LOGINVivian tertegun. "Kamu ....""Scarlett, jangan keterlaluan." Ryan tidak tahan lagi dan bersuara keras dari tengah kerumunan.Scarlett mencibir. "Keterlaluan? Yang dia bunuh itu sebuah nyawa kecil. Aku hanya menyuruhnya berlutut. Apa harga dirinya lebih berharga dari satu nyawa?"Ryan terdiam. Dia menoleh ke arah Devan dan melihat Devan tidak berniat membela Vivian, jadi dia hanya bisa menutup mulut.Para wartawan mencium peluang, segera menyuruh fotografer mendekat untuk memotret Scarlett dan Vivian dari jarak dekat.Vivian menggertakkan giginya, berusaha sebisa mungkin terlihat tenang. Untungnya, dia sudah menebak bahwa Scarlett tidak akan membiarkan hal ini berlalu begitu saja hari ini dan dia juga sudah mempersiapkan diri.Bahkan sebenarnya dia khawatir Scarlett akan memilih berhenti sampai di sini."Kalau aku berlutut, kamu akan maafin aku?" tanya Vivian pelan, lalu maju dua langkah ke arah Scarlett dan menarik tangannya.Dalam sekejap, Scarlett tiba-tiba teringat kejadian sebelumn
Ini adalah pertama kalinya dia memberikan respons yang begitu ketus.Belum sempat para wartawan pulih dari keterkejutan mereka, beberapa pengawal berjalan mendekat, lalu membisikkan sesuatu di telinga beberapa wartawan yang tadi mempersulit Scarlett.Mereka tampak tidak rela, tapi tetap patuh dan meninggalkan tempat itu.Scarlett tidak memedulikan keributan di belakangnya. Dia berjalan ke depan Vivian dan berhenti. Jarak mereka sekitar satu meter, tapi orang-orang di sekitar tetap bisa merasakan ketegangan tak terlihat.Vivian mengepalkan jarinya.Tadi dia melihat dengan sangat jelas, Devan menyuruh orang untuk mengusir para wartawan yang mempersulit Scarlett. Selain itu, sejak Scarlett muncul, pandangan Devan selalu tertuju padanya. Pria itu tidak melirik Vivian sama sekali.Walaupun Vivian sudah menebaknya dari dulu, rasa cemburu di dalam hatinya tetap tidak bisa dikendalikan.Kenapa? Jelas-jelas dia dan Devan adalah sepasang kekasih. Yang dicintai Devan seharusnya dia. Lalu Scarlett
Saat ini, di rumah sakit.Setelah Scarlett pergi, Edric selalu merasa ada yang tidak beres. Dia hendak menyusul, tapi saat itu juga menerima sebuah telepon. Melihat itu telepon dari Nadya, Edric tidak ragu dan langsung mengangkatnya.Dua hari lalu, setelah Harris menebak bahwa Florence berada di vila, dia mengerahkan banyak tenaga untuk menutup rapat tempat itu. Karena khawatir akan terjadi sesuatu, Nadya pun secara sukarela kembali untuk menyelidiki situasinya."Florence kena masalah."Tanpa menunggu Edric bertanya, Nadya langsung memberitahunya lebih dulu.Dengan singkat dan jelas, dia menjelaskan bahwa dalam beberapa hari ini Harris sudah menemukan Florence dan bahwa Florence didiagnosis mengidap penyakit mematikan. Ekspresi wajah Edric perlahan menjadi serius."Kak Harris sudah menutup rapat kabar ini. Sekarang dia mencari dokter ke mana-mana untuk mengobati Florence. Bahkan Keluarga Levronka juga nggak tahu soal ini."Setelah itu, Nadya kembali mengingatkannya, "Untuk sementara ja
Seolah-olah sudah menebak dia akan berkata begitu, Edric memandangnya dengan penuh apresiasi, lalu tersenyum penuh pengertian. "Aku punya satu informasi, mungkin kamu butuh. Mau dengar?"Scarlett berpikir sejenak, lalu bertanya dengan nada mencoba, "Vivian nggak hamil?"Edric mengangkat alis. "Kamu tahu?"Scarlett menyahut, "Cuma dugaan."Vivian sudah memakai sepatu datar, tidak lagi melakukan nail art, dan perilakunya memang seperti wanita hamil. Namun, setelah beberapa kali bertemu dan memperhatikan dengan saksama, dia merasa Vivian tidak seperti wanita hamil yang benar-benar menjaga anaknya.Hari itu saat Devan menghalanginya di jalan, ketika Vivian muncul, dia langsung berlari cepat ke sisi Devan.Scarlett ingat saat dirinya hamil, dia bahkan tidak berani bergerak terlalu kasar, apalagi berlari seperti itu yang bisa mengguncang perut. Belum lagi kalau sampai terpeleset dan jatuh, bayinya bisa keguguran.Dia merasa jika Vivian ingin menggunakan anak itu untuk mengikat Keluarga Laksm
Keesokan harinya.Langit tampak mendung, tapi suasana hati Scarlett malah sangat baik.Pagi-pagi dia kembali menemui dokter untuk menanyakan kondisi pemeriksaan Edric. Dokter mengatakan bahwa semua indikator tubuh Edric sudah kembali normal dan dalam dua hari lagi dia sudah bisa keluar dari rumah sakit.Scarlett merasa Edric masih terlihat agak lemah. Namun mendengar penjelasan dokter, hatinya yang sempat tegang akhirnya sedikit lega. Setelah membeli sarapan di bawah, Scarlett kembali ke ruang rawat.Edric sudah bangun, tampaknya sedang menelepon seseorang. Awalnya Scarlett berniat menunggu di depan pintu, tapi Edric sudah melihatnya."Baik, aku mengerti.""Hubungi aku kapan saja."Setelah berkata demikian, Edric langsung menutup telepon. Dia tersenyum dan berjalan mendekat, tatapannya tertuju pada termos di tangan Scarlett. "Bisa menantikan ada yang ngasih makan setiap kali aku bangun tidur itu rasanya enak sekali. Apa menu hari ini?"Scarlett membuka termos."Eh, kenapa kamu tahu aku
"Eh, maksudku Kak Vivian selama ini terus menyelidiki Scarlett?"Pamela tersadar kembali. Informasi besar yang baru saja dia lihat membuat perasaannya campur aduk sampai dia tidak tahu harus terkejut karena yang mana dulu.Di dalam dokumen itu, ada banyak hal yang sama sekali tidak dia ketahui dan tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.Selain bukti-bukti bahwa Vivian merancang kecelakaan mobil untuk mencelakai Scarlett, ada juga satu bukti yang benar-benar di luar dugaan.Itu adalah riwayat obrolan antara Vivian dan Ryan.[ Vivian: Aku dengar Scarlett hamil? ][ Ryan: Ya. Beberapa hari lalu dia datang ke rumah sakit untuk kontrol kehamilan. Dokter yang menanganinya bilang sudah tiga bulan. ][ Vivian: anaknya Devan? ][ Ryan: Ya. ]Tak lama setelah Scarlett melakukan pemeriksaan kehamilan, Ryan juga sempat meragukan apakah ayah anak itu adalah Devan, sehingga dia menyuruh orang melakukan tes DNA. Hasilnya memang anak Devan.[ Ryan: Tapi Kak Vivian, jangan salah paham, di hati Kak Devan
Begitu nama Edric disebut, Devan melihat sekilas perubahan di wajah Scarlett. Hanya muncul sesaat, tetapi tidak luput dari pandangan Devan."Kenapa? Kamu takut kalau minta uang darinya akan merusak hubungan kalian?" cela Devan. Namun anehnya, rasa gelisah di hatinya justru perlahan mereda.Hubungan
Melihat tatapan Edric yang tampak santai, Scarlett justru merasa ada sesuatu yang aneh. Meskipun wajahnya terlihat tenang dan sikapnya kalem, dia bisa merasakan samar-samar bahwa Edric sebenarnya sedang kesal.Kekesalan itu ... sepertinya ada hubungannya dengan Devan. Tadi saat mereka makan dan meng
Namun, Scarlett juga tahu Keluarga Laksmana tidak akan membiarkannya mendapatkan saham itu. Meskipun ada wasiat, selama keluarga itu tetap bersikeras, dirinya tetap tak akan bisa melawan kekuatan mereka.Bagi Scarlett, perjanjian ini sudah merupakan keputusan paling bijak setelah mempertimbangkan se
Begitu Harris selesai bicara, para pengawal di sampingnya langsung bergerak. Salah satu menekan kepala pria itu ke tanah, sementara yang lain memaksa membuka mulutnya. Tanpa peduli pada perlawanan dan jeritannya, lidah pria itu ditarik keluar. Dalam hitungan detik, pisau diayunkan.Jeritan pilu meng







