Share

Bab 3

Penulis: Makjos
Yang menjawab Warren hanyalah bunyi nada sambung yang dingin.

Lantaran tidak mendapatkan respons, Warren tertegun beberapa detik. Kemudian, dia menyimpan ponselnya dan kembali membanting pintu dengan kesal, lalu pergi lagi. Dia kembali ke tempat Cassie.

Meski berlibur bersama cinta pertama yang dia dambakan, perjalanan intens selama sebulan penuh tetap membuat Warren kelelahan. Dia pun mengatakan ingin makan.

Cassie menjawab dengan nada wajar, "Kalau begitu aku pesan makanan online saja. Kak Warren mau makan apa?"

Sekilas, di wajah Warren terlintas ekspresi jijik yang hampir tak terlihat.

Berhari-hari makan di restoran dan warung pinggir jalan, lambung Warren sudah berkali-kali memberi protes. Hanya saja, Cassie sama sekali tidak menyadari hal itu.

Namun, Warren buru-buru mengatur ulang ekspresinya, lalu menjawab dengan nada memanjakan, "Terserah. Kamu mau makan apa, pesan saja."

Aku tahu, yang paling ingin dimakan Warren saat ini adalah nasi putih hangat dari rice cooker di rumah. Ditambah sayur hijau yang segar, serta sup tulang iga yang bening tanpa banyak lemak.

Warren adalah orang yang seleranya ringan, banyak pantangan, dan lambungnya sangat sensitif. Di dunia ini, hanya aku yang benar-benar mengingat setiap detail kesukaannya soal makanan. Dia tidak makan daun bawang, jahe, dan bawang putih. Tidak makan minyak kacang, tidak makan jeroan, tidak makan ikan yang banyak durinya.

Masakan mana yang harus dibuat ringan, dan mana yang boleh dimasak dengan bumbu agak kuat. Setiap detail soal pola makannya, selalu kuatur dengan saksama.

Dulu, kalau Warren harus terus-menerus menghadiri jamuan di luar, dia pasti pulang dengan muntah dan diare tanpa alasan yang jelas. Pada saat seperti itu, aku akan menyajikan dua lauk sederhana dan satu sup. Dengan begitulah, aku selalu bisa menenangkan lambungnya dan emosinya dengan mudah.

Namun, Warren tidak pernah benar-benar peduli pada pengorbananku dan ketulusanku. Di matanya, karena dialah yang mencari uang di luar dan menghidupi keluarga ini, maka semua perhatianku kepadanya hanyalah sesuatu yang sudah seharusnya kulakukan.

Tentu saja, bagi Warren, Cassie adalah seorang nona besar dari keluarga kaya, tangannya lebih berharga daripada berlian. Wajar saja kalau dia tidak bisa masuk dapur dan memasak.

Saat makanan pesan antar tiba, aku melihat Warren memegang sendok dan mengaduk-aduk isi kotak makanan, tetapi tak kunjung menyuap.

Cassie bertanya dengan polos, "Warren, apa kamu nggak suka makanan seperti ini?"

Warren tersenyum dan menggelengkan kepala. Namun, dalam sorot matanya kembali terlintas secercah kekecewaan.

Cassie yang jeli menangkap kejanggalan itu pun bertanya lagi, "Warren, aku merasa kamu nggak terlalu tertarik dengan makanan viral di luar sana. Sebenarnya kamu lebih suka makan apa? Ke depannya, aku akan lebih sering memesan yang kamu suka."

Warren menjelaskan seleranya dengan sangat sederhana, "Aku nggak pilih-pilih. Tumis sayur hijau sederhana atau sup iga jagung yang ringan, aku sudah sangat suka."

Setelah berkata demikian, di mata Warren samar-samar muncul emosi yang sulit diungkapkan, tetapi segera lenyap.

Betapa aku ingin memberi tahu Warren, bahwa bahkan tumis sayur hijau dan sup iga jagung yang bening pun tidak sesederhana itu untuk dimasak. Namun kupikir lagi, itu sudah tidak penting. Entah Warren tahu atau tidak, hal itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa hatiku sudah mati rasa terhadapnya.

Makanan pesan antar itu pun tidak banyak disentuh Warren. Selesai makan, dia membereskan kotak makanan dengan asal, lalu membawa sampah turun ke bawah.

Setelah membuang sampah, dia berdiri di samping tempat sampah dan kembali mengeluarkan ponselnya. Aku melihat dia kembali mencoba meneleponku.

Tiga kali menelepon, tiga kali pula terdengar pemberitahuan bahwa ponsel tidak aktif. Warren kembali menjadi gelisah dan marah. Dia mondar-mandir dengan kesal, membuka dan menutup buku kontak berulang kali. Namun, dia sama sekali tidak memahami lingkaran pergaulanku, juga tidak mengenal teman-temanku.

Setelah mengundurkan diri, aku pun hampir tidak lagi berhubungan dengan rekan-rekan kerjaku yang dulu. Karena tak menemukan siapa pun, akhirnya Warren menelepon ibuku.

Begitu ada seseorang yang akhirnya mengangkat telepon, emosinya langsung meledak saat menanyai ibuku, "Anakmu itu sebenarnya mau bertengkar denganku sampai kapan? Sampaikan sama Arabella, kalau dia terus bersikap nggak masuk akal seperti ini, aku akan langsung menceraikannya!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 11

    Polisi segera memastikan bahwa apa yang dikatakan ibuku adalah benar. Bagi Warren yang sejak awal sudah kehilangan arah dan semangat, kenyataan ini tak ubahnya seperti pukulan mematikan.Sejak mengetahui kebenaran, Warren seolah-olah kehilangan seluruh jiwanya. Siang maupun malam, apa pun yang ditanyakan polisi, dia hanya akan mengulang dengan tatapan kosong:"Aku ingin bertemu Arabella, aku mau bertemu Arabella ....""Aku merindukan Arabella, aku ingin bertemu dengannya ....""Asal aku bisa memeluknya, dia nggak akan kesakitan. Dulu kalau dia sakit, selalu seperti itu ...."Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa dia benar-benar ingin menemuiku. Termasuk polisi, semua orang mengira dia hanya sedang berakting. Dia menampilkan penyesalan dan cinta yang datang terlambat, agar bisa lolos dari hukuman.Bukan hanya polisi. Bahkan Cassie yang akhirnya bertemu Warren, juga malas berpura-pura lagi. "Benar, memang Arabella yang menggendongmu turun gunung. Aku cuma kebetulan lewat, sekalian saj

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 10

    Pada akhirnya, Warren benar-benar mendapatkan apa yang dia inginkan.Bukan karena ibuku melunak dan mengabulkan permintaannya, melainkan karena ibuku mendengar bahwa Warren mungkin adalah pelaku utama yang secara tidak langsung menyebabkan kematianku,sehingga dia memutuskan untuk berhadapan langsung dengan Warren."Kamu yang mendorongnya? Kamu yang membuatnya sampai seperti ini?"Ibuku menunjuk ke arahku yang terbaring di ICU, sambil menangis tersedu-sedu. "Warren, lihat dia baik-baik. Katakan dengan jelas!"Warren diborgol kedua tangannya. Begitu melihatku terbaring di ranjang rumah sakit, air matanya kembali mengalir deras.Dulu aku tidak pernah tahu, ternyata Warren bisa menangis sebanyak ini. Dalam beberapa hari terakhir, aku sudah melihatnya menangis berkali-kali. Kenapa air matanya masih belum juga habis?Tangisan Warren seakan tidak ada akhirnya.Dengan sorot mata penuh kerinduan, dia berusaha menerjang ke arah kaca dan ingin berdiri lebih dekat denganku. Namun, polisi menahann

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 9

    Warren sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan polisi. Kelopak matanya berkedut beberapa kali, lalu dia kembali melonjak berdiri."Aku mau menemui Arabella! Aku nggak percaya dia benar-benar meninggal! Keguguran ... mana mungkin keguguran, kami sudah lima tahun menikah tapi nggak pernah berhasil punya anak .... Dia pasti membohongiku. Dia pasti sedang berakting ...."Sambil berkata demikian, dia bahkan berniat langsung menerobos keluar.Melihat kondisi Warren yang jelas tidak stabil, polisi segera bertindak dan menjatuhkannya ke lantai, lalu memborgolnya.Warren yang tergeletak di lantai, masih terus meronta dan meraung, "Biarkan aku menemui Arabella! Aku nggak percaya dia meninggal! Nggak mungkin!"Aku menatap mata Warren yang memerah dan wajahnya yang terdistorsi, lalu menggelengkan kepala dengan sedih.Aku sudah meninggal. Dengan begitu, kamu seharusnya bisa terbebas dari pernikahan ini dan hidup bahagia bersama Cassie. Bukankah akhir seperti itu malah bagus untukmu? Lalu kena

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 8

    Ibuku sudah tidak ingin berkata apa pun lagi kepada Warren. Dia menjawab dengan dingin, "Warren, kamu nggak pantas bertemu dengannya."Wajah Warren yang marah perlahan berubah terdistorsi. "Jangan bohongi aku! Kalian berhenti membohongiku! Suruh Arabella keluar! Soal mati atau nggak itu omong kosong, dia nggak mungkin mati! Nggak mungkin!"Ibuku kembali tersulut oleh sikap Warren yang tidak masuk akal. "Nggak mungkin?!"Emosinya pun ikut meledak, "Putriku menderita tepat di depan mataku, tapi kamu masih mengira dia sedang membohongimu? Warren, aku nggak akan membiarkan Arabella pergi dengan tidak tenang. Seumur hidupku, aku nggak akan pernah membiarkanmu bertemu dengannya lagi!"Ibuku menutup telepon, lalu memblokir nomor Warren dengan tangan gemetar.Ekspresi Warren tampak lelah, sorot matanya penuh emosi yang bercampur-aduk. Dia mengepalkan tangan dan berpikir sejenak, lalu berlari keluar rumah.Aku mengikutinya masuk ke dalam mobil. Aku sempat mengira dia akan kembali mencari Cassie

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 7

    Setelah tersadar kembali dari kenangan itu, Warren yang kelelahan sudah tertidur di ranjang dengan pakaian masih melekat di tubuhnya. Berbeda dengan saat menginap di hotel yang membuatnya bolak-balik tak bisa tidur, di ranjang ini Warren tampak tidur dengan sangat nyenyak.Pagi-pagi sekali, Warren langsung menelepon jasa kebersihan rumah. Petugas harian yang datang adalah seorang ibu yang cekatan dan pandai berbincang.Sesuai permintaan Warren, setelah membereskan sisa-sisa makanan, ibu itu mulai membersihkan seluruh rumah. Saat sampai di area balkon dan melihat tanaman-tanaman yang sudah layu, ibu itu menghela napas penuh sayang."Istrimu pasti orang yang sangat mencintai hidup, ya. Lihat saja bunga-bunga dan tanaman kecil ini ...."Kulihat tangannya mengusap daun-daun yang menguning, hatiku ikut terasa tercekik. Pada saat ini, dibandingkan ketidakmampuanku melepaskan Warren, rasanya aku malah lebih tidak sanggup meninggalkan tanaman-tanaman yang telah kurawat dengan sepenuh hati."Sa

  • Cinta Mati Bersama Kekecewaan Masa Lalu   Bab 6

    Warren adalah teman pertama yang kudapat setelah aku baru memasuki dunia kerja.Aku tumbuh besar dalam keluarga orang tua tunggal. Karena kondisi keluarga yang kurang baik, tubuhku selalu kurus dan kecil. Sejak kecil, aku sering diejek dan dirundung oleh teman-teman sekolah. Selain mengejek tinggi badanku dan penampilanku, mereka juga menertawakanku sebagai anak tanpa ayah, anak haram yang bahkan tidak diinginkan ayah kandungnya.Aku tidak ingin membuat ibu semakin khawatir. Menghadapi perundungan seperti itu, aku belajar untuk menerima segalanya dan menahannya dalam diam.Aku belajar mati-matian, hanya ingin meringankan beban ibu. Saat dewasa, aku masuk ke sekolah yang bagus dan akhirnya tidak lagi dirundung. Namun, sifat terlalu mengalah yang sudah tertanam itu ternyata sulit sekali diubah.Aku terbiasa hidup rendah hati dan menyembunyikan diri, karena itu memberiku rasa aman. Demikianlah, aku lulus kuliah dengan prestasi yang biasa-biasa saja, tanpa kelebihan maupun kekurangan, dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status