LOGINSudah tiga tahun mereka menikah. Setiap kali Ethan Bramantya menunaikan kewajiban sebagai suami, ada tiga syarat yang harus wanita itu penuhi. Pertama, sang istri harus bersuara lantang. Kedua, wanita itu harus memanggil nama Ethan berulang-ulang. Ketiga, di penghujung momen tersebut, dia harus mengucapkan kata cinta kepada suaminya.
View MoreAurel panik luar biasa. Wajahnya memerah, dia terus mundur sambil mengambil tisu dari meja samping tempat tidur dan melemparkannya ke arah Ian.Dia buru-buru pergi ke dekat jendela, membiarkan angin menerpa wajahnya untuk menenangkan diri."Bersihkan sendiri. Aku nggak mau nyentuh kamu."Ucap Aurel dengan suara tertahan dan malu.Ian bergumam pelan, menyeka tubuhnya sekadarnya, lalu menatap Ethan di depan pintu dengan tatapan provokatif, dan menggerakkan bibirnya tanpa suara."Kamu nggak bakal bisa menandingiku."Setelah membaca ucapan itu dengan jelas, Ethan seketika murka, tinjunya terkepal erat.Tepat sebelum dia menyerbu masuk, dia kembali menenangkan dirinya, hatinya kini dipenuhi rasa pahit yang luar biasa.Dia tak seharusnya masuk.Aurel pasti tak ingin melihatnya.Pada akhirnya, Ethan berdiri di depan pintu cukup lama, menatap cukup lama, sebelum akhirnya beranjak pergi dalam diam.Dia paling tahu seperti apa Aurel ketika mencintai seseorang dan paling paham seperti apa sikapny
Baru setelah mendengar ucapan itu, Aurel menyadari Ethan yang tergeletak di tanah, kesakitan hingga tak mampu berdiri.Dia mengerutkan kening, tetapi hanya fokus menyangga tubuh Ian dengan penuh kekhawatiran."Dia nggak bakal kenapa-kenapa. Hubungi aja pengawalnya. Aku cuma khawatir sama kamu.""Kalau kamu luka parah, bukan cuma aku, para penggemarmu juga bakal panik setengah mati. Ayo buruan ke rumah sakit, kamu nggak boleh kenapa-napa!"Aurel membantu Ian masuk ke mobil, lalu buru-buru menyetir menuju rumah sakit tanpa sekali pun menoleh ke arah Ethan.Mobil itu melaju melewati Ethan tanpa ampun, meninggalkan kepulan debu.Dia menatap langit dengan putus asa, lalu dengan susah payah akhirnya membuka suara, "Itu semua cuma sandiwara Ian. Dia nyuruh orang buat mukulin aku. Lukaku jauh lebih parah daripada dia. Kenapa kamu sama sekali nggak peduli sama aku?"Kalimat itu hilang tertiup angin. Aurel seolah mendengarnya, tetapi seolah juga tak mendengar apa-apa.Ethan hanya merasakan kelop
Hati Ethan mati rasa. Dia berjalan di jalanan bagai kehilangan arah dan jiwa.Di negera asing ini, tak ada satu pun kenangan bersama Aurel.Masa-masa yang mereka habiskan bersama dulu begitu sedikit hingga menyedihkan, bahkan tak cukup banyak untuk terus dikenang.Semua ini salahnya.Diliputi rasa bersalah yang luar biasa, Ethan melangkah masuk ke sebuah bar. Dia terus menenggak minuman keras, meminumnya hingga mabuk berat, tak ada niat sedikit pun untuk meletakkan botol minumannya.Melihat pembawaannya yang luar biasa, beberapa wanita berpakaian seksi menghampirinya untuk meminta nomor kontak, tetapi semuanya Ethan tolak dengan dingin.Sebagian dari mereka mundur karena tahu diri, tetapi ada juga yang tetap keras kepala tidak mau menyerah.Seorang gadis berambut pirang dan bermata biru melangkah mendekat. Bibir merahnya mendekat ke gelas minuman Ethan, sembari mengukir senyum yang begitu memikat."Halo, Ganteng. Mau tukeran kontak? Tertarik menghabiskan malam yang indah bareng aku?""
Dia berusaha sekuat tenaga menggoda wanita itu, mencoba membangkitkan kembali gairah yang dulu begitu familier di tubuh Aurel.Namun, Aurel tak lagi terbuai seperti dulu. Di dalam hatinya, yang tersisa hanyalah rasa muak dan panik yang begitu kental.Air mata mengalir tanpa suara menuruni pipinya, lalu menetes ke tubuh Ethan.Air mata yang dingin itu seolah jatuh tepat ke dalam hati Ethan, bagaikan menyiramkan seember air es ke hatinya.Seketika, seluruh tubuhnya terasa membeku.Ethan panik luar biasa. Dia perlahan melepaskannya, lalu terus-menerus meminta maaf dengan suara penuh penyesalan."Maaf, ini semua salahku. Aku nggak seharusnya berbuat begini. Aku cuma terlalu cemburu sama Ian. Sesaat aku jadi kalap, makanya sampai berbuat begini. Tolong jangan suka sama Ian, dan jangan benci aku, ya? Anggap saja aku memohon padamu."Sosok yang selama ini selalu angkuh dan dingin, kini menundukkan kepalanya di hadapan wanita itu.Namun, Aurel sama sekali tidak merasa senang.Dia menatap pria












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.