MasukIbu tiba-tiba sakit parah. Sebelum operasi, dia menggenggam tanganku erat, memintaku untuk segera memanggil Yohan Lukmana, karena ada hal yang ingin dia sampaikan. Aku terus-menerus menelepon Yohan di luar ruang operasi, tapi tak satu pun yang diangkat. Hingga akhirnya dokter keluar, menggeleng pelan ke arahku dengan wajah penuh penyesalan. Semua ketegangan yang kutahan selama ini akhirnya hancur berkeping-keping. Tiba-tiba, panggilan itu tersambung, tetapi yang menjawab justru Sierra Suwandi. "Kak Inge, Guru minum kebanyakan gara-gara bantu aku ngadepin orang tua yang maksa nikah." "Kalau ada perlu, bilang ke aku aja." Aku menatap jenazah ibuku, suaraku terdengar dingin. "Tolong bilang ke Yohan, ibuku sudah meninggal. Kalau dia masih mau peralatan eksperimen itu, suruh dia datang ke rumah sakit." Tapi sampai ibuku dimakamkan, Yohan tak kunjung muncul.
Lihat lebih banyakYohan melepaskan tangannya dengan panik. Meskipun dia marah, dia tidak berniat membunuh.Dia menepuk-nepuk wajah Sierra, mencoba memberikan pertolongan pertama, tetapi wajah yang semula hidup itu tetap tidak bergerak.Pikiran Yohan kosong, dia tidak tahu harus berbuat apa.Hingga terdengar suara pintu terbuka, dia langsung mendongak.Aku melihat Yohan yang duduk di sofa dengan tangan gemetar. Seluruh tubuhnya berlumuran darah, dan aku tertegun sejenak.Bagaimana dia bisa menemukan rumah baruku?Aku menyingkir, memberi isyarat agar dia pergi.Namun Yohan tiba-tiba menangis tersedu-sedu, seperti sangat ketakutan,"Jangan, Inge, tolong aku, tolong aku. Aku nggak mau masuk penjara.""Aku nggak sengaja, aku nggak bermaksud membunuhnya. Sekarang hanya kamu yang bisa nyelamatin aku, Inge, kumohon, tolong aku."Dari kata-katanya yang terputus-putus, aku baru tahu bahwa dia sudah membunuh Sierra.Hatiku terasa berat. Sebelum sempat berkata apa-apa, suara sirene polisi terdengar mendekat.Yohan
Pertemuan kami berikutnya terjadi di depan pintu kantorku.Petugas keamanan menatapku dengan canggung."Nona Inge, maaf, tenaganya terlalu besar, kami nggak berhasil menahannya."Aku melambaikan tangan, memberi isyarat agar mereka pergi.Yohan tampak seperti kurang tidur. Di bawah matanya ada lingkaran gelap, dan dia tidak lagi terlihat percaya diri seperti dulu.Saat melihatku, ekspresinya langsung berubah bersemangat."Inge.""Ada apa? Kalau nggak ada apa-apa, silakan pergi. Aku sibuk."Yohan menelan ludah, suaranya serak."Dulu, kenapa kamu nggak bilang kalau Sierra ngubungin kamu? Kenapa kamu nggak tanya ke aku?""Inge, kenapa kamu bisa setenang itu?"Aku menundukkan pandanganku, mencoba mengingat kembali dua tahun sejak Sierra muncul.Awalnya, aku juga sempat menanyakan hal itu pada Yohan, tapi dia tidak menganggapnya serius.Setelah itu, aku pun malas berdebat lagi tentang apa sebenarnya niat Sierra.Sampai ibuku meninggal, satu panggilan telepon itu membuatku benar-benar kecewa
Aku tertegun sejenak, lalu menatapnya dengan geli,"Kenapa aku harus malu?"Sierra tertawa sinis. Nada suaranya sengaja dinaikkan sedikit, menarik perhatian sekitar, lalu dia berkata pelan, "Karena kamu mengkhianati Guru."Mengkhianati?Selama beberapa tahun ini, apa pun yang Yohan minta, aku selalu memberikannya.Uang, peralatan, sumber daya, relasi. Aku rasa aku tidak pernah punya kesalahan terhadapnya. Lalu dari mana datangnya istilah mengkhianati?Melihat ekspresiku yang bingung, Sierra menggigit bibirnya dengan marah."Inge, di saat begini, kamu masih pura-pura nggak bersalah. Dulu kamu jelas udah berjanji sama Guru untuk menyediakan sejumlah peralatan baru. Demi menunggu peralatan itu, Guru sampai berkali-kali mengubah rencana penelitiannya.""Tapi kamu malah mengkhianati harapannya. Peralatan yang dia nantikan justru kamu kasih ke orang lain, sampai buat dia kewalahan dengan pengembangan obat.""Kalau ini bukan pengkhianatan, lalu apa?""Sekarang obatnya udah berhasil dikembangk
Tapi aku tidak menyangka, tingkat toleransinya terhadap Sierra jauh melampaui batas yang seharusnya dia miliki.Di tengah isak tangis Sierra, Yohan menghela napas pelan. Dia menepuk bahu gadis itu dengan gerakan yang sangat menenangkan, lalu menatapku dengan nada tak berdaya sambil berkata, "Inge, dia masih muda, belum ngerti apa-apa."Muda?Umurnya sudah dua puluh lima, masih bisa dibilang muda?Mataku terasa hangat, aku tersenyum sinis."Yohan, waktu aku umur dua puluh lima, aku udah berjuang di dunia kerja, cari uang untuk biayain kuliahmu. Setiap hari aku berangkat pagi dan pulang larut. Kerja sampai kewalahan demi revisi proposal, rambutku sampai rontok banyak sekali. Waktu itu, kenapa kamu nggak pernah merasa kasihan dan bilang aku masih muda?"Tatapan Yohan berubah keruh sejenak, tetapi di matanya tidak ada sedikit pun rasa iba padaku. Yang ada hanya ketidakpuasan karena aku mengungkit masa-masa aku membiayai kuliahnya di depan umum.Dia memang seperti itu. Di satu sisi menjaga












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.