MasukSetelah keguguran, aku terbaring di ICU selama satu bulan penuh. Sementara suamiku malah menemani cinta pertamanya berkeliling jalan-jalan ke mana-mana. Ketika dia memutuskan untuk menceraikanku, dia baru teringat untuk mencariku. Dia menelepon ibuku dan menuduhku, bertanya sampai kapan aku akan terus membuat keributan tanpa alasan. Ibuku menatapku yang hampir sekarat, dan hatinya benar-benar hancur. "Dia nggak akan pernah lagi membuat keributan tanpa alasan denganmu. Apa kamu sudah puas?"
Lihat lebih banyakPolisi segera memastikan bahwa apa yang dikatakan ibuku adalah benar. Bagi Warren yang sejak awal sudah kehilangan arah dan semangat, kenyataan ini tak ubahnya seperti pukulan mematikan.Sejak mengetahui kebenaran, Warren seolah-olah kehilangan seluruh jiwanya. Siang maupun malam, apa pun yang ditanyakan polisi, dia hanya akan mengulang dengan tatapan kosong:"Aku ingin bertemu Arabella, aku mau bertemu Arabella ....""Aku merindukan Arabella, aku ingin bertemu dengannya ....""Asal aku bisa memeluknya, dia nggak akan kesakitan. Dulu kalau dia sakit, selalu seperti itu ...."Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa dia benar-benar ingin menemuiku. Termasuk polisi, semua orang mengira dia hanya sedang berakting. Dia menampilkan penyesalan dan cinta yang datang terlambat, agar bisa lolos dari hukuman.Bukan hanya polisi. Bahkan Cassie yang akhirnya bertemu Warren, juga malas berpura-pura lagi. "Benar, memang Arabella yang menggendongmu turun gunung. Aku cuma kebetulan lewat, sekalian saj
Pada akhirnya, Warren benar-benar mendapatkan apa yang dia inginkan.Bukan karena ibuku melunak dan mengabulkan permintaannya, melainkan karena ibuku mendengar bahwa Warren mungkin adalah pelaku utama yang secara tidak langsung menyebabkan kematianku,sehingga dia memutuskan untuk berhadapan langsung dengan Warren."Kamu yang mendorongnya? Kamu yang membuatnya sampai seperti ini?"Ibuku menunjuk ke arahku yang terbaring di ICU, sambil menangis tersedu-sedu. "Warren, lihat dia baik-baik. Katakan dengan jelas!"Warren diborgol kedua tangannya. Begitu melihatku terbaring di ranjang rumah sakit, air matanya kembali mengalir deras.Dulu aku tidak pernah tahu, ternyata Warren bisa menangis sebanyak ini. Dalam beberapa hari terakhir, aku sudah melihatnya menangis berkali-kali. Kenapa air matanya masih belum juga habis?Tangisan Warren seakan tidak ada akhirnya.Dengan sorot mata penuh kerinduan, dia berusaha menerjang ke arah kaca dan ingin berdiri lebih dekat denganku. Namun, polisi menahann
Warren sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan polisi. Kelopak matanya berkedut beberapa kali, lalu dia kembali melonjak berdiri."Aku mau menemui Arabella! Aku nggak percaya dia benar-benar meninggal! Keguguran ... mana mungkin keguguran, kami sudah lima tahun menikah tapi nggak pernah berhasil punya anak .... Dia pasti membohongiku. Dia pasti sedang berakting ...."Sambil berkata demikian, dia bahkan berniat langsung menerobos keluar.Melihat kondisi Warren yang jelas tidak stabil, polisi segera bertindak dan menjatuhkannya ke lantai, lalu memborgolnya.Warren yang tergeletak di lantai, masih terus meronta dan meraung, "Biarkan aku menemui Arabella! Aku nggak percaya dia meninggal! Nggak mungkin!"Aku menatap mata Warren yang memerah dan wajahnya yang terdistorsi, lalu menggelengkan kepala dengan sedih.Aku sudah meninggal. Dengan begitu, kamu seharusnya bisa terbebas dari pernikahan ini dan hidup bahagia bersama Cassie. Bukankah akhir seperti itu malah bagus untukmu? Lalu kena
Ibuku sudah tidak ingin berkata apa pun lagi kepada Warren. Dia menjawab dengan dingin, "Warren, kamu nggak pantas bertemu dengannya."Wajah Warren yang marah perlahan berubah terdistorsi. "Jangan bohongi aku! Kalian berhenti membohongiku! Suruh Arabella keluar! Soal mati atau nggak itu omong kosong, dia nggak mungkin mati! Nggak mungkin!"Ibuku kembali tersulut oleh sikap Warren yang tidak masuk akal. "Nggak mungkin?!"Emosinya pun ikut meledak, "Putriku menderita tepat di depan mataku, tapi kamu masih mengira dia sedang membohongimu? Warren, aku nggak akan membiarkan Arabella pergi dengan tidak tenang. Seumur hidupku, aku nggak akan pernah membiarkanmu bertemu dengannya lagi!"Ibuku menutup telepon, lalu memblokir nomor Warren dengan tangan gemetar.Ekspresi Warren tampak lelah, sorot matanya penuh emosi yang bercampur-aduk. Dia mengepalkan tangan dan berpikir sejenak, lalu berlari keluar rumah.Aku mengikutinya masuk ke dalam mobil. Aku sempat mengira dia akan kembali mencari Cassie












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.