Share

4. Alfa Menangis

Brak!

Alfa membanting pintu mobilnya dengan kencang. Ia duduk di balik kemudi lalu menarik rambutnya sadis, hingga bisa saja rontok.

"Haaaaaa ...!" Di dalam mobil yang kedap suara itu Alfa berteriak mengekspresikan perasaannya yang sedang kacau balau.

"Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Alfa bertanya-tanya dengan emosi yang sangat tidak stabil. Napasnya naik turun tak menentu. Matanya memanas hingga butiran cair bening pun menetes melalui ujung matanya.

"Aku selalu memcarimu, Naura, tanpa henti, tanpa lelah. Aku selalu menebak-nebak apa alasan kepergianmu, dan aku sangat berharap kita bisa melanjutkan hubungan kita atau mungkin kita bisa memulainya dari awal. Tapi ternyata kamu udah punya calon suami."

"Kenapa kamu begitu tega, Naura, kenapa? Kamu telah berubah, kamu tidak lagi seperti Naura yang aku kenal dulu."

Seorang laki-laki menangis, itu pasti sakitnya sudah sangat menancap di relung hatinya.

Ya, seorang Alfarezi Kavindra yang terkenal angkuh dan arogan kini tengah menangis dalam kesendirian. Sedang menangis karena kenyataan yang ia terima begitu menyakitkan, begitu menghancurkannya.

Naura, satu-satunya wanita yang menguasai hatinya, sejak dulu dan selamanya akan begitu, namun kini wanita itu menoreh luka yang bisa saja membunuhnya.

Bagaimana tidak? Cinta Alfa untuk Naura sangat dalam. Alfa telah jatuh cinta pada Naura sedalam-dalamnya. Alfa mencintai Naura dengan sepenuh hatinya, dan segenap jiwanya. Namun lima tahun lalu Naura menghilang tanpa jejak seakan hilang ditelan bumi. Meski begitu Alfa tidak pernah menganggap hubungan mereka telah selesai. Karena Alfa yakin pada suatu hari yang tepat mereka akan dipertemukan kembali. Lalu pertemuan mereka kali ini apakah merupakan pertemuan yang tepat?

Isak tangis memenuhi setiap sudut mobil, berdengung dan membuat rasa sakit itu semakin nyata.

Alfa memukul-mukul dadanya yang sangat sesak. Napasnya tersengal akibat tangisnya.

Lalu tiba-tiba suara dering telpon terdengar, membuat Alfa mengusap pipinya yang basah.

Alfa melihat nama Evano tertera pada layar ponselnya. Ia tak ragu untuk mengangkat telpon dari sahabatnya itu.

"Hallo." Suara parau Alfa tidak bisa disembunyikan. Namun Alfa tidak peduli meski ia tahu akan banyak pertanyaan yang diajukan oleh Vano nantinya.

"Hei, Bro, kamu terlambat. Aku udah sampai di tempat kita janjian sejak lima belas menit yang lalu. Kalau kamu ada kencan seenggaknya kamu kabarin dong, biar aku nggak nungguin terus. Sampai lumutan aku nungguin kamu." Vano langsung menggerutu panjang.

"Dasar, lebay! Udah jagan berisik, aku kesana sekarang," tukas Alfa.

"Eh tunggu, kenapa suaramu—"

"Aku kesana sekarang!"

Tut.

Alfa langsung mematikan sambungan telponnya secara sepihak, tidak membiarkan Vano banyak bertanya melalui sambungan telepon. Biar saja nanti mereka mengobrol secara langsung.

Alfa pun segera melajukan mobilnya untuk menemui sahabatnya itu.

***

Kluntang!

Alfa menjatuhkan kunci mobilnya di atas meja yang sudah di tempati oleh Vano, kemudian ia menarik kursi dengan kasar untuk ia duduki. Mereka telah membuat janji temu di kafe langganan mereka.

"Hmm ... boss yang super sibuk, kerjaannya ngaret mulu nih. Padahal mah sok sibuk doang," cibir Vano dengan dengusan kecil.

"Ck, kamu lagi nyindir diri sendiri?" Alfa berdecak sinis. Pasalnya, memang biasanya Vano lah yang selalu ngaret alias  selalu saja terlambat.

"Aih ... nggak asik, sukanya membalik-balikkan perkataan!" protes Vano

"Eh tunggu, kenapa mata kamu? Kayak habis disengat lebah gitu, bengkak," lanjut Vano sambil menunjuk-nunjuk mata Alfa, hampir saja dicoloknya.

"Sialan! Mana ada disengat lebah rapi gini bentuknya." Alfa menggerutu dan Vano berhasil tertawa di buatnya.

"Ya terus itu kenapa? Habis mewek? Ngapain juga kamu mewek, yang ada kamu yang bikin mewek cewek-cewek yang ngejar kamu," celetuk Vano masih belum selesai tertawa.

"Bisa pesenin kopi dulu nggak? Haus nih, apalagi ditambah harus jawab-jawabin pertanyaanmu, makin kering nanti tenggorokan."

"Nggak usah cemas nggak perlu risau, minuman udah datang, tuh." Vano menunjuk dengan dagunya pada minuman yang tengah diantarkan oleh seorang pelayan.

"Kurang pengertian apa aku, coba?" lanjut Vano lagi berbangga diri.

"Makasih," kata Vano pada pelayan yang mengantarkan kopi pesanan mereka. Pelayan itu mengangguk kemudian kembali bekerja.

"Heh, kenapa nangis, kucing di rumah meninggal?" tanya Vano lagi untuk kesekian kalinya, sangat penasaran dengan apa yang menyebabkan mata Alfa bengkak.

"Aku nggak punya kucing!" tukas Alfa.

"Oh, oh iya lupa. Terus kenapa?"

"Aku lagi patah hati."

"Buset! Hati bisa patah? Kayak gimana bentuknya hati yang patah? Kayak gambar-gambar yang ada di internet bukan?" tanya Vano dengan kekonyolannya.

"Bisa serius nggak?" Alfa berkata tajam, setajam tatapannya yang mematikan.

Vano langsung terdiam. Dia menyadari kalau situasinya harus serius sekarang.

"Oke, serius. Jadi kamu patah hati karena apa? Nggak mungkin karena masalah kerjaan kan? Dan kalau masalah cewek, yang ada malah kamu yang matahin hati para cewek," cerocos Vano.

"Ada satu perempuan yang bisa bikin aku patah hati. Kamu tahu betul siapa dia kan, Van?"

Vano mengerutkan kening. "Hanya Naura yang bisa mematahkan hatimu," celetuk Vano dengan terselip keraguan. Vano tahu persis perjalanan Naura dan Alfa karena mereka bertiga adalah sahabat, dulu.

"Ya, dan memang dia yang udah bikin aku patah hati sekarang." Alfa berkata penuh kepedihan.

"Ha? Maksudmu, Naura—bagaimana bisa?"

"Bisa. Aku udah menemukan Naura tapi aku udah nggak bisa menemukan cintanya," ucap Alfa dramatis.

"Ma-maksudnya? Oh tunggu-tunggu, kamu nggak lagi ngigau kan? Ka-kamu ketemu dia dimana?"

"Ceritanya panjang. Tapi yang jelas aku udah nggak bisa menggapai dia lagi sekarang. Bahkan untuk meminta menjelasannya aja aku nggak memiliki kesempatan. Dia ... dia udah punya tunangan, calon suami."

"Apa? Itu nggak mungkin. Itu bohong kan, Al?" Vano terkejut.

"Kalau itu bohongan, aku nggak mungkin sampai nangis gini, Van!" kata Alfa merutuki kebodohan sahabatnya.

Vano menganga, kemudian menepuk dahinya sendiri.

"Bagaimana itu mungkin? Emangnya kamu ketemu dia dimana? Tapi, Naura baik-baik aja kan?"

"Dia kelihatan sangat baik meski tanpa aku. Itu berarti dia bahagia dengan kehidupan barunya," lirih Alfa

"Payah! Sangat payah! Dia ada di dekatku tapi aku nggak bisa menggapainya. Aku akan selalu bersama dia tapi aku nggak bisa memilikinya."

"Tunggu, ini maksudnya apa nih? Tolong ngomongnya pake bahasa yang mudah dicerna, oke? Udah tau aku lemot," gerutu Vano.

"Dia bekerja di perusahaanku. Dia jadi sekretarisku. Aku bakal ketemu dia setiap hari kan? Tapi itu justru akan sangat menyakitkan. Ya Tuhan ...." Alfa mengusap wajahnya kasar.

"Bekerja di perusahaanmu dan jadi sekretarismu. Kabar buruk! Itu mungkin bisa dikatakan musibah," balas Vano.

"Tapi, gimana kamu bisa tahu dia udah punya calon suami?"

"Aku tahu, aku melihatnya dan aku berbicara dengannya. Kami bertemu saat laki-laki itu menjemput Naura."

"Tapi dia hanya calon suami, belum jadi suaminya Naura. Semua masih bisa dirubah."

"Memangnya apa yang bisa aku lakukan, Vano?"

***

Komen (5)
goodnovel comment avatar
Elpit
Cuma mau kasih tau aja kak. Cowok menangis itu bukan karena lembek, tapi karena dia memiliki perasaan. Cowok juga manusia, bukan robot, jadi bukan hal yang dilarang kalo cowok menangis. kakak belum baca kelanjutannya tapi sudah menyimpulkan demikian.
goodnovel comment avatar
Elpit
silakan kak. terima kasih sudah mampir
goodnovel comment avatar
Dian Rahmat
aaah jadi laki kok lembek. ketika rasa mengalahkan logika maka kelakuan udah gak nalar lagi deh... ... . sy penganut faham strong... jadi males bgt ketemu laki2 lembek gini. maaf thor, sy cari cerita lain ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status