Seminggu sudah aku mengabaikan panggilan telepon dari Andreas. Tak satu pun pesannya yang kubalas. Yah, paling tidak aku tetap bersyukur pernah diberi kesempatan ‘ditembak’ cowok seganteng dia. Lumayan untuk pamer, batinku. Namun, sepertinya Andreas bukan tipe cowok yang mudah menyerah. Terbukti pada Sabtu pagi ini, dia sudah nangkring di depan rumah dengan motor gedenya yang terparkir gagah di halaman. Karena sedang sendirian di rumah, aku terpaksa membuka pintu dan menemuinya. "Kenapa nggak pernah angkat telepon gue, Git? Pesan gue juga nggak pernah dibalas." Suara Andreas terdengar lirih, ada nada kecewa di sana. "Gue ada salah, ya, sama lo?" cecarnya sambil menatap mataku dalam-dalam. "Enggak, kok." "Terus?" "Lagi nggak sempat main HP," bohongku. Padahal jadwal les saja sedang kosong. Pulang sekolah, kalau tidak tidur, ya, pasti asyik scrolling ponsel. "Gimana nggak main HP sih, Git? Chat gue aja udah lo baca, cuma nggak mau balas aja. Iya, kan?" Aku menghela na
Last Updated : 2026-02-14 Read more