Home / Romansa / Cinta Jatuh Tempo / Project Baru, Staf Baru

Share

Project Baru, Staf Baru

Author: Kalla Lunara
last update publish date: 2026-09-19 23:11:56

Gavin menyandarkan tubuh ke kursi, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja.

Ada senyum tipis di wajahnya, tapi matanya serius. Ia sudah mendengar presentasi Raia. Data, proyeksi, strategi—semua tersaji rapi. Sekarang giliran Aksenna.

Raia menahan napas. Ia tahu momen ini krusial.

"Eksklusivitas itu komitmen besar, Gavin," kata Aksenna, bersandar di kursinya. "Baik untuk kami maupun untuk kamu. Ada trade-off yang harus dipertimbangkan."

"Justru itu," Gavin menyandarkan tubuhnya ke depan, sikapnya seri
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta Jatuh Tempo   Bukan Pria Berlagak Pahlawan

    Perjalanan dari rumah sakit menuju rumah keluarga Raia di Distrik Barat terasa panjang, karena Aksenna menahan amarahnya sepanjang jalan. Dia mencengkeram kemudi erat, matanya fokus di balik kemudi, sementara otaknya mengulang kembali detail lebam di wajah Raia. ‘Sialan!” Kemarahannya naik kembali ke permukaan.Dua puluh menit kemudian, mobilnya berhenti di sebuah di depan pagar sebuah rumah bercat krem dengan lampu teras yang menyala redup tapi nampak hangat. Aksenna mematikan mesin, merapikan kemeja putihnya yang kusut, lalu turun membelah gerimis. Pagar rumah itu sedikit terbuka. Dari luar, samar-samar terdengar suara TV yang menyala dari dalam ruang tamu.Aksenna mengetuk pintu kayu depan yang sedikit renggang. "Permisi."Pintu terbuka lebih lebar. Seorang wanita paruh baya berdaster muncul dari dalam. Ibu Raia. Segaris kemiripan wajah Raia terlihat di sana. Aksenna otomatis menurunkan ketegangannya demi kesopanan."Iya, cari siapa ya, Nak?" tanya wanita itu, menatap heran pe

  • Cinta Jatuh Tempo   Setan Berkedok Kakak

    Bagi Raia, perasaan ini terasa asing. Belum pernah ada orang yang begitu mencemaskannya. Ia terbiasa menelan lukanya sendirian, dan dikhawatirkan seperti ini membuat dadanya terasa hangat sekaligus sesak.Kalimat “Don’t worry, I’m on my way” seolah ingin ia rekam dan ia dengar berulang-ulang.“… I’m on my way …”Raia bergumam lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh isak tangis yang sejak tadi ia tahan.“Jangan banyak bicara dulu,” potong Aksenna cepat. “Bimo akan bawa kamu ke Rumah Sakit Medika. Aku sudah urus kamar VIP lewat telepon, kamu langsung masuk IGD untuk diperiksa. Aku baru lolos boarding. Satu setengah jam lagi landing, aku langsung ke sana.”Raia meremas ujung jaketnya. Lidahnya mendadak kelu untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi. Ia terlalu malu. Lagi-lagi ini karena ulah kakaknya, yang selalu membawa petaka ke dalam hidupnya.“Harusnya kamu nggak perlu ke sini,” bisik Raia dengan suara bergetar, berusaha mengalihkan fokus dari kondisinya sendiri. “Gimana acara kelu

  • Cinta Jatuh Tempo   Wrong Time For a Romantic Note

    ‘Raia dihajar orang???’Aksenna perlu beberapa waktu untuk mencerna perkataan di ujung telepon sana. Masih berpikir, apa masuk akal, ada orang asing bisa masuk ke dalam apartemen Raia. Meski bukan apartemen mewah dengan keamanan yang terjaga, rasanya tidak sembarang orang bisa memiliki akses bebas untuk ke atas."Bawa Raia ke rumah sakit sekarang, Bimo. Jangan tunggu saya," perintah Aksenna. Suaranya masih tenang meskipun raut kecemasan itu sulit ia sembunyikan. "Make sure, dia ditangani dengan baik di rumah sakit. Saya jalan setelah acara akad selesai."“Baik, Pak,” Bimo menjawab cepat. Klik.Aksenna memutus sambungan lebih dulu. Pria itu memejamkan mata sejenak. Berpikir banyak kemungkinan orang-orang yang mencelakai Raia. Tapi nihil. Otaknya kosong. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menegang menahan amarah dan rasa penasaran.Namun, dia tahu dia tidak bisa egois. Ini hari besar adiknya. Langkah kaki Aksenna akhirnya berbalik, melangkah keluar kamar menuju me

  • Cinta Jatuh Tempo   Mawar dan Memar

    Aksenna memutar-mutar ponsel di jemarinya yang kokoh, menatap layar yang masih bersih dari notifikasi apa pun. Sudah hampir tiga puluh menit sejak kurir khusus melaporkan bahwa buket mawar itu telah diterima langsung oleh Raia.Seharusnya, detik ini ponsel Aksenna sudah diserbu panggilan atau minimal chat dari wanita itu. Suaranya atau bahkan tingkahnya yang excited karena buket bunga yang bahkan mungkin besarnya melebihi lebar rentang tangannya sendiri itu tidak adaSenyap. Tidak juga ada video call yang menunjukkan pipinya yang merah seperti tomat busuk, mencontek perkataan Raia."Gak mungkin juga dia belum baca notes yang ada di bunga," gumam Aksenna rendah, alisnya bertaut rapat.Rasa penasaran yang awalnya menggelitik perlahan berubah menjadi desakan gelisah yang aneh di dadanya. Aksenna akhirnya tidak tahan lagi. Dia menggeser layar, langsung menekan tombol panggilan video ke nomor Raia.Panggilan dialihkan.Aksenna mengernyit. Dia mencoba panggilan suara biasa, namun hasilnya te

  • Cinta Jatuh Tempo   Not So Sunday Kind of Love

    Cahaya pagi baru saja menerobos celah gorden kamar ketika bel apartemen Raia berbunyi bertubi-tubi. Raia, yang baru saja selesai menyeduh kopi dengan kaus longgarnya, mengernyit heran. Siapa yang bertamu sepagi ini di hari Minggu?Begitu pintu dibuka, sosok Raia langsung tenggelam di balik buket bunga mawar merah dan putih raksasa yang dipegang oleh seorang kurir berseragam khusus. Bunga itu begitu besar dan rimbun, hingga sang kurir harus setengah mengintip dari balik dedaunan untuk memastikan wajah Raia."Dengan Mbak Raia? Ada kiriman paket spesial, Mbak. Mohon tanda tangannya di sini," ucap kurir itu ramah, menyerahkan papan jalan sembari berjuang menahan bobot bunga yang luar biasa berat.Raia termangu, coretan tanda tangannya bahkan agak gemetar karena terkejut. Setelah kurir itu pergi dan menyisakan buket raksasa tersebut di atas meja ruang tengahnya—yang seketika membuat ruangan sempit itu penuh dengan aroma wangi yang pekat—Raia menemukan sebuah kartu hitam elegan terselip di

  • Cinta Jatuh Tempo   What If You Were Here

    Raia malah tertawa geli. “Kamu duluan deh ah…”“No, no. You first. Umm .. kita main what if, what if-an aja. What if you were here? What would you do?”“Me first, ya? Apa ya? Umm—maybe … I'd push you down on your bed, kiss you slowly. Dirty talk like this. Kecup-kecup dikit. Then kiss you passionetely. tanganku merayap turun menyusuri tubuh kamu hingga mencapai celana boxer kamu itu. Lalu tanganku masuk ke dalamnya. There must be something hard in there, right?".Helaan napas Aksenna di seberang sana seketika memburu, terdengar berat dan tertahan. Fantasi verbal yang diucapkan Raia dengan suara lembutnya yang serak benar-benar bekerja lebih cepat daripada alkohol mana pun yang dia minum malam ini."Ah, Raia ..." geram Aksenna rendah, cengkeramannya pada ponsel mengerat. "Terus? Setelah tangan kamu ngerasain seberapa tegangnya aku di bawah sana karena kamu, what's next?"“What would you do next after you touch it?"Pria itu mengubah posisi berbaringnya di atas kasur king size hotel, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status