga

    Hari-hari Elsa begitu menyenangkan, tak bisa dipungkiri cinta bisa mengubah segalanya. Elsa masih tetap setia walau selalu berjarak dengan Rey, Nita pun tak kalah setia dengan ucapannya untuk tidak mengumbar hubungan Rey dan Elsa di rumah sakit.Hari yang bahagia tiba-tiba meredup, kabar pagi yang me

  • Cinta Dalam Diam   Duet Yang Keren

    "Dokter Nitaa ...!" kompak kami berdua kaget, Rey langsung melepas tangannya, karena tiba-tiba dokter Nita masuk begitu saja."Jadi inisial EW itu dokter Elsa Wijaya? ya ampun, kok gak kepikiran kesana dari kemarin." Mati dah Elsa, kalu dokter Nita tau, semoga dia tidak bikin heboh rumah sakit ini."B

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status