LOGINVino terdiam sejenak, menatap Maya yang masih melontarkan kata-kata pedas, lalu beralih menatap Sally yang tampak semakin menciut di balik hoodienya.Ada kilat kemarahan sekaligus rasa kasihan di matanya. Ia tidak bisa membiarkan Maya mempermalukan Sally lebih jauh, terlepas dari apa pun alasan Sally datang dengan sembunyi-sembunyi.Vino melangkah maju dan berdiri di samping Sally, sedikit menggeser posisinya seolah menjadi perisai."Cukup, Maya. Jangan bicara seperti itu. Sally tidak datang ke sini untuk dihina." Vino suaranya rendah namun berwibawaMaya ternganga, tidak percaya Vino akan memotong kalimatnya. "Vino, dia mengintai kita! Dia punya tunangan kaya tapi masih berkeliaran di sini—"Vino: "Aku tidak peduli dia punya siapa atau berpakaian apa. Dia temanku, dan dia sedang kesulitan. Kalau kau ingin kafenya tetap tenang, biarkan aku bicara dengannya di luar. Tolong."Vino kemudian menoleh ke arah Sally, suaranya melunak. "Ayo, Sal. Kita bicara di depan saja. Kau tidak perlu men
Sally terdiam sejenak, menatap matanya sendiri di cermin sebelum berbalik. Ia berjalan pelan menghampiri Mamanya yang masih sibuk dengan tumpukan sampel kain dekorasi.Tanpa suara, Sally duduk di sampingnya dan menyandarkan kepalanya di bahu sang Mama—sesuatu yang sudah jarang ia lakukan sejak Andrew hadir dalam hidupnya.Ia meraih tangan Mamanya, menggenggamnya erat seolah sedang mencari pegangan di tengah badai."Ma," bisik Sally dengan suara yang sengaja dibuat parau. "Sally merasa... kosong. Semua persiapan ini, kemewahan ini... Sally merasa kehilangan diri Sally sendiri. Boleh ya, Sally pergi sebentar saja? Sally hanya ingin berjalan kaki, melihat lukisan, dan bernapas tanpa ada yang mengatur cara Sally bernapas."Mama tertegun. Ia meletakkan katalog kainnya dan menatap putrinya dengan tatapan yang melunak. Sentuhan fisik itu mengingatkannya pada Sally kecil yang selalu butuh pelukan setiap kali merasa takut."Hanya dua jam, Sally," ujar Mama akhirnya, sambil mengusap rambut putr
Sally menutup pintu jati itu dengan perlahan, namun bunyi klik kunci yang masuk ke porosnya terasa seperti vonis penjara bagi jiwanya.Ia tidak langsung menyalakan lampu utama. Dalam keremangan lobi yang luas, rumah itu terasa lebih seperti museum barang antik daripada sebuah tempat tinggal.Ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin. Napasnya yang sedari tadi diatur agar terlihat tenang kini keluar dengan tersengal.Tubuhnya merosot perlahan hingga ia terduduk di atas lantai marmer yang mengilat, membiarkan jas milik Rian tergeletak begitu saja di sampingnya.Di kepalanya, suara Andrew masih bergema: "Semua orang sudah berada di tempat yang seharusnya."Sally menatap cincin berlian di jari manisnya. Di bawah cahaya lampu taman yang menyelinap dari jendela atas, batu itu berkilau tajam—sebuah simbol kepemilikan yang lebih mirip dengan rantai emas. Ia merasakan mual itu datang lagi.Bukan karena alkohol, melainkan karena kebohongan yang ia telan bulat-bulat malam ini."Apa
"Untuk topeng yang takkan pernah retak," balas Sally dalam hati, lalu meminum cairannya yang terasa pahit—sepahit kenyataan bahwa satu jam menjadi manusia telah habis, dan kini ia kembali menjadi patung indah di tengah simfoni yang palsu.Mobil sedan itu terus melaju tenang, namun atmosfer di dalamnya terasa berat oleh kata-kata yang sengaja digantung.Andrew menyandarkan punggung, menyesap sisa aroma cerutu dari jasnya, lalu menoleh ke arah Sally dengan tatapan yang seolah-olah hanya ingin berbincang santai."Tadi aku sempat mengobrol sebentar dengan Maya di sela pesta," Andrew memulai, suaranya tenang, nyaris seperti bisikan. "Dia terlihat sangat bersinar malam ini. Kafenya, ambisinya... semuanya tampak sempurna."Sally hanya menatap lampu-lampu kota yang melesat di balik kaca, mencoba tetap tenang meski dadanya sesak. "Dia memang pantas mendapatkannya. Maya selalu tahu apa yang dia inginkan.""Termasuk soal Vino?" Andrew memotong cepat, nadanya mengandung rasa ingin tahu yang dibua
Saat ia sampai di depan Rian, sang kakak menyampirkan jas mahalnya ke bahu Sally—menggantikan kehangatan denim dengan dinginnya kain wol berkualitas tinggi.Sebelum masuk ke mobil, Sally menoleh sekali lagi. Vino masih berdiri di sana, di samping motor tuanya yang bisu, menjadi siluet yang perlahan ditelan kegelapan malam."Ayo, Sal," ajak Rian lembut namun dingin. "Kembalilah menjadi Nyonya yang mereka inginkan."Pintu mobil tertutup dengan suara klik yang final.Mobil itu berputar arah, meninggalkan jembatan, meninggalkan motor tua, dan meninggalkan satu jam di mana dua jiwa sempat meruntuhkan kasta hanya dengan satu genggaman tangan.Di dalam kabin mobil yang kedap suara, dunia luar seolah lenyap. Wangi parfum kabin yang mahal dan aroma leather jok mobil menyergap indra penciuman Sally, menggantikan aroma matahari dan oli yang tadi sempat membuatnya merasa hidup.Sally menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Ia melihat bayangan dirinya sendiri di kaca—seorang wanita c
Rian mengepalkan tangan di saku celana bahan yang licin. Matanya menatap aspal yang masih menyisakan sedikit kepulan asap tipis dari knalpot yang lewat."Kau selalu memilih debu daripada emas, Sal," gumam Rian, suaranya hilang ditelan angin malam yang getir.Ia tidak langsung mengejar. Ada pergolakan di dadanya; antara kewajiban sebagai penjaga nama baik keluarga dan rasa sayangnya sebagai seorang kakak yang tahu bahwa adiknya sedang sekarat di dalam gaun mahalnya."Vino..." Rian mendesiskan nama itu seolah nama itu adalah sebuah luka lama yang belum kering. "Hanya lelaki itu yang mampu membuatmu meninggalkan singgasana ini hanya untuk berteman dengan rintik hujan."Rian mengambil ponselnya, namun jemarinya ragu di atas layar.Ia membayangkan wajah Sally yang mungkin saat ini sedang memejamkan mata di punggung kusam kemeja Vino, menemukan 'pulang' yang selama ini tidak bisa diberikan oleh tembok besar rumah mereka."Dunia ini tidak akan membiarkan kalian terbang terlalu jauh," bisik R
Ponsel di saku jaket Vino bergetar. Saat ia melihat layar, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sangat ia kenal_Sally sahabat yang ia cintai.“Vino, ini Sally. Aku di bawa Andrew ke Singapura. Jangan percaya dia, aku dalam bahaya. Dia mengawasiku 2
Sebuah suite mewah di Singapura. Andrew sedang berbicara di telepon di balkon sementara Sally duduk di tepi tempat tidur, menatap sebuah gaun pengantin putih yang tergantung kaku.“Semua sudah siap, sayang. Fotografer terbaik di Asia tenggara akan mengambil sesi pre-wedding kita minggu depan. Kamu
“Singapura? Jam dua pagi? suster, mereka … mereka tidak bisa melakukan ini. Sally masih di ICU.” Vino suaranya serak dan gemetar.“Itu keputusan keluarga, Mas. Andrew sudah menyiapkan ambulans udara. Mas Rian dan Mamanya sudah setuju. Mas harus bangun sekarang!” Suster Maya memberikan semangat pa
Tadi bukan mimpi. Genggaman itu… aroma parfum itu… itu bukan Andrew.” Gumama Sally dalam hati.Sally kemudian menatap Rian mulai goyah. Andrew menarik Rian ke sudut koridor, jauh dari jangkauan pendengaran Sally. Wajah Andrew yang tadi tersenyum di depan Sally kini berubah menjadi dingin dan penu







