LOGINAlya terdiam sejenak dan menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Sedari awal, aku menikahimu semata-mata karena aku menganggapmu sebagai satu-satunya untukku."Emran sontak tertegun."Sekarang, aku ingin bercerai dan berpisah semata-mata karena kamulah pasanganku." Alya menatap mata Emran. "Kamu paham maksudku?"Semenjak Emran tiba di Tibona, pria itu selalu memimpin setiap langkah hidup Alya.Dari kunjungan pertama ke Tibona hingga mereka mendapatkan buku nikah, lalu malam pertama mereka. Dari kamar tidur hingga kehidupan sehari-hari Alya. Hanya dalam waktu dua bulan, Alya sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kali dia mengalah.Apa hasil yang dia peroleh dari sikap mengalahnya?Sosok pria yang justru berulang kali menganggap dirinya paling benar.Alya tahu bahwa Emran sekarang kemungkinan sudah menaruh rasa padanya, tetapi itu bisa mengubah apa?Masalah di antara mereka adalah karena perbedaan visi dan nilai hidup, serta kepribadian yang saling bertolak belakang.Memaksa dua ora
"Emran, ayo kita bicara."Bulu mata Emran sontak bergetar.Intuisi prianya mengatakan bahwa sekarang bukan hari yang tepat untuk berbicara!"Aku belum sarapan," jawab Emran dengan nada polos. "Bisakah kamu mengurus kebutuhan makanan pasien terlebih dulu?"Alya terdiam sejenak, lalu berdiri dan berkata, "Oke."Dia pun berbalik dan pergi keluar untuk mengambil sarapan yang telah Jefri bawakan.Lalu, Alya menyiapkan meja makan kecil untuk Emran dan menyajikan sarapan pria itu. "Makanlah.""Kamu juga ikut makan," kata Emran."Aku sudah makan di rumah."Emran langsung mengernyit, "Kamu sudah makan? Kamu meninggalkanku, seorang pasien, di rumah sakit sementara kamu sarapan di rumah?""Bukannya Jefri yang membawakannya buatmu?" Alya mengernyit, ekspresinya menjadi agak tidak sabar. "Emran, kapan kamu akan berhenti? Aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk meladenimu dengan tenang."Emran melempar sendoknya. "Nona Alya benar-benar nggak adil! Kalau kamu memang nggak mau merawatku, kamu nggak pe
Alya mengiakan dengan acuh tak acuh, lalu melepas botol infus dan mengangkatnya. "Ayo pergi."Emran berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.Setibanya di kamar mandi, Alya menggantungkan botol infus itu.Dia pun berbalik hendak pergi, tetapi tubuh Emran yang tinggi berdiri diam mengadangnya.Alya berhenti melangkah dan mengangkat pandangannya menatap Emran.Emran tersenyum. "Aku nggak bisa membuka celanaku dengan satu tangan, bisakah kamu membantuku?"Alya mengatupkan bibirnya erat-erat dan menarik napas dalam-dalam.Sedari tadi, dia terus menahan diri.Namun, sekarang Alya merasa benar-benar tidak tahan lagi."Emran, kamu pikir aku nggak bisa marah?"Emran sontak tertegun.Alya menatap Emran dengan ekspresi datar. "Aku bersedia merawatmu karena kamu terluka saat menyelamatkanku. Selain itu, aku juga nggak tahan melihat orang tuamu khawatir dan menderita berulang kali karena ulahmu. Ada berbagai macam alasan kenapa aku mau, tapi sama sekali nggak ada faktor karena aku peduli padamu. J
Blake meletakkan buah yang dia bawa ke atas meja di samping, lalu berbalik dan berjalan menghampiri Emran."Kamu memang melindungi Alya, tapi kamu menggunakan bantuanmu untuk mengikatnya secara moral. Perilaku seperti ini bisa dibilang licik.""Oh." Emran sama sekali tidak terpancing, dia malah mengangkat alisnya dengan angkuh. "Blake, Alya dan aku belum resmi bercerai. Kami sedang dalam masa tenang, jadi kami masih merupakan pasangan yang sah secara hukum."Blake balas tersenyum kecil. "Kamu nggak perlu menjelaskan semua ini padaku. Akan kukatakan sekali lagi, aku menghormati semua keputusan Alya.""Kamu pikir kamu siapa? Apa dia butuh rasa hormatmu?" Wajah Emran pun memerah, dia tidak lagi peduli untuk menjaga harga diri dan dengan blak-blakan berkata, "Blake, aku tahu apa yang kamu pikirkan, tapi aku belum mundur. Perilakumu saat ini sama saja seperti sedang merebut wanita orang milik lain!"Blake mengernyit. "Emran, kamu boleh mengatakan apa pun yang kamu mau, tapi tolong pikirkan
Alya pun mengernyit dan bangun sambil menopang tubuhnya di atas kasur. "Kapan kamu bangun?""Tadi jam enam, tapi aku nggak mau mengganggumu karena kamu tampak tertidur dengan pulas." Emran berbaring di kasurnya. Wajahnya tampak berseri-seri, benar-benar tidak terlihat seperti seorang pasien."Masih ada yang terasa sakit?" tanya Alya kepada Emran.Punggung Emran masih terasa sakit, tetapi tidak separah kemarin.Namun, dia tahu bahwa Alya akan langsung pergi apabila dia mengatakan yang sebenarnya."Punggungku terasa nyeri seperti terbakar, kepalaku sakit dan dadaku terasa sesak."Alya menyibakkan selimutnya, lalu memakai sepatunya dan bangun dari tempat tidur. "Biar kupanggilkan dokter.""Nggak perlu." Emran mengulurkan tangan dan menarik Alya kembali.Alya berhenti sejenak, lalu menunduk melihat tangan Emran yang menggenggam tangannya.Telapak tangan pria itu sudah tidak terasa sepanas kemarin.Alya yakin demam Emran telah mereda."Lepaskan." Alya menatap Emran dengan tenang, tetapi din
Karena Alya sudah mengiakan untuk tetap di sana, Emran langsung bersikap baik.Si perawat memasukkan jarum, lalu mulai memasang infus.Untuk berjaga-jaga, si dokter kepala memutuskan untuk memeriksa luka Emran.Perban di punggung Emran pun dilepas. Terlihatlah beberapa luka yang merah, bengkak dan bernanah.Alya sedikit memicingkan matanya.Fiona dan Lukas yang berdiri di samping juga sontak terkejut.Mereka belum melihat luka Emran, jadi mereka tidak tahu ternyata cedera putra mereka separah ini.Suasana tiba-tiba terasa mencekam."Ini agak rumit," kata si dokter kepala. "Hah …. Infeksinya masih berlangsung. Ini akan berlangsung cukup lama sebelum benar-benar sembuh."Mata Fiona pun menjadi berkaca-kaca. Dia merasa kasihan, tetapi juga sangat kesal. "Dasar anak durhaka! Kamu sudah setua ini, tapi tetap saja nggak tahu batas!"Alya mengatupkan bibirnya dan tetap diam.Emran memejamkan matanya sambil menggenggam pergelangan tangan Alya erat-erat dengan satu tangan.Sebenarnya, dia sangg







