Diculik ketika baru dilahirkan, dibuang ke panti asuhan, lalu dipungut oleh orang kepercayaan kakeknya sendiri, dan kemudian menjadi pelayan di rumah keluarganya sendiri, membuat Leon tumbuh menjadi seorang remaja rendah diri yang senantiasa ditindas orang. Padahal, dia sebenarnya adalah pewaris sah dari salah satu keluarga terkaya di dunia. Bagaimanakah identitas aslinya akan terkuak? Bagaimanakah dia akan membebaskan diri dari bayang-bayang penindasan dan keserakahan Edward, seorang pewaris pengganti yang sebenarnya bukan siapa-siapa? Novel ini akan menceritakan perjalanan seorang pewaris asli untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya dan melawan seorang pewaris palsu yang tak rela melepas apa yang selama ini terlanjur berada dalam genggamannya!
Lihat lebih banyakMorenmor adalah sebuah kota terpencil di negara Pecunia. Hampir semua penduduknya adalah keluarga-keluarga kaya yang memiliki pengaruh sangat besar, bahkan hingga ke luar negeri.
Hukum dan pemerintahan hanyalah formalitas di kota ini.
Tidak jarang, pejabat tinggi pemerintahan, bahkan yang berasal dari pemerintah pusat, harus kehilangan wibawa dan kekuasaannya ketika menginjakkan kaki di kota ini.
Tanpa dukungan dan persetujuan keluarga-keluarga teratas, tidak akan ada peraturan atau kebijakan yang dapat diterapkan. UANG dan SENJATA adalah satu-satunya peraturan dan kebijakan yang berlaku dan diakui di kota ini!
Akan tetapi, uang dan senjata justru merupakan dua hal yang paling sulit didapatkan di Morenmor.
Bukan karena keduanya tidak ada di sana!
Sebaliknya, ada terlalu banyak uang dan senjata yang beredar di Morenmor.
Akan tetapi, semua uang dan senjata itu hanya berputar di kalangan keluarga-keluarga terkaya saja. Sepertinya, para pemimpin keluarga teratas Morenmor memang telah sepakat bahwa hanya uang milik mereka saja yang boleh beredar di Morenmor!
Siapapun boleh saja bekerja dan berkarir dengan gaji puluhan juta per bulan. Namun, jangan pernah bermimpi untuk memiliki dan membangun perusahaan sendiri.
Siapapun juga bebas membeli dan memamerkan senjata paling canggih dan mematikan di mana saja. Akan tetapi, dewa kematian akan langsung bertamu ke rumah siapapun yang berani meletuskan senjatanya di luar kehendak dan kepentingan keluarga-keluarga teratas Morenmor!
Keluarga Sanjaya adalah salah satu keluarga teratas yang paling berpengaruh di kota Morenmor.
Beberapa rumor dan kabar burung bahkan menyebutkan bahwa keluarga itulah yang terkaya. Jaringan bisnis dan harta kekayaan keluarga itu tersebar di seluruh pelosok Negara Pecunia, bahkan di seluruh dunia.
Dari generasi ke generasi, semua urusan yang terkait dengan keluarga itu senantiasa dikendalikan dan diawasi langsung oleh Kepala Keluarga Sanjaya sendiri.
Saat ini, yang menjadi Kepala Keluarga Sanjaya adalah Wilson Sanjaya.
Lelaki tua yang biasa dipanggil Kakek Sanjaya itu adalah Kepala Keluarga Sanjaya dari generasi kedelapan. Saat ini usianya hampir menginjak 60 tahun.
Kakek Sanjaya hanya mempunyai seorang anak laki-laki.
Namanya Charles Sanjaya.
Charles adalah seorang Jenderal muda dengan karir yang sangat cemerlang.
Dia adalah Panglima Pasukan Khusus yang sering menjalankan misi rahasia di sekitar perbatasan Negara Pecunia.
Charles memiliki seorang istri yang cantik jelita, bernama Pamela Atmaja.
Pamela baru saja melahirkan anaknya yang kedua.
“Anak kita perempuan lagi! Sepertinya, aku terpaksa memenuhi janjiku pada Ayah,” ucap Charles pada istrinya seraya menggendong putri kedua mereka.
Pamela tidak menyahut.
Dia malah menangis.
Bukan tangis bahagia, tapi tangis kehancuran.
“Tolonglah, Charles. Memohonlah pada Ayah, minta tambahan waktu tiga tahun lagi. Aku akan memberinya cucu laki-laki!” pinta Pamela, meratap di antara isak tangisnya.
Charles menggeleng lemah.
Sebelum Pamela meminta, sebenarnya Charles sudah berkali-kali memohon pada ayahnya.
Namun, usahanya tak membuahkan hasil sama sekali. Kakek Sanjaya tetap bersikeras menyuruhnya agar segera mencari istri lagi. Lebih dari itu, Pemimpin Keluarga Sanjaya itu bahkan sudah menyiapkan seorang gadis muda untuk menjadi istri kedua Charles!
“Aku sudah mencobanya berkali-kali, tapi Ayah tetap pada keputusannya. Dia tak mau menunggu lagi. Dia bahkan sudah memepersiapkan calon untukku. Dia sudah mengatur semuanya. Paling lambat, minggu depan – aku harus menikah dengan Soraya Clint,” jawab Charles gundah.
Soraya Clint adalah calon istri yang disiapkan oleh Kakek Sanjaya untuk Charles.
Gadis itu berasal dari Keluarga Clint, salah satu keluarga terkaya Morenmor yang lain. Dia berusia tiga tahun lebih muda daripada Pamela. Wajahnya sangat cantik, walaupun memang tak secantik Pamela.
“Cobalah sekali lagi, Chares! Aku yakin, anak kita yang ketiga nanti pasti laki-laki!” pinta Pamela sekali lagi, tak mau menyerah.
Charles menggeleng lagi dan berkata, “Aku tak bisa, tapi tidak ada salahnya jika kamu mau mencobanya sendiri. Sebentar lagi Ayah akan datang menjengukmu. Mungkin dia akan luluh jika kamu yang bicara.”
Raut wajah Pamela langsung berubah.
Dia tahu persis watak Kakek Sanjaya.
Selama hampir lima tahun menjadi menantu lelaki paling kaya di Morenmor itu, dia tak pernah mendengar ayah mertuanya itu menjilat ludah sendiri – apalagi jika sudah menyangkut kelangsungan trah Keluarga Sanjaya di masa depan!
Namun, Pamela juga tahu bahwa itu adalah peluang terakhirnya.
Suaranya terdengar pasrah saat dia bertanya, “Baiklah, aku akan mencobanya. Kapan Ayah akan datang?”
Charles menjawab, “Mungkin sekarang dia sudah di bawah.”
Pamela langsung panik.
Rasa percaya dirinya pupus begitu saja ketika pintu ruangan tempatnya dirawat pasca melahirkan tiba-tiba terbuka lebar.
Kakek Sanjaya masuk dengan langkah gagah penuh wibawa.
Setengah lusin pengawal berbadan tegap yang mengenakan pakaian dan kacamata serba hitam tampak mengiringi di belakangnya. Semuanya terlihat menjinjing beberapa paper bag beraneka warna dan ukuran pada kedua tangannya.
“Selamat untuk kalian berdua! Kudengar cucuku sudah lahir, aku bawa banyak hadiah untuknya!” ujar Kakek Sanjaya sambil tertawa lebar.
Dia memberi isyarat pada keenam orang pengawalnya agar segera meletakkan semua hadiah di atas sebuah meja, tak jauh dari ranjang Pamela.
Selanjutnya dia mendekati Pamela dan berkata, “Aku juga punya hadiah untukmu! Mulai hari ini, mansion paling mewah di Bukit Desperato adalah milikmu. Kamu boleh tinggal di sana bersama kedua putrimu sesuka hatimu.”
Pamela langsung terhenyak.
Dia sadar, Kakek Sanjaya ingin menyingkirkannya!
Walaupun Kakek Sanjaya memang mengatakan ‘boleh tinggal di sana’, tapi Pamela tahu persis bahwa itu maknanya ‘harus tinggal di sana’!
Pamela langsung membatalkan niatnya untuk memohon lalu berkata, “Terima kasih, Ayah. Mansion itu sangat mewah, saya tidak menyangka Ayah akan menghadiahkannya pada saya. Besok saya akan langsung pindah ke sana.”
“Tidak masalah, kamu layak mendapatkannya. Mansion itu bahkan masih belum sebanding dengan pengorbananmu,” kata Kakek Sanjaya, menyatakan maksudnya secara tersirat.
Pamela menjawab sinis, “Tidak apa-apa, Ayah. Bagaimanapun, Keluarga Sanjaya membutuhkan keturunan laki-laki untuk meneruskan trah Keluarga.”
“Kamu tidak perlu khawatir, aku akan menyuruh Charles menceraikan Soraya jika tahun depan mereka tidak mampu memberiku cucu lelaki!” sahut Kakek Sanjaya penuh keangkuhan.
Pamela terhenyak sekali lagi.
“Jadi … Charles sudah menikah lagi?” tanya Pamela, marah campur sedih.
Kakek Sanjaya menggeleng dan menjawab, “Belum. Mereka baru akan menikah tiga hari lagi. Kamu tak perlu hadir jika kondisimu masih belum pulih sepenuhnya. Bagimanapun, kamu baru melahirkan.”
Sekali lagi, Pamela tahu persis maksud Kakek Sanjaya.
‘Tak perlu hadir’ artinya adalah ‘tak boleh hadir’!
Tiga hari kemudian, pesta pernikahan Charles Sanjaya dengan Soraya Clint benar-benar digelar secara besar-besaran di atas penderitaan tak bertepi Pamela Atmaja!
“Jangan pernah berharap untuk bahagia! Aku sendiri yang akan memastikan penderitaan kalian!” desis Pamela, bersumpah penuh dendam. Dia mengucapkan sumpahnya, tepat pada saat Charles dan Soraya mengangkat sumpah setia sebagai suami istri – jauh di tengah Kota Morenmor!
Dua bulan kemudian, Pamela mendengar bahwa Soraya telah hamil.
Terlalu percaya diri!Mungkin, itu adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan tindakan Rudolf Subrata yang nekat mengejar Beta-1 sendirian!Dia mengejar hanya dengan ditemani seorang sopir, tanpa pengawal atau anak buah sama sekali. Kendaraan yang digunakannya pun hanya sebuah SUV mewah, bukan kendaraan militer atau kendaraan tempur yang dilengkapi persenjataan canggih atau fitur perlindungan yang mumpuni.Amarah dan dendam tampaknya telah benar-benar melumpuhkan akal sehatnya. Bayangan ratusan anak buahnya yang tewas dibantai pasukan milisi beberapa saat lalu, membuatnya tak lagi peduli pada keselamatan diri sendiri. Sepertinya, dia telah bertekad untuk mengantarkan sendiri nyawa komandan tentara milisi yang dikejarnya itu – ke hadapan dewa penjaga neraka!“Kejar terus, jangan sampai lolos!” perintah pemimpin gerombolan preman paling ditakuti di seantero Morenmor itu penuh tekad.Sopir yang mengemudikan mobil Rudolf tidak menjawab.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kaki kananny
Komandan senior pasukan dari benteng perbatasan tidak salah!Pada malam itu, sejak beberapa jam yang lalu – ternyata memang ada lebih dari 200 orang tentara milisi bersenjata lengkap yang tengah bergerak untuk menjalankan suatu misi rahasia.Ratusan tentara milisi bersenjata lengkap itu adalah anggota Tim Beta, kelompok terbesar dari 300 orang tentara milisi gabungan tiga keluarga besar kelas dua Morenmor yang sedang menggelar operasi senyap dalam rangka membasmi Keluarga Desplazado berikut seluruh kekuatan pendukungnya. Malam itu, misi rahasia yang dijalankan oleh para tentara milisi tersebut adalah menyerbu dan menghancurkan basis utama kekuatan Rudolf Subrata di suatu kawasan terpencil di luar kota Morenmor.Kawasan terpencil itu dikenal dengan sebutan Distrik Silentium.Semua orang tahu, Distrik Silentium adalah sarang preman terbesar di Morenmor. Hampir seluruh penduduk kawasan tersebut adalah adalah bandit kambuhan yang sudah berkali-kali keluar masuk penjara.Rudolf Subrata ada
Bruk …!Brukk …!Brukkk ...!Satu per satu anggota Tim Alfa menjatuhkan diri, berlutut sambil meletakkan senjata lalu melipat tangan dengan jari-jari saling bertautan di belakang kepala yang tertunduk dalam.Tanpa dikomando, sepuluh orang prajurit benteng perbatasan segera bertindak.Tiga orang langsung mengumpulkan dan mengamankan senjata-senjata milik tentara milisi anggota Tim Alfa, sedangkan tujuh lainnya bergerak cepat melumpuhkan para tentara milisi itu dengan cara yang sedikit ektrim – yaitu memukul tengkuk mereka hingga jatuh pingsan.Selanjutnya, tubuh-tubuh tak sadarkan diri itu dimasukkan ke dalam sebuah truk besar lalu dibawa entah ke mana.Setelah itu, para serdadu yang hampir semuanya pernah dilatih langsung oleh Martin Sindoro itu mulai menyisir seluruh gedung Hotel Preatorium. Setiap kamar diperiksa tanpa kecuali, memastikan bahwa tidak ada sisa-sisa tentara milisi anggota Tim Alfa yang masih bersembunyi.Di luar dugaan, saat hendak memeriksa salah satu kamar di lantai
Ramos bukan ragu karena takut mati.Bandit tua itu hanya merasa tak percaya diri.Dia hanya sendirian dan harus melawan banyak orang yang bahkan belum diketahui jumlah dan posisi pastinya. Lebih dari itu, dia hanya berbekal dua pucuk senjata otomatis yang pelurunya pun sudah banyak terpakai – saat menembaki lampu tadi.“Harus minta bantuan secepatnya,” gumam Ramos pelan, mencoba berpikir jernih.Dia kemudian mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Rudolf. Tanpa meninggalkan detil apa pun, dia melaporkan seluruh situasi yang dihadapinya.“Semua anggota kita mungkin sudah tewas, Ketua!” ujar Ramos menutup laporannya.“Bertahanlah, jangan mati sebelum aku datang. Bakar beberapa kamar di lantai atas untuk menarik perhatian dan bantuan pihak lain di luar gedung!” sahut Rudolf tegas, langsung memberi perintah setelah memahami situasi di Hotel Preatorium.“Siap, Ketua!” jawab Ramos girang, mulai percaya diri lagi.Selanjutnya, dia langsung membakar sebuah tempat tidur besar yang terdapat di
Sebuah truk militer tampak bergerak perlahan mendekati Hotel Preatorium. Aroma khas minuman keras kelas atas merebak makin harum ketika truk itu akhirnya berhenti di depan palang portal baja, tak jauh dari pos penjagaan.Benar!Truk tersebut adalah salah satu dari empat truk yang membawa 70 orang tentara milisi yang sedang menjalankan salah satu misi rahasia dalam operasi senyap yang digelar malam itu. Truk itu tiba di depan Hotel Preatorium tepat ketika – puluhan kilometer dari sana – suatu tim lain dari induk pasukan yang sama juga tengah menjalankan operasi rahasia lainnya di kota Granda Peko dan sedang mulai membunuhi orang-orang di Wisma Adulterium.“Stop!” seru Rafael menghentikan truk militer yang menebarkan aroma minuman keras itu.Truk itu pun berhenti.Seorang prajurit muda berseragam loreng hitam abu-abu turun dan menyapa, “Selamat malam, kami anggota pasukan milisi dari asrama Hotel Proditio mohon izin melintas.”Rafael menjawab tegas, “Ini bukan jalan menuju Hotel Proditi
Hotel Preatorium awalnya adalah salah satu properti milik Rudolf Subrata.Saat Gubernur Morgan Hanjaya mengambil alih hotel tersebut dan menjadikannya sebagai salah satu asrama tentara aliansi, hotel kecil berlantai empat itu ditempati oleh sekitar 200 orang anggota pasukan milisi yang direkrut dari beberapa kelompok preman anak buah Rudolf Subrata dan para pengawal Keluarga Desplazado.Seperti malam-malam sebelumnya, malam itu suasana di sekitar hotel Preatorium tampak sepi.Hampir semua anggota tentara milisi yang tinggal di hotel itu telah terlelap kelelahan di kamarnya masing-masing setelah sepanjang hari menjalani latihan berat bersama beberapa orang anggota pasukan khusus pengawal Keluarga Sanjaya. Tak seorang pun di antara para tentara milisi tersebut mengetahui bahwa pada malam itu, mereka telah ditetapkan sebagai salah satu target utama operasi senyap yang digagas oleh tiga komandan senior dari pasukan milisi gabungan tiga keluarga besar kelas dua Morenmor!Malam itu, dua ora
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen