Short
Sandaran di Ujung Penyesalan

Sandaran di Ujung Penyesalan

By:  QQCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
24Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah mengalami keguguran, Louisa menjadi istri yang seperti diharapkan Sammy. Dia tidak lagi berbagi cerita tentang momen menarik kesehariannya, tidak lagi menelepon di tengah malam karena Sammy tidak pulang. Bahkan saat dia dijebak orang hingga harus ditahan polisi, dan polisi memintanya menghubungi keluarga agar bisa dibebaskan dengan jaminan, dia hanya menjawab dengan tenang bahwa dia tidak punya keluarga, lalu menjalani masa penahanan selama seminggu tanpa protes. Pada sore hari tujuh hari kemudian, terali besi kantor polisi terbuka dengan bunyi berderak. Saat Louisa menuruni tangga, sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak di depannya. Pintu mobil terbuka, dan Sammy melangkah keluar mengenakan setelan jas buatan desainer ternama. Pria itu tinggi dengan kaki panjang, bahu lebar, dan pinggang ramping. Penampilannya angkuh dan dingin seperti biasanya, bagaikan embusan angin di bawah rembulan yang terang.

View More

Chapter 1

Bab 1

Sammy berjalan menghampirinya, alisnya berkerut. "Louisa, kamu dijebak begini, kenapa nggak telepon aku?"

Louisa tersenyum tipis. "Aku sudah telepon, tapi nomormu aktif nggak?"

Waktu itu, dalam perjalanannya pulang kerja, seorang lansia tiba-tiba terjatuh di depan mobilnya. Dia turun untuk membantu, tapi lansia itu malah mencengkeram lengannya dan berteriak, "Dia menabrakku! Dia ingin tabrak lari!"

Rekaman CCTV membuktikan dia tidak bersalah. Tapi, sesuai prosedur, jika dia ingin pergi, dia harus mendapatkan tanda tangan keluarga sebagai jaminan.

Dia mengatakan tidak memiliki keluarga, polisi tidak percaya. Mereka memeriksa informasi kependudukannya, lalu menemukan nomor telepon Sammy.

Sammy sudah ditelepon, tapi nomornya tidak aktif.

Ditelepon puluhan kali, selalu tidak aktif.

Ekspresi Sammy sedikit berubah. "Valerie sakit perut, jadi aku menemaninya ke rumah sakit. Dia nggak suka suara bising, jadi aku ponselku kumatikan."

Dia berhenti sejenak, lalu merendahkan suaranya. "Maaf."

"Nggak apa-apa," kata Louisa. "Aku memang sejak awal nggak mau memanggilmu. Nggak apa-apa, kamu lanjutkan urusanmu."

Dia berbicara dengan sangat tenang, matanya tidak memancarkan emosi apa pun, seperti danau tanpa angin, tidak beriak sedikit pun.

Sammy menatapnya, lalu tiba-tiba meraih tangannya.

Tangan pria itu panas dan gerakannya kasar, membuat Louisa mengernyit.

"Kenapa kamu nggak marah?" Sammy menatapnya, matanya kebingungan, dan ada sedikit kegelisahan yang tidak ingin dia akui.

Louisa merasa ingin tertawa. "Kenapa aku harus marah? Kamu sudah memberi alasan, dan aku mengerti. Jadi, nggak ada alasan untuk marah."

"Louisa ...."

"Aku capek, mau pulang." Louisa menarik kembali tangannya dan berjalan mengitarinya menuju pintu mobil.

Sammy berdiri diam, menatap punggungnya.

Tujuh hari tidak bertemu, dia terlihat jauh lebih kurus. Kemejanya terlihat longgar di tubuhnya.

Dulu, jika diabaikan olehnya, sekecil apa pun itu, Louisa akan menangis dan marah padanya, bertanya dengan sedih, "Sammy, pernahkah kamu peduli padaku?"

Saat itu, dia berpikir bahwa wanita itu terlalu membesar-besarkan masalah dan bersikap kekanak-kanakan.

Tapi, Louisa sekarang tidak marah lagi, tidak menangis lagi. Apa pun yang dia katakan, wanita itu hanya mengangguk mengerti. Tapi, dirinya justru merasa ... gelisah.

...

Di dalam mobil sangat sunyi.

Sopir mengemudi di depan, Louisa duduk di kursi belakang dekat jendela, menatap pemandangan di jalan yang berlalu lalang.

Louisa tidak seperti dulu lagi, begitu masuk mobil langsung memandanginya, seakan hanya ada pria itu di matanya. Saat mereka berdua saja, Louisa selalu mencari topik pembicaraan, dan meski selalu ditanggapi dengan dingin, dia tetap bisa bicara sendiri sepanjang waktu.

Sekarang, Louisa hanya duduk diam, seolah tidak ada dia di sana.

Sammy akhirnya tidak tahan lagi dan berkata, "Kamu masih marah karena kejadian waktu itu, ya?"

Louisa menoleh menatapnya, matanya tenang. "Nggak. Itu sudah berlalu."

"Lalu, kenapa kamu ..."

"Sammy." Louisa menyela. "Kamu ingin apa dariku? Seperti dulu, mengganggumu setiap saat? Atau seperti sekarang, diam dan memberimu kebebasan?"

Sammy terdiam.

Tentu saja, dia berharap Louisa tidak selalu ribut, tidak terus-menerus bertengkar dengannya karena urusan Valerie. Tapi, ketika Louisa benar-benar menjadi seperti itu, dia merasa ... ada yang salah.

Semua terasa salah.

"Aku cuma merasa kalau kamu berubah," katanya pelan.

Louisa kembali menatap ke luar jendela.

Apakah dia berubah?

Mungkin.

Perilaku seseorang akan menjadi berbeda saat mencintai atau tidak mencintai seseorang.

Keheningan kembali menyelimuti. Sammy ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi ponselnya berdering.

Telepon dari Valerie.

Dia menekan tombol terima, dan suara manja Valerie langsung terdengar dari sana. "Kak Sammy, kamu di mana? Aku di mal, belanjaanku banyak, nggak kuat dibawa sendiri. Bisa jemput aku?"

Sammy melirik Louisa.

Louisa masih menatap ke luar jendela, seolah tidak mendengar.

Dia tiba-tiba merasa kesal. "Valerie, kamu sudah dewasa, jangan selalu bergantung padaku. Lagi pula, kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi."

"Tapi, kamu sudah memanjakanku bertahun-tahun, aku sudah terbiasa," kata Valerie dengan nada seolah-olah itu hal yang wajar. "Dulu, kamu nggak pernah menolak setiap aku minta jemput."

"Dulu ya dulu." Suara Sammy mendadak dingin. "Kamu waktu itu pacarku, tapi sekarang aku sudah menikah."

"Menikah?" Valerie mencibir. "Memangnya kamu beneran mencintainya? Kak Sammy, jangan menipu dirimu sendiri. Kalau kamu nggak mau jemput, aku bisa cari laki-laki lain. Banyak kok yang mau membantuku."

Sammy menggenggam ponselnya erat-erat.

Valerie sangat mengenalnya. Dia tahu Sammy paling tidak tahan jika dia mendekati pria lain.

"Tunggu." Sammy mengatakannya dengan rahang terkatup, lalu menutup telepon.

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh kepada Louisa. "Louisa, aku ..."

"Aku cari taksi." Louisa sudah membuka pintu mobil. "Kamu jemput dia saja."

Dia bergerak begitu cepat, Sammy bahkan tidak sempat bereaksi.

"Louisa!" Sammy turun dari mobil dan mengejarnya, mencengkeram lengannya. "Percayalah, nggak ada apa-apa lagi di antara kami. Tapi, kami sudah berteman sejak kecil. Orang tua kami saling kenal, jadi nggak bisa putus hubungan sepenuhnya."

"Aku tahu." Louisa mengangguk. "Aku mengerti."

Dia selalu berkata "aku tahu" dan "aku mengerti", seperti robot, tanpa emosi sama sekali.

Sammy memandang raut wajahnya yang lesu. Api amarah yang sulit dijelaskan semakin membara di hatinya, tapi Valerie menelepon lagi, mendesak tanpa henti.

"Kamu pulang dulu, aku nanti ...." Dia ingin mengatakan akan pulang nanti, tapi Louisa sudah menghentikan sebuah taksi.

Dia masuk ke dalam taksi, menutup pintu, bahkan tidak meliriknya lagi.

Taksi melaju pergi.

Sammy terpaku di tempat, menatap lampu belakang taksi yang menghilang di antara lautan kendaraan. Untuk pertama kalinya merasa ... ada sesuatu yang sepertinya benar-benar telah berbeda.

Sementara itu, di dalam taksi, ponsel Louisa berdering.

Panggilan dari HRD perusahaan.

"Bu Louisa, penugasan luar negerimu sudah disetujui." Suara di seberang sana terdengar penuh senyum. "Selamat, kamu akan ditugaskan ke kantor pusat di Eropha, ini kesempatan yang langka. Tapi ... suamimu nggak keberatan? Masalahnya, masih belum pasti kapan pulangnya. Kalian harus LDR nanti."

Louisa memandang lampu neon yang berkedip-kedip di luar jendela dan berkata pelan, "Aku nggak punya suami. Aku sudah mengajukan gugatan cerai sejak hari aku mengajukan penugasan di luar negeri. Tinggal tunggu akta cerainya diresmikan, aku bisa pergi."
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
24 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status