Short
Cinta Luntur Bagaikan Salju Es yang Mencair

Cinta Luntur Bagaikan Salju Es yang Mencair

By:  LiraCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
48views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sebelum permainan escape room dimulai, aku memergoki pacarku, Darren Hartama, dan sahabatku, Vivi Brahmin, sedang merencanakan sebuah lelucon bersama. Mereka berencana meninggalkanku terkunci sendirian di ruangan yang gelap gulita pada tahap terakhir. Jadi, ketika aktor berkostum mengatakan bahwa salah satu wanita harus tetap tinggal, pacarku, adik laki-lakiku, dan sahabatku langsung menunjukku tanpa ragu sedikit pun. Adikku mendorongku dengan tidak sabar. "Kamu dari dulu paling berani. Memangnya kenapa kalau kamu keluar paling terakhir?" Vivi bersembunyi di belakang Darren, memasang wajah seolah tersakiti sambil menarik jaketnya. "Fiona, kalau kamu takut, biar aku saja yang tinggal ...." Darren langsung merengkuhnya ke dalam pelukan sambil mengernyit. "Vivi takut gelap. Jangan mempersulit keadaan." Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, adikku sudah mendorongku melewati pintu. Darren pasti sudah lupa kalau aku juga takut gelap. Dulu saat kami masih tinggal bersama, kalau listrik di apartemen kami tiba-tiba mati, dia akan bergegas keluar dari kamar mandi dengan sampo yang masih menempel di rambutnya hanya untuk memelukku yang sedang gemetar. "Jangan takut, Fiona," bisiknya saat itu. Sekarang demi orang lain, dia malah mendorongku ke dalam kegelapan dengan tanpa ragu. Di tengah kegelapan, salah satu aktor berkostum menghampiriku dari sudut ruangan sambil membawa cahaya redup. Alih-alih menakutiku seperti seharusnya, dia menghela napas dan menyodorkan selembar tisu kepadaku. "Putusin dia. Aku sudah bekerja di sini selama tiga tahun, dan nggak ada yang lebih membuatku muak daripada pria yang menjadikan pacarnya sendiri sebagai tameng." Aku tertegun sesaat, lalu menerima tisu itu. Ujung jariku tidak berhenti gemetar. Ternyata memang sejelas itu perbedaan antara dicintai dan tidak dicintai. Hidungku terasa perih. Aku menggenggam tisu itu semakin erat, lalu tertawa getir dalam kegelapan. "Ya. Sudah waktunya mengakhiri semuanya."

View More

Chapter 1

Bab 1

Aktor itu menempelkan kartu identitasnya untuk membuka pintu tersembunyi. Cahaya dari luar membuatku menyipitkan mata.

"Jangan menoleh ke belakang." Dia menepuk bahuku.

Aku mengangguk berterima kasih dan mendorong pintu hingga terbuka, lalu melihat mereka bertiga berada di lounge lobi. Permainan itu sudah berakhir 20 menit yang lalu. Namun, tak satu pun dari mereka datang mencariku.

Darren sedang berdiri di konter membeli kopi. Dengan gerakan yang begitu terbiasa, dia memasukkan sedotan lalu menyodorkannya ke bibir Vivi. Adik laki-lakiku, Kyle Chandra, sedang bersantai di sofa sambil membacakan lelucon dari ponselnya kepada mereka.

Vivi tertawa cekikikan sampai hampir tak bisa duduk tegak, sementara Darren menatapnya dengan senyum penuh kasih.

Benar-benar pemandangan yang sempurna.

Aku menarik napas dalam-dalam sambil berjalan menghampiri mereka, menarik kursi di seberang Kyle, lalu duduk. "Apa yang lucu?"

Suara tawa langsung berhenti.

Senyum di wajah Darren membeku sesaat sebelum berubah menjadi kesal. "Fiona, kenapa lama sekali di dalam?"

"Serius, kamu ngapain saja?" Kyle memutar bola mata dan melemparkan ponselnya ke meja. "Vivi ketakutan di escape room, jadi kami bawa dia keluar untuk minum supaya dia tenang. Kamu nggak akan marah cuma gara-gara itu, 'kan?"

Vivi langsung mengerutkan bahunya dan matanya memerah.

Dia menyodorkan kopi yang baru saja diminumnya kepadaku, suaranya terdengar hati-hati dan ragu. "Fiona, maaf banget. Aku terlalu takut, jadi aku minta Darren dan Kyle membawaku keluar lebih dulu ...."

Dia maju dan menggenggam tanganku. "Tolong jangan marah sama mereka. Aku cuma minum sedikit. Kamu boleh ambil sisanya, ya?"

Sepuluh tahun bersahabat. Dia tahu persis bagaimana cara mempermainkanku.

Dulu, aku pasti akan menahan amarah dan menerima minuman itu hanya agar tidak dibilang berlebihan. Namun, aku melirik bekas lipstik di sedotan, lalu mengulurkan tangan dan langsung menyapu gelas itu hingga masuk ke tempat sampah di samping kami.

Gelas itu jatuh dengan bunyi pelan. Cairan cokelat memercik ke lantai.

"Vivi, aku nggak mau apa pun yang sudah kamu sentuh."

Wajah Vivi langsung pucat. Dia menutup mulut dengan satu tangan dan terhuyung mundur selangkah.

"Fiona! Kamu kenapa, sih!" Darren langsung berdiri dan menarik Vivi ke belakang tubuhnya. "Dia sedang nggak enak badan, tapi kamu malah bikin keributan di depan umum? Itu cuma escape room. Memangnya harus dibesar-besarkan seperti ini?"

"Benar! Memangnya kamu harus bersikap begini?" Kyle buru-buru mengambil tisu untuk mengelap pakaian Vivi, lalu berbalik menatapku tajam.

Aku memandang dua pria yang pernah kusayangi sepenuh hati itu dan kini hanya merasa muak.

"Aku membesar-besarkan masalah ini atau nggak, kamu sendiri tahu jawabannya, Darren." Aku mengambil tasku tanpa repot-repot melirik mereka lagi. "Permainannya sudah selesai. Hubungan kita juga."

Aku tidak memberi Darren kesempatan untuk menghentikanku ataupun menjelaskan apa pun. Aku berbalik, berjalan keluar, lalu menghentikan taksi.

Dari balik jendela mobil, kulihat Darren tidak mengejarku keluar. Dia sedang menundukkan kepala, menenangkan Vivi yang masih terguncang dengan lembut.

Aku kembali ke apartemen yang kutinggali bersama Darren. Aku yang membayar uang muka apartemen ini, tetapi demi menjaga harga diri Darren, aku mencantumkan nama kami berdua di sertifikat kepemilikan.

Kalau dipikir-pikir sekarang, itu adalah hal paling bodoh yang kulakukan selama lima tahun terakhir.

Aku mengeluarkan koper dari kamar utama dan mulai mengemasi semua barang milikku.

Pakaian, produk perawatan kulit, laptopku. Aku tidak akan membawa satu pun barang pemberian Darren dan aku juga tidak akan meninggalkan satu pun barang yang kubutuhkan.

Saat membuka laci paling bawah nakas untuk mencari paspor, sebuah kotak perhiasan beludru terjatuh. Aku terdiam sejenak, memungutnya, lalu membukanya. Di dalamnya terdapat kalung berlian yang dibuat khusus.

Aku pernah melihat kalung ini.

Baru minggu lalu, Vivi membagikan foto desain kalung yang sama ke daftar Close Friends di akun Instagram pribadinya. Keterangan fotonya berbunyi:

[ Dia bilang akan membuatnya jadi nyata untukku. ]

Ternyata tanda-tandanya sudah ada sejak awal. Aku mengeluarkan ponsel dan memotret kalung itu di samping tangkapan layar unggahan Vivi.

Saat aku hendak pergi, ponselku bergetar karena pesan dari Darren. Bahkan hanya melalui layar, aku bisa merasakan nada merendahkannya.

[ Fiona, sudah selesai ngambeknya? Vivi masih menangis gara-gara ucapanmu. Cepat ke sini dan minta maaf padanya. Sekarang. ]

Dia mungkin mengira aku akan mengalah seperti biasanya. Dia pasti mengira hanya dengan menatapku dingin, aku akan kembali merangkak kepadanya tanpa menyisakan harga diri sedikit pun.

Aku mengetuk layar dan mengirimkan foto yang baru saja kuambil, lalu menambahkan satu kalimat.

[ Darren, hubungan kita selesai. ]

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status