Se connecterAku melangkah memasuki halaman rumah saat malam menjelang. Kepergianku selama lima jam ini cukup menenangkan batinku dari rasa sakit akibat kabar yang aku dengar dari orang lain tentang Andreas dan Ale. Aku masih menonaktifkan ponselku hingga kini. Aku hanya tidak ingin menerima gangguan dari siapapun. "Assalamualaikum, " Salamku lemah saat memasuki ruang tamu dan langsung terpaku memegang handle pintu. "Waalaikumsalam," Sahut Ale yang langsung berdiri perlahan melihat kedatanganku. Aku menatapnya dingin. Kabut mulai membuyarkan penglihatanku, akibat air mata yang menggenang di sana. 'Kenapa datang kesini, Kak?" tanyaku menutup pintu rumah dengan perlahan. "Kamu dari mana aja, De?Kok baru pulang jam segini." ujar Mama membungkam mulut Ale yang sudah siap melayangkan pertanyaan padaku. "Main, Ma." "Main kemana?Mama telepon kok nggak aktif handphonenya. Tumben Ade ngga pamit sama Mama, kalau mau main." "Maaf, Ma." "Ya sudah. Temani Ale, dia sudah menunggumu selama tig
Masa ujian telah berlalu. Kini aku sudah bisa bernafas lega. Seminggu berkutat dalam soal-soal ujian membuat kepalaku sakit. Ditambah lagi, aku harus mengikuti ujian susulan karena sakit di hari pertama. Untung saja, Ale juga ikut ujian susulan untuk menemaniku. Seminggu ini, hubungan kami baik-baik saja. Aku hanya berpikir untuk tidak akan mengganggu konsentrasinya pada soal ujian sekaligus persiapan karantina nya. Ale juga sudah seminggu ini tidak melakukan panggilan atau mengirim pesan padaku. Sepertinya persiapan latihan panjangnya membuat Ale tidak ingin diganggu oleh siapapun. Aku mencoba mengerti. Lagipula, permintaan nya tentang kejelasan hubungan kami, belum aku putuskan. "Lho, Gita. Kirain tadi pergi sama Ale. Gue liat dia keluar kampus sama cewek. Gue kira itu lo, soalnya pegangan tangan gitu." Ujar Bian saat menabrakku di tikungan jalan menuju kantin. Aku terdiam membeku. Nila mengusap punggungku lembut. Seolah ikut merasakan rasa sakit yang aku rasakan. Azizah mendel
Panas matahari sore menyengat kulit saat kami berjalan menuju parkiran, namun dingin di hatiku belum sepenuhnya mencair. Ale membukakan pintu mobil untukku, sebuah gerakan yang terasa manis, tapi kuterima dengan helaan napas berat. Begitu mesin mobil menyala dan AC mulai mendinginkan kabin, Ale tidak langsung menjalankan kendaraannya. Ia justru memutar tubuh menghadapku, sementara jemarinya mengetuk setir yang menunjukkan kegugupan sekaligus antusiasme. "Git," panggilnya lembut. "Tadi aku bilang ada kabar baik, kan? Aku mau kamu jadi orang pertama yang tahu detailnya sebelum kita sampai di kafenya Lenski." Aku menoleh, menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "Kabar baik apa?" tanyaku pelan, masih belum bisa melepaskan ganjalan di hatiku. Ale tersenyum tipis, lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop resmi berkop surat organisasi olahraga daerah. Ia menyodorkannya padaku. "Buka saja." Dengan ragu, aku membuka amplop itu. Mataku menyisir barisan kalimat formal
Aku melangkah tergesa menuju ruang ujian Ilmu Jurnalistik yang akan dimulai setengah jam lagi. Rasanya aku ingin segera beranjak dari kantin sejak mendengar ucapan Bian tentang Sandra. Katanya, perempuan itu datang ke kampus untuk menemui Ale. Ternyata, panggilan telepon tadi pagi berlanjut menjadi pertemuan siang ini. Jujur saja, aku mulai menyadari bahwa hatiku sedikit terbuka untuk Ale, meski bayang-bayang Andreas masih sering mendominasi. Aku hanya takut jatuh lagi, terjatuh ke dalam perasaan yang terlalu dalam pada seorang pria. Namun, ada rasa sedih dan kesal di hatiku saat mendengar Ale sedang bersama Sandra. Apakah ini yang dinamakan trauma? Ketika ingin memulai tapi takut disakiti dan pikiran-pikiran negatif mulai mengambil alih kendali kerja otak. Bagaimana kalau Ale meninggalkanku? Bagaimana kalau dia selingkuh? Bagaimana jika dia ternyata lebih mencintai mantannya? Atau bagaimana kalau dia membanding-bandingkan aku dengan Sandra? Rentetan pertanyaan itu terus t
"Maaf, aku nggak sengaja." Ale mencoba meraih tanganku, namun sikap kasarnya barusan, membuatku menepis tangannya dan merapatkan tubuhku ke pintu mobil. Bayangan perbuatan Yoga saat terakhir kali mengantarku pulang, masih membekas dan semakin membuatku menjaga jarak. Yoga hampir melecehkanku di dalam mobilnya. Ale menepikan mobilnya di dalam SPBU. Ia memiringkan tubuhnya menatapku lekat, "Jangan begini, Git. Aku tidak ada niat buruk." "Lebih baik kita segera jalan lagi, Kak. Nanti malah telat ujian." Aku menjawab tanpa menoleh padanya. Ale sekali lagi mengulurkan tangannya meraihku. "Maafin aku," bisiknya pelan. Genggaman tangannya terasa lembut mengusap jemariku. Aku seperti merasakan ketulusan Ale lewat sentuhan itu. Aku menunduk menatap jemari panjang itu, dan mengangguk lemah. Ale tersenyum tipis, mungkin anggukkan itu sudah cukup membuatnya lega. " Nanti pulang kuliah jangan sendiri ya, tunggu aku selesai ujian kedua di jam 3. Nggak apa-apa kan tungguin aku sebentar?"
Keheningan menyelimuti di dalam mobil, hanya terdengar suara wiper yang menyapu rintik hujan di kaca depan. Genggaman tangan Ale masih terasa hangat di jemariku yang mendingin, berbeda dengan perasaanku yang masih berkecamuk. Rasanya sulit untuk percaya lagi, kalau perasaan Ale tulus padaku. Sikapnya pada Sandra kemarin, cukup sebagai jawaban bagiku siapa pemilik hati Ale yang sebenarnya. "Git," panggil Ale lembut, memecah kesunyian. Ia melajukan mobilnya membelah jalanan yang mulai basah. "Aku tahu kamu kecewa kemarin. Melihat Sandra, mendengar omongan anak-anak... aku minta maaf karena nggak bisa mengendalikan situasi dengan lebih baik." Aku tetap bergeming, menatap tetesan air yang berkejaran di kaca jendela. "Rumah baru nggak seharusnya dibangun di atas puing-puing yang belum selesai dibersihkan, Kak," bisikku parau. Kalimat itu meluncur begitu saja, mewakili rasa sesak yang sejak tadi mengganjal di dadaku. Ale terdiam sejenak, cengkeramannya pada kemudi sedikit mengera
Aku melangkah tergesa menuju ruang ujian semester. Sisa-sisa touring ke Puncak kemarin menyisakan demam tinggi yang membuat tubuhku ambruk. Jangankan menghafal materi, kepalaku saja terasa seberat beton. Namun, Senin pagi ini aku memaksakan diri untuk masuk, aku tak sudi ikut ujian susulan sendir
Aku terpaku di depan rak minuman dingin, jemariku menyentuh pintu kaca yang berembun, sedingin perasaanku saat ini. "Gue Lenski, temen deket Ale," laki-laki itu mengulurkan tangan, mencoba mencairkan suasana. "Gue cuma nggak mau lo salah paham atau naruh harapan terlalu tinggi. Ale itu orang baik
Tepat pukul 05.30, aku sudah siap. Jaket identitas komunitas motor itu sudah terpasang pas di tubuhku, dipadukan dengan celana jeans dan sepatu bot kesayanganku. Aku mematut diri di cermin, mencoba meyakinkan diri bahwa hari ini semuanya akan baik-baik saja. "Ya ampun, anak gadis mama cantik bang
Rahang Ale mengeras melihatku mengabaikan uluran tangannya dan memilih menerima panggilan Yoga. Ia memutar tubuhnya membelakangiku. Namun, tetap diam di tempat dan mendengarkan pembicaraanku dengan Yoga. "Halo, Ga. Maaf, aku rasa sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan. Tolong jangan hubun