MasukAku melangkah tergesa menuju ruang ujian Ilmu Jurnalistik yang akan dimulai setengah jam lagi. Rasanya aku ingin segera beranjak dari kantin sejak mendengar ucapan Bian tentang Sandra. Katanya, perempuan itu datang ke kampus untuk menemui Ale. Ternyata, panggilan telepon tadi pagi berlanjut menjadi pertemuan siang ini. Jujur saja, aku mulai menyadari bahwa hatiku sedikit terbuka untuk Ale, meski bayang-bayang Andreas masih sering mendominasi. Aku hanya takut jatuh lagi, terjatuh ke dalam perasaan yang terlalu dalam pada seorang pria. Namun, ada rasa sedih dan kesal di hatiku saat mendengar Ale sedang bersama Sandra. Apakah ini yang dinamakan trauma? Ketika ingin memulai tapi takut disakiti dan pikiran-pikiran negatif mulai mengambil alih kendali kerja otak. Bagaimana kalau Ale meninggalkanku? Bagaimana kalau dia selingkuh? Bagaimana jika dia ternyata lebih mencintai mantannya? Atau bagaimana kalau dia membanding-bandingkan aku dengan Sandra? Rentetan pertanyaan itu terus t
"Maaf, aku nggak sengaja." Ale mencoba meraih tanganku, namun sikap kasarnya barusan, membuatku menepis tangannya dan merapatkan tubuhku ke pintu mobil. Bayangan perbuatan Yoga saat terakhir kali mengantarku pulang, masih membekas dan semakin membuatku menjaga jarak. Yoga hampir melecehkanku di dalam mobilnya. Ale menepikan mobilnya di dalam SPBU. Ia memiringkan tubuhnya menatapku lekat, "Jangan begini, Git. Aku tidak ada niat buruk." "Lebih baik kita segera jalan lagi, Kak. Nanti malah telat ujian." Aku menjawab tanpa menoleh padanya. Ale sekali lagi mengulurkan tangannya meraihku. "Maafin aku," bisiknya pelan. Genggaman tangannya terasa lembut mengusap jemariku. Aku seperti merasakan ketulusan Ale lewat sentuhan itu. Aku menunduk menatap jemari panjang itu, dan mengangguk lemah. Ale tersenyum tipis, mungkin anggukkan itu sudah cukup membuatnya lega. " Nanti pulang kuliah jangan sendiri ya, tunggu aku selesai ujian kedua di jam 3. Nggak apa-apa kan tungguin aku sebentar?"
Keheningan menyelimuti di dalam mobil, hanya terdengar suara wiper yang menyapu rintik hujan di kaca depan. Genggaman tangan Ale masih terasa hangat di jemariku yang mendingin, berbeda dengan perasaanku yang masih berkecamuk. Rasanya sulit untuk percaya lagi, kalau perasaan Ale tulus padaku. Sikapnya pada Sandra kemarin, cukup sebagai jawaban bagiku siapa pemilik hati Ale yang sebenarnya. "Git," panggil Ale lembut, memecah kesunyian. Ia melajukan mobilnya membelah jalanan yang mulai basah. "Aku tahu kamu kecewa kemarin. Melihat Sandra, mendengar omongan anak-anak... aku minta maaf karena nggak bisa mengendalikan situasi dengan lebih baik." Aku tetap bergeming, menatap tetesan air yang berkejaran di kaca jendela. "Rumah baru nggak seharusnya dibangun di atas puing-puing yang belum selesai dibersihkan, Kak," bisikku parau. Kalimat itu meluncur begitu saja, mewakili rasa sesak yang sejak tadi mengganjal di dadaku. Ale terdiam sejenak, cengkeramannya pada kemudi sedikit mengera
Aku melangkah tergesa menuju ruang ujian semester. Sisa-sisa touring ke Puncak kemarin menyisakan demam tinggi yang membuat tubuhku ambruk. Jangankan menghafal materi, kepalaku saja terasa seberat beton. Namun, Senin pagi ini aku memaksakan diri untuk masuk, aku tak sudi ikut ujian susulan sendirian. Meski akhirnya, aku tetap datang terlambat dengan pandangan yang berkunang-kunang. Begitu tiba di lantai dua, aku mengetuk pintu kayu cokelat ruangan nomor 5. Ujian sudah dimulai sepuluh menit yang lalu. Dosen pengawas yang semula menatap tajam ke arah mahasiswa, kini mengalihkan pandangannya ke pintu saat aku melangkah masuk dengan ragu "Gita, kamu terlambat. Cepat masuk, waktu ujian sudah berjalan." Tegur pak Seno dan langsung memberikan lembar soal ujian padaku. "Terima kasih, Pak." Aku memilih duduk di kursi paling depan, menghindari tatapan Azizah dan Nila yang sudah mengerjakan sebagian soal ujian. Setengah jam berlalu. Kertas ujian di hadapanku tampak membayang. Huruf-hur
Aku terpaku di depan rak minuman dingin, jemariku menyentuh pintu kaca yang berembun, sedingin perasaanku saat ini. "Gue Lenski, temen deket Ale," laki-laki itu mengulurkan tangan, mencoba mencairkan suasana. "Gue cuma nggak mau lo salah paham atau naruh harapan terlalu tinggi. Ale itu orang baik, tapi soal Sandra... dia punya titik lemah di sana." Aku memaksakan senyum tipis sambil menjabat tangannya singkat. "Makasih infonya, Kak. Gue... gue cuma temen kampus kok." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku. Rasanya perih, mengingat baru semalam aku memeluk jaket ini dengan penuh harapan tentang "lembaran baru". Aku mengambil sebotol air mineral dan membayarnya di kasir dengan gerakan cepat. Mataku tak lepas memperhatikan Ale dan Sandra melalui kaca transparan minimarket. Mereka tampak tenggelam dalam obrolan yang terlihat serius. Sandra sesekali menyentuh lengan Ale, dan Ale tidak menghindar. Saat aku keluar, Ale langsung menoleh. Ekspresi wajahnya yang tadi melunak saa
Tepat pukul 05.30, aku sudah siap. Jaket identitas komunitas motor itu sudah terpasang pas di tubuhku, dipadukan dengan celana jeans dan sepatu bot kesayanganku. Aku mematut diri di cermin, mencoba meyakinkan diri bahwa hari ini semuanya akan baik-baik saja. "Ya ampun, anak gadis mama cantik banget pagi-pagi." Mama menatapku dengan senyuman teduhnya saat aku keluar dari kamar. "Ma, Gita pergi sama Kak Ale touring ke puncak ya." Pamitku sambil duduk di meja makan, meraih nasi goreng yang sudah mama siapkan untukku. "Hati-hati loh, de. Kamu kan nggak pernah pergi jauh pakai motor gitu." "Ya karena nggak ada yang ngajak Ade pergi, Ma." Candaku tertawa bersama Mama. "De, Ale itu ganteng juga ya, kok bisa sih, anak bontot mama dapetin cowok ganteng-ganteng." Aku tertawa mendengar ledekan mama, "Kak Ale itu senior Ade, Ma. Bukan pacar." Jawabku santai."Iya, kan sekarang baru pendekatan." Mama menggenggam tanganku dan tersenyum lembut, "Mama senang, Ade mau dekat lagi sama cowok. Ng
"Git. Lo jadian sama kak Ale?" tanya Azizah sore itu saat kami berkumpul di rumah Nila, karena Nila menolak bertemu dengan alasan sakit. "Hah?Ng—nggak kok," Jawabku gugup melirik Nila sekilas. "Nggak usah bohong! gue liat lo gandengan tangan mulu di kampus. Terus sekarang, selalu ikut latihan bol
Rahang Ale mengeras melihatku mengabaikan uluran tangannya dan memilih menerima panggilan Yoga. Ia memutar tubuhnya membelakangiku. Namun, tetap diam di tempat dan mendengarkan pembicaraanku dengan Yoga. "Halo, Ga. Maaf, aku rasa sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan. Tolong jangan hubun
"Masa Yoga sampai begitu, Git?" tanya Bian tak percaya saat aku menceritakan kejadian minggu siang itu. Azizah menatap sinis kekasihnya, "Kenapa sih, dari dulu kamu selalu membela Yoga. Selalu menganggap cowok jenius itu tidak pernah buat salah!" Kesal Azizah. Aku meliriknya, Kata-katanya cukup me
"Kenapa kamu bicara seperti itu, Git? Aku berusaha keras agar Papa mau menuruti permintaanku—permintaanku untuk menikahimu!" suara Yoga meninggi, saat sedan hitamnya membelah kemacetan ibu kota. "Cukup, Ga. Aku tidak akan pernah menikah tanpa restu. Lagipula, di antara kita belum ada komitmen ap







