MasukYohan melepaskan tangannya dengan panik. Meskipun dia marah, dia tidak berniat membunuh.Dia menepuk-nepuk wajah Sierra, mencoba memberikan pertolongan pertama, tetapi wajah yang semula hidup itu tetap tidak bergerak.Pikiran Yohan kosong, dia tidak tahu harus berbuat apa.Hingga terdengar suara pintu terbuka, dia langsung mendongak.Aku melihat Yohan yang duduk di sofa dengan tangan gemetar. Seluruh tubuhnya berlumuran darah, dan aku tertegun sejenak.Bagaimana dia bisa menemukan rumah baruku?Aku menyingkir, memberi isyarat agar dia pergi.Namun Yohan tiba-tiba menangis tersedu-sedu, seperti sangat ketakutan,"Jangan, Inge, tolong aku, tolong aku. Aku nggak mau masuk penjara.""Aku nggak sengaja, aku nggak bermaksud membunuhnya. Sekarang hanya kamu yang bisa nyelamatin aku, Inge, kumohon, tolong aku."Dari kata-katanya yang terputus-putus, aku baru tahu bahwa dia sudah membunuh Sierra.Hatiku terasa berat. Sebelum sempat berkata apa-apa, suara sirene polisi terdengar mendekat.Yohan
Pertemuan kami berikutnya terjadi di depan pintu kantorku.Petugas keamanan menatapku dengan canggung."Nona Inge, maaf, tenaganya terlalu besar, kami nggak berhasil menahannya."Aku melambaikan tangan, memberi isyarat agar mereka pergi.Yohan tampak seperti kurang tidur. Di bawah matanya ada lingkaran gelap, dan dia tidak lagi terlihat percaya diri seperti dulu.Saat melihatku, ekspresinya langsung berubah bersemangat."Inge.""Ada apa? Kalau nggak ada apa-apa, silakan pergi. Aku sibuk."Yohan menelan ludah, suaranya serak."Dulu, kenapa kamu nggak bilang kalau Sierra ngubungin kamu? Kenapa kamu nggak tanya ke aku?""Inge, kenapa kamu bisa setenang itu?"Aku menundukkan pandanganku, mencoba mengingat kembali dua tahun sejak Sierra muncul.Awalnya, aku juga sempat menanyakan hal itu pada Yohan, tapi dia tidak menganggapnya serius.Setelah itu, aku pun malas berdebat lagi tentang apa sebenarnya niat Sierra.Sampai ibuku meninggal, satu panggilan telepon itu membuatku benar-benar kecewa
Aku tertegun sejenak, lalu menatapnya dengan geli,"Kenapa aku harus malu?"Sierra tertawa sinis. Nada suaranya sengaja dinaikkan sedikit, menarik perhatian sekitar, lalu dia berkata pelan, "Karena kamu mengkhianati Guru."Mengkhianati?Selama beberapa tahun ini, apa pun yang Yohan minta, aku selalu memberikannya.Uang, peralatan, sumber daya, relasi. Aku rasa aku tidak pernah punya kesalahan terhadapnya. Lalu dari mana datangnya istilah mengkhianati?Melihat ekspresiku yang bingung, Sierra menggigit bibirnya dengan marah."Inge, di saat begini, kamu masih pura-pura nggak bersalah. Dulu kamu jelas udah berjanji sama Guru untuk menyediakan sejumlah peralatan baru. Demi menunggu peralatan itu, Guru sampai berkali-kali mengubah rencana penelitiannya.""Tapi kamu malah mengkhianati harapannya. Peralatan yang dia nantikan justru kamu kasih ke orang lain, sampai buat dia kewalahan dengan pengembangan obat.""Kalau ini bukan pengkhianatan, lalu apa?""Sekarang obatnya udah berhasil dikembangk
Tapi aku tidak menyangka, tingkat toleransinya terhadap Sierra jauh melampaui batas yang seharusnya dia miliki.Di tengah isak tangis Sierra, Yohan menghela napas pelan. Dia menepuk bahu gadis itu dengan gerakan yang sangat menenangkan, lalu menatapku dengan nada tak berdaya sambil berkata, "Inge, dia masih muda, belum ngerti apa-apa."Muda?Umurnya sudah dua puluh lima, masih bisa dibilang muda?Mataku terasa hangat, aku tersenyum sinis."Yohan, waktu aku umur dua puluh lima, aku udah berjuang di dunia kerja, cari uang untuk biayain kuliahmu. Setiap hari aku berangkat pagi dan pulang larut. Kerja sampai kewalahan demi revisi proposal, rambutku sampai rontok banyak sekali. Waktu itu, kenapa kamu nggak pernah merasa kasihan dan bilang aku masih muda?"Tatapan Yohan berubah keruh sejenak, tetapi di matanya tidak ada sedikit pun rasa iba padaku. Yang ada hanya ketidakpuasan karena aku mengungkit masa-masa aku membiayai kuliahnya di depan umum.Dia memang seperti itu. Di satu sisi menjaga
Mendengar itu, Juan Chandra menatapku dengan wajah terkejut."Inge, jangan-jangan aku salah informasi, nih? Soal tante .…"Kabar tentang meninggalnya ibuku sudah diketahui semua kerabat dan teman, bahkan Juan yang berada jauh di luar negeri pun tahu. Tapi justru menantunya sendiri, Yohan, sama sekali tidak tahu.Aku mengangguk pelan. "Iya kok, benar. Ibuku udah dimakamkan. Makasih ya, Juan, masih ingat ibuku. Kalau Ibu tau, dia pasti akan senang."Mata Yohan langsung memicing tajam, seolah baru saja mendengar berita yang sangat mengejutkan.Emosi di matanya campur aduk. Terkejut, sedih, dan seolah masih ada sedikit rasa iba.Tapi aku sudah tidak punya tenaga untuk menebak apa yang sedang dia rasakan.Juan berbasa-basi denganku sebentar, lalu pergi karena ada urusan.Setelah berpisah dengannya, aku juga bersiap menghentikan taksi untuk pulang tapi Yohan menghalangi jalanku.Suaranya rendah, dipenuhi emosi yang sulit dijelaskan."Inge … maaf, ya. Aku nggak tahu Ibu sudah pergi. Padahal d
"Inge, kamu tuh sudah tua. Kamu nggak cocok lagi buat pria sehebat Guru. Lagi pula kamu udah tiga puluh tapi belum juga kasih anak untuk Guru. Jangan-jangan kamu memang nggak bisa punya anak? Kalau aku 'kan beda. Masih muda, tubuh juga oke. Kira-kira sekali coba langsung berhasil nggak, ya?""Oh iya, sebelumnya Guru nggak pernah izinin aku punya kontakmu. Tapi kali ini dia nggak bilang apa-apa. Menurutmu, itu artinya apa?"Artinya apa?Aku tidak peduli itu artinya apa.Perutku terasa mual, bergejolak ingin muntah, tapi tidak ada apa pun yang keluar.Benar-benar menjijikkan.Setiap sudut rumah ini dipenuhi aura Yohan, membuat seluruh tubuhku terasa tidak nyaman.Aku menyuruh asistennya mencarikan tempat tinggal baru untukku.Di hari aku pindah rumah, direktur Rumah Sakit Bhakti Sehat menghubungiku, menyampaikan terima kasih atas peralatan yang kuberikan dan beliau ingin mengajakku makan sebagai bentuk terima kasih.Aku pun menyetujuinya.Namun, aku tidak menyangka, selain aku, dia juga







