LOGINJosh tersenyum. “Mari, Bu Tiara.”
Tiara balas dengan senyum tipis, lalu naik dengan perasaan gamang. Saat Tiara sedang menunduk memasang sabuk pengaman, mata Josh dan Nancy terlihat saling bertemu. Keduanya mengangguk samar penuh arti dalam waktu bersamaan.
“Maaf ya, Josh.” Tiara menoleh. Menatap Josh, tapi cepat memalingkan wajah untuk ganti memandang ke depan saat Josh menatapnya balik. Entah mengapa ada rasa sungkan, campur malu yang menyeruak.
Lagi, Tiara dan Eva saling berpandangan. Dan mengernyit bersamaan.“Widi,” kata Pevita. Seulas senyum lebar menghias wajahnya. “Widi bisa jadi saksi kalau aku sebenarnya nggak dicerai dari Mas Dion, cuma disembunyikan di kost—”“Apa? Jadi kamu diusir dari rumah dan disuruh nge-kost? Sukurin… emang pantas sih perempuan nggak bener kayak kamu dibuang.” Eva tak dapat lagi membendung komentar pedas yang sedari tadi ditahannya.Wajah Pevita tampak memerah. Dadanya juga kentara naik turun. “Terserah apa katamu,” ujarnya dengan nada kesal. “Tapi aku menawarkan kerja sama yang saling menguntungkan. Kita berdua sama-sama menginginkan perceraian itu terjadi kan?”Eva terlihat hendak menyahut, tapi tangan Tiara terburu bergerak menggenggam tangannya. Kode agar gadis itu diam dulu.“Aku yakin kamu tertarik, Mbak. Karena kunci dari gugatanmu itu kan perkara suamimu menikah lagi sama aku.” Senyum Pevita kembali muncul. Merah di wajahnya berangsur-angsur menghilang. “Berikan nomor Widi, biar nanti a
Pevita tersenyum kecut. Apa daya, sebab mungkin saat ini hanya Vian yang bisa membantu melanggengkan tujuannya, jadi sekali ini dia rela harus menjilat ludahnya sendiri. Namun dia tidak ingin secara terang-terangan mengajak mantan kekasihnya itu ke tempat tidur. Bisa besar kepala dia.‘Najis! Gue terpaksa ya, karena ini menyangkut soal nyawa. Sodara gue butuh darah.’ Ketik Pevita sebagai balasan dari pesan Vian yang menggoda. Vian adalah seorang staf senior di sebuah pusat kesehatan, dan hanya itu yang terlintas di kepala Pevita untuk memulai aksinya.Tak perlu menunggu lama, telpon Pevita berdering. Tentu saja dari Vian.Tawa lelaki itu memenuhi gendang telinga Pevita begitu panggilan tersambung. “Alamak bidadariku, kenapa harus pura-pura? Kangen mah kangen aja, pen ciuman ya hayuk. Aku tau suami tuamu nggak akan bisa meladeni ke-hyper-an kamu kan?”Pevita meremas ponselnya, menahan darah yang bergejolak. “Gue serius ya, ada sodara gue yang butuh darah AB, lo bisa usahain nggak? Dua
‘Ah, pikiran apa ini,’ keluh Pevita dalam hati. Masa iya dia harus terjerumus cara-cara licik begitu. Dia menarik napas panjang, berdoa semoga percintaan terakhirnya dengan Dion yang kemarin bisa benar-benar membuatnya hamil.“Sekarang kamu hepi-hepi aja, Pev. Bunda kirim uang ya, perawatan ke salon biar nggak kalah sama Tiara.”Pevita tersenyum kecil. Se-berubah apa sih Tiara itu, sampai mertua dan suaminya menyangka perempuan tua itu melakukan operasi plastik? Sewaktu mereka bertemu di mall juga penampilannya masih mirip babu yang sedang jalan-jalan bersama dua majikannya.Panggilan ditutup. Namun tak berapa lama kembali berbunyi, notifikasi pesan dari Indah. Memberitahu kalau dia perlu bantuan Pevita untuk menutupi rencana kencannya dengan manager keuangan.‘Gue bilang ke ibu gue pergi dua hari bareng lo, Pev. Please ngumpet dulu besok sama lusa ya, takut nggak sengaja lo ketemu keluarga gue.’Pevita menghela napas. Dia dan Indah memang sama-sama mengencani manager beristri di temp
Bu Nita menghela napas. “Ya nggak dengan cara merendahkan dirimu juga, Dion.”“Merendahkan diri gimana? Justru itu menunjukkan kalau aku masih mengingat kesukaan istriku, pasti Tiara senang.” Dion menghisap rokoknya dalam-dalam.Perempuan enam puluh tujuh tahun itu kembali menghela napas. “Ya… besok Bunda belikan. Sekarang tidurlah, Bunda liat kamu ini sering banget duduk di sini sampai malam. Nggak baik buat kesehatan kamu.”Dion gegas mematikan api rokoknya, dan meninggalkan puntungnya di asbak. Dia bangkit. Menatap ibunya. “Besok tolong Bunda ikut bujuk Tiara ya.” ***Jam setengah satu, Dion sudah berada di ruang tunggu pengadilan. Duduk tidak tenang, menggoyang-goyangkan kaki. Sebentar-bentar dia melongok ke pintu masuk.Sementara sekotak pastel ayam dan sekotak siffon keju, mengisi bangku di antara Dion dan sang ibu. Bu Nita tampak sama gelisahnya dengan Dion, tapi dia masih terlihat bisa mengendalikan diri. Sibuk dengan ponselnya. “Ngobrol sama Pevita?” Dion melongok layar pon
Tiara memejamkan mata. “Sebaiknya nggak usah, Mah. Mamah sama Ayah doain aku aja—”“Loh kenapa? Kamu udah nggak mau kenal keluargamu lagi?” potong Bu Lela. Seperti biasa, nadanya meninggi.“Kalau nggak mau kenal pasti aku nggak kirim uang kan, Mah?” Tiara menghela napas. Cepat berpikir, tapi sejujurnya dia tidak punya alasan untuk benar-benar mencegah kedatangan Bu Lela ke persidangannya besok.Hening.“Ya udah.” Suara Bu Lela melunak. “Mamah sama Ayah nggak datang, tapi janji kamu tetap kirim uang rutin ya, dan lebih dari tiga juta.”Hanya helaan napas yang Tiara berikan sebagai jawaban.“Mamah doain kamu banyak uang ya, dan selalu ingat keluarga kamu di sini.” kata Bu Lela lagi.“Udah dulu ya, Mah.” Tiara langsung mematikan sambungan. Mengirimkan nomor Ezra pada Tante Ruth.Setelahnya, Tiara bersiap menggambar. Menyiapkan alat-alat gambarnya dan membuka galeri fotonya, melihat-lihat foto masa kecil Josh yang dikirimkan tadi. Dan dia langsung jatuh hati pada foto candid Josh yang ten
“Mas?!” Pevita tak tahan lagi untuk tidak berteriak. Tangisnya pecah. Banyak kata yang ingin keluar dari mulutnya, tapi pada akhirnya Pevita hanya bisa menangis. Kesal luar biasanya.Apalagi saat Dion mematikan sambungan tanpa berkata apa-apa lagi.Pevita terus menangis. Sudah benar-benar tidak paham dengan pemikiran lelaki itu, kok bisa-bisanya cinta Dion yang terasa membara selama dua tahun ke belakang, justru cepat susut setelah menikah. Jauh dari apa yang Dion janjikan, yang dulu katanya akan lebih sayang padanya daripada Tiara.Pevita menggerungkan tangis sejadi-jadinya.***Kret. Pintu terbuka.“Dion, Bunda denger apa yang barusan kamu omongin sama Pevita.” Bu Nita masuk perlahan.Lelaki itu terlihat kaget sebentar, untuk kemudian menghembuskan napas sembari memalingkan wajah. “Bunda nguping?” Nada suaranya terdengar kesal.“Iya. Bunda memang sengaja nguping, Bunda tau itu salah, tapi Bunda lakukan untuk kebaikanmu juga.” Bu Nita mendekat, berdiri persis di samping sang putra ya







