Home / Urban / Cinta Di Ujung Senja / Asisten Pribadi

Share

Asisten Pribadi

Author: Icha Mawik
last update Petsa ng paglalathala: 2021-05-19 14:05:34

Kata-kata Allric masih terngiang di telinga Kirana. Gadis itu terus saja memikirkan tawaran Allaric, yang ingin membantunya untuk biaya pengobatan mamanya. Saat istirahat siang, Kirana memutuskan untuk ke rumah sakit menjenguk Mamanya. Setelah memastikan kondisi Mamanya dan berbincang sejenak bersama Dokter dan perawat. Kirana pun memutuskan untuk kembali ke kantornya.

Kirana pun telah kembali lagi ke kantornya. Seperti biasa, Ia akan langsung melanjutkan pekerjaan yang sempat Ia tinggal karena harus kembali ke rumah sakit. 

"Kirana, Kamu berikan ini pada, Tuan yah!" perintah Maya.

"Baik," sahut Kirana.

"Tapi, sebaiknya Kamu periksa kembali. Saya takut ada yang keliru," pintanya. Kini Maya tidak berani lagi memerintah Kirana dengan semau hatinya. Ia telah mendapat peringatan yang keras dari Alan. Walau ada perasaan kesal dan marah di hatinya. Maya, kembali mencoba menerima semua. 

Lagi pula, Kirana tidak pernah berulah yang membuatnya kesal. Sebaliknya, Kirana selalu berusaha untuk menjalankan semua perintahnya dengan baik. Selama ikut bersamanya, Kirana selalu memberikan hasil kerja yang memuaskan. Tak jarang, Maya memuji kinerjanya. Kirana gadis yang cerdas.

"Baik, Bu," jawab Kirana lagi.

"Oh ya! Bagaimana keadaan mamamu? Apa beliau sudah ada kemajuan?" tanya Maya.

"Sampai saat ini, kondisinya masih stabil," jawab Kirana.

"Baiklah, cepat selesaikan. Minggu depan, Bos akan ke luar negeri." ucapnya berlalu dari hadapan Kirana.

Kirana hanya mengangguk pelan. Ia terkejut dengan perubahan sikap Maya padanya. Ia pun mulai mengerjakan tugas yang di berikan oleh Maya. Tanpa Ia sadari, Allaric masih saja memperhatikannya dari balik kaca.

"Aku heran dengan gadis itu. Apa yang ada di dalam pikirannya?" cetus Allaric kesal.

"Mungkin, dia tidak mau merepotkan Anda," sahut Alan terdengar santai.

"Dia wanitaku. Aku siap melakukan apa saja untuknya!" hardik Allaric.

"Tuan mengklaim dia adalah milik, Tuan. Tapi, apa Tuan pernah berkata langsung padanya?" tanya Alan.

Allaric terdiam. Benar apa yang dikatakan Alan. Sampai saat ini, dirinya belum mengatakan apapun pada Kirana tentang perasaannya. Allaric sendiri bingung dengan perasaannya.

"Jadi, apa yang harus Aku lakukan?" tanya Allaric.

"Anda harus mengatakan apa yang Anda rasakan terhadapnya!" seru Alan.

"Tapi, bagaimana mungkin? Seorang Allaric Wiguna menyatakan cinta pada seorang gadis. Terdengar lucu sekali," timpal Allaric tidak terima.

"Tuan, Kirana bukan gadis sembarangan. Dia istimewah dan berbeda dari yang lain," potong Alan.

"Kau memujinya!" sergah Allaric.

"Saya tidak memujinya. Bukankah, Tuan sendiri yang selalu mengatakan kalau Kirana adalah gadis yang istimewah di mata Tuan?" kilah Alan. Ia mencari jalur aman. Ia tidak mau sampai Bos nya marah hanya karena ia salah bicara.

Allaric tersenyum. "Kau benar! Kirana memang istimewah," gumam Allaric.

****

"Apa yanga harud Aku lakukan? Dimana Aku harus mendapatkan uang untuk biaya operasi dan pengobatan untuk mama?" Kirana bergumam sendiri. Ia baru saja kembali dari rumah sakit dan menyaksikan mamanya kejang-kejang lagi. Dokter menyarankan pada Kirana agar mamanya segera dioperasi.

"Apa sebaiknya, Aku menerima tawaran tuan Allaric?" gumam Kirana.

Kirana mengempaskan tubuhnya ke ranjang dan mulai memejamkan. Mencoba untuk tidur dan beristirahat.

Keesokkan harinya. Sebelum ke kantor, Kirana menyempatkan diri ke rumah sakit untuk menjenguk Mamanya. Ia menatap lirih pada seseorang yang kini terbaring tak berdaya dengan berbagai alat bantu terpasang hampir di seluruh tubuhnya.

"Mama harus sembuh, Ma. Nana, akan berjuang sekuat tenaga untuk kesembuhan, Mama," kata Kirana lirih. Kirana mengusap air matanya kemudian melangkah meninggalkan rumah sakit dan kembali ke kantornya.

Tiba di kantornya, Kirana langsung saja menuju ke ruangan Allaric yang masih terlihat kosong. Ia segera membereskan meja dan menata kembali ruangan seperti biasanya. Setelah suanya selesai, Kirana pun kembali ke mejanya dan mengerjakan pekerjaannya.

Setengah jam kemudian, Allaric dan Alan tibadi kantor.

"Selamat pagi, Tuan!' sapa Kirana.

Allaric hanya mengangguk dan tersenyum tipis dan melanjutkan langkahnya. Berbeda dengan Alalric, Alan memilih mampir ke meja Kirana dan menyapanya.

"Selamat pagi," tegur Alan.

"Pagi, Tuan," sahut Kirana.

"Kamu sudah siap untuk hari ini?" tanya Alan.

"Hari ini? Hari ini kenapa Tuan?" tanya Kirana bingung.

"Kamu tidak tau!" seru Alan.

Kirana hanya menggeleng pelan. Alan tersenyum dan menatap ke arah Kirana yang masih bingung.

"Aku akan mengajarimu beberapa hal, tentang Bos Kita," ucap Alan.

"Mengajari Apa, Tuan?" Kirana sakin bingung.

"Mengajarimu, semuanya tentang Bos Kita," ucap Alan.

"Tapi, untuk apa, Tuan?" tanya Kirana semakin tidak mengerti.

"Aku akan keluar negeri untuk waktu yang lama. Jadi, Aku tidak percaya pada siapapun selaun Kamu." Alan menunjuk ke arah Kirana.

"Saya?" Kirana menunjuk dirinya. 

Alan mengangguk cepat.

"Tapi, mengapa harus Saya, Tuan?" lanjut Kirana bertanya.

"Karena Kamu adalah sekretaris pribadinya," sahut Alan.

"Apa? Kapan?" teriak Kirana.

"Mulai hari ini!" seru Alan.

"Tidak, Tuan! Saya tidak bisa," tolak Kirana.

"Kamu tidak bisa menolak. Ini sudah keputusan dari Bos," terang Alan.

"Tapi, Tuan," Kirana masih berusaha untuk menolak.

Alan hana menjawab dengan gelengan kepala dan jari telunjuk yang menari-nari. Alan pun meninggalkan Kirana dengan wajah bingung. Sepeninggalan Alan, Kirana menghempaskan diri di kursi kerjanya. 

"Apa yang harus Aku lakukan sekarang? Aku sudah berusaha untuk menghindar darinya. Tapi, mengapa justru keadaan selalu membuatku untuk dekat dengannya? Semakin Aku berusaha untuk menghindar, Aku malah semakin dekat dengannya," gumam Kirana.

Wajah bingung Kirana terpantau jelas dari ruangan Allaric. Ia sedari tadi memperhatikan Kirana. Mulai dari gadis itu berbicara pada Alan hingga ia berbicara sendiri.

"Apa Dia menolak?" tanya Allaric.

"Seperti biasanya," sahut Alan santai.

"Aku tidak tau lagi, bagaimana caranya agar Dia segera tunduk padaku?" decak Allaric kesal. Alan hanya tersenyum mendengar ungkapan kekesalan Bos nya.

***

Beberapa hari kemudian, Kirana terlihat sibuk dengan semua jadwal Allaric yang padat. Benar apa yang dikatakan Alan. Seharusnya, Kirana sudah mempersiapkan diri sedari awal. Kini, sudah terlambat, Alan telah pergi dan meninggalkan Kirana dengan setumpuk jadwal Bos nya.

"Anda ada meeting malam ini di hotel X," ucap Kirana.

"Baiklah, Kamu bersiap dan ikut denganku," sahut Allaric.

"Apa?" tanya Kirana terkejut.

"Kamu keberatan!" hardik Allaric.

"Tidak, Tuan! Tapi,"

"Tapi?"

"Kalau malam hari biasanya, Saya menemani mama Saya," cicit Kirana.

Allaric terlihat mengangguk dan mengerti.

"Saya akan meminta beberapa suster untuk menjaga mama Kamu, agar Kamu bisa tenang selama menjalankan tugasmu," ungkap Allaric.

"Tidak perlu, Tuan. Saya bisa melakukannya sendiri," sahut Kirana.

"Dengan menolak ajakan untuk menemani Saya?" sela Allaric.

"Bukan begitu, Tuan. Saya hanya ...."

"Kenapa Kamu selalu berusaha menolak Saya? Apa sebegitu mengerikannya Saya, hingga membuatmu ketakutan?" cecar Allaric.

Kirana terdiam mendengar ucapan Bos nya.

"Mungkin banyak berita miring tentang Saya di luaran sana yang Kamu dengar. Tapi, asal Kamu tau. Saya tidak sebrengsek itu dan Saya juga tidak sembarangan memilih wanita untuk menemani Saya," lanjut Allaric.

Kirana terdiam. Ia benar-benar merasa bersalah pada Bos nya. Allaric menatap Kirana yang tertunduk dengan senyuman penuh arti. Allaric yakin, setelah ini Kirana akan luluh dan tunduk padanya.

bersambung.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Di Ujung Senja   Bab. Keputusan Terbesar Kirana

    Keheningan merayap perlahan mengisi sudut ruang tamu sederhana berukuran empat kali empat meter tersebut. Kirana memalingkan wajahnya dari Allaric yang kini terpejam lemas di atas sofa kain, dengan desis halus tabung oksigen yang setia menemaninya. Setiap hembusan napas pria itu terdengar begitu berat, seolah dada ringkihnya terus dipaksa bekerja menembus batas kemampuan fisik yang kian mengikis."Alan," panggil Kirana dengan suara sangat pelan, hampir menyerupai bisikan agar tidak mengusik Allaric yang tampak begitu kelelahan. "Bisa kita bicara sebentar di teras luar?"Alan mengangguk cepat. Ia membetulkan posisi selimut tipis yang menutupi bagian pinggang Allaric, memastikan bosnya berada dalam posisi aman, sebelum melangkah mengekor di belakang Kirana menuju teras rumah.Udara malam yang merayap dingin langsung menyapa kulit, saat Kirana menyandarkan punggungnya pada tiang teras rumah. Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua lengan bersedakap, berusaha meredam gejolak emosi dan ra

  • Cinta Di Ujung Senja   Bab. Pertahanan Yang Mulai Goyah

    Pertahanan Kirana yang mulai goyah, karena mendengar cerita sekaligus melihat kondisi Allaric. Ia kini semakin berada di ujung tanduk, ketika bunyi decitan pintu kamar anak-anak mendadak terdengar menyibak ketegangan. Keheningan yang tegang di teras rumah, pecah seketika saat dua pasang langkah kaki kecil berlarian mendekat ke arah pintu depan."Ibu, ada siapa?" celetuk Carmen seraya mengintip dari balik pinggang Kirana.Kirana tersentak panik, berniat menyuruh kedua anak kembarnya kembali masuk ke kamar. Namun, sebelum sepatah kata pun lolos dari bibirnya, mata bulat Carmen menangkap sosok pria yang duduk di atas kursi roda. Seulas senyum lebar mendadak terbit di wajah mungil gadis kecil itu, meruntuhkan raut curiga yang biasanya selalu ia tunjukkan pada orang baru. Carmen, yang selama ini dikenal sangat dingin dan penuh jarak jika berhadapan dengan orang asing, justru melangkah maju tanpa ragu sedikit pun."Paman tampan yang di taman!" seru Carmen girang, menunjuk ke arah Allaric de

  • Cinta Di Ujung Senja   Tamu di Pagi Hari

    Layar ponsel di atas meja rias kembali berpendar terang, memotong keheningan malam yang menyelimuti kamar Kirana. Getar halus perangkat kecil itu, seolah membawa gelombang kegelisahan baru. Kirana melangkah perlahan dari samping ranjang tingkat tempat Carlo dan Carmen tertidur pulas. Dengan jemari agak gemetar, perempuan itu meraih ponselnya lalu membuka pesan susulan yang dikirimkan oleh Alan.Isi pesan tersebut begitu lugas, meminta kepastian waktu agar Alan bisa menjemputnya besok pagi demi mempertemukannya dengan Allaric. Nama itu, sebuah nama yang sekian lama ia coba tenggelamkan di dasar ingatan paling dalam, kini kembali menyembur ke permukaan bagai belati yang siap menggores luka lama. Allaric Wiguna, pria arogan yang dulu memberikan pengalaman paling pahit dalam hidupnya, sekaligus sosok yang tanpa disadari telah memberinya dua malaikat kecil yang kini menjadi pusat semesta bagi Kirana.Kirana menarik napas panjang, meresapi rasa sesak yang mendadak menjejali dadanya. Ia mema

  • Cinta Di Ujung Senja   Penyesalan Seorang Ayah

    Satu jam setelah keputusan impulsif Allaric di ruang tengah, deru mesin mobil mewah yang berhenti kasar di halaman depan mansion Wiguna, langsung memecah ketenangan malam. Satpam penjaga gerbang utama bahkan tidak sempat menanyakan maksud kedatangan, ketika sosok pria paruh baya bertubuh tegap melangkah keluar dari kursi belakang. Alvaro Wiguna, sang taipan bisnis yang disegani di seantero negeri, berjalan melintasi koridor utama dengan langkah-langkah lebar yang sarat akan dominasi.Alan yang baru saja hendak melangkah keluar menuju lantai bawah, langsung menghentikan geraknya tepat di depan pintu ruang tengah. Matanya membelalak tak percaya mendapati kehadiran sosok yang paling dihindari oleh penghuni mansion ini selama bertahun-tahun."Tuan Alvaro?" celetuk Alan dengan nada suara yang tertahan di tenggorokan.Alvaro tidak menghentikan langkahnya sedikit pun. Pandangannya yang tajam terkunci pada pintu kayu jati yang masih terbuka separuh. "Singkirkan tanganmu dari pusingan gagang p

  • Cinta Di Ujung Senja   Bayangan Masa Lalu

    Suara detak jarum jam dinding berdentang lambat di ruang tengah mansion keluarga Wiguna. Bertha merapikan lipatan jas dokternya, menatap Allaric dengan raut wajah penuh keseriusan yang jarang ia perlihatkan. Alan berdiri tegap di sisi sofa, menyimak percakapan yang mendadak berubah menjadi sangat tegang."All, ada satu hal lagi yang sebenarnya harus aku katakan sejak dulu," buka Bertha. Pandangannya tidak lepas dari raut wajah pria di kursi roda itu. "Soal riwayat hasil pemeriksaan Kirana, sebelum dia menghilang."Allaric mengalihkan pandangannya dari jendela. "Soal apa lagi? Bukankah sudah kukatakan, kalau masa lalu itu tidak perlu diungkit?""Ini bukan sekadar masa lalu," potong Bertha tegas. "Hari, saat kau memintaku memeriksa Kirana karena dia sering mengeluh mual dan pusing. Aku melakukan tes darah lengkap. Hasilnya keluarbsehari, setelah Kirana dikabarkan menghilang."Ruangan itu seketika hening. Alan menahan napasnya, merasakan ada sinyal penting yang akan mengubah segalanya."

  • Cinta Di Ujung Senja   Bab 69. Ketegasan Kirana

    Dr. Bertha menghentikan usapan pada cangkir teh hangat di pangkuannya. Tatapannya tertahan pada susunan foto dalam bingkai kayu, di atas meja tamu rumah Allaric. Matanya membulat sempurna, memancarkan keterkejutan yang tak lagi bisa ia sembunyikan setelah mendengar penuturan jujur dari Alan."Maksudmu, Nyonya Wiguna pergi begitu saja, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun?" tanya Bertha. Suaranya terdengar tertahan, seolah mencoba mencerna setiap kalimat yang baru saja keluar dari mulut asisten pribadi di hadapannya.Alan mengangguk perlahan. "Benar Dokter. Tidak ada seorang pun yang tahu alasan pasti, kenapa Nyonya Wiguna memilih kabur saat itu. Malam setelah kejadian itu, Tuan Allaric seperti kehilangan akal sehatnya.""Dia memobilisasi seluruh jaringannya, mengerahkan puluhan anak buah hanya untuk menyisir setiap sudut kota, hingga area perbatasan," lanjut Alan sembari melirik Allaric yang sejak tadi memilih menatap kosong ke arah jendela kaca besar. "Tapi, Kirana seperti hilang dit

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status