Share

Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian
Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian
Author: Soil

Bab 1

Author: Soil
Roni membanting ponsel itu dengan keras ke kepalaku.

“Luna, kamu gila ya? Sengaja menelepon saat aku sedang jadi model untuk Farah dan mengganggu kami!”

“Coba hitung sendiri sudah berapa kali kamu menelepon!”

Darah muncul dari pelipisku, terus mengalir sampai masuk ke mataku. Pandanganku buram, namun justru begitu jelas melihat bekas ciuman di kerah baju Roni. Itu warna merah muda pucat, warna kesukaan Farah.

Setelah jantung buatan di tubuhku membunyikan alarm untuk ketiga kalinya, dokter menyuruhku segera menghubungi keluarga agar bisa didampingi menjalani pemeriksaan mendalam. Namun setiap kali aku menelepon suamiku, panggilan itu selalu diputus.

Saat ia pulang larut malam dan baru saja melangkah masuk rumah, yang kudapatkan hanyalah hujan makian tanpa ampun. Seolah-olah aku melakukan dosa besar yang tak termaafkan karena telah mengganggu kebersamaan dia dengan Farah.

Aku menelan rasa pahit di tenggorokan, lalu menjelaskan dengan suara tertahan, “Akhir-akhir ini jantungku tidak nyaman, dokter bilang ....”

Belum sempat selesai, Roni sudah mengerutkan kening dan memotong penjelasanku dengan tidak sabar, “Sudahlah, jangan pura-pura. Kamu cuma ingin aku menemanimu, kan?”

“Kamu selalu pakai trik murahan seperti pura-pura sakit. Sayangnya, itu malah membuatku merasa muak!”

Aku menahan nyeri di pelipis, menatap punggung dingin Roni yang menjauh menaiki tangga.

Aku bahkan tak mampu lagi mengingat wajahnya dulu, ketika aku hampir meninggal karena pendarahan hebat setelah melahirkan, ia menangis sambil berkata akan melindungiku seumur hidup.

Saat alarm jantung buatan itu pertama kali berbunyi, aku dipaksa oleh Roni untuk mengantre membeli kue ulang tahun yang sedang populer demi Farah. Di bawah terik matahari yang menyengat, aku berdiri dua jam penuh, hingga alat pemantau jantung di pergelangan tanganku membunyikan alarm.

Dengan tubuh lemah, aku memintanya mengantarku ke rumah sakit. Namun Roni justru mencibir dingin. “Kamu sama sekali tidak punya penyakit jantung. Jangan berlebihan dan berpura-pura untuk mendapat belas kasihan.”

“Kamu sudah tahu hari ini ulang tahun Farah. Kalau tidak mau memberi ucapan selamat, ya sudah. Jangan datang dan membuat orang jijik, dasar bawa sial!”

Akhirnya, aku pingsan di pinggir jalan sampai ada seorang ibu petugas kebersihan yang membawaku ke rumah sakit.

Saat alarm jantung buatan itu berbunyi untuk kedua kalinya, Farah menuduhku telah mengotori lukisan potret yang ia buat dengan susah payah untuk Ara.

Sambil menunjuk noda minuman di tepi lukisan, ia menangis tersedu. “Roni, apa Kak Luna tidak suka aku dekat dengan Ara?”

“Setiap goresan di lukisan ini adalah jerih payahku. Dia boleh memukulku, memarahiku, tapi tidak boleh menghina lukisanku!”

Karena hal itu, Roni mengurung aku di gudang anggur yang dingin dan lembap, dia juga menyuruhku berlutut di atas es kering. Lututku membeku dan terluka, kulitnya membusuk hingga mengeluarkan nanah dan darah. Dengan tubuh gemetar, aku memohon agar dia mengampuni aku. Namun Roni hanya tersenyum dingin dan mengunci gudang itu rapat-rapat. Baru dua hari kemudian, saat kepala pelayan datang mengambil anggur, aku akhirnya dikeluarkan.

Setelah membersihkan luka di dahiku, aku mendorong pintu kamar putriku. Di tanganku, ada kue kecil yang kubeli khusus untuknya saat perjalanan pulang dari rumah sakit.

“Sayang, sedang menggambar ya? Mau mama temani?”

Ara menatapku dengan jijik sambil mengernyitkan hidungnya. “Menjauh dariku. Jangan mengotori gambar yang mau kuberikan ke Bibi Farah.”

Dengan wajah serius, ia terus mewarnai gambar di hadapannya, seolah-olah keberadaanku tak lebih dari noda yang harus disingkirkan.

Setelah menyumbangkan kornea mata kananku, komplikasi pascaoperasi membuat penglihatan mata kiriku pun jauh menurun. Melihatku menatap pola di gambar itu tanpa berkedip, Ara mengerucutkan bibir lalu mendorong tubuhku dengan kasar.

“Kamu kan orang buta, memangnya bisa mengerti aku menggambar apa?”

“Aku menggambar waktu Papa masak untuk aku dan Bibi Farah kemarin!”

“Papa juga sudah cerita, kamu itu penjiplak yang hina, bahkan mencuri lukisan Bibi Farah. Aku tidak mau kamu menemaniku!”

Seiring tatapan jijik putriku, aku perlahan menutup pintu kamar. Jantung buatan yang tadinya berdetak stabil, seolah dihantam keras, berdenyut nyeri hingga terasa seperti terpelintir.

Aku tahu mereka membenciku.

Rasa benci itu muncul karena saat operasi transplantasi jantung Ara dan kornea Roni, aku tidak muncul merawat mereka. Sebaliknya, juniorku, Farah, justru setia berada di sisi mereka, merawat dan menemani mereka. Padahal saat itu aku sedang masa pemulihan pascaoperasi. Namun mereka mengira aku bermain cinta dengan pria lain.

Ketika aku pulang ke rumah, dengan keadaan buta sebelah dan jantung buatan berdetak di dadaku, Roni justru memaki saat melihat memar akibat gangguan pembekuan darah di tubuhku.

“Perempuan murahan! Kamu tidak bisa hidup tanpa lelaki, ya?”

“Kamu kira aku kena gagal jantung, terus kamu kabur dengan pria lain. Sekarang sudah buta sebelah baru kembali mencariku.”

“Luna, aku ingin kamu menebus dosa dengan berada di sisiku seumur hidup!”

Saat itu aku tak mampu mengatakan bahwa akulah pendonornya. Karena aku tak ingin orang yang kucintai dan anakku menanggung rasa bersalah seumur hidup. Namun aku tak pernah menyangka bahwa pilihan untuk menyembunyikan kebenaran itu justru membuat mereka dikuasai kebencian dan mampu melukaiku tanpa sedikit pun rasa ragu.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 8

    Pada hari jenazahku dikremasi, Ara berdiri terpaku di samping Roni. Baru beberapa hari berlalu, namun wajah kecil yang dulu aku rawat hingga tampak merah muda dan berisi itu kini sudah tampak mengering dan pucat.Ara menatap batu nisanku, lalu bertanya dengan suara lirih, “Papa, apa setelah ini aku benar-benar tidak akan bisa melihat Mama lagi?”Roni hanya merespons dengan usapan di kepala Ara, ia tak tega mengatakan bahwa orang mati tak mungkin hidup kembali.Seolah sedang merajuk, Ara mengerucutkan bibirnya.“Kenapa dia tega meninggalkanku?”“Jelas-jelas dia kabur dengan orang lain. Bibi Farah bilang Mama tidak mencintaiku.”Suara Roni tercekat, air mata besar jatuh dari matanya. Ia berjongkok, meniru caraku dulu saat menenangkan Ara, lalu mencubit lembut pipinya.“Mama bukan tidak menginginkanmu.”“Dia pergi untuk meninggalkan jantungnya padamu.”“Dia kehilangan satu matanya agar Ayah masih bisa melihat dunia ini.”“Ara, Mama adalah orang yang paling mencintaimu di dunia ini.”Namun

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 7

    “Ada retakan pada tulang kering.”“Di bagian belakang betis terdapat bekas sayatan sepatu es sepanjang 10 sentimeter, berbentuk melengkung, ini adalah luka yang disengaja oleh manusia.”“Di bawah tulang rusuk rongga dada terdapat titik-titik perdarahan, disebabkan oleh tekanan benda tajam.”“Jantung buatan berhenti berfungsi akibat terpapar suhu rendah dalam waktu lama.”Polisi mengangkat kepala, menatap Roni yang tampak linglung dengan sorot penuh simpati. “Istri Anda meninggal di Negara Es karena dibunuh.”Alis Roni langsung berkerut, dadanya naik turun dengan hebat seiring napasnya yang terasa berat.“Pasti dibunuh oleh pria selingkuhannya!”“Sudah ditemukan siapa orang terakhir yang bersamanya?!”Polisi menghela napas pelan. “Apa Anda punya bukti konkret tentang pria selingkuhan yang Anda maksud?”“Saat Nyonya Luna lari keluar dari vila sebelum meninggal, dia tidak membawa apa pun.”“Ketika Anda membereskan barang-barangnya, apa Anda tidak menyadari bahwa dia sama sekali tidak memb

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 6

    Setelah menutup telepon, Rino tersenyum ke arah Farah yang wajahnya tampak agak pucat.“Sepertinya Luna ingin kembali. Dia sampai menyewa orang untuk mengujiku.”“Farah, jangan khawatir. Begitu dia pulang, aku akan langsung menceraikannya.”“Hanya membayangkan wajahnya saja sudah membuatku mual. Sudah buta sebelah, masih juga tak bisa menahan diri untuk berselingkuh. Perempuan murahan seperti dia memang seharusnya segera enyah!”Roni terus berbicara tentang aku, namun Farah tampak tidak sepenuhnya fokus dan hanya menanggapi dengan seadanya. Setelah itu, Ara berlari menghampiri Farah sambil memeluk buku dongeng, meminta Farah membacakan cerita sebelum tidur.Wajah Farah justru mengeras. Saat ceritanya sampai pada kisah "Putri Duyung Kecil", ia berkata dengan nada dingin dan kejam, “Putri duyung seharusnya membunuh sang putri. Lagi pula pangeran sama sekali tidak mencintainya.”“Hanya orang yang saling mencintai yang pantas bersama. Sang putri cuma menang karena latar belakang keluargany

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 5

    Saat Roni kembali, ia mendapati pintu vila terbuka lebar. Aku yang seharusnya terbaring di tempat tidur karena patah tulang kaki, tidak bisa ditemukan di mana pun. Aku menghilang tanpa jejak.Entah mengapa, hati Roni mendadak diliputi rasa gelisah. Ia naik turun lantai beberapa kali, memanggil namaku, namun tak ada satu pun jawaban.Ara mengerucutkan bibir, seraya bicara, “Papa, telepon saja Mama… maksudku, telepon saja dia.”Mata bening Roni terlihat berkaca-kaca, ia tampak ketakutan oleh kepergianku yang tiba-tiba. Roni mencoba menghubungiku, namun ponselku telah membeku dan mati otomatis. Melihat Roni mengernyit sambil menurunkan ponselnya, Farah justru tersenyum tipis.“Kak Roni, Ara, jangan khawatir.”“Kemarin aku melihat Kak Luna akrab sekali dengan seorang instruktur ski. Sepertinya hari ini mereka sudah janjian pergi bermain.”Mendengar itu, urat di pelipis Roni seketika menegang. Roni pun marah dan membanting ponsel ke lantai.“Aku mengkhawatirkannya? Perempuan tak tahu malu i

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 4

    Tulang jariku yang patah bahkan belum sempat pulih, aku sudah dipaksa Roni naik pesawat ke luar negeri menuju Negara Es hanya karena Farah ingin bermain ski.Dengan sikap pura-pura iba, Farah berkata lirih, “Jangan tinggalkan Kak Luna sendirian di rumah. Ajak dia ikut saja.”Roni seolah lupa bahwa aku pernah mengatakan kalau aku tidak boleh berolahraga. Saat aku menolak, ia malah mencibir.“Kamu bercanda, ya? Apa kamu mengira kamu itu boneka porselen?”“Farah mengajakmu itu karena dia menghormatimu. Jangan tidak tahu diri!”Aku diseret paksa ke arena ski, Farah hanya menatap bibirku yang pucat lalu tersenyum sinis. Ia kemudian menunjuk ke arah Roni yang sedang membantu Ara mengenakan perlengkapan pelindung.“Kudengar dulu justru Kak Roni yang mengajarimu bermain ski. Sekarang, sekedar menyentuh tanganmu saja dia sudah tak sudi.”Farah sengaja memperlambat laju dan meluncur sejajar denganku, lalu tongkat ski logamnya menghantam keras kakiku yang kanan, sambil berkata, “Coba tebak, kalau

  • Cinta Dan Benci Biarlah Diakhiri Dengan Kematian   Bab 3

    Saat Roni memperhatikan perban yang melilit kakiku, sorot matanya sempat berkilat sejenak, seperti kilatan seseorang yang merasa kasihan, kemudian ia berkata, “Hari ini pembukaan pameran lukisan Farah. Dia terus menerus bilang ingin kamu ikut melihatnya. Ikutlah bersama kami.”Nada bicara Roni pun terdengar seperti belas kasihan dari seseorang dengan posisi yang tinggi. Sejak kapan keluar rumah bersama mereka pun menjadi semacam anugerah yang diberikan dengan kemurahan hati?Aku merasakan jantung buatan di dadaku berdetak dengan susah payah. Namun di saat yang sama, tiba-tiba aku teringat masa lalu, saat kami bertiga pergi ke taman hiburan. Ara tersenyum cerah sambil menyodorkan permen kapas ke bibirku. Sementara Roni mengipasi wajahku dengan kipas kecil untuk mengusir panas yang kurasakan.Kini, semua itu tinggal kenangan.Ara terdengar menggerutu kesal, “Papa, kenapa dia ikut ke pameran lukisan? Melihatnya saja sudah merusak suasana!”Roni mencubit pipi Ara sambil tersenyum, lalu men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status