Short
Cinta Habis Tanpa Bekas

Cinta Habis Tanpa Bekas

Oleh:  ProsperTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Bab
0Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Ibu tiba-tiba sakit parah. Sebelum operasi, dia menggenggam tanganku erat, memintaku untuk segera memanggil Yohan Lukmana, karena ada hal yang ingin dia sampaikan. Aku terus-menerus menelepon Yohan di luar ruang operasi, tapi tak satu pun yang diangkat. Hingga akhirnya dokter keluar, menggeleng pelan ke arahku dengan wajah penuh penyesalan. Semua ketegangan yang kutahan selama ini akhirnya hancur berkeping-keping. Tiba-tiba, panggilan itu tersambung, tetapi yang menjawab justru Sierra Suwandi. "Kak Inge, Guru minum kebanyakan gara-gara bantu aku ngadepin orang tua yang maksa nikah." "Kalau ada perlu, bilang ke aku aja." Aku menatap jenazah ibuku, suaraku terdengar dingin. "Tolong bilang ke Yohan, ibuku sudah meninggal. Kalau dia masih mau peralatan eksperimen itu, suruh dia datang ke rumah sakit." Tapi sampai ibuku dimakamkan, Yohan tak kunjung muncul.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Ada waktu tiga hari dari Ibu meninggal sampai dimakamkan. Tapi selama tiga hari itu, Yohan sama sekali tidak muncul.

Para kerabat dan teman mulai berkomentar, tapi aku hanya bisa berpura-pura tidak dengar.

Namun aku tahu, pernikahanku dengan Yohan yang sudah lama terasa hambar ini, sudah waktunya berakhir.

Setelah menyusun perjanjian perceraian, aku mencoba menghubungi Yohan lagi.

Tapi teleponnya tetap tidak diangkat.

Mungkin dia sedang sibuk.

Baru saja aku mencari-cari alasan untuknya dan membuka pintu, aku langsung melihat sepatu kulit miliknya tergeletak di depan. Di sampingnya, ada pula sepasang sepatu putih mungil yang rapi.

Jelas itu bukan punyaku.

Aku masuk dan mengganti sepatu, lalu melihat Yohan yang sudah menghilang selama setengah bulan, kini sedang menggulung lengan bajunya dan fokus mencuci celana dalam yang berlumuran darah.

Kebetulan sekali, itu juga bukan punyaku.

Begitu melihatku, dia tampak agak terkejut, tapi tangannya tetap bergerak mencuci.

"Inge, kok kamu sempat pulang? Nggak di rumah sakit temani Ibu?"

Ibu?

Ibuku saja sudah dimakamkan, mau menemani ke mana? Neraka atau surga?

Aku sempat membayangkan seperti apa pertemuan kami nanti. Mungkin akan berdebat, menangis, atau bahkan berteriak sampai suara habis.

Tapi sekarang, aku justru merasa sangat tenang. Sampai-sampai aku bahkan tidak ingin bertanya kenapa dia mencuci celana dalam wanita lain.

Saat melihat aku menatap ke arah ember itu, Yohan berkata dengan santai, "Sierra lagi datang bulan dan nggak sengaja celananya ternoda. Perempuan 'kan nggak boleh kena air dingin kalau sedang haid, jadi aku bantu cuciin aja."

Nggak boleh kena air dingin, memangnya air hangat juga nggak ada?

Aku hanya menjawab singkat, "Lanjutkan aja. Kalau udah selesai, aku mau bicara sama kamu."

Mata Yohan langsung berbinar.

"Ah, kiriman alat eksperimen itu udah datang, ya? Bagus sekali, aku memang lagi butuh."

"Inge, langsung aja kirim ke ruang penelitianku. Nanti ada orang yang akan menerima di sana."

"Dengan alat itu, proyek berikutnya pasti akan jauh lebih lancar."

Yohan adalah seorang yang terobsesi dengan eksperimen. Jika harus mengurutkan apa yang paling penting baginya di dunia ini .…

Dulu aku berada di urutan pertama, lalu eksperimen menjadi yang utama. Tapi sekarang .… itu masih harus dipertimbangkan lagi, apalagi sekarang ada murid kecil yang bahkan membuatnya rela mencuci celana dalam.

"Guru, udah selesai belum? Obat khususnya kayaknya bermasalah deh, ular-ularmu udah mati semua."

Ular?

Kepalaku terasa berdengung, lalu aku langsung berlari ke ruang hewan peliharaan.

Aku melihat Sierra mengenakan kemeja putih milik Yohan, kedua pahanya yang putih terekspos. Dia menggigit jari sambil mengernyit, bersandar ke depan lemari kaca, dengan jarum suntik yang masih meneteskan entah cairan apa di tangannya.

Sementara beberapa ular peliharaan yang tadinya aktif kini terkulai lemah di sudut, kelihatannya hampir mati.

"Kamu apain mereka?"

Hampir kehilangan kendali, aku mendorong Sierra.

Wanita itu malah menepuk dadanya dengan pura-pura, lalu tersenyum polos.

"Kak Inge, galak banget sih. Aku 'kan cuma mau nyobain obat khusus yang baru dikembangkan."

Obat khusus?

Aku menatap ke lemari kaca dengan tidak percaya. Tiba-tiba beberapa ular itu menggeliat hebat, memuntahkan busa putih dari mulutnya, lalu tidak bergerak lagi.

Mereka … mati.
Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
9 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status