Share

Bab 3

Auteur: Prosper
Setelah menyadari aku tidak sedang bercanda, raut wajahnya berubah seketika.

"Inge, cuma gara-gara Sierra nggak sengaja bunuh ular-ular peliharaanmu, kamu mau cerai sama aku? Kamu gila? Ibumu sekarang masih dirawat di rumah sakit. Di saat begini kamu malah mau cerai, kamu mau bikin ibumu mati karena marah? Cuma beberapa ular aja, 'kan? Kalau kamu benar-benar suka, aku belikan sepuluh atau bahkan dua puluh. Kamu tinggal pelihara lagi, selesai masalahnya. Cerai? Nggak nyangka kamu sampai bisa ngomong begitu."

Dia bicara panjang lebar, seolah-olah justru aku yang tidak masuk akal.

Tapi Yohan, yang paling banyak bicara bukan berarti dia yang paling benar.

Aku langsung menandatangani, lalu menyerahkan perjanjian cerai itu padanya.

"Tanda tangan aja. Kalau sampai harus ke pengadilan, nanti malah jadi malu-maluin."

Tiba-tiba ponselku berdering. Aku menjawabnya sambil naik ke lantai atas.

Perhatian dari seorang teman membuat hatiku terasa agak hangat. Saat aku selesai bicara dan turun ke bawah, Yohan sudah tidak ada. Perjanjian itu sudah dia sobek-sobek dan dibuang ke tempat sampah.

Bangkai beberapa ular peliharaan itu juga sudah tidak ada lagi.

Mungkin dia, si maniak penelitian itu, sudah membawanya untuk dibedah dan diperiksa.

Di atas meja, tergeletak sebuah kotak hadiah. Begitu kubuka, ternyata isinya kalung bermerek tapi sudah bukan model terbaru.

Sorot mataku langsung meredup.

Dulu, Yohan juga suka memberiku hadiah. Tapi semuanya dia pilih dengan hati-hati.

Namun, sejak Sierra muncul, hadiah yang dia kasih berubah menjadi barang mahal, tapi asal-asalan.

Gelang, anting, kalung. Kotak perhiasanku sampai hampir tidak muat lagi.

Sebenarnya semua itu hanya menyimpan kebohongan demi kebohongan. Makin mahal harganya, makin besar rasa bersalah Yohan.

Dulu, setiap kali dia berbohong, aku selalu memilih untuk memaafkannya.

Karena setiap kali, ingatanku selalu kembali pada hari ketika aku melihat sisi dirinya yang rapuh dan hancur. Dengan mata memerah, dia mengucapkan kalimat itu padaku.

"Inge, daripada kamu kasihan sama aku, mending kamu cinta sama aku."

Itu sudah lama sekali, tapi rasanya seperti baru terjadi kemarin.

Momen itu selalu terpatri dalam hatiku. Yohan saat itu terlalu rapuh, sampai-sampai membuat orang ingin melindunginya.

Karena momen itu, aku memaafkannya saat dia lupa hari jadi pernikahan lima tahun kami dan malah menemani Sierra melihat bintang.

Aku juga memaafkannya saat aku menjalani operasi usus buntu, dan dia menerima telepon dari Sierra lalu langsung pergi begitu saja.

Aku sudah memaafkannya berkali-kali. Tapi kali ini, aku tidak akan lagi memaafkan.

Aku menyuruh asistennya menghubungi pengacara untuk mengajukan gugatan cerai terhadap Yohan.

Asisten itu tertegun sejenak, tapi tidak banyak bicara. Dia malah bertanya, "Bu Inge, lalu peralatan eksperimen ini apa masih perlu dikirim ke ruang penelitian Profesor Yohan?"

Biasanya, semua peralatan canggih dari perusahaan langsung dikirim ke Yohan. Tapi kali ini, aku tidak akan melakukannya lagi.

"Nggak perlu. Kirim aja ke RS Bhakti Sehat."

Direktur Rumah Sakit Bhakti Sehat sudah banyak membantu saat ibuku sakit parah. Dia juga sempat mengatakan ingin mendapatkan peralatan baru.

Kebetulan, ini bisa menjadi cara untuk membalas budi padanya.

Ponselku berdering, beberapa pesan masuk berturut-turut, dari seorang temanku.

[Inge, sejak kapan kamu dan Yohan cerai?]

[Aku tadi datang ke pernikahan teman, dan aku lihat ada wanita yang mengaku sebagai pacarnya.]

[Lihat, mereka sampai jalan berdua sambil bergandengan. Kapan kalian cerai? Apa Yohan sudah punya pacar baru?]

Di dalam video, sedang berlangsung sebuah pernikahan. Sierra merangkul lengan Yohan, dengan percaya diri memperkenalkan Yohan kepada keluarganya sebagai pacarnya.

Yohan tidak membantah, bahkan terlihat seolah-olah menyetujui semua itu.

Hanya untuk menghindari desakan menikah, sampai-sampai Yohan rela mengaku sebagai pacar Sierra di depan keluarga dan teman-temannya.

Aku tersenyum sinis, membalas pesan temanku, lalu keluar dari ruang obrolan. Di layar, muncul notifikasi seseorang menambahkanku sebagai teman.

Pesan verifikasinya singkat saja.

[Inge, aku sudah tidur dengan Yohan.]

Setelah aku menerima pertemanan itu, sebuah foto langsung dikirimkan.

Foto dirinya dan Yohan, sedang berada di atas ranjang.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Cinta Habis Tanpa Bekas   Bab 9

    Yohan melepaskan tangannya dengan panik. Meskipun dia marah, dia tidak berniat membunuh.Dia menepuk-nepuk wajah Sierra, mencoba memberikan pertolongan pertama, tetapi wajah yang semula hidup itu tetap tidak bergerak.Pikiran Yohan kosong, dia tidak tahu harus berbuat apa.Hingga terdengar suara pintu terbuka, dia langsung mendongak.Aku melihat Yohan yang duduk di sofa dengan tangan gemetar. Seluruh tubuhnya berlumuran darah, dan aku tertegun sejenak.Bagaimana dia bisa menemukan rumah baruku?Aku menyingkir, memberi isyarat agar dia pergi.Namun Yohan tiba-tiba menangis tersedu-sedu, seperti sangat ketakutan,"Jangan, Inge, tolong aku, tolong aku. Aku nggak mau masuk penjara.""Aku nggak sengaja, aku nggak bermaksud membunuhnya. Sekarang hanya kamu yang bisa nyelamatin aku, Inge, kumohon, tolong aku."Dari kata-katanya yang terputus-putus, aku baru tahu bahwa dia sudah membunuh Sierra.Hatiku terasa berat. Sebelum sempat berkata apa-apa, suara sirene polisi terdengar mendekat.Yohan

  • Cinta Habis Tanpa Bekas   Bab 8

    Pertemuan kami berikutnya terjadi di depan pintu kantorku.Petugas keamanan menatapku dengan canggung."Nona Inge, maaf, tenaganya terlalu besar, kami nggak berhasil menahannya."Aku melambaikan tangan, memberi isyarat agar mereka pergi.Yohan tampak seperti kurang tidur. Di bawah matanya ada lingkaran gelap, dan dia tidak lagi terlihat percaya diri seperti dulu.Saat melihatku, ekspresinya langsung berubah bersemangat."Inge.""Ada apa? Kalau nggak ada apa-apa, silakan pergi. Aku sibuk."Yohan menelan ludah, suaranya serak."Dulu, kenapa kamu nggak bilang kalau Sierra ngubungin kamu? Kenapa kamu nggak tanya ke aku?""Inge, kenapa kamu bisa setenang itu?"Aku menundukkan pandanganku, mencoba mengingat kembali dua tahun sejak Sierra muncul.Awalnya, aku juga sempat menanyakan hal itu pada Yohan, tapi dia tidak menganggapnya serius.Setelah itu, aku pun malas berdebat lagi tentang apa sebenarnya niat Sierra.Sampai ibuku meninggal, satu panggilan telepon itu membuatku benar-benar kecewa

  • Cinta Habis Tanpa Bekas   Bab 7

    Aku tertegun sejenak, lalu menatapnya dengan geli,"Kenapa aku harus malu?"Sierra tertawa sinis. Nada suaranya sengaja dinaikkan sedikit, menarik perhatian sekitar, lalu dia berkata pelan, "Karena kamu mengkhianati Guru."Mengkhianati?Selama beberapa tahun ini, apa pun yang Yohan minta, aku selalu memberikannya.Uang, peralatan, sumber daya, relasi. Aku rasa aku tidak pernah punya kesalahan terhadapnya. Lalu dari mana datangnya istilah mengkhianati?Melihat ekspresiku yang bingung, Sierra menggigit bibirnya dengan marah."Inge, di saat begini, kamu masih pura-pura nggak bersalah. Dulu kamu jelas udah berjanji sama Guru untuk menyediakan sejumlah peralatan baru. Demi menunggu peralatan itu, Guru sampai berkali-kali mengubah rencana penelitiannya.""Tapi kamu malah mengkhianati harapannya. Peralatan yang dia nantikan justru kamu kasih ke orang lain, sampai buat dia kewalahan dengan pengembangan obat.""Kalau ini bukan pengkhianatan, lalu apa?""Sekarang obatnya udah berhasil dikembangk

  • Cinta Habis Tanpa Bekas   Bab 6

    Tapi aku tidak menyangka, tingkat toleransinya terhadap Sierra jauh melampaui batas yang seharusnya dia miliki.Di tengah isak tangis Sierra, Yohan menghela napas pelan. Dia menepuk bahu gadis itu dengan gerakan yang sangat menenangkan, lalu menatapku dengan nada tak berdaya sambil berkata, "Inge, dia masih muda, belum ngerti apa-apa."Muda?Umurnya sudah dua puluh lima, masih bisa dibilang muda?Mataku terasa hangat, aku tersenyum sinis."Yohan, waktu aku umur dua puluh lima, aku udah berjuang di dunia kerja, cari uang untuk biayain kuliahmu. Setiap hari aku berangkat pagi dan pulang larut. Kerja sampai kewalahan demi revisi proposal, rambutku sampai rontok banyak sekali. Waktu itu, kenapa kamu nggak pernah merasa kasihan dan bilang aku masih muda?"Tatapan Yohan berubah keruh sejenak, tetapi di matanya tidak ada sedikit pun rasa iba padaku. Yang ada hanya ketidakpuasan karena aku mengungkit masa-masa aku membiayai kuliahnya di depan umum.Dia memang seperti itu. Di satu sisi menjaga

  • Cinta Habis Tanpa Bekas   Bab 5

    Mendengar itu, Juan Chandra menatapku dengan wajah terkejut."Inge, jangan-jangan aku salah informasi, nih? Soal tante .…"Kabar tentang meninggalnya ibuku sudah diketahui semua kerabat dan teman, bahkan Juan yang berada jauh di luar negeri pun tahu. Tapi justru menantunya sendiri, Yohan, sama sekali tidak tahu.Aku mengangguk pelan. "Iya kok, benar. Ibuku udah dimakamkan. Makasih ya, Juan, masih ingat ibuku. Kalau Ibu tau, dia pasti akan senang."Mata Yohan langsung memicing tajam, seolah baru saja mendengar berita yang sangat mengejutkan.Emosi di matanya campur aduk. Terkejut, sedih, dan seolah masih ada sedikit rasa iba.Tapi aku sudah tidak punya tenaga untuk menebak apa yang sedang dia rasakan.Juan berbasa-basi denganku sebentar, lalu pergi karena ada urusan.Setelah berpisah dengannya, aku juga bersiap menghentikan taksi untuk pulang tapi Yohan menghalangi jalanku.Suaranya rendah, dipenuhi emosi yang sulit dijelaskan."Inge … maaf, ya. Aku nggak tahu Ibu sudah pergi. Padahal d

  • Cinta Habis Tanpa Bekas   Bab 4

    "Inge, kamu tuh sudah tua. Kamu nggak cocok lagi buat pria sehebat Guru. Lagi pula kamu udah tiga puluh tapi belum juga kasih anak untuk Guru. Jangan-jangan kamu memang nggak bisa punya anak? Kalau aku 'kan beda. Masih muda, tubuh juga oke. Kira-kira sekali coba langsung berhasil nggak, ya?""Oh iya, sebelumnya Guru nggak pernah izinin aku punya kontakmu. Tapi kali ini dia nggak bilang apa-apa. Menurutmu, itu artinya apa?"Artinya apa?Aku tidak peduli itu artinya apa.Perutku terasa mual, bergejolak ingin muntah, tapi tidak ada apa pun yang keluar.Benar-benar menjijikkan.Setiap sudut rumah ini dipenuhi aura Yohan, membuat seluruh tubuhku terasa tidak nyaman.Aku menyuruh asistennya mencarikan tempat tinggal baru untukku.Di hari aku pindah rumah, direktur Rumah Sakit Bhakti Sehat menghubungiku, menyampaikan terima kasih atas peralatan yang kuberikan dan beliau ingin mengajakku makan sebagai bentuk terima kasih.Aku pun menyetujuinya.Namun, aku tidak menyangka, selain aku, dia juga

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status