LOGINAlya mengangkat tangan untuk menghapus air mata, menghindari tangan Emran dengan tenang."Aku tahu, tapi malam ini aku sudah berdiri terlalu lama di pesta. Aku sangat lelah. Aku benar-benar nggak menginginkannya," kata Alya."Lupakan saja kalau kamu nggak menginginkannya." Saat ini Emran sedang merasa senang. Setelah kekacauan ini, dia juga tidak memiliki minat lagi.Nada Emran melembut, lalu dia menarik selimut untuk Alya. "Tubuhmu memang perlu dirawat dengan baik. Aku akan membawamu ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh dalam beberapa hari ini. Sekarang kamu tidur saja dulu."Alya mengangguk, lalu berbaring miring.Emran bangkit berdiri, mengambil piyama, lalu masuk ke kamar mandi.Terdengar suara air dari kamar mandi.Alya membuka mata, pandangannya sangat jernih.Alya sudah mencintai Emran selama 18 tahun penuh, dia berpikir perasaannya tidak akan berubah seumur hidup ini.Dia tidak pernah berpikir bahwa cintanya yang teguh selama 18 tahun ini akan berangsur-angsur
Air mata mengalir dari sudut mata, sementara penglihatan Alya perlahan menjadi jelas.Alya bertanya padanya, "Jadi, hanya karena aku melakukan kesalahan sekali, hanya karena aku melahirkan Ricky tanpa persetujuanmu, sekarang kamu juga ingin melakukan hal yang sama? Emran, apa kamu benar-benar merasa hubungan kita yang seperti ini cocok untuk memiliki anak kedua?"Emran mendengus dingin, "Dulu kamu berani mencuri genku dan melahirkan anak sebelum menikah. Sekarang kita adalah pasangan yang sah, apa salahnya menyuruhmu melahirkan anak perempuan lagi?"Ya, jika memang begitu, Alya sungguh tidak bisa membantah.Alya merasakan kesedihan mendalam di hatinya.Namun, dia tahu bahwa situasi sekarang ini adalah akibat dari perbuatannya sendiri.Alya pantas menerimanya. Hanya saja, pada akhirnya anaknya yang akan menderita.Alya mengangguk. "Emran, karena kamu merasa pernikahan kita yang seperti ini adalah hal yang normal, baiklah kalau begitu. Mulai sekarang aku akan bekerja sama sepenuhnya. Kal
Emran memang pria yang seperti itu. Dia memiliki mulut yang pandai berbicara, lahir dari keluarga kaya raya, serta memimpin Ligata. Dia sudah terbiasa menunjukkan sikap seseorang yang berkuasa. Saat hatinya senang, dia bersikap sopan dan humoris, selalu tanpa sengaja berhasil menggerakkan hati beberapa wanita. Namun, semua itu hanya di permukaan, bukan kenyataannya.Pria ini sebenarnya sangat mendominasi. Hanya dengan membuatnya tidak bahagia, mulutnya yang bisa membujuk dan membuatmu senang juga bisa mengeluarkan kata-kata paling dingin dan tajam untuk melukaimu.Alya sudah mengetahuinya sejak dulu.Namun, sekarang sebagai istrinya, hanya karena Alya menolak kebutuhannya, hanya karena dia tidak ingin memiliki anak perempuan, Emran mengatakan kata-kata setajam ini.Pada akhirnya, pria ini memang tidak mencintainya.Jika pria ini mencintainya, setidaknya dia akan mengatakannya beberapa kata manis untuk membujuknya, 'kan?Sebenarnya Alya sangat mudah dibujuk. Sebelum kakak laki-lakinya m
Alya tampak linglung sejenak, lalu tiba-tiba membuka mata.Pria itu berbau alkohol, mata merahnya menunjukkan maksud yang sangat jelas.Alya sangat mengantuk, juga sangat lelah, jadi dia tidak tertarik sama sekali."Emran, hari ini aku sangat lelah," kata Alya."Kamu nggak perlu melakukan apa pun." Emran tertawa pelan, tidak ada niat untuk melepaskannya.Alya menarik napas dalam, mencoba berkomunikasi dengan suara tenang, "Sejak kita menikah, kamu melakukannya setiap hari. Apa kamu nggak lelah?""Aku masih muda, kenapa aku harus lelah?" Emran menunduk untuk menggigit daun telinganya. "Berikan aku anak perempuan, ya?""Aku nggak ingin punya anak," tolak Alya."Kenapa?" Emran mengangkat kepala, mengerutkan kening menatapnya, lalu berpikir sejenak sebelum bertanya, "Apa kamu takut sakit?""Bukan masalah sakit atau nggak. Aku sekarang memang nggak ingin memiliki anak lagi." Suara Alya terdengar tegas, "Aku sudah memiliki Ricky, satu anak laki-laki sudah cukup untukku.""Ricky akan kesepian
Beberapa waktu lalu emosi Stella juga sangat buruk. Vanesa membawa Stella untuk ikut menemui psikolog tersebut.Akhir-akhir ini, kondisi Stella mulai membaik. Hari-harinya dengan Alex juga makin harmonis dan manis.Kehidupan setiap orang berbeda, masing-masing memiliki tekanannya sendiri, masing-masing memiliki kesulitan yang harus dilewati.Alya menggigit bibirnya sambil berpikir sejenak, lalu dia berkata, "Tadi Emran mengatakan ingin memiliki anak perempuan denganku."Vanesa agak terkejut.Bukankah perubahan Emran ini agak terlalu cepat?"Mungkin hatinya tergerak karena melihat Nayla yang sangat lucu." Alya tersenyum pahit."Belum tentu." Vanesa menganalisis, "Aku lihat dia cukup perhatian pada Ricky. Meskipun Ricky sudah 8 tahun, aku bisa melihat kalau Emran berusaha keras menebus kesalahannya pada Ricky. Dia benar-benar berusaha menjadi Ayah yang baik. Mungkin Emran juga nggak terlalu membencimu. Dia bersedia memiliki anak kedua denganmu, itu berarti dia sudah berubah. Dia serius m
Sesaat kemudian, Alya bertanya, "Apa kamu serius?""Tentu saja." Emran menyerahkan Nayla ke pelukan Alya, lalu melanjutkan, "Coba kamu gendong dia supaya kita mendapat sedikit keberuntungan untuk mendapatkan bayi perempuan. Nanti kita juga akan memberi Ricky seorang adik perempuan yang sama lucunya."Bayi perempuan itu berisi, bahkan tercium aroma susu ketika digendong.Alya sekilas teringat penampilan Ricky saat masih bayi.Dia menunduk melihat putranya yang ada di sampingnya.Ricky menatap mata Alya dengan sedikit mengerutkan kening. "Ibu, kamu jangan tertipu oleh Ayah. Kalau punya anak lagi, apa Ibu benar-benar bisa menjamin itu adalah adik perempuan?"Alya terdiam.Ketika Emran mendengar kata-kata ini, dia langsung merasa kesal. "Nak, apa yang kamu bicarakan? Apa kamu meremehkan ayahmu? Jangankan hanya memiliki satu lagi, aku bahkan bisa memberimu tiga adik perempuan tanpa masalah."Ricky mencibir, "Apa bayi itu akan langsung muncul hanya karena kamu mengatakan menginginkannya? Tap







