LOGINSebelum permainan escape room dimulai, aku memergoki pacarku, Darren Hartama, dan sahabatku, Vivi Brahmin, sedang merencanakan sebuah lelucon bersama. Mereka berencana meninggalkanku terkunci sendirian di ruangan yang gelap gulita pada tahap terakhir. Jadi, ketika aktor berkostum mengatakan bahwa salah satu wanita harus tetap tinggal, pacarku, adik laki-lakiku, dan sahabatku langsung menunjukku tanpa ragu sedikit pun. Adikku mendorongku dengan tidak sabar. "Kamu dari dulu paling berani. Memangnya kenapa kalau kamu keluar paling terakhir?" Vivi bersembunyi di belakang Darren, memasang wajah seolah tersakiti sambil menarik jaketnya. "Fiona, kalau kamu takut, biar aku saja yang tinggal ...." Darren langsung merengkuhnya ke dalam pelukan sambil mengernyit. "Vivi takut gelap. Jangan mempersulit keadaan." Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, adikku sudah mendorongku melewati pintu. Darren pasti sudah lupa kalau aku juga takut gelap. Dulu saat kami masih tinggal bersama, kalau listrik di apartemen kami tiba-tiba mati, dia akan bergegas keluar dari kamar mandi dengan sampo yang masih menempel di rambutnya hanya untuk memelukku yang sedang gemetar. "Jangan takut, Fiona," bisiknya saat itu. Sekarang demi orang lain, dia malah mendorongku ke dalam kegelapan dengan tanpa ragu. Di tengah kegelapan, salah satu aktor berkostum menghampiriku dari sudut ruangan sambil membawa cahaya redup. Alih-alih menakutiku seperti seharusnya, dia menghela napas dan menyodorkan selembar tisu kepadaku. "Putusin dia. Aku sudah bekerja di sini selama tiga tahun, dan nggak ada yang lebih membuatku muak daripada pria yang menjadikan pacarnya sendiri sebagai tameng." Aku tertegun sesaat, lalu menerima tisu itu. Ujung jariku tidak berhenti gemetar. Ternyata memang sejelas itu perbedaan antara dicintai dan tidak dicintai. Hidungku terasa perih. Aku menggenggam tisu itu semakin erat, lalu tertawa getir dalam kegelapan. "Ya. Sudah waktunya mengakhiri semuanya."
View MoreDi ruang tunggu keberangkatan, layar ponselku menyala. Nama ibuku muncul di layar.Setelah aku mengangkatnya, rentetan teriakan langsung meledak dari seberang sana."Fiona, dasar anak nggak tahu berterima kasih! Program peradilan pidana yang diikuti saudaramu membuatnya dikenai masa percobaan disipliner! Kekacauan yang kamu timbulkan sudah viral di internet! Kamu menghancurkan saudaramu sendiri. Sekarang kamu puas?!"Kemudian, terdengar suara keributan dari seberang sana."Ibu, hentikan ...." Suara Kyle terdengar melalui telepon, berat oleh kelelahan, tanpa sedikit pun sisa sikap angkuh yang dulu selalu dia tunjukkan."Aku sendiri yang menyebabkan semua ini. Aku nggak bisa menyalahkan siapa pun. Fiona, maafkan aku."Sambungan telepon pun terputus.Aku bersandar di kursi ruang tunggu keberangkatan, menatap dalam diam liontin yang sudah diperbaiki di tanganku.'Nek, setelah Nenek pergi, mereka semakin nggak menyayangiku.'Aku membuka daftar kontak, memblokir semua nomor dari keluarga itu
Kepergianku ibarat mencabut dinding penyangga terakhir dari perusahaan Darren.Aku tidak mengambil sepeser pun, tetapi aku membawa seluruh kode sumber proyek utama beserta semua hak kepemilikan perusahaan.Aku membangunnya setelah bergadang melalui malam yang tak terhitung hingga tubuhku nyaris tak sanggup lagi menahan lelah. Mereka bahkan tidak memahami kodenya, apalagi membuatnya kembali.Setelah para klien besar mengetahui bahwa proyek yang Vivi klaim sebagai miliknya ternyata tak lebih dari sebuah cangkang kosong, mereka mulai menarik pendanaan satu per satu.Di dunia bisnis, ternyata Julian jauh lebih kejam dan tegas daripada yang pernah kubayangkan.Dalam waktu kurang dari dua minggu, dia memutus seluruh jalur pasokan yang menjadi tumpuan terakhir Darren, membuatnya terjebak di jalan buntu tanpa jalan keluar.Darren harus membayar denda pelanggaran kontrak dalam jumlah yang sangat besar. Seluruh arus kasnya pun ambruk.Kantor yang pernah diklaim Vivi sebagai miliknya, yang selalu
Pemanas di dalam mobil menyala. Julian menyelipkan secangkir latte panas ke tanganku. Aroma kopi yang pekat dan pahit mengusir hawa dingin dan lembap yang masih melekat di tubuhku.Di luar jendela, badai yang sejak tadi mengancam akhirnya pecah.Ponselku terus bergetar tanpa henti.Sofia, resepsionis yang dulu cukup akrab denganku di perusahaan, diam-diam memulai siaran langsung di grup obrolan karyawan.Di layar, Darren menyapu laptop merah muda dan pajangan kristal milik Vivi dari meja dengan gerakan kasar. Di tengah jeritan melengking orang-orang di sekitarnya, dia mencengkeram leher Vivi."Kenapa kamu melakukan itu .... Kenapa kamu mengunci Fiona di sana? Kamu tahu betapa berartinya penghargaan itu untuk dia!" Mata Darren begitu merah, sementara urat-urat di punggung tangannya menonjol. "Kamu tahu nggak kalau gara-gara kamu, dia nggak pernah sempat mengucapkan selamat tinggal kepada neneknya?! Vivi, sebenarnya ada apa denganmu?!"Vivi mencakar kedua lengannya. Kukunya meninggalkan
Tiga hari kemudian, aku selesai menandatangani dokumen properti terakhir yang perlu dinotariskan sebelum meninggalkan negara ini.Begitu keluar dari kantor pengacara, Darren dan Kyle langsung menghalangi jalanku.Lingkaran hitam terlihat jelas di bawah mata Darren. Rahangnya dipenuhi cambang, sementara kemejanya kusut parah. Dia tampak berantakan dan kelelahan.Dia mencengkeram pergelangan tanganku dan bertanya dengan suara serak, "Fiona, kamu ke mana saja beberapa hari ini? Apa maksud ucapan Julian waktu itu?"Sebelum sempat melepaskan tangannya, dia buru-buru menjelaskan, dengan nada seolah sedang berusaha menipu dirinya sendiri tanpa dia sadari."Aku sudah tanya Vivi setelah pulang. Dia bersumpah sambil menangis kalau dia sama sekali nggak terlibat."Dia menatapku, tetapi entah bagaimana nada suaranya masih terdengar menyalahkanku, "Fiona, Vivi itu penakut. Menginjak serangga saja dia nggak berani. Mana mungkin dia melakukan hal seperti itu? Kalian sudah bersahabat bertahun-tahun. K












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.