로그인Aluna duduk tegak, tasnya dipeluk di dadanya, Ia mengenali hampir setiap sudut gedung itu, lantai mengilap yang dulu ia lintasi dengan langkah cepat, dinding kaca yang pernah memantulkan bayangan dirinya saat masih percaya bahwa kerja keras selalu berakhir adil.Sekarang, semua terasa asing.Seorang staf HR lewat tanpa menyapa, seorang manajer lama melirik sekilas, lalu berpaling seolah Aluna hanya bayangan masa lalu yang tidak perlu disapa.Aluna menelan ludah.Tenang, batinnya,ini hanya pemeriksaan,bukan penghakiman.Namanya dipanggil.Ia berdiri, melangkah masuk ke ruang rapat kecil dengan meja panjang dan tiga kursi di seberang. Dua orang pria dan satu perempuan duduk rapi, wajah profesional tanpa ekspresi berlebih.“Silakan duduk, Aluna,” ucap salah satu dari mereka.Aluna duduk.Pertanyaan-pertanyaan datang rapi dan terstruktur. tentang dokumen,tentang keputusan administratif. tentang komunikasi lama, tentang ke
Pagi datang lebih cepat dari yang Leonard harapkan.Cahaya matahari menyelinap melalui sela tirai apartemen, menyentuh meja kecil dan kursi yang semalam menjadi saksi percakapan mereka.Aluna sudah bangun lebih dulu,ia berdiri di dapur kecil, menyiapkan dua cangkir kopi.Leonard keluar dari kamar, masih dengan rambut sedikit berantakan.“Kamu tidak tidur?” tanya Leonard.“Tidur, tapi kepalaku bangun lebih dulu dari badanku.”Leonard tersenyum tipis, lalu duduk.Aluna meletakkan cangkir di hadapan Leonard. “Aku dapat kabar pagi ini."“Dari siapa?”“Dari kantor.....” Aluna berhenti, lalu membenarkan ucapannya, “dari mantan kantor kamu.”Leonard mengangguk kecil. “Dan?”“Mereka mempercepat restrukturisasi,ada audit lanjutan dan beberapa nama lama dipanggil ulang.” Aluna menatap kopi di tangannya. “Termasuk namaku.”Leonard langsung menegakkan tubuhnya. “Kapan?”“Siang ini.”
Leonard masih berdiri di balkon, matanya menelusuri lampu-lampu kota yang berkelip, sedangkan Aluna ia tetap di sisi Leonard.Ponsel Leonard bergetar pelan di saku jaketnya.Sekali.Berhenti.Lalu bergetar lagi.Leonard menatap layar tanpa segera mengangkatnya,nama yang muncul membuat rahangnya mengeras.Andrew.“Ada apa?” tanya Aluna, langsung menangkap perubahan di wajah Leonard.Leonard mengangkat panggilan itu. “Ya.”Suara Andrew terdengar lebih rendah dari biasanya.“Bos, Ini bukan kabar baik.”Leonard menutup mata sesaat. “Bicaralah."“Raka mulai bergerak,dia tidak datang langsung ke anda,tapi dia masuk lewat jaringan lama,mantan rekan proyek, vendor lama, bahkan beberapa orang yang dulu anda lindungi,dan dia menawarkan kesempatan kedua,dan modal besar,akses cepat, tapi dengan satu narasi, anda pemimpin hebat yang tersingkir secara tidak adil dan butuh panggung baru.”Leonard terta
Mobil melaju pelan meninggalkan kedai, Leonard memandang jalanan di depan, tapi pikirannya jauh melampaui persimpangan yang mereka lewati.“Raka bukan tipe yang menyerang langsung,dia menunggu,mengamati,lalu menekan di titik paling lemah.”Aluna menoleh. “Dan titik lemahnya di mana?”Leonard terdiam cukup lama sebelum menjawab.“Di masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.”Aluna mengernyit. “Maksudmu…?”“Orang seperti dia akan menggali semua, keputusan lama, orang-orang yang pernah aku singkirkan, luka yang belum selesai,dia tidak perlu menjatuhkanku secara terbuka,cukup membuatku meragukan diriku sendiri.”Mobil berhenti di lampu merah. Leonard menghela napas panjang.“Persaingan yang paling menyakitkan bukan soal siapa lebih kuat, tapi siapa yang lebih paham luka lawannya.”Aluna menyentuh lengan Leonard. “Dan lukamu bukan rahasia bagiku.”Leonard menoleh, menatap Aluna sejenak.“Itu yang membuatku takut
Pintu kedai terbuka ,seorang pria masuk, mengenakan setelan rapi yang terasa terlalu formal untuk tempat sekecil itu, langkahnya tenang, matanya tajam.Leonard menegakkan punggungnya sedikit,ada sesuatu yang familiar dari aura itu.Pria itu memesan kopi, lalu tanpa bertanya duduk di kursi kosong tak jauh dari mereka.“Leonard." ucapnya pria itu santai,seolah menyebut nama yang sudah lama dikenalnya.Aluna refleks menggenggam tangan Leonard. Leonard menoleh dan menatap pria itu lurus. “Saya rasa kita belum berkenalan.”Pria itu tersenyum tipis. “Memang belum,tapi saya cukup lama mengikuti langkah Anda.”pria itu mengulurkan tangan. “Raka Pradipta.”Nama itu membuat alis Leonard bergerak, Raka Pradipta investor bayangan, konsultan krisis, orang yang muncul di balik banyak restrukturisasi perusahaan besar dan tidak pernah muncul di depan kamera.“Tenang,” lanjut Raka, seolah membaca kewaspadaan mereka. “Saya tidak datang seb
Pagi harinya...Cahaya matahari masuk pelan melalui sela tirai. Leonard membuka mata dengan perasaan asing.Di sampingnya, Aluna masih terlelap,napasnya teratur, wajahnya damai.Leonard bangkit perlahan, tidak ingin membangunkan Aluna, Ia berdiri di dekat jendela, menatap kota.Aluna bergerak kecil, lalu membuka mata.“Kamu sudah bangun?” suaranya masih serak.Leonard menoleh dan tersenyum. “Iya.”“Kamu lagi mikirin apa?” tanya Aluna sambil duduk.Leonard berpikir sejenak sebelum menjawab. “Ke masa depan, dan kali ini aku merasa tidak panik.”Aluna tersenyum kecil. “Itu terdengar seperti awal baru.”Leonard mendekat, duduk di tepi ranjang. “Aku tidak tahu harus mulai dari mana, aku tidak punya jabatan, tidak punya panggung, dan mungkin untuk sementara tidak punya arah.”Aluna mengulurkan tangan, menggenggam tangan Leonard. “Awal tidak selalu butuh peta,kadang cukup langkah pertama.”“Da







