Share

Bab 4

Penulis: Makjos
Dulu, ibuku sama sekali tidak tahu bahwa akulah yang terus-menerus mengalah dan menoleransi Warren dalam pernikahan ini. Demi membuat ibuku tidak khawatir, aku selalu berulang kali mengatakan hal yang sama setiap kali dia menanyakannya.

"Bu, tenang saja, aku hidup sangat bahagia."

"Warren sangat mencintaiku, dia nggak akan membiarkanku menderita."

"Lagi pula, aku juga nggak akan membiarkan diriku diperlakukan nggak adil."

Ibu selalu dengan mudah memercayai apa yang kukatakan.

Kini, kenyataan yang kejam ini membuat ibuku hancur sepenuhnya. "Warren! Kamu masih manusia atau bukan?! Istrimu terbaring di ICU selama satu bulan, kamu nggak peduli sama sekali saja sudah keterlaluan, tapi kamu malah bilang dia buat onar?!"

Untuk pertama kalinya, aku mendengar suara ibuku setajam dan setinggi itu. Dalam ingatanku, ibuku adalah wanita yang lembut dan agak penakut.

Namun demi aku, wanita itu kini menantang seluruh dunia. "Warren, dasar kamu bajingan yang nggak tahu terima kasih! Kamu nggak pantas untuk putriku!"

Warren dimaki habis-habisan dan dia terlihat tertegun sejenak. Namun dengan cepat, dia membalas dengan kemarahan, "Perempuan tua sialan, jangan ngarang! Mana mungkin Arabella terbaring di ICU selama satu bulan?"

"Masih kurang ya dia cari ribut denganku? Sekarang malah menyeretmu ikut akting? Keterlaluan!"

Aku melihat sedikit ketidakpercayaan di wajah Warren. Namun, yang lebih dominan adalah rasa meremehkan, kecurigaan, dan kejengkelan. Baru pada saat ini aku benar-benar menyadari, betapa dingin dan kejamnya hati seorang pria.

Ibuku pun tersulut amarah oleh sikap Warren yang tidak masuk akal. Dengan suara parau dan penuh tenaga, dia berteriak kepada Warren, "Warren, meski putriku sudah menjadi arwah sekalipun, dia nggak akan melepaskanmu!"

"Bukan hanya dia! Setelah aku mati dan menjadi arwah jahat, aku juga nggak akan pernah melepaskanmu!"

Warren menggenggam ponselnya dengan erat, urat di lehernya menonjol. "Diam kamu! Arabella ggak mungkin mati! Suruh dia keluar temui aku! Sekalipun dia mau mati, dia harus bercerai denganku dulu, baru boleh mati!"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 11

    Polisi segera memastikan bahwa apa yang dikatakan ibuku adalah benar. Bagi Warren yang sejak awal sudah kehilangan arah dan semangat, kenyataan ini tak ubahnya seperti pukulan mematikan.Sejak mengetahui kebenaran, Warren seolah-olah kehilangan seluruh jiwanya. Siang maupun malam, apa pun yang ditanyakan polisi, dia hanya akan mengulang dengan tatapan kosong:"Aku ingin bertemu Arabella, aku mau bertemu Arabella ....""Aku merindukan Arabella, aku ingin bertemu dengannya ....""Asal aku bisa memeluknya, dia nggak akan kesakitan. Dulu kalau dia sakit, selalu seperti itu ...."Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa dia benar-benar ingin menemuiku. Termasuk polisi, semua orang mengira dia hanya sedang berakting. Dia menampilkan penyesalan dan cinta yang datang terlambat, agar bisa lolos dari hukuman.Bukan hanya polisi. Bahkan Cassie yang akhirnya bertemu Warren, juga malas berpura-pura lagi. "Benar, memang Arabella yang menggendongmu turun gunung. Aku cuma kebetulan lewat, sekalian saj

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 10

    Pada akhirnya, Warren benar-benar mendapatkan apa yang dia inginkan.Bukan karena ibuku melunak dan mengabulkan permintaannya, melainkan karena ibuku mendengar bahwa Warren mungkin adalah pelaku utama yang secara tidak langsung menyebabkan kematianku,sehingga dia memutuskan untuk berhadapan langsung dengan Warren."Kamu yang mendorongnya? Kamu yang membuatnya sampai seperti ini?"Ibuku menunjuk ke arahku yang terbaring di ICU, sambil menangis tersedu-sedu. "Warren, lihat dia baik-baik. Katakan dengan jelas!"Warren diborgol kedua tangannya. Begitu melihatku terbaring di ranjang rumah sakit, air matanya kembali mengalir deras.Dulu aku tidak pernah tahu, ternyata Warren bisa menangis sebanyak ini. Dalam beberapa hari terakhir, aku sudah melihatnya menangis berkali-kali. Kenapa air matanya masih belum juga habis?Tangisan Warren seakan tidak ada akhirnya.Dengan sorot mata penuh kerinduan, dia berusaha menerjang ke arah kaca dan ingin berdiri lebih dekat denganku. Namun, polisi menahann

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 9

    Warren sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan polisi. Kelopak matanya berkedut beberapa kali, lalu dia kembali melonjak berdiri."Aku mau menemui Arabella! Aku nggak percaya dia benar-benar meninggal! Keguguran ... mana mungkin keguguran, kami sudah lima tahun menikah tapi nggak pernah berhasil punya anak .... Dia pasti membohongiku. Dia pasti sedang berakting ...."Sambil berkata demikian, dia bahkan berniat langsung menerobos keluar.Melihat kondisi Warren yang jelas tidak stabil, polisi segera bertindak dan menjatuhkannya ke lantai, lalu memborgolnya.Warren yang tergeletak di lantai, masih terus meronta dan meraung, "Biarkan aku menemui Arabella! Aku nggak percaya dia meninggal! Nggak mungkin!"Aku menatap mata Warren yang memerah dan wajahnya yang terdistorsi, lalu menggelengkan kepala dengan sedih.Aku sudah meninggal. Dengan begitu, kamu seharusnya bisa terbebas dari pernikahan ini dan hidup bahagia bersama Cassie. Bukankah akhir seperti itu malah bagus untukmu? Lalu kena

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 8

    Ibuku sudah tidak ingin berkata apa pun lagi kepada Warren. Dia menjawab dengan dingin, "Warren, kamu nggak pantas bertemu dengannya."Wajah Warren yang marah perlahan berubah terdistorsi. "Jangan bohongi aku! Kalian berhenti membohongiku! Suruh Arabella keluar! Soal mati atau nggak itu omong kosong, dia nggak mungkin mati! Nggak mungkin!"Ibuku kembali tersulut oleh sikap Warren yang tidak masuk akal. "Nggak mungkin?!"Emosinya pun ikut meledak, "Putriku menderita tepat di depan mataku, tapi kamu masih mengira dia sedang membohongimu? Warren, aku nggak akan membiarkan Arabella pergi dengan tidak tenang. Seumur hidupku, aku nggak akan pernah membiarkanmu bertemu dengannya lagi!"Ibuku menutup telepon, lalu memblokir nomor Warren dengan tangan gemetar.Ekspresi Warren tampak lelah, sorot matanya penuh emosi yang bercampur-aduk. Dia mengepalkan tangan dan berpikir sejenak, lalu berlari keluar rumah.Aku mengikutinya masuk ke dalam mobil. Aku sempat mengira dia akan kembali mencari Cassie

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 7

    Setelah tersadar kembali dari kenangan itu, Warren yang kelelahan sudah tertidur di ranjang dengan pakaian masih melekat di tubuhnya. Berbeda dengan saat menginap di hotel yang membuatnya bolak-balik tak bisa tidur, di ranjang ini Warren tampak tidur dengan sangat nyenyak.Pagi-pagi sekali, Warren langsung menelepon jasa kebersihan rumah. Petugas harian yang datang adalah seorang ibu yang cekatan dan pandai berbincang.Sesuai permintaan Warren, setelah membereskan sisa-sisa makanan, ibu itu mulai membersihkan seluruh rumah. Saat sampai di area balkon dan melihat tanaman-tanaman yang sudah layu, ibu itu menghela napas penuh sayang."Istrimu pasti orang yang sangat mencintai hidup, ya. Lihat saja bunga-bunga dan tanaman kecil ini ...."Kulihat tangannya mengusap daun-daun yang menguning, hatiku ikut terasa tercekik. Pada saat ini, dibandingkan ketidakmampuanku melepaskan Warren, rasanya aku malah lebih tidak sanggup meninggalkan tanaman-tanaman yang telah kurawat dengan sepenuh hati."Sa

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 6

    Warren adalah teman pertama yang kudapat setelah aku baru memasuki dunia kerja.Aku tumbuh besar dalam keluarga orang tua tunggal. Karena kondisi keluarga yang kurang baik, tubuhku selalu kurus dan kecil. Sejak kecil, aku sering diejek dan dirundung oleh teman-teman sekolah. Selain mengejek tinggi badanku dan penampilanku, mereka juga menertawakanku sebagai anak tanpa ayah, anak haram yang bahkan tidak diinginkan ayah kandungnya.Aku tidak ingin membuat ibu semakin khawatir. Menghadapi perundungan seperti itu, aku belajar untuk menerima segalanya dan menahannya dalam diam.Aku belajar mati-matian, hanya ingin meringankan beban ibu. Saat dewasa, aku masuk ke sekolah yang bagus dan akhirnya tidak lagi dirundung. Namun, sifat terlalu mengalah yang sudah tertanam itu ternyata sulit sekali diubah.Aku terbiasa hidup rendah hati dan menyembunyikan diri, karena itu memberiku rasa aman. Demikianlah, aku lulus kuliah dengan prestasi yang biasa-biasa saja, tanpa kelebihan maupun kekurangan, dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status