Share

Bab 2

Penulis: Soil
Menjelang tidur, aku mendengar Roni sedang membujuk Ara yang sedang merajuk.

“Papa, aku tidak mau wanita itu ikut pergi bersama kita.”

“Ara, cepat tidur. Bagaimanapun juga dia adalah mama kamu.”

Putriku dengan kesal menepis tangan Roni dan menjawab, “Aku tidak suka dia! Dia itu perempuan jahat. Ibuku seharusnya Bibi Farah!”

Mendengar hal itu keluar dari mulut putriku, aku seakan jatuh ke dalam jurang es, seluruh tubuhku gemetar tak terkendali.

Keesokan harinya, di taman kanak-kanak Ara diadakan acara olahraga orang tua dan anak. Sejak pagi aku sudah penuh semangat menyiapkan pakaian olahraga, meskipun dengan mengabaikan tatapan jijik di mata Ara.

Baru setelah turun dari mobil, saat Ara berlari dan memeluk Farah, aku seketika tertegun. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku hanya refleks menoleh ke arah Roni.

Roni melirik mata kananku yang memucat karena kebutaan, lalu mengatupkan bibir dan berkata datar, “Kamu kan selalu berpura-pura kelihatan sakit. Wajar saja kamu tidak bisa ikut lomba olahraga.”

Farah menggandeng tangan Ara dan mendekat. Melihat wajahku muram, ia justru menangis, jelas itu tangisan yang dibuat-buat.

“Kak Luna, apa kamu tidak ingin aku berada di sini?”

“Kalau begitu aku pergi saja, supaya tidak mengganggu kamu dan Ara.”

Putriku sontak mencengkeram tangan Farah dengan erat, mata indahnya menyala oleh amarah.

“Kamu tidak bisa lari, tidak bisa lompat. Teman-temanku semua menertawakanku karena punya ibu buta yang sakit-sakitan!”

“Akulah yang memanggil Bibi Farah untuk menemaniku. Punya ibu sepertimu hanya membuatku malu!”

Mereka mengikuti lomba dua orang tiga kaki dan tebak gambar, sedangkan aku hanya mampu melihat semuanya dari samping. Saat akhirnya mereka meraih juara, Roni menunjuk ke arahku dan memerintah, “Kemarilah, ambilkan foto bersama untuk kami.”

Para orang tua lain yang tidak mengetahui kebenaran berdecak kagum. “Keluarga kalian bertiga benar-benar kompak. Suami tampan, istri cantik, anaknya juga sangat manis.”

Aku berusaha memaksakan senyum, menatap Roni yang memeluk Farah dan Ara dengan lembut. Di detik ketika kamera memotret pemandangan itu, rasanya seperti ada sesuatu yang tercabut dari tubuhku. Orang-orang yang kulihat di hadapanku, seorang ayah dan anak perempuan itu terasa asing, seakan tak pernah menjadi milikku.

Malam itu, tidak seperti biasanya, aku tidak memasakkan sup herbal penambah stamina untuk ayah dan anak itu. Sejak mereka menjalani transplantasi organ, aku pergi ke desa pegunungan di Daerah Giga untuk mencari pewaris tabib tradisional. Di sana aku bersusah payah belajar masakan obat selama tiga bulan, demi bisa memulihkan tubuh mereka.

Roni menyadari hal yang tidak biasa itu, ia beberapa kali menoleh ke dapur. Kemudian dengan ragu, ia bertanya, “Malam ini tidak masak sup?”

Aku hanya mengangguk pelan, tanpa sepatah kata pun.

Ara merasa itu sedikit aneh, namun justru lega. “Tidak apa-apa juga, toh rasanya tidak enak. Tidak sedap seperti masakan Bibi Farah.”

“Sejak awal memang tidak seharusnya membuat makanan aneh-aneh begitu. Aku jijik.”

Aku menundukkan kepala, menghiraukan kalimat itu, seolah tidak mendengar keluhannya. Karena mulai sekarang, aku tak akan membuat sup herbal itu lagi. Di rumah ini, sudah tak ada lagi orang yang layak kuperhatikan dan kurawat.

Keesokan paginya, Farah justru datang membawa vas bunga yang indah, katanya sebagai permintaan maaf. Dengan mata memerah, ia berusaha menggenggam tanganku.

“Kak Luna, aku tahu kamu keberatan karena Ara sangat dekat denganku.”

“Tapi dulu, selama enam bulan kamu menghilang tanpa kabar, akulah yang berada di sisi Kak Roni dan Ara, aku merawat dan menemani mereka.”

“Mereka sudah seperti keluargaku sendiri. Aku hanya ingin memohon pada Kak Luna, jangan lagi menghalangiku bertemu dengan mereka.”

Wajahnya yang berlinang air mata tampak sangat menyentuh dan menimbulkan rasa iba. Namun di balik itu, tatapan yang diarahkan kepadaku penuh dengan niat jahat. Tiba-tiba, diiringi bunyi pecah yang nyaring, ia sengaja menjatuhkan diri ke lantai, dan vas di tangannya hancur berkeping-keping. Roni segera memeluknya dengan wajah penuh rasa sakit dan ingin melindungi.

“Luna, kamu ini benar-benar perempuan pencemburu!”

“Aku saja tidak mempermasalahkan kamu yang bersenang-senang dengan pria lain saat aku dan Ara menjalani operasi, bahkan kamu baru pulang setelah buta sebelah. Sekarang kamu masih berani menindas Farah!”

Roni berkata seperti itu sambil menendang lipatan lututku dengan keras. Aku langsung terjatuh dan berlutut di atas pecahan kaca. Darah merembes dari lututku, kulit dan dagingku tercabik-cabik oleh serpihan kaca yang tajam.

Namun Roni yang seolah tak menyadari wajahku yang pucat pasi, berkata dingin, “Kamu berlutut saja di sini sampai malam. Menurutku, kamu memang pantas diberi pelajaran.”

Di mata kanan Roni terpasang korneaku, namun ia tak pernah sekalipun menatap mata kiriku yang tersisa.

Entah sudah berapa lama berlalu. Lututku sudah mati rasa, namun rasa sakit saat pecahan porselen tajam menembus kulit dan daging justru terasa begitu nyata. Dalam keadaan setengah sadar, aku seakan melihat kembali hari ulang tahun Ara yang ketiga. Saat aku memakaikan mahkota kristal di kepalanya dan Roni menatapku dengan penuh cinta.

Kala itu, Ara masih selalu memanggilku "Mama" dengan suara manis. Dan Roni masih sering berkata bahwa ia akan melindungi istri dan putri yang paling dicintainya seumur hidup.

Plak!

Rasa perih yang menyengat di wajah menarikku keluar dari kenangan. Ara berdiri di hadapanku dengan pipi menggembung marah, lalu membanting papan gambarnya tepat ke wajahku.

“Perempuan jahat! Kalau kamu masih berani menindas Bibi Farah, aku akan meminta Papa mengusirmu keluar!”

Tangannya yang kecil mendorong-dorong tubuhku. Gaun yang aku kenakan telah terendam darah, menempel lengket di kulitku. Gerakan sedikit saja membuat kulitku terasa seperti terkoyak.

Jam pemantau di pergelangan tanganku bergetar, jantung buatan itu membunyikan alarm untuk keempat kalinya.

Dokter yang melakukan operasi pernah berkata, setelah lima kali alarm berbunyi, jantung buatan harus segera diganti, jika tidak, nyawaku akan terancam. Namun kini, menatap wajah putriku yang masih polos melontarkan pandangan penuh jijik padaku, aku justru merasa hidupku ini seolah tak lagi berarti bagi siapa pun.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 8

    Pada hari jenazahku dikremasi, Ara berdiri terpaku di samping Roni. Baru beberapa hari berlalu, namun wajah kecil yang dulu aku rawat hingga tampak merah muda dan berisi itu kini sudah tampak mengering dan pucat.Ara menatap batu nisanku, lalu bertanya dengan suara lirih, “Papa, apa setelah ini aku benar-benar tidak akan bisa melihat Mama lagi?”Roni hanya merespons dengan usapan di kepala Ara, ia tak tega mengatakan bahwa orang mati tak mungkin hidup kembali.Seolah sedang merajuk, Ara mengerucutkan bibirnya.“Kenapa dia tega meninggalkanku?”“Jelas-jelas dia kabur dengan orang lain. Bibi Farah bilang Mama tidak mencintaiku.”Suara Roni tercekat, air mata besar jatuh dari matanya. Ia berjongkok, meniru caraku dulu saat menenangkan Ara, lalu mencubit lembut pipinya.“Mama bukan tidak menginginkanmu.”“Dia pergi untuk meninggalkan jantungnya padamu.”“Dia kehilangan satu matanya agar Ayah masih bisa melihat dunia ini.”“Ara, Mama adalah orang yang paling mencintaimu di dunia ini.”Namun

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 7

    “Ada retakan pada tulang kering.”“Di bagian belakang betis terdapat bekas sayatan sepatu es sepanjang 10 sentimeter, berbentuk melengkung, ini adalah luka yang disengaja oleh manusia.”“Di bawah tulang rusuk rongga dada terdapat titik-titik perdarahan, disebabkan oleh tekanan benda tajam.”“Jantung buatan berhenti berfungsi akibat terpapar suhu rendah dalam waktu lama.”Polisi mengangkat kepala, menatap Roni yang tampak linglung dengan sorot penuh simpati. “Istri Anda meninggal di Negara Es karena dibunuh.”Alis Roni langsung berkerut, dadanya naik turun dengan hebat seiring napasnya yang terasa berat.“Pasti dibunuh oleh pria selingkuhannya!”“Sudah ditemukan siapa orang terakhir yang bersamanya?!”Polisi menghela napas pelan. “Apa Anda punya bukti konkret tentang pria selingkuhan yang Anda maksud?”“Saat Nyonya Luna lari keluar dari vila sebelum meninggal, dia tidak membawa apa pun.”“Ketika Anda membereskan barang-barangnya, apa Anda tidak menyadari bahwa dia sama sekali tidak memb

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 6

    Setelah menutup telepon, Rino tersenyum ke arah Farah yang wajahnya tampak agak pucat.“Sepertinya Luna ingin kembali. Dia sampai menyewa orang untuk mengujiku.”“Farah, jangan khawatir. Begitu dia pulang, aku akan langsung menceraikannya.”“Hanya membayangkan wajahnya saja sudah membuatku mual. Sudah buta sebelah, masih juga tak bisa menahan diri untuk berselingkuh. Perempuan murahan seperti dia memang seharusnya segera enyah!”Roni terus berbicara tentang aku, namun Farah tampak tidak sepenuhnya fokus dan hanya menanggapi dengan seadanya. Setelah itu, Ara berlari menghampiri Farah sambil memeluk buku dongeng, meminta Farah membacakan cerita sebelum tidur.Wajah Farah justru mengeras. Saat ceritanya sampai pada kisah "Putri Duyung Kecil", ia berkata dengan nada dingin dan kejam, “Putri duyung seharusnya membunuh sang putri. Lagi pula pangeran sama sekali tidak mencintainya.”“Hanya orang yang saling mencintai yang pantas bersama. Sang putri cuma menang karena latar belakang keluargany

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 5

    Saat Roni kembali, ia mendapati pintu vila terbuka lebar. Aku yang seharusnya terbaring di tempat tidur karena patah tulang kaki, tidak bisa ditemukan di mana pun. Aku menghilang tanpa jejak.Entah mengapa, hati Roni mendadak diliputi rasa gelisah. Ia naik turun lantai beberapa kali, memanggil namaku, namun tak ada satu pun jawaban.Ara mengerucutkan bibir, seraya bicara, “Papa, telepon saja Mama… maksudku, telepon saja dia.”Mata bening Roni terlihat berkaca-kaca, ia tampak ketakutan oleh kepergianku yang tiba-tiba. Roni mencoba menghubungiku, namun ponselku telah membeku dan mati otomatis. Melihat Roni mengernyit sambil menurunkan ponselnya, Farah justru tersenyum tipis.“Kak Roni, Ara, jangan khawatir.”“Kemarin aku melihat Kak Luna akrab sekali dengan seorang instruktur ski. Sepertinya hari ini mereka sudah janjian pergi bermain.”Mendengar itu, urat di pelipis Roni seketika menegang. Roni pun marah dan membanting ponsel ke lantai.“Aku mengkhawatirkannya? Perempuan tak tahu malu i

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 4

    Tulang jariku yang patah bahkan belum sempat pulih, aku sudah dipaksa Roni naik pesawat ke luar negeri menuju Negara Es hanya karena Farah ingin bermain ski.Dengan sikap pura-pura iba, Farah berkata lirih, “Jangan tinggalkan Kak Luna sendirian di rumah. Ajak dia ikut saja.”Roni seolah lupa bahwa aku pernah mengatakan kalau aku tidak boleh berolahraga. Saat aku menolak, ia malah mencibir.“Kamu bercanda, ya? Apa kamu mengira kamu itu boneka porselen?”“Farah mengajakmu itu karena dia menghormatimu. Jangan tidak tahu diri!”Aku diseret paksa ke arena ski, Farah hanya menatap bibirku yang pucat lalu tersenyum sinis. Ia kemudian menunjuk ke arah Roni yang sedang membantu Ara mengenakan perlengkapan pelindung.“Kudengar dulu justru Kak Roni yang mengajarimu bermain ski. Sekarang, sekedar menyentuh tanganmu saja dia sudah tak sudi.”Farah sengaja memperlambat laju dan meluncur sejajar denganku, lalu tongkat ski logamnya menghantam keras kakiku yang kanan, sambil berkata, “Coba tebak, kalau

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 3

    Saat Roni memperhatikan perban yang melilit kakiku, sorot matanya sempat berkilat sejenak, seperti kilatan seseorang yang merasa kasihan, kemudian ia berkata, “Hari ini pembukaan pameran lukisan Farah. Dia terus menerus bilang ingin kamu ikut melihatnya. Ikutlah bersama kami.”Nada bicara Roni pun terdengar seperti belas kasihan dari seseorang dengan posisi yang tinggi. Sejak kapan keluar rumah bersama mereka pun menjadi semacam anugerah yang diberikan dengan kemurahan hati?Aku merasakan jantung buatan di dadaku berdetak dengan susah payah. Namun di saat yang sama, tiba-tiba aku teringat masa lalu, saat kami bertiga pergi ke taman hiburan. Ara tersenyum cerah sambil menyodorkan permen kapas ke bibirku. Sementara Roni mengipasi wajahku dengan kipas kecil untuk mengusir panas yang kurasakan.Kini, semua itu tinggal kenangan.Ara terdengar menggerutu kesal, “Papa, kenapa dia ikut ke pameran lukisan? Melihatnya saja sudah merusak suasana!”Roni mencubit pipi Ara sambil tersenyum, lalu men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status