共有

Bab 3

作者: Flower
Sayangnya aku tidak punya pilihan, sebuah daya tarik besar menyeretku kembali ke sisinya.

Di hadapanku tergeletak seekor anjing yang mulutnya berbusa putih.

Amelia terjatuh dalam pelukan Ibu sambil menangis tersedu-sedu. "Kenapa kalian memaksa dia datang ke pesta ulang tahunku, sampai dia malu dan marah lalu membunuh anjing kecilku!"

Ibu menenangkannya dengan penuh iba. "Ini salah Ibu, anak baik, jangan menangis lagi."

Ayah begitu marah sampai hampir pingsan. "Kalau aku menemukan anak durhaka itu, akan kupukul dia sampai mati dengan tongkat ini!"

Melihat adegan itu, Laurent dengan marah mengeluarkan ponsel dan meneleponku, tetapi dari seberang hanya terdengar nada pemberitahuan yang dingin.

Dengan tidak rela dia menelepon berkali-kali, tetapi tetap tak ada jawaban.

"Dia pasti ketakutan lalu bersembunyi! Kita menelepon juga nggak diangkat!"

Orang tuaku berkata dengan geram.

Laurent meyakinkan mereka bahwa dia pasti akan menemukanku dan membuatku membayar atas kejahatanku!

Tiba-tiba Amelia menatapnya. "Tapi Kak, bukankah kamu masih menangani kasus pembunuhan itu?"

Laurent tertegun sejenak, teringat pada mayat perempuan tanpa kepala yang malang itu, tetapi akhirnya dia tetap berkata, "Aku masih punya banyak rekan profesional, mereka bisa membantu menanganinya. Hari ini aku harus menemukan Elena!"

Dia mengusap kepala adikku dengan lembut. "Tenang saja, aku pasti akan memberimu penjelasan."

Orang tua pun menimpali, "Nak, setelah menemukan dia, lebih baik kamu cerai saja dengannya, lalu menikah dengan Amelia. Perempuan sekejam Elena sama sekali nggak pantas untukmu!"

Aku menoleh menatap Laurent, berusaha mencari jawabannya dari wajahnya.

Namun dia tidak menanggapi ucapan orang tuaku, hanya diam-diam menguburkan anjing kecil yang sudah mati itu.

Setelah selesai, dia bergegas menuju firma hukum tempatku bekerja, tetapi diberi tahu, "Pak Laurent, aku justru hendak menelepon Anda. Elena dua hari ini nggak masuk kerja, ditelepon juga nggak diangkat. Besok sudah sidang, semua orang sangat cemas. Boleh tahu apa dia mengalami sesuatu?"

Laurent mencibir, "Apa yang bisa terjadi padanya, pagi ini saja dia masih sibuk meracuni anjing adiknya."

Keluar dari rumah sakit, dia kembali mencari beberapa sahabat dekatku, tetapi semuanya mengatakan tidak melihatku.

Salah satu yang paling dekat bahkan memarahinya, "Laurent, bisakah kamu berhenti memperlakukan Elena seburuk itu? Baru menikah beberapa tahun, setiap bulan dia datang mencariku sambil menangis berkali-kali."

Laurent berkata dengan tidak sabar, "Semua itu pantas dia terima. Kalau bukan karena dia begitu gigih dalam menangani kasus itu, bagaimana mungkin keluarga terdakwa menyimpan dendam lalu menerobos rumahku dan menikam orang tuaku sampai mati! Aku sudah cukup baik mau menikahinya sesuai janji!"

Temanku yang marah segera berbalik dan berteriak padanya, "Kamu pasti akan menyesal suatu hari nanti!"

Aku bersembunyi di sudut. Melihat temanku yang hampir menangis karena marah, mataku ikut memerah.

Selama bertahun-tahun ini, tanpa dukungan mereka dari belakang, aku tak mungkin mampu bertahan sejauh ini.

Aku kembali menatap pria yang berdiri dengan bingung di tengah jalan.

Laurent, kamu tidak perlu mencariku lagi, aku berada di tempat yang paling kamu kenal.

Aku ada di atas meja otopsi yang dingin itu.

Tiba-tiba ponselnya berdering, panggilan dari laboratorium.

Asisten Evan berbicara dengan nada mendesak, "Gawat, Dokter Laurent, kami sudah mendapatkan hasil DNA korban, cepat kembali dan lihat!"

Laurent melirik jam tangannya, berkata tidak sabar, "Sudah kukatakan kasus ini serahkan pada kalian. Aku masih ada urusan, kalian laporkan saja ke polisi sendiri."

Dia bahkan tidak menunggu jawaban Asisten Evan, segera memutus panggilan.

Laurent kembali ke rumah, membongkar lemari dan laci mencari barang-barangku, hingga menemukan sebuah gelang.

Pupil mataku menyempit, itu adalah hadiah kencan pertamanya untukku.

Tanpa sadar aku menerjang ke arahnya.

Namun detik berikutnya gelang itu sudah dibanting Laurent hingga hancur berkeping-keping, serpihannya menembus telapak tanganku.

Tidak ... tidak!

Aku menatap Laurent dengan penuh kebencian, tetapi raut wajahnya tak berubah. Dia dengan tenang memotret, lalu mengirimkannya ke ponselku.

[Elena, kalau kamu masih nggak kembali untuk mengakui kesalahanmu, aku akan menghancurkan segalanya milikmu!]

[Setiap tiga puluh menit, aku akan menghancurkan satu barang. Gelang ini baru permulaan.]

Aku berdiri terpaku, merasa jiwaku hampir terkuras habis.

Laurent! Aku sudah mati! Bagaimana aku bisa muncul!

Aku meraung padanya, menghantam dadanya, tetapi dia tidak bisa mendengar dan tidak merasakan apa pun.

Begitulah, aku hanya bisa menyaksikan dia merobek gaun kesayanganku, menginjak-injak bunga yang selama bertahun-tahun kurawat dengan penuh cinta, lalu perlahan berjalan menuju anak kucing yang tertidur di sudut.

Tidak ... jangan! Tidak boleh! Laurent, itu kucing liar yang kita pungut bersama, Kitty! Bukankah kamu paling menyayanginya?

Laurent mencengkeram tengkuk kucing itu, lalu mengirimkan ultimatum terakhir di kotak chat.

[Elena, kalau dalam sepuluh detik kamu nggak membalas pesanku, aku akan menyakitinya.]

Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua ....

Satu.

Pada saat itu, pintu ditendang terbuka. Laurent menyunggingkan senyum puas. "Elena, akhirnya kamu rela pulang."

Namun saat dia berbalik, Asisten Evan meninju Laurent hingga terjatuh, lalu melemparkan sebuah laporan pemeriksaan ke wajahnya dengan keras.

"Laurent, kenapa kamu bisa sedingin ini! Tahukah kamu bahwa mayat yang kepalanya dipenggal dan dipukuli sampai mati itu adalah istrimu!"

"Elena!"
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Cinta, Dendam, dan Takdir   Bab 7

    Dia melambai ke arah Amelia di pantai, gadis itu dengan gembira berlari dan memeluknya.Namun di detik berikutnya, dia tanpa ampun menekan perempuan itu ke dalam air laut, Amelia tersedak dan berjuang dengan keras."Laurent ... Kak Laurent ... kamu ini ...."Air laut yang masuk ke rongga hidung membuatnya tak mampu mengucapkan satu kalimat pun dengan utuh.Tepat ketika Amelia hampir kehabisan napas, barulah Laurent mengangkat kepalanya.Ketenangan yang ditekan begitu lama kini berubah menjadi aura membunuh yang pekat, dia mengertakkan gigi. "Beraninya kamu berani membunuh Elena dan orang tuaku!" Amelia tertegun sesaat, lalu tiba-tiba tertawa dengan wajah mengerikan. "Jadi kamu sudah tahu. Lalu kenapa? Dia sudah mati! Dan matinya sangat, sangat menyedihkan!""Tenang saja, kamu akan mati lebih menyedihkan darinya." Wajah Laurent muram, lalu kembali menekan kepalanya ke dalam air laut.Saat itulah Amelia mengeluarkan sebuah pisau cutter dari sakunya, dan dengan kejam ditusukkan pergelang

  • Cinta, Dendam, dan Takdir   Bab 6

    Aku memang sudah berkali-kali mengajukan perceraian kepada Laurent.Namun setiap kali, dia selalu menghindari jawaban langsung.Sampai suatu malam aku melihatnya keluar dari kamar adikku di tengah malam, aku benar-benar murka dan melemparkan surat perjanjian cerai ke hadapannya.Namun dia bukan hanya tidak menandatanganinya, malah segera mengangkatku ke kamar tidur dan melemparkanku ke atas ranjang.Ciuman demi ciuman bertubi-tubi mendarat di tubuhku."Kamu kira aku tidur dengan adikmu?"Dia menghujam tubuhku dengan kejam, sementara rasa perih yang menyayat perlahan merenggut kesadaranku.Laurent mencengkeram daguku, wajahnya diselimuti awan gelap."Elena, apa hakmu menatapku seperti itu? Kamu sudah membuat hidupku sehancur ini, aku nggak akan melepaskanmu dengan mudah. Aku akan menahanmu di sisiku dan menyiksamu habis-habisan!"Air mataku mengalir tanpa henti, aku memohon agar dia berhenti.Namun dia tidak berhenti. Keesokan paginya aku turun sambil menopang dinding, malah melihat Lau

  • Cinta, Dendam, dan Takdir   Bab 5

    (Sudut pandang Elena)Petugas polisi segera beranjak pergi. Sementara itu, Laurent terpaku di tempat, akhirnya tetap berdiri dan berlari keluar mengikutinya. Di tengah jalan dirinya bahkan terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Beberapa dokter forensik saling berpandangan, lalu ikut menyusul.Di tepi sungai bawah jembatan, Laurent mendorong kerumunan orang, terpaku menatap kepala yang terendam hingga membengkak dan mengeluarkan bau busuk yang menyengat.Sebagai dokter forensik yang telah menangani ratusan mayat, saat ini kakinya seolah terpatri di semen, tidak berani melangkah mendekat sedikit pun.Dokter forensik lainnya juga menyusul. Namun begitu melirik sekilas sudah tak dapat menahan diri dan muntah.Dibandingkan dengan tubuh itu, kepala ini terasa lebih mengerikan, terutama sepasang mata yang terbelalak lebar, penuh ketidakrelaan.Meski wajahku sudah rusak tak berbentuk, Laurent tetap mengenaliku.Tatapan ini sangat dikenalnya.Dengan tatapan inilah aku memandangnya selama tiga

  • Cinta, Dendam, dan Takdir   Bab 4

    (Sudut pandang orang ketiga)Laurent mendadak kaku. Dia tak sempat memedulikan lebam di wajahnya, segera mencengkeram kerah Asisten Evan. "Kamu ... kamu bilang apa?"Dengan kalap dia memungut berkas di lantai. "Omong kosong apa ini, pagi ini dia masih pulang ke rumah, mana mungkin dia sudah mati ...."Namun detik berikutnya, matanya menangkap angka kecocokan sembilan puluh sembilan persen.Dia mendorong Asisten Evan seperti orang gila, lalu berlari ke kantor polisi, sementara pihak kepolisian di sana memang sudah lama menunggunya."Rekaman pengawas sengaja dirusak, tapi bagian teknisnya sudah kami pulihkan."Polisi memintanya menahan duka, lalu memutar sebuah rekaman dari ponsel.Di layar, Elena ditutup kepalanya dengan kain hitam, lalu dilempar ke dalam pabrik terbengkalai oleh beberapa pria bertubuh besar.Di belakang mereka menyusul seorang gadis bertubuh kecil, membungkus diri rapat-rapat hingga wajahnya tak terlihat.Laurent menekan tombol jeda, memperbesar gambar berulang kali. S

  • Cinta, Dendam, dan Takdir   Bab 3

    Sayangnya aku tidak punya pilihan, sebuah daya tarik besar menyeretku kembali ke sisinya.Di hadapanku tergeletak seekor anjing yang mulutnya berbusa putih.Amelia terjatuh dalam pelukan Ibu sambil menangis tersedu-sedu. "Kenapa kalian memaksa dia datang ke pesta ulang tahunku, sampai dia malu dan marah lalu membunuh anjing kecilku!"Ibu menenangkannya dengan penuh iba. "Ini salah Ibu, anak baik, jangan menangis lagi."Ayah begitu marah sampai hampir pingsan. "Kalau aku menemukan anak durhaka itu, akan kupukul dia sampai mati dengan tongkat ini!"Melihat adegan itu, Laurent dengan marah mengeluarkan ponsel dan meneleponku, tetapi dari seberang hanya terdengar nada pemberitahuan yang dingin.Dengan tidak rela dia menelepon berkali-kali, tetapi tetap tak ada jawaban."Dia pasti ketakutan lalu bersembunyi! Kita menelepon juga nggak diangkat!"Orang tuaku berkata dengan geram.Laurent meyakinkan mereka bahwa dia pasti akan menemukanku dan membuatku membayar atas kejahatanku!Tiba-tiba Amel

  • Cinta, Dendam, dan Takdir   Bab 2

    "Kak, cepat berteduh di bawah payungku, jangan sampai kehujanan."Amelia berjinjit memayunginya, Laurent segera mengambil payung itu.Suami yang dulu memandangku dengan dingin, kini justru dengan penuh perhatian memiringkan payung ke arah adikku, lalu merangkulnya ke dalam pelukan, takut adikku terkena setetes hujan pun.Dia sedang tersenyum, ketika tiba-tiba adikku bertanya, "Kakak, bagaimana dengan Kak Elena? Dia nggak pulang, juga nggak menghubungimu?"Senyum Laurent mendadak menghilang. Dengan nada tidak sabar, dia berkata, "Jangan pikirkan dia. Hari ini ulang tahunmu, jangan biarkan orang yang tak pantas mengganggu kebahagiaanmu.""Ayo, aku ajak kamu makan malam, anggap saja menebus kesalahanku karena tadi pergi lebih awal."Keduanya berjalan berdampingan, benar-benar seperti sepasang pengantin baru yang manis.Aku berada di belakang mereka, membiarkan tetesan hujan menembus jiwaku, menghancurkan sisa harapanku yang terakhir.Laurent, kalau kamu merasa orang tuamu mati karena aku,

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status